
Keesokan harinya..
Dini hari Kai terjaga ketika mendengar getaran pada ponselnya. Perlahan dia beranjak dari tempatnya tanpa membangunkan Nay yang terlihat masih tertidur pulas. Kai berjalan menjauh dari ranjang untuk menerima panggilan yang berasal dari Alan. Terlihat di layar, Alan sudah mengirimkan beberapa pesan sejak semalam sehingga langsung saja Kai menelfon balik.
📞📞📞
"Ada apa?
Tanya Kai seraya menghela nafas panjang. Dia tidur terlalu pulas sampai-sampai tidak mendengar panggilan tersebut. Padahal sebelumnya, Kai jarang memejamkan mata dan hanya beristirahat beberapa jam saja.
"Ini soal teman Nona Nay. Lelaki yang mendekatinya ternyata Elang. Saya sudah berusaha menangkapnya tapi dia kembali kabur.
Kai sudah terbiasa mendengar laporan kegagalan soal Elang sehingga mimik wajahnya terlihat biasa saja.
"Terus kenapa melapor sepagi ini? Apa ada hal genting?
"Saya tidak bisa lancang masuk ke apartemen. Saya menelfon karena mungkin Nona ingin melihat keadaannya.
"Dasar murah! Sudah di peringatan tapi tidak mendengar. Istri ku masih tidur. Aku akan memberitahu kalau dia sudah bangun.
"Hm baik Tuan. Saya tunggu.
📞📞📞
Kai menutup panggilan lalu duduk lemah di sofa seraya tersungging. Kehangatan yang di rasakan tadi malam sedikit mengikis kerasnya hati sampai-sampai dia enggan untuk bangun.
Sementara di dalam kamar apartemen. Caca yang baru saja terjaga, memasang wajah bingung sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia melupakan kejadian semalam tapi saat dia melihat bajunya yang berserakan, membuatnya langsung terduduk dengan wajah tegang.
Semalam aku.. Kak Roy?
Bergegas saja Caca bangun lalu memungut satu persatu baju dan mengenakannya. Maniknya melirik ke arah ranjang yang terdapat noda darah. Kakinya terasa berat di sertai nyeri pada pangkal paha. Itu karena Caca memberikan segel yang seharusnya di jaga. Bukan malah di berikan pada seseorang yang baru di kenal beberapa hari.
Kemana Kak Roy?
Sambil berjalan sempoyongan, Caca memeriksa kamar mandi juga semua sudut ruangan. Dia kembali duduk lemah ketika tidak menemukan Elang di manapun.
Sebaiknya aku menghubunginya..
Caca mengambil ponsel dari dalam tas kecil. Ada panggilan dari nomer yang tidak dia kenal. Ibu jarinya hanya menggeser panggilan tersebut dan beralih pada panggilan untuk Elang.
Hanya ada suara operator yang menyapa. Caca mengulanginya lagi dan lagi namun hasilnya tetap sama, kontak milik Elang sudah tidak aktif.
Mungkin dia mencari makan..
Caca berfikir positif dan berniat menunggu terlebih dahulu. Saat ponselnya kembali bergetar, dia cepat-cepat menerima panggilan yang di sangka dari Elang.
📞📞📞
"Kamu kemana saja!!
"A Ayah.
"Kamu di mana? Katakan? Kenapa tidak pulang?
"Maaf Yah. Aku di rumah teman. Kebetulan kemarin ada acara dan saat akan pulang, sudah terlalu malam.
"Astaga anak ini. Seharusnya memberi kabar dulu. Kamu tahu bagaimana bingungnya Mama mu.
"Iya maaf.
"Kamu pulang jam berapa?
"Pagi ini Yah.
__ADS_1
"Ayah tunggu.
"Ya.
📞📞📞
Panggilan terputus, Caca menggenggam erat ponselnya dan berharap kembali bergetar. Tentu saja dia menginginkan Elang menghubunginya dan memberi kabar untuk sebuah kepastian.
