Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 53


__ADS_3

Nay menerka-nerka kemana Kai membawanya. Sudah hampir satu jam mobil melaju namun tidak juga berhenti. Jalan yang mereka lewati cukup terjal dengan banyaknya belokan tajam.


"Kamu ingin membunuh ku Mas." Tanya Nay asal bicara. Jangankan untuk merencanakan sebuah liburan, untuk memikirkannya saja Nay tidak pernah.


"Kamu bicara apalagi?"


"Terus, kemana kita pergi?" Kai tidak bergeming. Dia diam dan fokus menyetir sehingga Nay memilih memunggunginya.


Setelah hampir lima belas menit. Mobil Kai terlihat masuk area parkiran sebuah hotel. Di sana menyediakan kamar-kamar yang mirip dengan rumah kecil. Keamanan dan privasi yang terjaga membuat harga hotel berkisar jutaan rupiah dalam satu malam.


"Di mana ini Mas?" Tanya Nay semakin antusias.


"Turunlah dan lihat sendiri." Bergegas saja Nay turun di ikuti oleh Kai. Keduanya berjalan ke resepsionis yang terletak di area depan hotel.


Kai mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan barcode reservasi. Setelah itu, keduanya di persilahkan masuk di temani seorang pegawai hotel.


"Mas apa ini untuk penebusan dosa?" Kai menghela nafas panjang. Melirik ke pegawai yang tengah tersenyum simpul.


"Ini kunci juga beberapa kegiatan hotel sesuai dengan paket yang Tuan pilih." Si pegawai menyerahkan kartu kunci juga sebuah buku panduan kecil.


"Hm." Jawab Kai dengan wajah datar.


"Terimakasih." Sahut Nay ramah.


"Sama-sama Nona." Si pegawai mengangguk sebentar kemudian pergi.


"Apa akan ada pertemuan di sini Mas." Masih saja Kai tidak menjawab lalu menempelkan kartu kunci ke layar. Pintu terbuka dan keduanya pun masuk." Woah tempatnya luar biasa." Puji Nay saat menyadari tempat tidur keduanya mengarah ke dataran tinggi yang di bawahnya terdapat danau.


Ya Tuhan. Dia berisik sekali. Padahal kemarin dia marah tapi sekarang lihatlah. Hanya dengan ciuman singkat suasana hatinya berubah. Ugh.. Aku masih tidak memahami bagaimana wanita berfikir.


"Kita akan berlibur selama beberapa hari di sini."


Nay memutar tubuhnya lalu berjalan menghampiri Kai dan menyerbu dengan pelukan. Tubuh Kai yang belum siap, membuatnya terdorong ke belakang sampai-sampai keduanya terhempas di atas ranjang.


Seketika mata Kai terasa gelap. Merasakan hangatnya tubuh Nay yang tengah menindih. Keangkuhannya runtuh seketika, ingin mengulang ciuman sedikit lebih lama.


"Apa itu artinya liburan Mas?" Tanya Nay seraya memandangi paras di bawahnya.


"Hm." Kai memutar posisinya. Kini tubuhnya yang tengah menindih." Aku sedikit lambat. Maaf." Dengan tubuh bergetar, Kai menunduk lalu kembali mellumat bibir Nay.


Tanpa memejamkan mata Nay membalasnya sehingga sekujur tubuh Kai mendadak panas. Sungguh dia tidak mengerti situasi nya. Cepat-cepat dia membuka kancing baju yang tentu sulit di lakukan jika hanya mengunakan satu tangan. Nay berinisiatif membantunya sehingga pautan bibir keduanya tidak berhenti.


Untuk pertama kalinya Kai mengeluarkan dessahan. Panas di tubuhnya terasa membakar sehingga tanpa sadar dessahan lolos begitu saja.


"Kenapa tiba-tiba Mas?" Tanya Nay penasaran.


"Menurut mu apa? Aku ingin memperbaiki hubungan kita."


Kraaaakkkkk!!!


Gaun milik Nay di tarik sampai robek dan di lemparkan ke sembarangan arah. Kai meraih remote untuk mengubah kaca yang mengarah pada danau menjadi buram.


"Aku belum sepenuhnya bersih."


"Kamu fikir aku bisa mendengar alasan itu sekarang." Jawab Kai mulai mencumbui tubuh Nay bahkan mengigit nya beberapa kali.


Selayaknya seorang lelaki yang berpengalaman. Keinginan itu muncul begitu saja ketika hasrat memenuhi otak. Apalagi tubuh di hadapannya terlihat berkilau sehingga wajar jika Kai begitu bersemangat.


Naffsu sudah mengalahkan rasa malu. Kai bergegas melucuti celana dan bersiap memasukkan miliknya.


"Tunggu Mas." Cegah Nay dengan cara menahan tubuh Kai mengunakan kedua tangannya.

__ADS_1


"Why? Ada yang salah?"


"Tidak. Kau mencintaiku?" Tanyanya lirih.


"Sangat."


"Katakan mengunakan hati. Meski aku masih kotor, mungkin saja benih ini akan tumbuh." Kai menghela nafas panjang. Mengendalikan nafasnya yang memburu. Matanya terpejam sebentar sebelum akhirnya terbuka dan menatap Nay sendu.


