Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 79


__ADS_3

Satu Minggu kemudian..


Hampir semua makanan berkarbohidrat tidak dapat Nay konsumsi. Mual hebat mengaduk-aduk perut ketika ada sesuatu yang tidak sesuai standar selera melewati tenggorokannya. Air putih pun enggan di minum. Alasannya karena rasanya aneh.


Berbagai vitamin sudah di konsumsi tapi tetap saja hasilnya nihil. Janin dalam perutnya seakan tidak mempan dan tetap menolak makanan. Akibatnya, kini tubuh Nay terlihat semakin kurus.


"Maaf Mas. Aku tidak bisa menemani mu makan." Ucap Nay ketika Kai baru saja masuk ke dalam kamar. Sudah beberapa hari ini dia memilih delivery. Tidak dapat di pungkiri jika sebenarnya Kai merindukan sedapnya masakan Nay.


"Sepertinya ada yang salah."


Kai merasa terbebani dengan keadaan Nay sekarang. Memang kecantikannya tidaklah pudar. Tapi tubuhnya terlihat sangat kurus.


"Apa Mas?" Tanya Nay pelan.


"Kita periksa ke Dokter. Lihat keadaan janinnya. Aku merasa dia membawa dampak buruk bagimu." Kai belum memahami soal keadaan Ibu hamil. Itu kenapa dia menganggap jika janin di kandungan Nay tidak tumbuh sehat atau beracun.


"Bukankah kita sudah melakukannya Mas? Janin itu baik-baik saja."


"Tapi kamu tidak baik-baik saja." Sahutnya cepat." Mungkin dampak dari metode yang ku gunakan kemarin." Imbuhnya cemas.


"Tidak ada hubungannya Mas. Efek sampingnya hanya gagal atau berhasil. Kalau sudah menjadi janin, itu sepenuhnya bukan kesalahan dari metode kemarin."


Kai menghela nafas panjang lalu bersandar lemah di sofa. Ingin rasanya dia mengatakannya namun Nay tidak mungkin setuju dengan keinginan itu.


"Sudahlah Mas. Aku baik-baik saja."


"Bagaimana bisa baik kalau kamu tidak makan sesuatu." Eluhnya pelan.


"Aku masih bisa memakan buah-buahan."


"Tenaga itu dari karbohidrat Baby. Jangan terlalu membelanya."


"Membela siapa?" Tanya Nay lirih.


"Janin itu."


"Apa maksudmu Mas?" Kai memutar tubuhnya menghadap Nay.


"Aku tidak tega melihat mu. Kalau kehamilan ini menyakiti mu, lebih baik janin itu di singkirkan saja. Kita bisa mencobanya lagi." Nay menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak Mas. Kenapa kamu tega mengatakan itu."


"Aku memang ingin memiliki keturunan. Tapi kesehatan mu tetap saja yang utama."


"Ini masih batas wajar Mas. Aku sudah menjelaskan kalau keadaan Ibu hamil itu berbeda-beda."


"Wajar bagaimana? Kamu kurus sekali."


"Oh." Nay memalingkan wajahnya seraya menghela nafas panjang.


"Why? Apa aku salah?"


"Mungkin kamu malas melihat keadaan ku sekarang." Manik Kai seketika melebar. Akibat kekhawatiran yang tidak jelas membuatnya melupakan sensitif nya perasaan Nay.


"Bukan begitu."


"Kurung saja aku Mas. Tidak perlu mengajak ku pergi ke pertemuan atau sekalian saja kita tidur terpisah." Gleg! Saliva Kai tertelan kasar. Dia tidak ingin tidur berjauhan lagi apalagi sampai tidak mendapatkan jatah.


Walaupun Nay tengah hamil namun setiap malam Kai selalu mendapatkan sebuah percintaan panas. Meski cara bermainnya tidak sekasar biasanya tapi Kai sering gelisah jika jatah itu tidak di berikan.


"Ternyata kau sama saja! Aku malas melihat mu." Nay akan beranjak dan cepat-cepat Kai mencegahnya.

__ADS_1


"Kenapa berfikir seburuk itu?"


"Menurut mu niat tadi sangat baik?! Kau mau menyingkirkan anak ku hanya karena aku kurus!"


