
Pelayanan terbaik di berikan oleh pihak hotel dengan menu beranekaragam. Beruntung sebab rasa masakan sesuai selera sehingga Nay dan Kai menikmati sajian tersebut.
"Setiap kali makan. Aku selalu ingat pada anakku." Ujar Nay bergumam.
"Wajar saja. Pasti anak mu suka makan." Nay mengangguk seraya tersenyum. Nia tidak pernah menolak apapun masakan yang Nay sajikan." Anak-anakku akan beruntung." Imbuh Kai berusaha memuji.
"Anak kita Mas."
"Ya anak kita. Apa anakmu dulu cantik?" Nay menoleh, dia merasa senang bisa mengobrol baik dengan Kai.
"Ya Mas. Aku selalu memimpin permainan ranjang. Itu kenapa Nia sangat mirip dengan ku." Jawab Nay berbisik. Kai tersenyum simpul. Dia merasakan sendiri bagaimana agresifnya Nay.
"Namanya Nia?"
"Iya Mas. Kalau kita berkunjung ke makamnya, ku kenalkan padanya."
Kehilangan Nia memang sesuatu yang berat pada awalnya. Itu semua terjadi karena dukungan dari Hendra tidak pernah ada. Stres berat akhirnya melanda sebab saat itu Nay sangat membutuhkan sebuah dukungan.
Jika Alan tidak mencegahnya bunuh diri, mungkin saat ini Nay sudah tidak lagi di dunia. Tidak bisa merasakan kehidupan baru dan mungkin Kai selamanya akan hidup sendiri.
"Hm aku mau berkenalan dengan nya sekalian meminta maaf. Aku juga ada keterlibatan. Aku selalu marah ketika Alan tidak bisa melakukan tugas dengan baik. Itu kenapa dia sering mengebut tanpa perduli pada keadaan sekitar.."
"Aku sudah ikhlas Mas." Sahut Nay cepat." Nia akan bahagia kalau melihatku bahagia. Dia sudah tenang bersama Tuhannya." Kai tersenyum seraya mengangguk.
Di tengah obrolan hangat. Mata Nay memicing ketika menyadari seseorang tengah memperhatikannya. Dia tidak ingin terlalu percaya diri tapi Nay yakin jika orang tersebut tengah menatapnya lekat.
Siapa lelaki itu?
Lelaki itu merupakan Elang yang berusaha mencari celah untuk mendekat. Penampilan rambut keriting dan kumis palsu kini tengah di pertontonkan. Bagaimana mungkin dia bisa di kenali jika setiap harinya Elang selalu bergonta-ganti cover.
"Aku ingin pulang malam ini." Kai memelankan kunyahan sambil melihat ke arah Nay.
"Besok kita pulang. Aku tadi sudah berkata itu kan?"
"Sebenarnya aku tidak membutuhkan liburan seperti ini Mas." Walau tidak yakin. Tapi aku malas melihat dia menatapku seperti itu.
"Aku sedang berusaha memperbaiki."
"Bisa kita lakukan di rumah." Nay tersenyum. Tidak memperlihatkan rasa tidak nyaman. Alasannya karena dia takut salah menebak. Mungkin saja sosok yang tengah memperhatikannya bukan Elang melainkan seseorang yang sekedar kagum padanya.
"Baik kalau itu keinginan mu."
Keduanya melanjutkan makan malamnya seraya berbincang hangat. Sementara Elang merasakan kecemburuan hebat. Dia tidak menyangka jika Kai yang sempat di sebut Jessy tidak normal, bisa menjalin hubungan bahkan menikah.
Dari dulu sampai sekarang, dia selalu saja terlihat memuakkan..
__ADS_1
Elang meraih ponselnya yang sejak tadi bergetar. Tertera nomer salah satu anak buahnya. Terlihat beberapa kali panggilan di lakukan namun Elang sengaja tidak menjawab akibat perasaan cemburu.
📞📞📞
"Ya apa?
"Nona Jessy menunggu kedatangan anda Tuan.
"Sejak kapan?
"Dua jam lalu.
"Suruh dia datang besok. Aku ada urusan.
"Baik Tuan.
📞📞📞
Sial bagi Elang sebab ternyata Kai dan Nay sudah pergi dari restoran. Dengusan terdengar berhembus kasar. Elang beranjak dari tempatnya untuk mencari keberadaan mereka dan semakin kecewa saat melihat mobil Kai pergi meninggalkan area hotel.
Sialan!!!
Di dalam mobil Nay bisa bernafas lega. Dia lebih memilih berada di dalam rumah daripada harus memicu kejadian mendebarkan seperti tadi siang.
"Berapa banyak musuhmu Mas." Tanya Nay pelan.
"Sebanyak apa?"
"Entahlah. Mereka cenderung ingin menjatuhkan ku bahkan membunuh ku."
