
Nay berinisiatif untuk menanyakan di mana letak toko yang menjual alat-alat membuat roti ke scurity Plaza. Ada sedikit rasa was-was sebab Nay membawa senjata api di paha kanannya. Namun Kai terlihat tenang-tenang saja. Mungkin sudah terbiasa sementara Nay takut jika tiba-tiba ada pemeriksaan.
Nay tidak tahu, jika di sekitar mereka ada beberapa anak buah Alan yang sudah di tugaskan untuk mengamankan area sekitar.
Seharusnya Nay tidak perlu khawatir sebab Kai punya hubungan baik dengan pemilik beberapa plaza sehingga dia bisa bebas membawa senjata api. Si pemilik tahu kalau Kai bukan orang sembarangan.
"Sepertinya itu tokonya." Menunjuk ke kanan.
"Hm ya."
Tanpa saling bersentuhan keduanya berjalan beriringan menuju toko perlengkapan membuat kue. Mereka masuk dan di sambut seorang pegawai toko yang berjenis kelamin laki-laki.
"Ada yang bisa saya bantu Kak." Tanyanya ramah.
"Saya ingin melihat-lihat cetakan kue."
"Mari saya antar."
Tanpa berkata apapun, Kai mengekor seraya memperhatikan sekitar. Sementara Nay sibuk memilih loyang kue juga bahan-bahan yang di perlukan.
"Ini sudah terlalu banyak." Gumam Nay pelan.
"Kami menyediakan jasa delivery Kak."
"Oh begitu. Ya sudah saya ambil yang ini juga yang ini."
"Sayangnya aku tidak setuju dengan sistem delivery." Nay menoleh ke arah Kai.
"Kenapa begitu Mas?"
"Kamu tahu jawabannya. Biar orang-orang ku yang membawa."
"Orang-orang?" Nay mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Dia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan seperti para penjaga rumah.
"Berapa totalnya." Tanya Kai tidak ingin banyak bicara.
"Hm sebentar Kak."
Ada tiga pegawai yang membantu untuk membawa alat-alat yang di beli Nay. Jumlahnya cukup banyak mengingat Nay ingin melengkapi dapur dengan perabotan yang di butuhkan.
Setelah pembayaran selesai, dua orang berpakaian santai berjalan menghampiri. Mereka membawa barang belanjaan lalu pergi tanpa berkata sepatah katapun.
Tentu saja pemandangan tersebut membuat para pegawai menebak jika Kai bukanlah orang sembarangan. Apalagi penampilan rapinya menyita perhatian sekitar.
"Em maaf. Boleh aku berkomentar." Tanya Nay sebelum memulai pembicaraan.
"Apa? Katakan?"
"Kamu sering datang ke sini?"
"Tidak. Kenapa?"
__ADS_1
"Aku merasa penampilan mu terlalu rapi." Kai melirik sebentar kemudian kembali menatap lurus ke depan." Kalau keluar untuk berjalan-jalan, bukankah sebaiknya kamu memakai baju santai seperti kaos." Imbuhnya tersenyum.
"Kamu suka yang seperti itu?"
"Bukan masalah suka atau tidak. Tapi lebih terlihat tidak mencolok. Agar kita emmmm bisa membaur dengan keadaan."
Apa yang Nay katakan benar adanya. Sejak awal masuk Kai sudah menjadi sorotan publik. Penampilan rapi yang di padu dengan paras tampan menambah nilai tersendiri dalam pandangan para wanita.
Sudah pasti mereka menerka betapa sempurnanya Kai, ingin berada di sampingnya sehingga memicu rasa ingin memiliki bahkan merebut. Itu salah satu alasan kenapa Nay ingin merubah cara berpakaian Kai yang di rasa terlalu mencolok.
"Aku tidak memiliki kaos. Hanya ada kemeja."
Sementara Kai merasa percaya diri berpenampilan rapi. Dia tidak ingin lagi terlihat buruk yang mungkin bisa membuatnya kembali di pandang sebelah mata.
Padahal faktanya, Kai sudah banyak berubah. Nay bahkan tidak mengenalinya sebab dulunya Kai sangatlah kurus, berkacamata dan tidak memiliki rasa percaya diri. Tapi yang di lihat sekarang. Tubuh Kai hampir mendekati kata sempurna dengan otot-otot tubuh yang terbentuk. Raut wajahnya terlihat lebih tegas dan tidak lagi tertutupi oleh kacamata.
"Sekalian saja kita beli." Kai tidak bergeming dan memasang wajah datar." Kalau setuju. Jika tidak, ya sudah. Em kita langsung ke Cafe saja." Imbuh Nay tidak ingin terlalu memaksa.
