
Sesuai janji, sore itu Kai mengantarkan Nay ke pemakaman. Terpaksa, Kai kembali menyamar sebab keduanya berangkat dari apartemen. Dia sudah datang dengan wajah itu sehingga walaupun sedikit gatal, Kai tetap mengenakan kumis palsu.
Memang beberapa relasi mengetahui pernikahan nya. Namun ternyata mereka adalah bagian dari anak buah Kai termasuk Dokter kandungan. Bisa di pastikan jika publik sama sekali tidak mengetahui hubungan pernikahan tersebut.
"Aku bingung Tuan." Ucapan Nay, memecah keheningan di dalam mobil.
"Bingung apa?"
"Untuk apa pernikahan ini?"
"Aku butuh berkas dan kesaksian agar anak itu jelas asal usulnya." Jawab Kai menjelaskan. Dia memang hanya membutuhkan surat lengkap dari calon anaknya. Buku nikah juga di jadikan sebagai rencana tambahan jika seandainya suatu saat di butuhkan.
"Anak ini tidak terbentuk dari cinta." Nay memegang perut ratanya. Dia mulai merasakan keanehan pada perasaannya selayaknya orang hamil pada umumnya.
"Tapi itu dari benih ku."
"Hm aku tahu."
Suasana kembali hening sampai keduanya tiba di lokasi. Terlihat penjaga pemakaman menghampiri Nay yang mungkin membutuhkan bantuannya.
Tentu saja bantuan itu di tolak mentah-mentah oleh Kai. Sehingga Nay memilih terus berjalan daripada mendengarkan perdebatan antara Kai dan penjaga makam.
Mama datang sayang..
Nay duduk di sisi kiri pusaran Nia. Dia menaburkan bunga dan air di atasnya seraya mengusap nisannya lembut. Kai yang melihat itu hanya berdiri mematung. Ada sedikit sesal ketika dia menyadari kesedihan terpancar dari raut wajah Nay.
Sesuai keinginan mu. Setelah ini Mama akan merebut kembali hati Ayah. Bukankah kamu ingin kita tetap bersama-sama?
Meski keteledoran itu di lakukan Alan namun Kai ikut merasa bersalah atas insiden kecelakaan tersebut.
Setelah menaburkan bunga pada makam kedua orang tuanya, Nay berdiri lalu melangkah pergi, di ikuti oleh Kai.
Sepertinya dia sangat menyanyangi anaknya?
"Dua makam lainnya milik siapa?" Tanya Kai ingin tahu.
"Kedua orang tuaku."
"Oh."
"Sebenarnya aku sudah pindah dari sini semenjak SMP kelas dua. Niatnya mengejar mimpi dan ingin hidup mandiri tapi ternyata.."
Nay menghembuskan nafas berat. Mengingat terakhir kali dia berpamitan pada Ayahnya. Setelah kepergiannya, Ayah Nay sakit keras. Sialnya ponsel kedua orang tuanya rusak sehingga saudara Nay yang ada di luar kota tidak dapat mengetahui kabar tersebut.
Tepat di saat dirinya datang untuk berkunjung, Ayah Nay tidak lagi ada dan meninggalkan nama. Sesal begitu dalam dia rasakan sehingga Nay memutuskan untuk tinggal bersama Mamanya dan menetap di kota itu lagi.
"Aku menjadi anak durhaka. Ayahku meninggal dan mau tidak mau aku harus bersekolah sambil berkerja." Jawabnya lirih.
"Semua orang memiliki sisi gelap di kehidupan nya termasuk aku." Kai tersenyum simpul sebab hidupnya lebih menyedihkan daripada Nay.
__ADS_1
Ayah Elang berhasil menipu Ayahnya sehingga membuat perusahaan milik Ayahnya terpaksa gulung tikar. Stres berat harus di lalui kedua orang tuanya sampai-sampai penyakit jantung dan paru-paru mengambil mereka dari sisi Kai.
Bukan hanya itu saja. Setelah Kai pulang dari pemakaman Ibunya. Sebuah fakta mencengangkan terkuak. Perusahaan milik Ayahnya tidak pernah bangkrut. Itu adalah sebagian rencana buruk Ayah Elang yang ingin menguasai perusahaan tersebut.
Namun Ayah Elang tidak mengetahui jika Kai bukan bocah yang bodoh. Dia tidak menerima penawaran Ayah Elang yang ingin melatihnya mengelola perusahaan. Dengan lantang dia berkata akan mengelola perusahaan tanpa bantuan siapapun.
Itu yang membuat Kai begitu dendam dengan Elang. Bukan hanya masalah pembullyan yang terjadi di sekolah, tapi keluarganya sudah menghancurkan kehidupan bahagianya.
Kai memungut para preman dari jalanan dan membentuk sebuah kelompok kecil. Perusahaan yang berkembang pesat membuat kelompok kecil itu kian membesar. Kai merangkak dari bawah dengan cara kotor dan curang. Dia belajar itu dari masa lalu buruknya yang merubah keluguannya menjadi jiwa pembunuh.
"Aku sudah tahu perkerjaan mu dari Alan."
"Itu bukan perkerjaan, itu keahlian. Hidup sangat kejam, itu kenapa bukan hanya kekuatan otot yang berjalan tapi otak." Menunjuk ke kepala sebelah kiri." Kalau kamu bisa menjalankan itu semua dengan seimbang. Hidup kesulitan tidak akan kau dapatkan." Imbuhnya menjelaskan.
"Aku tidak peduli Tuan. Aku menjalani ini atas perintah darimu."
"Sekarang kau harus perduli sebab anakku berada di rahim mu."