"Kenapa aku merasa hanya Elang saja yang berusaha membunuh." Kai tersenyum simpul. Bukan tanpa alasan dia berkata memiliki banyak nyawa.
Dulu saingan bisnisnya kerapkali menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nya. Namun hasilnya nihil sebab Kai lelaki yang tidak mudah merasakan sakit.
Kepahitan di masa lalu membuat perasaannya sekeras batu. Begitupun kulit tubuhnya yang terasa menebal seakan tidak mudah tertembus belati ataupun peluru.
"Tidak mudah membunuh ku. Mungkin mereka merasa lelah atau sedang mengatur strategi. Entahlah, aku tidak perduli." Sesaat Kai terdiam seraya fokus menatap ke depan." Sekarang tujuan ku hanyalah pengecut itu." Imbuhnya pelan.
"Padahal ku fikir itu hanyalah kenakalan remaja."
"Dia tidak menginginkan aku berbahagia. Apapun yang ku punya dan apapun yang ku inginkan harus dia dapatkan. Bukankah kau tahu kalau dulu dia menebar gosip soal kedua orang tuaku. Dia bilang aku anak orang miskin padahal aku hanya tidak suka menunjukkan harta kedua orang tuaku."
Nay mengangguk-angguk. Rumor buruk soal Kai memang menjadi topik terhangat di sekolahan. Sekarang dia tahu, jika gosip itu tidak benar dan hanya akal-akalan Elang yang berusaha menjatuhkan nama Kai agar di benci juga di kucilkan.
Aku merasa dia sangat menginginkan ku. Sejak dulu dia memang menginginkan ku, apalagi sekarang..
__ADS_1
🌹🌹🌹
Caca menatap lekat ke arah kalender di hadapannya. Sudah dua hari lalu dia merasa gelisah atas keterlambatan tamu bulanan yang biasanya datang tepat waktu. Hatinya di liputi kekhawatiran soal kehamilan. Apalagi sejak kemarin Caca merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
"Jangan sampai terjadi." Gumamnya pelan. Dia memutuskan duduk di atas ranjang dalam posisi meringkuk.
Tok.. Tok... Tok...
"Ca, kamu belum tidur?" Panggil sang Ayah. Caca bergegas berdiri untuk membukakan pintu.
"Ada apa Yah?"
"Ini tadi Ayah beli bakso. Katanya kamu tidak enak badan. Makan pedas mungkin bisa membuat badan mu lebih baik." Sang Ayah menyodorkan satu bungkus bakso pada Caca.
Selera makan Caca yang awalnya baik, kini berubah buruk hingga membuat tubuhnya kurus. Dia sangat takut hamil sampai-sampai mempengaruhi kerja otaknya dan mengakibatkan stres.
"Ayo Ca di makan. Tidak baik tidur dalam keadaan perut kosong." Sahut Mamanya seraya tersenyum.
"Ya sudah Caca makan."
Dengan terpaksa Caca menerima bungkusan bakso tersebut. Dia menutup kamar lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil mangkuk.
Caca berniat makan di ruang tengah. Tujuannya ingin menyenangkan hati sang Ayah karena baksonya di makan. Namun niat itu harus berantakan ketika tiba-tiba mual hebat mengaduk-aduk perut. Caca memuntahkan isi perutnya padahal bakso belum sempat di cicipi.
Sontak saja hal itu membuat orang tuanya panik dan bergegas membawanya ke rumah sakit. Penolakan tidak di dengar sebab sudah sejak kemarin sang Ibu menyarankannya.
"Keadaan seperti ini sangat wajar terjadi pada wanita hamil." Kedua orang tua Caca tersenyum canggung. Tentu saja berita itu membuat mereka terkejut termasuk Caca yang terlihat tertunduk.
"Apa benar Dok?" Tanya Mama Caca pelan.
"Memang hasilnya masih samar. Janinnya terlalu kecil tapi dinding rahimnya sudah mulai melebar."
Ingin rasanya Caca berteriak nyaring tapi keadaan memaksa untuk tetap diam. Begitupun kedua orang tuanya yang memilih bungkam sampai ketiganya tiba di rumah.
"Tega kamu Ca. Siapa yang melakukan hah!!" Surat hasil pemeriksaan di lempar kasar ke arah wajahnya sementara Ibunya hanya mampu terisak.
"Caca tidak tahu Yah."
"Tidak tahu bagaimana!"
"Caca minta maaf."
"Bilang pada Ayah, siapa lelaki itu!" Teriak sang Ayah memecah keheningan malam itu. Caca tetap saja bungkam sebab sampai saat ini dia tidak pernah lagi bertemu Elang. Tentu saja dia bingung harus berbicara apa. Lelaki yang menghamilinya sengaja berbuat itu hanya untuk sebuah tujuan.
Sebaiknya aku bercerita pada Nay. Aku tidak tahu harus berbuat apa..
__ADS_1
🌹🌹🌹