"Bu bukan begitu Baby. Aku mengkhawatirkan kesehatan mu. Aku takut terjadi sesuatu dengan mu."


"Itu karena kau tidak mengerti rasanya jadi seorang Ibu!"


Aku lelaki. Bagaimana bisa menjadi seorang Ibu? Astaga, aku menyesal mengatakan itu.


"Kau juga tidak akan pernah tahu bagaimana sakitnya kehilangan anak." Mata Nay mulai berkaca-kaca di iringi suara isakan.


"Maaf. Lupakan soal tadi."


"Mana mungkin bisa lupa." Nay menyingkirkan tangan Kai kasar lalu berdiri.


"Aku sudah minta maaf."


"Tapi kau ulangi lagi!!!" Teriak Nay cukup memekakkan telinga.


Satu-satunya orang yang berani meneriaki ku adalah kamu. Sungguh cinta mampu meluluhlantakkan kekuatan. Aku bahkan tidak sakit hati ketika dia berteriak sekasar itu padaku.


"Janji tidak akan ku ulangi. Aku mohon jangan marah, aku hanya mengkhawatirkan kesehatan mu." Rajuk Kai lagi dan lagi. Dia selalu bingung ketika Nay menunjukkan kemarahannya.


"Kau sadar Mas! Ini benihmu! Anakmu! Aku sudah sangat menyanyangi nya tapi kau tega berkata itu! Mana janjimu hah!!" Suara Nay sangat terlihat buruk. Lebih buruk dari suara Kai jika sedang mengumpat dan marah.


Gendang telingaku akan berlubang.


Konyolnya suara hati Kai membuat mimik wajahnya menunjukkan ekspresi senyum aneh. Dia tidak juga sadar jika janin di rahim Nay ingin menunjukkan sebuah cerminan bagi diri Kai sendiri. Bagaimana rasanya ketika di teriaki apalagi untuk kesalahan kecil.


"Aku minta maaf." Kai meraih pergelangan tangan Nay lalu melingkarkan nya ke perut. Kepalanya di giring bersandar di dada dan memberikan Nay usapan lembut pada rambut. Sekarang aku yang sering melakukan ini padanya. Beruntung, aku baru menemukan mu sekarang. Kalau sejak dulu, mungkin kekuasaan ini tidak akan ku dapatkan.


"Kalau kau ulangi lagi kita bercerai." Kai terkekeh kecil. Ingin menutupi ketakutannya akan ancaman Nay yang berhasil membuat jantungnya berhenti berdetak.


"Ya baik. Em.. Kamu jadi ikut kan?" Tanya Kai mengalihkan pembicaraan.


"Bertemu Istri Pak Sapto."


"Ya benar sekali."


"Memangnya ada masalah apa Mas? Katanya kasus kemarin sudah selesai?" Kai tersenyum simpul lalu merenggangkan dekapannya.


"Tebak apa?" Jawab Kai kembali bertanya.


"Mana aku tahu."


"Aku juga tidak tahu. Istri Sapto memaksa untuk bertemu." Kai berpura-pura tidak tahu.


"Di mana? Restoran?"


"Tidak. Dia datang ke perusahaan."


"Ya sudah aku mau ikut."


"Sekarang kamu bersiap dan kita pergi."


"Hm. Ingat ya Mas. Tidak boleh ada makanan."


"Erik sudah mengaturnya."


Nay beranjak menuju lemari untuk mengganti baju santainya dengan gaun lebih sopan. Kai juga berjalan ke lemari untuk mengambil satu jas yang tergantung lalu memakainya.

__ADS_1


.


.


.


.


Singkat waktu, setibanya di lokasi. Rupanya Istri Sapto tidak datang sendiri. Dia bersama seorang gadis cantik dengan penampilan glamor.


Ketika Kai baru saja masuk, dengusan nafas Istri Sapto terdengar sambil melirik malas ke arah Nay. Dia memperhatikannya dari atas sampai bawah seakan tengah membandingkan kecantikan Nay dengan anak gadisnya yang terlihat masih fresh.


"Akhirnya Tuan Kai datang juga." Istri Sapto yang bernama Rania. Mengulurkan tangannya begitupun si anak gadisnya yang tengah memasang senyum semanis-manisnya.


