Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 28


__ADS_3

Baru saja Kai masuk ke kamar, ponsel miliknya yang tergeletak di nakas berdering. Dia mengambil ponsel tersebut lalu menerima panggilan dari Alan.


📞📞📞


"Ada apa?


Bersamaan dengan itu, Nay baru saja keluar dari kamar mandi.


"Reihan tewas Tuan.


Seketika mata Kai membulat. Walaupun Han tipe lelaki lemah, tapi kecerdasan otaknya sangat di butuhkan Xu grup.


"Bagaimana bisa?


"Maaf Tuan. Saya terpaksa menyuruh anak buah yang biasa mengawasi Han untuk memperketat penjagaan rumah.


"Bodoh!! Seharusnya kau jangan lengah! Kau tahu jika sangat sulit menemukan orang kepercayaan sepintar Han!!


Nay yang tidak tahu apa-apa. Memilih duduk sambil sesekali memperhatikan kemarahan Kai. Dia masih menebak mungkin Han terluka atau mengalami kecelakaan.


"Maaf Tuan.


"Bagaimana mayatnya?


Nay beranjak dari tempatnya setelah mendengar pembahasan Kai soal mayat.


Apa yang terjadi dengan Pak Han?


"Ini sedang di evakuasi. Mobilnya masuk ke jurang di sepanjang jalan Kalpataru.


"Aku ke sana.


"Baik Tuan. Saya tunggu.


📞📞📞


Kai mengantongi ponselnya lalu menatap tajam ke arah Nay. Segera saja dia mengambil kunci mobil dan berniat pergi ke lokasi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Nay ingin tahu.


"Ini karena ulahmu!" Jawab Kai geram.


"Aku?"


"Ya kau! Lihat. Akibat kebodohan mu, satu nyawa harus melayang. Kau fikir aku hanya membual soal nyawamu yang mungkin terancam!" Nay terdiam. Dia membaca kemarahan Kai yang terlihat meluap-luap.


"Siapa yang tewas?" Tanya Nay pelan.


"Han. Aku harap setelah ini kau tidak bertindak bodoh! Ikuti aturan yang ku buat dan jangan seenaknya sendiri."


Setelah melontarkan kalimat tersebut, Kai melangkah pergi tanpa perduli pada panggilan Nay.


Pintu kembali terkunci sehingga Nay hanya mampu memperhatikan dari jendela kamar terpasang tralis besi. Mobil Kai terlihat meninggalkan pekarangan rumah menuju selatan.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi takut." Gumam Nay duduk di tepian ranjang. Kabar tewasnya Han membuktikan jika peringatan yang di katakan Kai adalah kebenaran." Berarti yang menculik ku memang bukan Tuan Kai tapi..." Nay menghela nafas panjang. Ingin ikut bersama Kai namun hanya bisa menunggu sampai Kai pulang.


.


.


.


Singkat waktu setibanya di lokasi. Alan berhasil mengambil ponsel Han dan menyembunyikannya dari pihak berwajib.


Walaupun nyawanya berada di ujung tanduk, tapi kesetiaan Han bisa di tujukan sampai titik darah penghabisan. Dia meletakkan ponsel di tempat persembunyian yang tidak di ketahui anak buah Elang. Semua mobil di modifikasi seperti itu untuk mengantisipasi hal genting seperti sekarang.


Bukan hanya berkas penting, tapi rekaman video yang memperlihatkan kejadian sebelum pembunuhan terekam jelas.


Tidak ada keluarga yang hadir, sebab Kai selalu menjaga privasi anak buahnya untuk melindungi saudara serta orang tuanya. Itu kenapa kehadirannya di sini sangat di butuhkan.


"Saya Kakaknya." Kai memperkenalkan diri pada tiga petugas polisi.


"Kami harus membawa jenazah ke rumah sakit untuk di otopsi."


"Maaf Pak. Saya ingin langsung membawa jenazah Adik saya ke kampung halamannya." Tolak Kai sopan.


"Sebagai penyelidikan lebih lanjut."


"Saya yakin ini murni kecelakaan. Orang tua saya pasti akan bersedih jika jenazah Adik saya sampai di otopsi. Mereka akan beranggapan yang tidak-tidak." Jawab Kai begitu lihai dalam berucap dan mencari alasan.


"Em baik jika itu keinginan pihak keluarga. Jenazah tetap akan di bawa ke rumah sakit. Setelah surat kematian keluar, jenazah bisa langsung di bawa pulang."


"Hm terimakasih kerja samanya Pak." Kai menjabat satu persatu tangan polisi. Setelah itu dia kembali masuk ke mobilnya di ikuti oleh Alan.


Maaf Han..


Alan cukup terpukul dengan kepergian Han yang sudah di anggap partner terbaik. Keduanya memiliki keahlian berbeda yang bisa di padukan dengan sangat sempurna. Alan pintar mengatur strategi dalam hal kekuatan sementara Han dalam hal otak.