"Untuk urusan janin, dia akan baik-baik saja."
Nay masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Kai. Setelah mobil melaju meninggalkan area pemakaman satu buah mobil yang ada di belakang terlihat mengekor.
Selang beberapa menit, sebuah mobil kembali terparkir di bahu jalan area pemakaman. Hendra keluar dari dalamnya lalu melangkah masuk.
Alangkah terkejutnya Hendra ketika dia mendapati makam Nia sudah di taburi bunga. Dia melirik ke makam kedua orang tua Nay yang juga terdapat bunga di sana.
"Apa Caca?" Gumam Hendra tentu merasa penasaran. Dia menganggap Nay sudah tiada." Pak, maaf." Ujar Hendra setengah berteriak pada si penjaga makan.
"Tadi ada yang mengunjungi makam ini?" Menunjuk ke pusaran Nia.
"Iya Mas. Tadi ada seorang wanita dan lelaki yang mengunjungi makam itu."
"Apa dia pendek dan berkulit gelap?" Hendra sedang menyebutkan ciri-ciri Caca.
"Tidak Mas. Cantik dan bertubuh kurus walaupun tidak seberapa tinggi." Hendra menghela nafas panjang dan mulai menebak jika sebenarnya Nay masih hidup.
"Wajahnya rusak Pak?"
"Cantik kok Mas. Malah seperti boneka berjalan. Beberapa bulan lalu memang ada yang berkunjung dengan ciri-ciri yang Mas sebutkan. Tapi sudah lama dia tidak ke sini." Jawab penjaga makam menjelaskan sesuai yang dia ketahui.
Apa Nay masih hidup? Itu mustahil. Caca bahkan tidak menemukannya.
Beberapa Minggu lalu, Hendra sempat bertemu Caca secara tidak sengaja dan menanyakan perihal Nay. Namun Caca berkata jika pencarian Nay terpaksa di hentikan sebab jejaknya seakan menghilang. Caca bahkan mengembalikan semua barang yang di ambil dari rumah kontrakan.
"Ada apa Mas? Tidak baik melamun di pemakaman."
"Oh tidak Pak. Terimakasih informasinya." Setelah menaburkan bunga, Hendra beranjak dari pemakaman dan pergi dengan fikiran gelisah. Ada perasaan bersalah menyelimuti meskipun Hendra sudah bahagia atas hidupnya.
Tiba-tiba saja ponsel Hendra bergetar. Dia menerima panggilan yang berasal dari Jessica.
__ADS_1
📞📞📞
"Ya sayang?
"Aku tidak pulang malam ini. Ada beberapa hal yang harus ku urus.
Hendra menghembuskan nafas berat. Jessica kerapkali tidak pulang dengan alasan perkerjaan.
"Biar ku antarkan. Memangnya kemana?
"Tidak bisa sayang. Sudah ya. Aku hanya ingin mengabari itu.
📞📞📞
Panggilan terputus begitu saja. Hendra meletakkan ponselnya sebab dia tahu Jessica tidak dapat di hentikan jika sudah menginginkan sesuatu.
Kehidupan mewah memang Hendra dapatkan. Namun kehangatan cinta seorang Istri kini tidak pernah dia rasakan. Jessy seorang wanita yang super sibuk. Dulu dia selalu menjadi supir pribadinya. Tapi semenjak Hendra menerima misi dari Elang. Dia terpaksa harus mengurus perusahaan agar misinya cepat tercapai.
Baru saja mobilnya tiba di jalan utama. Mata Hendra membulat ketika dirinya melihat mobil Jessica baru saja melintas. Langsung saja dia mengikutinya untuk memastikan kebenaran dari ucapan Jessica.
Di sebuah hotel, mobil Jessica melaju masuk. Hendra terpaksa ikut mengekor sebab parkiran berada di basemen.
Dari jarak aman, Hendra melihat sendiri Jessica keluar dengan lelaki muda berpenampilan rapi. Keduanya terlihat mesrah selayaknya seorang kekasih.
Langsung saja Hendra keluar dari dalam mobil. Dia meneriaki Jessica seraya menunjuknya kasar.
"Siapa dia!!" Tanya Hendra geram. Selama ini dia menerima kekurangan Jessy yang umurnya jauh di atasnya, namun balasan dari Jessica tidak sesuai harapan.
"Dia pacar ku." Hendra mendengus dengan tatapan tajam.
"Kenapa kau lakukan ini?"
"Jangan munafik sayang. Sejak awal aku memang tidak pernah bisa setia dengan satu nama. Bukankah aku sudah mengatakan ini padamu." Jawab Jessica santai. Tangan kanannya mengusap dada bidang Hendra.
"Kau berjanji akan setia padaku saja."
"Itu berarti kau gagal membuatku setia."
Memang sejak awal Jessica sudah mengatakan alasan dirinya menjanda beberapa kali. Dia tidak sanggup setia dengan satu nama dan Hendra menerima itu bahkan begitu percaya diri akan bisa merubah Jessica.
"Karena kamu sudah terlanjur tahu. Emm.. Bagaimana kalau kita melakukan itu bertiga." Ujar Jessica menawarkan kegilaan.
"Gila kamu!" Tentu saja Hendra menolak.
"Ya sudah. Sebaiknya kamu pulang. Bye sayang." Jessica mengecup pipi Hendra lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam hotel.
Hendra mematung, menatap tidak percaya ke arah punggung Jessica yang masih terlihat. Kebahagiaan materi berhasil dia raih namun semua itu terasa mengambang karena tidak adanya ketulusan.
Apa benar aku sudah bahagia dan bisa menikmati hidup ku?
__ADS_1
🌹🌹🌹