"Hm ada perlu apa?" Kai langsung duduk tanpa memperdulikan uluran tangan Bu Rania.


Astaga tidak sopan sekali.


Bu Rania menarik tangannya kembali, dia duduk sambil memasang senyum palsu.


"Kedatangan saya kemari ingin meminta bantuan pada Tuan Kai soal Pak Sapto yang sekarang di penjara. Em beliau menyuruh saya menemui Tuan agar mau membantu membebaskannya."


Kai tersenyum simpul, sementara Nay menghela nafas panjang. Cukup cemburu melihat anak gadis Sapto yang mencoba mencuri pandang pada Kai.


"Kenapa saya? Bukankah dia sekutu Alex?" Sontak Nay menoleh. Sampai saat ini dia masih menganggap Alex lelaki sopan nan ramah.


"Saya tidak mengerti Tuan. Em Suami saya hanya berkata seperti itu."


"Oh." Setelah jawaban singkat itu, Kai tidak lagi melontarkan kalimat.


"Sekalian saya ingin mencarikan perkerjaan untuk anak gadis saya. Mungkin Tuan bisa merekrutnya berkerja di perusahaan ini." Kai masih tidak bergeming dan enggan menanggapi." Saya tidak tahu bagaimana kehidupan kami selanjutnya Tuan. Em Suami saya di pecat secara tidak terhormat dan itu berarti uang pensiun akan hangus." Bu Rania berharap Kai bisa iba mendengar keluhannya.


"Ambil berkasnya." Erik bergegas mengambil berkas dari tangan Bu Rania. Dia mengeluarkan isi di dalamnya lalu melihatnya sejenak." Anak anda lebih pantas berkerja di Diskotik. Perusahaan saya tidak membutuhkan orang berpenampilan menarik namun otaknya tumpul." Dengan kasar Kai melemparkan berkas sampai berserakan di meja.


"Kenapa Tuan tega sekali berkata itu."


"Suami anda yang mengajarkan ini pada saya."


"Saya mohon Tuan. Kalau tidak bisa berkerja di perusahaan, sebagai pembantu juga bisa." Nay mendengus, tentu tidak setuju jika anak gadis Sapto berkeliaran bebas di rumahnya.


"Bukan pembantu tapi pelakor." Gumam Nay lirih. Sontak Kai menoleh begitupun Bu Rania.


"Maksud anda apa?" Tanya Bu Rania tidak terima padahal niat buruknya memang seperti itu. Dia berharap Kai bisa tertarik dengan anak gadisnya agar kehidupannya bisa terjamin. Jadi Istri kedua tidak masalah.


"Tidak ada lowongan untuk anak Ibu. Semua urusan rumah sudah saya handle termasuk memasak."


"Anak gadis saya wanita baik-baik. Mana mungkin dia menjadi perusak rumah tangga orang."


"Terserah jika Ibu menyebutnya begitu. Keputusan ada di tangan saya sebab saya Istri nya." Menunjuk ke arah Kai.


"Anda tidak punya hak berkata itu."


"Berkata apa?"


"Anda menyebut anak saya pelakor."


"Saya membaca dari bahasa tubuhnya. Lihat bagaimana kelakuan anak Ibu. Apa gadis baik-baik bersikap seperti itu saat menatap Suami seseorang?!! Ibu fikir saya langsung menua? Saya juga pernah menjadi gadis tapi sikap saya tidak serendah itu." Nay berdiri lalu menarik kasar lengan Kai.


"Saya mohon Tuan Kai. Tolong Suami saya atau paling tidak berikan anak saya perkerjaan." Rajuk Bu Rania tidak juga berhenti.


"Mas serius. Aku mual." Eluh Nay tidak sedang bercanda. Ketika fikirannya tengah terganggu. Mual hebat serta pusing langsung menjalar.

__ADS_1


"Saya akan menemui Sapto nanti. Untuk hal perkerjaan.." Kai menatap ke arah Nay yang tengah membungkam mulutnya." Istri saya sudah memberikan keputusan. Permisi." Tanpa perduli pada teriakan Bu Rania. Kai mengiring Nay berjalan keluar menuju ruangan pribadinya.


🌹🌹🌹


__ADS_2