"Aku mencintaimu. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."


Setelah mendapatkan persetujuan, Kai mencoba memasukkan miliknya. Beberapa kali gagal sebab dirinya tidak tahu pasti di mana letaknya.


Nay membantu memposisikan sehingga Kai mendorongnya sedikit keras dan miliknya masuk sempurna. Matanya terpejam sambil mendongak, merasakan sensasi pijatan untuk pertama kali.


"Milikku tidak sesempit seorang gadis."


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku hanya akan memasuki milikmu saja."


Kai mulai bergerak perlahan. Nafasnya terdengar memburu di sertai peluh keringat yang mulai keluar di sekujur tubuhnya. Nay memberikan rangsangan agar Kai bisa mempercepat gerakkannya.


Kini Kai mulai memimpin permainan. Bergerak brutal sampai-sampai lawan mainnya menggelinjang dan mengeluarkan dessahan yang semakin membabat habis kewarasan.


"Ah Baby.."


Beberapa kali Kai memanggil Nay dengan sebutan tersebut. Membuat percintaan kian memanas karena perasaan yang sama-sama terlepas.


Di ujung hasrat, Kai menggerang nikmat ketika benih miliknya menyembur keluar. Tubuhnya terhempas ke samping sambil berusaha mengatur nafas.


Nay menarik selimut, untuk menutupi tubuh mereka. Kepalanya di tumpukan pada lengan Kai yang tanpa rasa malu langsung mendekapnya.


"Kita tidak membawa baju Mas. Terus kamu menyobeknya." Protes Nay seraya memejamkan mata. Tidak ingin banyak bicara dan membuat Kai merasa malu.


"Hm. Panggilan sayang mu sangat indah."


"Kamu suka?"


"Tentu saja. Ini seperti mimpi. Dua Minggu kemarin kamu diam tapi sekarang kamu menunjukkan perubahan besar."


"Aku berusaha belajar."


Bunyi ponsel Kai menghentikan obrolan. Kai menyikap selimut lalu memakai celana dallam nya. Dia memungut ponsel yang tergeletak di lantai dan menerima panggilan dari Alan.


📞📞📞


"Ada apa?


"Tuan sudah melihat video yang saya kirim?


"Belum.


"Sebaiknya Tuan melihatnya.


"Apa yang terjadi?


"Devan tewas.


Sontak mata Kai membulat.


"Kenapa bisa?

__ADS_1


"Saya tidak tahu Tuan. Setibanya di lokasi, Devan sudah tidak bernyawa.


"Tikus itu benar-benar tidak waras!!


Nay duduk sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


"Maaf Tuan. Mungkin ide dari saya tidak berhasil.


"Sudah terlanjur. Bagaimana dengan mayatnya?


Mayat? Siapa lagi yang terbunuh?


"Sudah kami urus.


"Ya sudah. Tetap buru dia sampai dapat.


"Siap Tuan. Maaf menganggu.


"Hm.


📞📞📞


Kai meletakkan ponselnya seraya menddesah lembut. Dia berharap cara itu berhasil tapi ternyata Elang malah tega menghabisi nyawa Adiknya sendiri.


"Siapa yang terbunuh Mas?" Tanya Nay penasaran.


"Bukan orang yang penting."


"Tetap saja nyawa manusia."


"Kamu harus terbiasa Baby." Senyum Nay seketika merekah ketika panggilan itu meluncur dari bibir Kai." Aku akan memesan baju untukmu. Tetap di tempat, setelah baju itu datang kita mandi." Imbuhnya meraih gagang telepon untuk memesan baju lewat layanan kamar.


🌹🌹🌹


Elang terkekeh nyaring sambil setelah melihat video yang anak buahnya kirim. Terlihat jelas kekecewaan berat terpatri pada raut wajah Alan ketika mendapati Devan tewas dengan luka tembakan.


Awalnya Elang tidak mengendus persekutuan yang di lakukan Devan. Tapi kecurigaannya tentu saja terbesit sebab bukan hal mudah bisa terlepas dari jeratan Kai dan kelompoknya.


Sampai akhirnya alat pelacak kecil tidak sengaja terjatuh yang sontak menyulut kemarahan. Elang menjadi gelap mata dan langsung menghabisi nyawa Devan tanpa mendengarkan penjelasan.


"Sudah ku katakan! Aku tidak mudah tertangkap hahaha."


Tring...


Sebuah pesan masuk. Elang meraih ponselnya dan menerima laporan soal letak Kai juga Nay sekarang. Segera saja Elang melakukan panggilan telepon karena merasa penasaran.


📞📞📞


"Kenapa mereka ke sana?


"Kami tidak tahu Tuan.


"Dasar tidak becus!!! Buat reservasi.


"Baik Tuan.


📞📞📞


Elang mengakhiri panggilan. Dia menggenggam ponselnya erat dengan raut wajah geram. Entah kenapa dia cemburu dan kesal. Melihat Kai kembali lebih unggul darinya dalam hal pasangan hidup.


Tunggu saja! Aku akan mengambil dia darimu..

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2