Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 78


__ADS_3

Karena kerjasama antara Erik dan Alan, membuat perintah Kai lebih mudah di lakukan. Semua keluarga korban mendapatkan kompensasi dana sangat besar sehingga mereka mau mencabut tuntutan pada Bu Lastri.


Jumpa pers juga di atur, agar Bu Lastri meminta maaf atas kelalaian yang seharusnya bukan kesalahannya. Tidak ada hal lain yang bisa di lakukan, kecuali mengakui perbuatan asal dirinya bisa bebas dan kembali menjalankan bisnis catering nya.


Berita itu dengan cepat tersebar. Tidak ada awak media yang mampu mengendus jika Kai berdiri di belakang kasus tersebut. Mereka mengira dana kompensasi berasal dari harta Bu Lastri pribadi.


"Saya berterimakasih atas bantuannya Tuan." Ucap Bu Lastri sambil berderai air mata.


"Bukan saya yang melakukan Bu. Saya hanya orang suruhan. Saya hanya minta untuk merahasiakannya semua. Jika ada orang yang bertanya, Ibu bilang saja kalau dana kompensasi adalah uang pribadi Ibu sendiri."


"Baik Tuan. Saya mengerti."


Erik tersenyum simpul begitupun Alan yang tengah menyetir. Keduanya menjemput Bu Lastri dengan mengunakan penyamaran dan berdalih sebagai keluarga jauh Bu Lastri.


Sementara yang terjadi Alex sesuai rencana. Kekecewaan berat menghantam perasaannya ketika sadar kasus terselesaikan dengan mudah. Sia-sia dia memberikan miliyaran uang pada Sapto jika akhirnya kasus di tutup.


"Tenang Alex! Kau harus tenang!" Teriak Alex berbicara pada dirinya sendiri. Dengusan terdengar berhembus lagi dan lagi. Dia terlihat sendirian di ruangan tersebut sehingga tidak ada obyek yang bisa di jadikan untuk menuntaskan kemarahannya." Kau pasti bisa Alex. Menghadapi Kai haruslah bersikap tenang." Alex berusaha mengendalikan emosinya yang berkecamuk. Dia duduk lemah lalu meneguk air putih dalam sekali nafas.


Tok.. Tok.. Tok...


"Masuk." Teriaknya seraya meletakkan gelas kosong.


"Ada Erik ingin bertemu. Katanya ingin membicarakan soal proyek baru." Ujar Jessy menjelaskan. Dia terpaksa menjadi sekertaris sampai batas waktu yang Alex tentukan.


"Bersama siapa?"


"Seorang sekertaris. Bagaimana? Tolak atau kau ingin menemui nya?"


"Hm suruh dia menunggu ku di ruang pertemuan. Aku ke sana 10 menit lagi."


"Oke baik." Jessy tersenyum simpul kemudian menutup pintu kembali.


"Jika ku tolak dia akan curiga." Eluh Alex berdiri. Setelah mengambil ponsel miliknya. Alex berjalan keluar untuk menemui Erik di ruang pertemuan.


🌹🌹🌹


Sapto tercengang ketika merasakan penghasilannya menurun semenjak dua hari ini. Usaha yang di geluti bukan sembarang usaha. Jual beli naarkoba juga senjata api ilegal terpaksa dia jalankan agar kebutuhan keluarga nya terpenuhi.


Sebelumnya semua terasa mudah, sebab Sapto mampu memanipulasi keadaan agar usahanya tetap aman. Gelar jenderal tentu sangat mendukung, apalagi Sapto memiliki banyak anak buah juga ajudan. Mereka tentu tunduk tanpa protesan meski Sapto kerapkali memintanya berbuat buruk.


"Bagaimana bisa?" Tanya Sapto disertai dengusan nafas berat.

__ADS_1


"Saya tidak mengerti Pak. Biasanya produk kita bisa langsung lolos tapi sejak dua hari kemarin banyak pencekalan. Ada beberapa senjata yang tertahan. Mereka tidak berani bergerak karena terlalu beresiko." Hembusan nafas Sapto kian terasa berat. Penghasilan dari bisnis gelapnya sangat menjanjikan. Nominalnya berkali-kali lipat dari gajinya sebagai Jenderal.


"Untuk sementara suruh mereka bersembunyi. Aku tidak ingin tertangkap! Mau di taruh mana mukaku!!!" Umpatnya mengebrak meja lalu pergi.


Dari jauh terlihat, Alan tersenyum simpul setelah melihat wajah frustasi Sapto. Selain perkerjaan menyelidiki Alex, dia juga mendapatkan tambahan perkerjaan menghancurkan hidup Sapto seperti yang sudah di lakukan pada beberapa orang.


