Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 48


__ADS_3

Setelah membaringkan Nay ke ranjang, Kai menegakkan tubuhnya dan berniat akan pergi. Alasannya, karena Alan ingin membicarakan tentang kecurigaan pada sosok Roy. Tapi hal itu tentu tidak membuat Nay percaya.


"Kemana lagi Mas?" Tanya Nay seraya duduk. Kai memutar tubuhnya lagi dan menghadap ke arahnya.


"Ada beberapa hal yang perlu ku bicarakan dengan Alan. Aku sudah mengatakan itu kan." Jawabnya pelan.


"Tidak bisa besok?" Kai menghela nafas panjang. Niatnya pergi bukan semata-mata karena hal tersebut.


"Tidurlah dulu. Jangan membuat onar lagi. Aku sudah menuruti semua kemauan mu padahal kakimu masih berfungsi."


Nay berhasil membuat Kai menggendongnya dari rumah sakit menuju mobil lalu berlanjut ke kamar. Walaupun beberapa kali Nay mendengar umpatan dari bibir Kai tapi dia merasa jika itu hanya alasan yang sengaja di buat untuk menutupi perasaannya.


"Sudah seharusnya kamu bertanggung jawab. Kamu yang membuatku jatuh."


"Ya. Puluhan kali aku sudah meminta maaf. Sekarang kamu tidur dan jangan bicara macam-macam." Kai melanjutkan langkahnya begitupun Nay yang mengekor. Hal itu membuat Kai memilih duduk lemah di sofa. Dia mengambil ponselnya untuk memberitahu Alan agar berbicara besok saja." Aku tidak akan pergi. Sekarang kembalilah ke tempatmu dan biarkan aku tidur di sini." Kai mencari keberadaan selimut yang ternyata sudah di pindahkan ke atas ranjang.


"Hanya tidur berdua. Traning malam pertamanya tidak bisa kita lakukan karena aku masih kotor." Ujar Nay tidak ingin berhenti memaksa.


"Aku tidak berharap itu terjadi! Kenapa kau menjelaskannya! Menjijikan sekali!!"


"Bukan hanya keras hati, tapi kau juga tidak normal. Bagaimana mungkin kau menyebut itu menjijikan. Rasakan dulu baru berkomentar." Nay malah menyandarkan kepalanya ke pundak kanan Kai yang tengah membuang muka.


"Singkirkan kepalamu. Aku tidak mau berbuat kasar." Pintanya kasar.


"Lakukan sesuka mu. Bunuh aku jika perlu agar aku berhenti mengganggu. Ingat ya Mas. Kau yang menjerat ku dengan pernikahan, kau juga yang menyukai ku lalu memaksaku untuk tetap tinggal. Aku hanya sedang berusaha menerima kenyataan tapi kau malah tidak ada niat untuk memperbaikinya. Lihatlah, akibat keegoisan mu. Aku kegugu..." Kai berdiri lalu menarik kasar lengan Nay.


"Telingaku terasa panas. Ayo!! Lakukan sesuai kemauan mu." Setidaknya hanya tidur berdua dan belum melakukan malam pertama.


"Kasar sekali sih Mas! Lenganku sakit!" Protes Nay setengah mengumpat.


"Kau mau atau tidak!!"


"Ya mau lah. Ayo." Mata Kai membulat ketika dengan mudahnya Nay mengubah mimik wajah kesal berubah berseri-seri. Itu tandanya, jika umpatan dan kata-kata kasar yang keluar hanyalah sebuah cara untuk memaksa.


Nay berbaring lebih dulu sementara Kai masih duduk di sisi ranjang. Meski malam pertama tidak bisa di lakukan, namun nyatanya jantungnya berpacu cepat bahkan meledak-ledak. Tubuhnya bergetar hebat di sertai perasaan berdebar-debar.


"Mas."


"Aku belum siap." Jawabnya lirih.


"Seperti anak gadis saja."


Nay meraih lengan Kai lalu menarik tubuhnya sampai jatuh di sisinya. Tanpa persetujuan, kepalanya di tumpukan pada lengan yang masih berbalut kemeja.


