Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 12


__ADS_3

Setelah merendam tubuhnya, Nay berganti baju lalu membuat teh hangat. Dia pergi ke teras apartemen seraya menikmati suasana siang itu.


Nay memperhatikan kanan kiri. Hanya apartemen miliknya yang terpasang teralis besi. Dia tidak memikirkan keganjilan itu dan tetap menyeruput teh hangatnya.


"Besok aku akan bertemu Mas Hendra." Gumamnya tersenyum." Apa dia mengenali ku dengan wajah ini?" Nay tidak yakin sebab wajah yang di miliki sekarang jauh lebih cantik dengan kulit seputih susu.


"Aku baru tahu alasan, kenapa tetangga apartemen ku memasang teralis besi." Sapa Elang yang sudah berdiri di terasnya. Sejak pertemuan tadi, membuatnya sangat penasaran.


Tapi Nay tidak perduli dengan sapaan. Dia bersikap seakan-akan Elang tidak ada.


"Ada bidadari yang harus di lindungi." Imbuhnya berusaha merayu." Aku Roy. Siapa namamu?" Nay masih saja tidak bergeming dan malah masuk ke dalam kamar.


Elang menghela nafas panjang. Ini kali pertama dia di tolak. Padahal sebelumnya tidak ada satu wanita yang sanggup menolak pesonanya.


"Tipe setia. Mengejutkan. Aku ingin tahu setampan apa Suaminya."


Penolakan yang di lakukan Nay membuat niat Elang untuk mendekat semakin menggebu. Dia masuk ke dalam lalu mengambil ponsel dan memesan makanan.


"Jangan panggil aku Elang jika tidak bisa berkenalan dengan mu." Gumamnya tersenyum simpul lalu duduk.


Sementara Nay sendiri malah merasa terganggu dengan sapaan Elang. Hatinya hanya tertuju pada Hendra meski takdir menghadirkan beberapa lelaki berparas tampan di sekitarnya.


"Kenapa Tuhan membawa ku ke tempat sejauh ini? Apa yang salah dengan kehidupan ku dulu?"


Nay kembali ingat dengan kehidupan sederhana nan hangat yang di berikan Hendra. Apalagi seorang anak di hadirkan sehingga dia merasa kehidupannya dulu begitu sempurna. Itu kenapa Nay bertanya-tanya dengan alasan Tuhan membawanya ke tempat asing.


Lamunan Nay buyar ketika bel pintu berbunyi. Dia meletakkan teh hangat dan berjalan ke depan untuk memeriksa melalui layar kecil di samping pintu.


Terlihat Elang berdiri di sana sambil membawa sebuah bungkusan.


Apa yang sedang lelaki itu lakukan?


Nay terdiam sesaat. Berharap Elang pergi namun itu hal yang mustahil sehingga dia memutuskan untuk menemui Elang dan menanyakan niatnya. Sebelum membuka pintu, Nay mengambil senjata api lalu meletakkannya pada sabuk yang terpasang di paha.


Kai kerapkali mengingatkan dirinya untuk tetap waspada sehingga sabuk harus langsung di pasang setelah dia selesai mandi.


"Ada apa? Kau menganggu sekali." Tanya Nay ketus.


"Ucapan selamat datang." Jawab Elang menyodorkan bungkusan.


"Tidak. Terimakasih." Nay akan menutup pintu namun kaki kiri Elang menghalangi.


"Kenapa kaku sekali?"


"Aku sudah punya Suami Kak."


"Hanya berteman." Nay tersenyum simpul. Sekalipun dia tidak pernah memiliki teman lelaki semenjak menikah. Itu semua di lakukan untuk menghindari godaan dari luar dan sebagai bukti kesetiaannya pada Hendra.


"Alasan yang basi. Singkirkan kakimu." Jawab Nay memberikan peringatan.


"Siapa namamu?"

__ADS_1


Dengan berat hati Nay mendorong tubuh Elang sampai-sampai hampir terjungkal. Sebelum menutup pintu, Nay mengacungkan jari tengah. Perbuatan itu malah di balas dengan senyuman simpul.


Namun ketika pintu akan di tutup, Elang mendorong pintu keras dan menerobos masuk.


"Kamu semakin membuatku penasaran." Wajah Nay tidak tampak terkejut. Wajahnya terlihat datar, tanpa mimik wajah kesal apalagi senyuman." Aku Roy, siapa namamu." Elang mengulurkan tangannya. Tubuhnya di sandarkan pada pintu agar Nay tidak berusaha menutupnya.


"Aku tidak berminat, silahkan pergi." Tolak Nay sambil bersiap mengambil senjata api. Dia mengira jika Elang salah satu musuh Kai padahal itu semua adalah kebenaran.


Tepat di saat Nay akan mengambil senjata api, tiba-tiba seorang lelaki berkumis dan berkacamata datang. Dia menahan tangan Nay yang akan mengambil senjata.


"Siapa dia?" Tanya si lelaki yang ternyata Kai. Sengaja dia menyamar karena pernikahannya dengan Nay tidak berniat di publikasikan.


Tuan Kai? Bagaimana mungkin dia sudah ada di sini?


"Aku tidak tahu. Usir dia, aku ingin beristirahat." Nay melepaskan pegangan tangan Kai lalu melangkah masuk.


"Dia Istri saya." Elang tersenyum simpul menatap Kai yang memiliki postur tubuh lebih tinggi darinya.


"Oh ternyata anda Suami nya." Elang mengulurkan tangannya." Maaf ini hanya salah faham. Saya ingin berkenalan dengan tetangga baru tapi rupanya Istri anda berlebihan menanggapinya." Kai tidak membalas uluran tangan Elang dan malah menatapnya tajam.


