Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 65


__ADS_3

Hari ini Kai mempunyai jadwal pertemuan dengan seorang pengusaha muda bernama Alexander.


Pertemuan sudah di rancang berbulan-bulan lalu. Selalu tertunda karena kesibukan Alex yang tidak dapat di tinggalkan.


Kini Alex memutuskan untuk menetap di Indonesia agar dirinya bisa fokus mengurus perusahaan terbesar kedua setelah Xu grup. Bertahun-tahun sudah dirinya menetap di luar negeri bersama kedua orang tuanya yang merupakan sahabat karib dari Almarhum orang tua Kai.


"Oh astaga Kak Kai. Aku rindu sekali." Sapa Alex menyambut kedatangan Kai dengan ramah. Tanggapan yang di dapatkan tentu saja penolakan. Kai mendorong sedikit dada Alex agar tidak menyentuhnya.


"Tinggal di luar negeri tidak membuatmu berubah." Jawab Kai ketus. Alex terkekeh seraya menatap ke sekitar seakan mencari seseorang.


"Aku tidak melihat Kakak ipar." Ujarnya meledek. Erik yang tengah berdiri di samping Kai, hanya tersenyum simpul." Jangan bercanda Kak. Kau belum menikah?" Kai duduk tanpa di persilahkan di ikuti oleh Erik juga Alex.


Sengaja, Kai tidak mengajak Nay ikut serta. Dia cukup takut dengan sikap ramah Alex sejak dulu. Kai merasa itu terlalu berlebihan dan kekanak-kanakan. Apalagi cintanya pada Nay mulai tumbuh membesar juga semakin mendarah daging. Membuat Kai ingin melindunginya dari mata nakal para lelaki.


"Aku tidak bisa lama. Sebaiknya kau bicarakan yang ingin kau bicarakan. Jangan bertele-tele."


"Jujur saja Kak. Aku suka kau yang dulu. Sangat baik dan tidak kasar."


"Ya agar aku bisa di injak!!" Jawab Kai cepat.


"Aku yakin tidak akan ada orang yang kuat menginjak mu. Em ini." Alex menyodorkan berkas untuk kerja sama yang akan terjalin. Mereka berniat menyingkirkan perusahaan nomer tiga dan ingin mengalahkannya." Ideku. Pelajari Kak. Maaf jika banyak kesalahan. Aku hanya pemula." Kai menyambar berkas itu dan langsung membacanya." Papa ingin bertemu denganmu. Sayang sekali dia tidak bisa ikut. Kesehatan jantungnya terganggu. Dia berharap kamu bisa berkunjung ke Italia kapan-kapan." Erik tersenyum simpul. Dia merasa Kai tengah menahan amarah.


"Bisakah kau diam?!!" Tentu saja umpatan kembali di lontarkan.


"Aku tidak takut meski kau marah. Kita Kakak beradik kan."


Adakalanya Alex merasa bangga pada pencapaian Kai namun dia balik itu, dia miris melihat sikap Kai yang kini berubah 99 derajat.


Walaupun umur keduanya terpaut 6 tahun. Tapi saat itu Alex masih ingat bagaimana baiknya Kai. Anak pendiam dan suka menolong tanpa membutuhkan sebuah pengakuan.


"Aku setuju." Tap! Kai menutup berkas kasar." Erik yang akan menemani mu sepanjang pembangunan proyek." Alex memasang wajah kecewa. Alasan dia menetap karena dia merindukan masa kecilnya bersama Kai.


"Aku ingin kamu Kak. Kenapa orang lain. Papa juga tidak akan setuju. Dia berjanji akan menyusul kalau kesehatannya membaik."


"Aku sibuk." Jawab Kai ketus.


"Sia-sia aku menetap di sini."


"Kembalilah ke Italia."


"Sibuk apa sih? Kau juga belum punya Istri. Apa perlu ku carikan." Dengusan nafas Kai semakin terdengar kasar.


"Proyek akan di jalankan satu Minggu setelah ini. Ada beberapa hal yang perlu Erik selesaikan." Kai berdiri sambil meneguk minumannya sedikit.


"Buru-buru sekali."


"Aku sibuk."

__ADS_1


"Apa rumahmu masih sama Kak? Aku akan berkunjung nanti sore."


"Aku akan mengusir mu! Sisanya bicarakan dengan Erik!"


Kai melangkah keluar restoran menuju mobil mewahnya. Sementara Alex masih berdiri menatapnya. Bibirnya tersenyum sebab tanpa Kai sadari, sejak dulu Alex menaruh simpatik padanya.


Orang tuamu akan sedih melihat perubahan mu Kak..


🌹🌹🌹


Elang mengumpat sejadi-jadinya setelah dia menyadari kenyataan soal kebangkrutan JANS GRUP. Berita itu di dapatkan dari internet sebab pengelola perusahaan tidak tahu menahu soal kontak miliknya. Saham yang di miliki anjlok setelah penyokong terbesar menarik semua saham yang di tanam.


"Sialan!! Bagaimana mungkin!!" Teriaknya kesetanan. Kedua tangannya mencengkram erat kepalanya yang hampir pecah.