Harusnya Sapto memahami, jika akar kekuasaan Kai tidak hanya berkecimpung di Indonesia. Dia menjalin hubungan baik dengan banyak Mafia yang tersebar di seluruh dunia. Bukan hal sulit untuk menjatuhkan satu orang sebab dalam sekali ucap, rembetan api akan segera menjalar dan melalap habis korbannya.


📞📞📞


"Sudah beres Tuan. Paling lambat satu Minggu, Sapto akan datang dan menangis meminta pertolongan.


"Hm kerja bagus.


📞📞📞


Kai tersenyum simpul setelah mendapatkan laporan tersebut. Dia masih memberikan kesempatan untuk Sapto dengan memberinya sedikit pelajaran. Beruntung sebab Kai tidak langsung membunuhnya sebab kesalahan Sapto baru satu kali terjadi.


Selama ini lelaki paruh baya itu menjalin hubungan baik dengannya. Sehingga izin penyelundupan menjadi sangat mulus tanpa kendala.


Tapi setelah pertemuan terakhir mereka kemarin. Kai menjadi tahu jika Sapto lebih memilih uang daripada kesetiaan.


"Hanya mainan baru." Kai meletakkan ponsel lalu beralih mengusap perut rata Nay." Kapan dia bergerak?" Imbuhnya bertanya.


"Satu atau dua bulan lagi Mas. Biasanya empat bulan."


"Oh."


"Kamu tidak sabar? Apa ini terlalu lama bagimu?"


"Hm. Menunggu sesuatu yang kita inginkan memang terasa lama." Termasuk menunggu mu dulu. Kamu tidak tahu apa saja yang ku lewati dalam jangka selama itu.


"Sabar Mas. Beberapa bulan lagi kita akan bertemu dengannya."


"Ya. Aku tidak sabar menantikan. Kita harus menjaganya, dia penerus yang akan mewarisi semua harta dan kekuasaan ku." Ucapnya pelan.


"Tentu saja Mas. Aku akan menjaganya. Dia anak kita." Nay berbaring dan bertumpu pada paha Kai. Mengandung benih si penguasa terasa sedikit berat. Dia sering merasa lemas juga pusing padahal dulu saat mengandung Nia, Nay tidak pernah mengeluh soal kondisi tubuhnya.


"Lemas lagi?"


"Ya Mas. Padahal ini masih pukul sepuluh pagi. Apa karena ini anak mu ya Mas."

__ADS_1


"Maksudnya bagaimana Baby?"


"Pasti banyak yang tidak menginginkan dia lahir. Mereka tidak mau kamu memiliki keturunan. Biasanya aku baik-baik saja ketika mengandung." Eluh Nay lirih.


"Kata Dokter HB mu rendah. Itu yang membuat lemas. Kamu harus banyak mengkonsumsi buah dan makanan bergizi lainnya."


Tidak pernah Kai lupa menyiapkan tablet penambah darah juga vitamin setiap pagi sebagai bentuk perhatiannya. Tapi Nay tetap saja mengeluh lemas di sertai pusing.


"Aku membaca hasil pemeriksaan Mas."


"Untuk sementara tidak perlu memasak."


"Tidak. Itu harus tetap ku lakukan. Aku senang saat melihat piringmu kosong. Makanan di luar itu tidak sehat."


"Ya. Tapi fikirkan soal kondisi tubuhmu."


"Aku masih bisa kalau untuk memasak. Asal kamu membantu ku mencuci ikan dan sayur." Kai tersenyum simpul lalu membelai lembut dahi Nay.


Aku beruntung. Mama juga tidak pernah lupa memasak untukku meskipun kondisi tubuhnya tidak baik.


"Akan ku lakukan Baby. Itu hal yang mudah. Tapi aku minta jangan terlalu memaksa. Masih ada roti yang bisa ku konsumsi."


"Ya Mas. Em.. Apa hari ini kamu ada pertemuan?"


"Tidak ada. Kita akan seharian berada di rumah."


"Bagaimana kalau ku buatkan kue." Kai menghela nafas panjang. Baru saja Nay mengeluh lemas tapi kenapa malah menawarinya kue.


"Kita beli saja. Mamaku punya toko kue langganan."


"Rasanya akan berbeda Mas." Dengan begitu bersemangat Nay duduk lalu mengikat rambutnya sembarangan.


"Katanya lemas."


"Sudah tidak. Akan ku buatkan yang spesial."


Terpaksa, Kai ikut berdiri. Dia kerapkali membantu Nay mencuci perabot dapur setelah selesai memasak. Hanya bantuan itu yang bisa di berikan sebab Nay terkadang sulit di hentikan.


🌹🌹🌹


Minta dukungannya biar aku semangat melanjutkan, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2