"Apa yang kau.." Nay mengusap-usap rambut Kai yang masih terasa lengket. Perlakuan itu sontak membuat si pemilik rambut mati gaya.


"Ini belum bersih Mas." Protes Nay seraya tersenyum.


"Aku akan membersihkannya." Jawabnya akan berdiri.


"Tidak. Besok saja." Nay menahan kepergian dengan mengalungkan lengan kanannya ke leher. Kai menghembuskan nafas berat. Seketika tubuhnya terasa kaku bahkan sulit bernafas. Memang hangat dan menyenangkan, namun rasa itu masih sangat asing untuknya.

__ADS_1


"Ini tidak nyaman." Eluh Kai memasang wajah gelisah.


"Bukan tidak nyaman Mas. Tapi kamu kurang rileks saja."


"Tidak bisa. Sebaiknya kita tidur terpisah sampai aku siap."


Kai tidak tahan merasakan kuatnya debaran jantung. Dia takut Nay mengetahui dan semakin membuatnya malu. Kai sadar pada sikap kakunya dan memang berniat memperbaiki. Tapi dia tidak pernah membayangkan akan terjadi secepat ini.


"Hubungan pernikahan itu tidak bisa berjalan baik kalau kita tidak terbuka satu sama lain. Ibaratnya menyatukan dua hati yang memiliki karakter berbeda. Itu sulit apalagi salah satu pasangan tidak mau bersikap jujur."


Kai tidak bergeming. Nay lebih berpengalaman sehingga dia memilih diam dan mendengar.


"Aku tidak berniat menurunkan wibawa mu. Tidak masalah jika di luaran kamu bersikap selayaknya monster atau lelaki berdarah dingin. Tapi saat kamu pulang ke rumah, lakukan peran mu selayaknya seorang Suami dan aku juga akan menjalankan peranku sebagai seorang Istri."


Kai menghembuskan nafas berat, sangat berat sampai-sampai dadanya membusung. Dia berusaha mencerna perkataan yang di lontarkan Nay. Menurutnya itu benar walaupun dia belum yakin akan bisa melakukannya.


"Aku terbiasa bicara kasar."


"Hm aku tahu. Kita lakukan pelan-pelan."


"Berjanjilah." Ucapnya lirih hampir tidak terdengar.


"Apa Mas."


"Jangan menertawakan ku kalau aku bersikap konyol. Aku.. Emmm.. Tidak tahu menahu soal percintaan."


"Tenang saja Mas. Aku siap mengajarimu menjadi lelaki penyayang." Kai kembali menghela nafas panjang.


"Kamu akan jadi lelaki idaman ku, kalau memang kamu mencintai ku."


Nay memejamkan mata sementara Kai masih tidak bergerak. Tangannya terasa kaku, namun ketika dengkuran halus terdengar, kepalanya menunduk dan memandangi Nay yang seakan sudah terlelap.


Aku yakin kamu akan jadi lelaki hebat Mas. Bukan hanya hebat dalam kekuasaan tapi juga hebat di mata keluarga kecil kita..


🌹🌹🌹


Elang mengajak Caca ke sebuah apartemen. Alan tidak mampu berbuat banyak sebab Kai baru bisa di ajak bicara esok hari. Dia hanya bisa mengintai lewat hotel yang bersebrangan melalui teropong.


"Apartemennya penuh." Gumam Alan pelan. Berniat menyewa apartemen terdekat namun penuh.


"Ini malam Minggu Bos. Banyak pasangan kekasih yang butuh tempat untuk bercinta." Alan tersenyum. Dirinya sendiri belum pernah merasakan indahnya menjalin kasih karena sibuk dengan pekerjaan yang di geluti.


Sebagian besar mungkin menganggap perkerjaan Alan sangat beresiko. Dia menjadi pelopor beberapa geng terlarang. Menjadi wakil ketua setelah Kai dan memiliki ratusan anak buah.


Ada kesenangan tersendiri menghampiri ketika Alan berada pada posisi terdesak. Adrenalin nya tertantang untuk menghindar dari berbagai kejadian yang bukan hanya menguras emosi dan tenaga, melainkan mempertaruhkan nyawa.