Maniknya menatap sekitar yang berantakan sebab kini Elang tinggal di sebuah bangunan terbengkalai. Letaknya jauh di dalam hutan. Dia tidak sengaja menemukan bangunan tersebut dan di jadikan persembunyian sementara.


Elang meraih kunci mobil dan masuk ke dalamnya. Dia ingin menarik beberapa uang untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti ATM miliknya di bekukan.


Setelah sampai di ATM terdekat. Otak Elang di buat mendidih sebab apa yang di tebak benar-benar terjadi. Dari banyaknya ATM yang di bawa, tidak ada satupun ATM yang dapat di gunakan.


"Aku harus bertemu dengan si penanam saham. Sebaiknya aku pergi ke perusahaan."


Elang kembali masuk mobil dan mengambil beberapa atribut penyamaran. Kini sosoknya berganti menjadi lelaki cupu lengkap dengan kacamata dan tompel pada pipi kanannya.


Semoga saja masih bisa di rayu. Aku tidak bisa bebas bergerak tanpa uang..


🌹🌹🌹


Baru saja mobil Kai terparkir di garasi. Nay berjalan menghampirinya. Berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan.


Terdengar dessahan lembut lolos dari bibir Kai setelah dia menyadari kemarahan Nay masih berlanjut sampai sekarang.


"Katanya hanya sebentar Mas? Kenapa hampir satu jam?" Protes Nay seakan tidak di dengar. Padahal apapun yang dia bicarakan selalu jadi prioritas di fikiran Kai.


"Sudahlah Baby. Kamu masak apa? Aku lapar." Tangan kanannya merangkul kedua pundak Nay erat. Tidak ingin memulai perdebatan atau lebih tepatnya enggan menanggapi perdebatan.


"Katakan Mas, siapa relasi mu? Apa dia sangat cantik sampai-sampai kamu tidak mengajakku."


Apa yang sedang dia bicarakan. Hobi sekali membuat onar. Padahal hanya sebentar aku pergi.


"Aku tidak suka wanita." Jawab Kai asal.


"Berarti benar?" Nay melepaskan diri dari rangkulan Kai.


"Kebenarannya hanya aku sedang lapar. Ayolah Baby, ini masih pagi."


Sepertinya biasanya, meski sedang marah. Nay menggiring Kai duduk di kursi makan. Dia menyiapkan sajian di atas piring lalu duduk dengan wajah masam.

__ADS_1


"Kamu tidak makan?" Tanya Kai seakan acuh.


"Aku tidak lapar."


"Mau ku bantu?" Maksudnya ku suapi.


"Tidak. Aku malas jika kau tidak jujur padaku."


Beruntung sekali aku menikah di umurku yang sudah 35 tahun. Kalau sampai aku menemukan dia sejak dulu. Mungkin aku tidak bisa...


"Mas!" Kai menelan makanannya kasar sampai hampir tersedak.


"Ya apa?!" Jawabnya tidak kalah ketus. Tangannya meraih gelas dan minum.


"Kau tadi bertemu siapa?"


"Aku tidak ingin kamu bertemu dengannya. Itu kenapa aku tidak mengajak mu." Jawaban yang sama seperti tadi pagi. Tentu saja Nay tidak puas mendengarnya. Pernikahan sangatlah rumit. Kenapa dia selalu curiga setiap harinya.


"Kenapa?"


"Dia orang yang tidak menyenangkan."


"Seorang perempuan?"


"Bukan." Aku sudah menjelaskan jika jenis kelaminnya laki-laki tapi dia bertanya lagi.


"Ini terakhir kali."


"Apa maksudnya?"


"Ajak aku kalau bertemu dengannya lagi."


"Erik sudah mengurusnya. Aku juga malas bertemu dengannya."


Nay membalikkan piring lalu memberinya satu centong nasi. Sesekali Kai meliriknya, memperhatikan pergerakan Nay yang di rasa masih kesal.


Sebenarnya aku sedang bersikap seperti apa? Kenapa aku jadi was-was seperti ini? Bukankah dulu aku tidak pernah menaruh curiga pada Mas Hendra. Tapi sekarang...


Nay menatap lemah ke arah Kai lalu mulai memasukkan sedikit makanan ke mulutnya. Dia mengunyahnya pelan sekali bahkan sangat pelan.


Sikap itu membuat Kai sangat terbebani. Dia ingin menikmati tiga hari dengan keadaan tenang sebelum rencana Alan di lakukan.


"Ingin berkunjung ke rumah Caca?" Tawaran dari Kai sontak membuat Nay menegakkan kepalanya. Aku ingin tahu bagaimana keganjilan yang di bicarakan Erik.


"Memangnya tidak apa-apa Mas?" Seketika wajah kesal itu tergantikan dengan senyuman manis.


Maaf. Hidupmu harus terkurung dan tidak sebebas dulu.

__ADS_1


"Hm. Asal bersama ku. Kita pergi ke sana setelah makan. Tapi syaratnya, kamu harus makan banyak agar cepat hamil." Wajah Kai masih terlihat datar bahkan tidak berekspresi. Namun permintaan tersebut sudah membuat Nay begitu bahagia. Dia mulai memahami dan mengerti bagaimana watak kaku Kai.


🌹🌹🌹


__ADS_2