"Dasar pengecut!!" Teriak Kai geram." Dia selalu bersembunyi seperti tikus!!" Imbuhnya membuang nafas kasar.


"Maafkan saya Tuan."


"Tikus itu harus membayar mahal atas ini. Darah harus di bayar dengan darah."


Fikiran Kai langsung tertuju pada Devan yang sampai saat ini masih terkurung. Dia mulai merencanakan hal buruk untuk memberikan sedikit pelajaran pada psikologi Elang.


🌹🌹🌹


Pukul 00:00


Nay sontak berdiri saat melihat gagang pintu bergerak. Dia tidak dapat memejamkan mata karena ingin tahu kelanjutan dari nasib Han.


Alangkah terkejutnya Nay ketika melihat baju yang di kenakan Kai penuh noda darah. Dia mengurungkan niatnya untuk melangkah maju dan memilih berdiri mematung.


"Kau belum tidur?" Tanya Kai tanpa merasa risih dengan tatapan penuh selidik yang Nay perlihatkan.


Kai melepas baju dan meletakkannya ke dalam bak sampah untuk di bakar besok. Terlihat masih ada noda darah menempel di sekitar tubuh dan lengannya.

__ADS_1


"Apa Tuan habis berkelahi?" Tanya Nay ingin tahu.


"Tidak."


Nay menelan salivanya kasar. Bukan terkesima melihat otot-otot tubuh Kai melainkan banyaknya bekas luka yang ada di dalamnya.


"Sebaiknya kamu tidur. Aku mau mandi." Imbuhnya seraya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Dia tidak terluka. Lantas itu darah siapa?" Gumam Nay berniat menunggu Kai selesai mandi. Ingin menanyakan kebenaran akan noda darah yang ternyata milik Devan.


Dengan gilanya Alan memvideokan bagaimana keadaan Devan saat ini. Tubuhnya terkapar di genangan darahnya sendiri.


Devan masih bergerak, menggerang kesakitan akan siksaan yang Kai hadiahkan untuk menebus nyawa Han.


"Bunuh saja aku!! Tolong!!!" Tentu saja Devan memilih mati daripada harus tersiksa menahan luka di sekujur tubuhnya.


"Kau akan mati dengan perlahan, tenang saja."


Setelah puas merekam, Alan mengirimkan video pada hacker kepercayaan Kai agar video penyiksaan Devan bisa di sebar ke situs terlarang. Tujuannya tidak lain ingin memberikan kejutan indah pada Elang.


Nay memalingkan wajahnya ketika dia melihat Kai keluar hanya mengenakan lilitan handuk. Tubuh Kai memang cenderung kecil tapi tinggi badan serta otot-ototnya cukup memanjakan mata lawan jenisnya.


"Kenapa belum juga tidur?" Tanya Kai seraya memakai baju.


"Darah siapa yang ada di baju itu?"


"Bukan urusan mu." Jawabnya ketus namun terdengar lirih.


"Aku hanya ingin tahu."


"Meski ku beritahu kau tidak akan mengerti."


"Hm. Lalu? Pak Han bagaimana?" Tanya Nay pelan. Dia ikut merasa bersalah atas insiden tersebut.


"Jasadnya sudah di bawa ke kampung halamannya." Nay menghela nafas panjang sambil memasang wajah menyesal.


"Aku hanya bingung berada di sini? Aku tidak bermaksud merepotkan apalagi sampai membuat seseorang kehilangan nyawanya." Kai terdiam sejenak. Dia membenarkan ucapan Nay yang mungkin belum terbiasa dan mengerti tentang kehidupan keras miliknya.


"Bukan salahmu." Jawab Kai berusaha membuat hati Nay membaik walaupun itu sesuatu yang mustahil.


"Aku hanya ingin bertemu sahabat ku, tapi.."


"Lain kali ajak aku." Sahut Kai lagi." Sebaiknya kamu tidur, ini sudah malam." Kai berjalan menuju lemari untuk mengambil selimut dan bantal. Dia memutuskan untuk tidur di sofa sementara Nay di ranjang miliknya.


Nay masih tidak beranjak, menatap Kai yang seakan sudah terlelap. Bunyi dengkuran halus menguatkan tebakannya, bahwa Kai sudah terlelap.


Nay berbaring, menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Sesekali melirik ke Kai seraya berharap mata itu kembali terbuka dan mengajaknya bicara.


Sekejam ini dunia nya. Aku menyesal sudah pergi hari ini sampai-sampai Pak Han menjadi korban.


Nay mulai menyadari, jika kekhawatiran yang di katakan Kai benar adanya. Mungkin saja musuh Kai sudah menandai dirinya dan bersiap menghabisi nyawanya. Tapi yang jadi pertanyaan besar dan menggelitik hati..


Apa Tuan ingin melindungi janin ini atau kami berdua?

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2