"Kenapa teman Nona gampang sekali percaya. Bukankah seharusnya dia lebih waspada pada orang asing." Alan memutar tubuhnya dan memberikan alih teropong pada anak buahnya. Dia mengambil sebatang rokok dan menikmatinya sambil memantau keadaan.


Sementara yang terjadi dengan Caca. Tentu saja Elang berhasil menggenggam erat hatinya apalagi kini Elang mengatakan jika apartemen yang mereka tempati merupakan hadiah darinya.


"Aku tidak butuh ini Kak." Caca mengembalikan kunci apartemen yang di berikan Elang untuknya.

__ADS_1


"Sudahlah terima saja. Ini sebagai bukti kesungguhan ku." Rajuk Elang mulai melancarkan aksi dengan memberikan sentuhan fisik yang lembut.


"Ini terlalu bagus."


"Berarti kamu menolak pinangan ku?"


"Tidak. Bukan begitu."


"Maka terima. Lalu kita nikmati malam ini berdua." Sontak Caca tersenyum aneh. Dia belum berfikir sejauh itu dan tentu saja ajakan Elang membuatnya takut.


"Ti tidak boleh Kak."


"Apa yang tidak boleh? Kita saling mencintai dan akan menikah. Besok pagi kita temui orang tuamu untuk meminta restu."


Elang mengusap pinggang Caca lalu menarik tubuhnya sampai keduanya menempel tanpa celah. Walau Elang beranggapan Caca tidak seberapa cantik. Tapi nyatanya senjata miliknya sudah berdiri tegak dan siap bertempur.


"Jangan Kak. Aku mohon. Aku takut." Caca mencoba menolak namun tentu saja Elang tidak membiarkannya pergi dan mulai menyentuh area inntim.


"Oh. Berarti segel mu sudah kau berikan pada orang lain?" Sekarang Elang yang hendak melepaskan diri tapi kedua tangan Caca menahannya.


"Bu bukan begitu Kak." Jawabnya terbata. Mulai terbawa arus takut kehilangan padahal sejatinya Elang hanya menggertak.


"Mengaku saja. Kau mencoba menutupi itu agar nantinya aku tidak bisa meninggalkan mu saat ikrar pernikahan sudah terucap."


Elang sengaja membuat Caca merasa bingung. Menaklukkan gadis selugu Caca bukan kesulitan untuknya.


"Aku tidak pernah berpacaran."


"Buktikan padaku."


"Tapi aku takut."


"Aku akan bertanggung jawab. Besok kita bertemu orang tuamu. Hanya satu kali sayang. Untuk pembuktian lalu kita hidup bersama selamanya. Bagaimana."


Caca mengangguk ragu dan yang terjadi selanjutnya sungguh membuatnya sangat bahagia. Sentuhan Elang terasa melenakan, seakan membawanya terbang ke atas awan. Mengikis keraguan dan menganggap kebahagiaan malam ini seakan abadi.


Setelah berhasil menyemburkan benih, Elang memberi Caca segelas minuman yang sudah di campur obat tidur.


"Bodoh!" Umpatnya lirih. Memakai celana panjangnya dan berjalan menuju teras dengan bertelanjang dada. Di tangannya ada ponsel miliknya yang sempat bergetar saat percintaan berlangsung.


💌 Hati-hati Bos. Ada beberapa orang yang mengawasi.


Cepat-cepat Elang berjalan masuk. Luka pada lengannya tentu di kenali sehingga dia memutuskan untuk melakukan rencana tambahan agar bisa melarikan diri.


Sudah ku hancurkan hidup temanmu!! Ayo temui aku dan mintalah pertanggung jawaban.


Elang berjalan keluar lalu menyelinap masuk ke ruang karyawan dan berusaha menghindari sorotan CCTV. Dengan tenangnya dia melangkah menuju lift, tepat di saat Alan dan anak buahnya datang.


Kalian fikir mudah mendapatkan ku?


Batinnya sambil tersenyum simpul. Berjalan masuk ke dalam lift dan menombol lantai dasar di mana mobilnya terparkir. Dia sempat melambai ke arah Alan yang baru menyadari keberadaannya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2