🌹🌹🌹
"Apa Mas? Siapa maksudmu?" Tanya Nay sambil duduk. Di tangannya ada handuk yang tengah di usapkan pada rambut basahnya.
"Memangnya temanmu siapa lagi?"
"Caca?"
"Hm." Segera saja Nay berdiri lalu berjalan menghampiri Kai yang tengah memeriksa senjata api kebanggaannya.
"Di apartemen mana? Katakan dengan jelas." Kai menghela nafas panjang lalu menyimpan senjata di balik jas.
"Kamu ingin pergi dengan rambut basah itu? Perbaiki penampilan mu dan kita pergi ke lokasi." Nay cepat-cepat berjalan untuk mengambil sisir, meski rambutnya masih basah, dia merapikannya dengan raut wajah gelisah.
"Apa mereka sudah tahu siapa lelaki itu?"
"Menurut mu?" Kai tersenyum simpul. Sebenarnya masalah Caca tidaklah penting baginya. Tapi dia terlanjur berjanji pada Nay apalagi sejak beberapa hari, kegiatan Caca selalu di pantau.
"Musuh mu yang mana Mas? Katakan?"
"Tikus pengecut itu.. Memuakkan sekali. Kalian berdua sempat bertemu kemarin." Nay menoleh dan menatap Kai penuh tanya.
"Jadi Roy adalah Erlangga?"
"Ya."
"Membunuhnya secara perlahan saja tidak cukup." Gumam Kai pelan.
Kenyataan tersebut membuat kemarahan Kai kian meluap. Mengingat saat sosok Roy pernah merayu Nay bahkan berani berbuat nekat hanya untuk berkenalan.
"Terserah mau kau apakan makhluk itu. Bawa aku bertemu Caca."
Kai memandangi sosok di hadapannya sebentar sebelum berdiri. Meski dirinya tahu kecantikan Nay dari hasil operasi namun sejak pertemuan mereka, otak Kai semakin terkontaminasi dengan sosok Sisil.
Apalagi setelah kehangatan yang di rasakan semalam. Hati dan perasaan Kai kian terikat kuat walau dia tidak kuasa mengakuinya.
Singkat waktu, setibanya di lokasi. Nay mencoba menombol bel pintu sementara Alan dan Kai berada di belakangnya.
Saat itu waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Alan yakin jika Caca belum meninggalkan kamar sebab beberapa anak buahnya berjaga di depan apartemen.
Tidak butuh waktu lama. Pintu apartemen terbuka karena Caca mengira jika seseorang yang berdiri di balik pintu adalah Elang.
"Nay?" Gumamnya dengan mata membulat. Kaki kanan Nay menahan pintu ketika Caca berusaha menutupnya. Dengan gerakan kasar Kai mendorong pintu apartemen yang otomatis terbuka lebar." Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Caca berusaha bersikap tenang meski sejak tadi kegelisahan meliputi perasaannya.
"Kamu tidak mendengarkan peringatan ku?" Caca menghela nafas panjang. Dia beranjak dari tempatnya untuk mengambil tas. Nay mengekor masuk dan berusaha mencegah kepergian Caca." Katakan. Apa yang dia lakukan padamu?" Tanya Nay ingin tahu.
"Tidak ada. Aku hanya terlalu malam untuk pulang dan memutuskan tidur di sini."
Nay mengedarkan pandangannya ke sekitar dan matanya sontak membulat ketika melihat bercak darah pada sprei apartemen.
"Kamu.."
"Aku harus pulang." Nay menarik kasar lengan Caca untuk menahan langkahnya.
"Kenapa semudah itu Ca." Protes Nay merasa kecewa atas sikap bodoh yang di ambil Caca. Padahal gadis di hadapannya memiliki kepintaran yang di anggap bisa jadi alat ampuh untuk mencegah terjadinya kebodohan seperti sekarang.