"Aku kurang percaya diri memakainya."
"Kenapa begitu?"
"Aku nyaman dengan penampilan seperti ini."
"Memakai kaos akan lebih nyaman. Mau mencobanya?" Kai menoleh sejenak lalu berpaling ketika dirinya sadar Nay tengah tersenyum ke arahnya.
"Kalau tidak pantas jangan di paksa."
"Hm."
"Kita coba ke sana."
Keduanya masih bertahan dengan posisi yang sama. Saling berdekatan namun tidak saling menyentuh. Padahal seharusnya Kai menggenggam tangan yang sesekali menyentuh kulit jemarinya. Ingin memulai tapi lagi lagi rasa canggung mengalahkan. Kai hanya mampu memasang wajah datar, seakan tidak menginginkannya.
Singkat waktu. Kai mengerutkan keningnya ketika Nay menyodorkan sebuah kaos berwarna putih dengan kemeja bermotif hati. Tentu saja dia tidak menerima baju tersebut karena terlihat konyol.
"Warna hitam saja." Jawabnya menolak.
"Kalau hitam sama saja dengan jas ini." Menyentuh ujung jas milik Kai.
"Paling tidak jangan berwarna terang."
"Ini tidak terang. Ini cukup soft kok." Rajuk Nay lagi.
"Aku pasti terlihat konyol. Warna hitam saja."
"Ah ya sudah." Nay kembali menggantung kaos dan kemeja." Kita langsung ke Cafe ya." Ajakan Nay sontak membuat wajah Kai berubah cemas.
"Tidak jadi beli?" Tanyanya pelan.
"Kalau warna hitam bukankah kamu punya."
__ADS_1
"Hm hanya ada 2."
"Kita langsung ke Cafe saja." Kai mencegah kepergian Nay dengan menghadang langkahnya.
"Akan ku coba kaos pilihan mu tadi." Seketika senyum Nay berubah mengembang. Dirinya semakin yakin jika Kai memiliki seonggok es krim untuk orang yang di anggapnya spesial.
"Serius Mas? Aku tidak memaksa."
Benar kata dia. Cara wanita memaksa terlihat samar tapi mengikat. Aku takut dia marah jika aku menolak keinginannya.
"Hm. Aku harap kamu berkata jujur setelah aku memakainya."
"Oke baik." Nay kembali mengambil baju pilihannya." Ini Mas." Menyodorkan baju pada Kai yang langsung masuk ke ruang ganti.
Hampir lima belas menit menunggu tapi Kai belum juga keluar sehingga terpaksa Nay berjalan menuju ruang ganti dan berdiri di depan pintu.
"Belum selesai Mas?" Tanya Nay setengah berteriak.
"Ini sangat aneh. Aku terlihat konyol."
"Coba aku lihat. Keluarlah dulu."
"Sebaiknya aku ganti saja. Warna putih tidak cocok untukku." Nay menghela nafas panjang. Memikirkan cara agar Kai mau keluar dan memperlihatkan penampilan barunya.
"Aku pergi ya Mas." Jawab Nay berpura-pura.
"Hei tidak! Tetap di sana! Tunggu aku mengganti baju ini sebentar." Nay sengaja diam setelah berjalan sedikit menjauh sebab dia tahu Kai akan mengintipnya dari bawah pintu." Anak buahku sangat banyak! Kau bisa kembali ku kurung kalau kau memakai cara ini untuk kabur." Nay berdiri dan tetap bungkam. Sambil menunggu Kai menunjukkan penampilannya.
Tentu saja Kai panik sehingga terpaksa dia keluar dari ruang ganti dan berniat mengejar Nay yang ternyata berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Tentu saja. Dia mengerjai ku..
"Wah kamu tampan sekali Mas." Puji Nay berjalan mendekat.
"Ini aneh."
"Apa yang aneh? Penampilan ini cocok untuk di pakai saat keluar untuk berjalan-jalan." Kai menghela nafas panjang. Mengendalikan perasaannya yang meledak-ledak akibat pujian dari Nay.
"Aku tidak nyaman."
"Belum terbiasa saja. Em Kak." Nay melambai ke salah satu pegawai plaza.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ambil baju dan kemeja ini ya." Menunjuk ke arah Kai.
"Hm baik." Si pegawai mengambil bandrol harga dengan cara mengguntingnya. Keduanya di giring ke meja kasir untuk melakukan pembayaran.
Setelah selesai, baju lama di masukkan ke dalam paper bag sementara Kai di paksa memakai baju pilihannya.
__ADS_1
🌹🌹🌹