"Silahkan pergi. Kehadiran anda tidak di terima."


"Sangat wajar. Istri anda sangat cantik dan wajib di lindungi."


"Itu bukan jawaban. Pergi atau ku seret paksa?"


"Oke. Saya pergi. Nama saya Roy. Terimakasih atas sambutannya." Terpaksa Elang melangkah keluar sehingga Kai bergegas menutup pintu." Menantang sekali. Lihat saja nanti." Gumam Elang masuk ke dalam apartemennya.


Kai mencopot kacamata serta kumis palsu dan mengantonginya. Dia berjalan menghampiri Nay yang duduk dengan teh yang tidak lagi hangat.


"Itu juga salah satu dari ancaman. Lelaki itu mengganggu sekali."


Kai merasa gelisah dan memutuskan untuk pergi ke apartemen. Ide menyamar di dapatkan dari Alan. Walaupun dia yakin Nay bisa menjaga diri. Namun dari kejadian sekarang membuatnya sadar jika pelatihan menembak saja tidak cukup. Nay masih harus banyak belajar untuk menanggapi situasi yang terjadi.


"Seharusnya kau tidak membuka pintu." Nay menghela nafas panjang. Kai selalu saja menyalahkan padahal Nay ingin hubungan keduanya akrab tanpa perdebatan.


"Sebaiknya kamu pulang. Aku ingin beristirahat." Jawab Nay berniat mengusir secara halus.


"Tidak." Nay menatap tegak ke arah Kai. Apa yang di katakan, sesuai dengan isi surat perjanjian.


"Bukankah kamu tidak ingin ku sentuh? Kamu sendiri yang bilang tidak mau berada satu ruangan dengan ku." Kai menghela nafas panjang. Dia merasakan keanehan pada perasaannya sampai-sampai dia sendiri bingung menjelaskan.


"Rasanya pelatihan menembak saja tidak cukup. Kau terlalu teledor." Jawab Kai mengingatkan kekhawatirannya.


"Aku berjanji tidak akan mengulanginya."


"Istirahat saja. Aku tetap di sini."


"Tidak Tuan. Aku tidak mau." Ujar Nay menolak.


"Walaupun pernikahan ini sementara. Tapi aku Suamimu. Tidak ada salahnya."

__ADS_1


"Aku tidak mau memicu?" Kai menatap tajam Nay.


"Memicu apa?!


"Kau nanti akan menyukai ku." Kai terkekeh dengan mimik wajah penuh hinaan. Dia berusaha menutupi perasaannya dan membohongi dirinya sendiri.


"Mana mungkin. Tidak semudah itu membuat ku jatuh cinta. Aku hanya butuh rahim mu dan tidak ingin terjadi sesuatu dengan calon anakku."


"Dia baik-baik saja. Sudah ku katakan jika rahimku tidak bermasalah."


"Terserah. Sebelum anak itu lahir, semua aturan sesuai kemauan ku."


"Ya oke. Setelah anak ini lahir, pernikahan ini juga akan berakhir tanpa menyisakan cerita." Jawab Nay pelan.


"Tentu saja. Mustahil aku mengingkari janji."


Nay berdiri menuju dapur kecil untuk mencuci cangkir teh. Setelah itu, dia memutuskan untuk berbaring tanpa perduli pada keberadaan Kai.


Kenapa aku melakukan ini? Bukankah seharusnya aku memantau dia dari jauh saja! Kenapa aku ini?


Kai beranjak dari tempat duduknya. Dia menutup pintu teras lalu berbaring di sofa. Maniknya melirik ke arah Nay yang masih membuka mata.


"Aku ingin ke makam anakku. Sudah lama aku tidak ke sana."


"Lupakan soal itu dulu."


"Jaraknya tidak jauh dari sini. Kalau kamu melarang, aku bisa pergi sendiri." Kai terduduk sambil mendengus.


"Sepertinya kamu memanfaatkan ku lewat janin itu?" Nay tersenyum simpul.


"Bukankah kamu yang memanfaatkan ku?"


"Itu balasan dari pertolongan yang ku berikan."


"Katanya aku tidak boleh stres?"


"Oh kau mulai mengancam."


"Keinginan Ibu hamil tidak boleh di tolak. Apa kamu mau anak mu mengeluarkan air liur terus menerus?" Sontak Kai melebarkan matanya.


"Anakku pasti sangat sempurna."


"Ya. Aku ingin pergi ke makam anakku." Kai menddesah lembut.


"Astaga." Eluh Kai mencengkram erat kepalanya.


"Jika hati ku terluka, janin yang ku kandung juga akan merasakannya."


"Oke. Nanti akan ku antarkan." Jawab Kai menyerah." Ingat. Ini ku lakukan hanya demi anakku bukan kau!" Imbuhnya tidak ingin Nay berfikir macam-macam.


"Kamu tengah saja Tuan. Aku tidak pernah berharap lebih dari isi surat perjanjian. Aku masih sangat mencintai Mas Hendra. Jadi, jangan beranggapan jika aku menjadi besar kepala. Aku sadar, kamu Tuannya dan aku bukan siapa-siapa."

__ADS_1


Kai membuang muka, entah kenapa dia merasa kesal atas jawaban Nay. Seharusnya itu melegakan hati nya sebab Nay mampu melakukan tugas, tanpa hati, tanpa sentuhan walau status pernikahan kini mereka sandang.


🌹🌹🌹


__ADS_2