__ADS_1
"Kamu bilang apa sih Nay. Aku harus pulang. Ayah mencari ku." Caca masih berusaha tidak mengakui. Dia berharap apa yang di lakukan semalam tidak berbuntut panjang.
"Aku tidak bodoh."
"Kau tahu. Aku sudah dewasa Nay."
"Dewasa bukan berarti bodoh? Aku fikir kamu tidak mudah terayu." Caca menghela nafas panjang untuk mengendalikan perasaannya yang bergemuruh. Maniknya melirik ke arah pintu untuk mencari keberadaan Kai dan Alan yang ternyata memilih menunggu di luar.
"Aku ingin menikah. Dia menjanjikan itu." Jawabnya pelan. Nay merengkuh tubuh Caca dan memeluknya erat." Tidak akan terjadi apa-apa Nay. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku menyesal." Isakan tangis mulai terdengar. Tidak dapat di pungkiri jika Caca takut kalau perbuatan akan menciptakan sebuah benih.
"Aku juga berharap seperti itu. Aku antarkan pulang."
Caca mengangguk patuh. Sejak tadi memang tubuhnya terasa lemas. Bukan hanya kesucian yang berhasil Elang renggut, tapi trauma hebat pada otaknya.
"Aku sekarang juga menginginkan nya." Ucap Nay setelah mengantarkan Caca ke rumahnya. Dia duduk di sisi Kai yang sedang fokus menyetir.
"Terlalu murahan lebih buruk daripada fisik yang tidak sempurna." Jawab Kai asal. Meski dia merasa geram pada Caca tapi sepanjang perjalanan sekalipun Kai tidak ikut angkat bicara ketika Caca masih bersama mereka.
"Biasanya dia tidak gampang terayu."
"Bukan tidak gampang tapi memang tidak ada yang mendekat." Nay melirik malas lalu menddesah lembut.
"Tega sekali kamu Mas."
"Fakta menunjukkan bukti yang nyata. Temanmu sangat labil dan mudah terbawa arus. Seharusnya dia bisa menjaga diri. Jangan asal melepaskan. Buruk rupa boleh, bodoh jangan. Tapi rupanya dia memiliki keduanya."
Nay bersandar lemah pada pundak Kai. Mimik wajahnya seketika berubah di sertai hembusan nafas berat.
"Semua orang punya kelemahan begitupun dirimu."
"Hm. Tapi aku berhasil menjadikan kelemahan ku menjadi keunggulan."
"Aku yakin itu Mas. Kita praktekan kalau aku sudah bersih." Sontak Kai memasang senyuman aneh.
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Kelemahan mu."
"Lantas, kenapa membahas soal bersih."
"Bukankah kelemahan mu adalah aku?" Debaran jantung Kai mulai bergejolak.
"Maksudku bukan itu. Dulu aku gampang di tindas dan sekarang.."
"Itu bukan kelemahan mu. Aku yakin setelah ini kamu akan berhasil melawan kelemahan mu yang sebenarnya. Kita akan hidup bahagia dan memiliki anak yang lucu-lucu."
Kai terkekeh setengah meledek. Meski terdengar konyol namun dirinya juga berharap itu terjadi.
"Hidup kita tidak akan tenang. Musuh ku banyak." Jawab Kai berusaha menyangkal.
"Kamu sedang pulang. Jangan membahas soal musuh dan apapun yang terjadi di luar."
"Jangan bicara macam-macam. Kita masih berada di luar."
"Kita masih berdua."
"Jadwal kita cukup padat sampai siang ini." Kai berusaha tidak merespon rayuan Nay.
"Aku tahu Mas."
"Kita sarapan pagi lalu ke beberapa pertemuan. Erik belum sepenuhnya ku berikan kendali."
Nay mengangguk seraya tersenyum. Dia sendiri belum memiliki perasaan cinta tapi mulai menikmati kebersamaan. Walaupun Kai bukan lelaki bertutur kata lembut, namun Nay yakin jika Kai akan mengayomi selayaknya seorang Suami pada Istri.
__ADS_1
🌹🌹🌹