
Kai menyerah ketika Nay melontarkan penolakan. Dia kembali di buat pusing dengan keinginan untuk ikut dalam pemburuan. Keduanya berdebat hebat meski Kai cenderung lebih merendahkan suara daripada Nay yang mengumpatnya habis-habisan.
Jika bukan kerena perasaan cinta yang teramat dalam, mungkin sebuah tamparan sudah mendarat di pipi Nay sejak tadi. Tapi yang terlihat hanyalah kediaman Kai yang tengah menikmati umpatan demi umpatan.
"Kai!!!" Panggil Nay untuk kesekian kali." Kau dengar aku!!" Imbuhnya menatap tajam.
"Mengidam? Ini gila. Bagaimana mungkin kamu menyebut keinginan itu sebagai mengidam?" Nay beralasan jika keinginan untuk menghabisi Alex mendorong kuat.
"Aku pernah hamil sebelumnya."
"Mintalah makanan atau apapun. Jangan meminta hal di luar nalar apalagi sampai kamu ikut pemburuan. Kalau terjadi sesuatu dengan mu bagaimana?"
"Aku harus ikut! Kau tidak boleh pergi sendiri."
"Tidak. Setelah Alex ku dapatkan. Aku berjanji akan menyerahkannya padamu." Kai berdiri lalu akan beranjak namun niatnya terhalang.
"Kau tidak boleh pergi tanpa kami!" Sorot mata Nay yang berapi-api menandakan jika dirinya benar-benar tengah berada di puncak kekesalan. Kedua tangan Nay mencengkram erat kerah kemeja sambil menatap Kai tajam.
"Itu penawaran terakhir Baby." Bruuuukkk!!! Tubuh Kai di hempaskan ke sofa sampai-sampai dengusan terdengar lolos begitu saja. Namun apa daya, Kai tidak kuasa menyakiti wanita yang di cintainya.
"Kubilang kau tidak boleh pergi tanpaku!!"
"Oke aku menyerah." Jawab Kai seakan mengalah.
"Aku membencimu Kai! Kau sering membuatku kesal!!"
"Hm maaf Baby." Aku melakukan ini demi kebaikan mu. "Ganti bajumu. Aku tunggu di bawah. Em udara di luar sangat dingin." Kai tersenyum agar Nay percaya dengannya.
"Jangan membohongiku Mas."
"Tidak. Aku akanmenyuruh Alan memperketat pengamanan karena kamu ikut. Cepat lakukan sebelum aku berubah fikiran." Kai berdiri lalu mengusap puncak kepala Nay sebentar. Dia berjalan ke luar dan secara otomatis pintu tertutup.
Kai kembali mengubah kata sandi agar Nay tidak bisa menyusul. Semua barang berbahaya termasuk senjata api sudah di amankan sebab ternyata Kai merencanakan niat ini matang-matang.
"Bagaimana dengan Nona Tuan?" Tanya Alan berjalan mengekor.
"Terpaksa Al. Mana mungkin aku tega mengajaknya." Jawab Kai pelan." Panggil Jessy." Pintanya tegas.
"Ya Tuan." Setelah beberapa saat, Alan datang bersama Jessy. Segera saja Kai menyodorkan sebuah senjata api untuk Jessy.
"Ku kembalikan perusahaan mu kalau kau mau menjaga Istriku dengan nyawamu." Dengan gemetaran, Jessy menerima senjata api tersebut.
"Aku tidak pernah menggunakan ini." Jawab Jessy pelan.
__ADS_1
"Tarik pelatuknya dan bidik. Ini hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang genting." Jawab Kai menjelaskan.
"Kenapa tidak kau ajak saja?" Alan menghela nafas panjang sebab pertanyaan Jessy akan membuat emosi Kai terkoyak.
"Ini tugas atau kau lebih memilih mati." Tentu saja senjata api langsung Kai todongkan ke kepala Jessy." Satu-satunya orang yang membela mu hanya Istriku! Jika kau tidak bisa melakukannya, akan lebih baik kau mati saja!" Jessy menelan salivanya kasar. Suara Kai benar-benar terdengar buruk.
"Ba baik. Aku mau."
"Penjagaan sudah di perketat. Kunci pintu utama juga jendela sebelum aku kembali. Jangan segan-segan membidik! Menjadi bagian dari kami tidak boleh memiliki rasa takut. Mengerti!!"
"Ya. Mengerti."
"Hm, ayo Al."
Bukan tanpa alasan Kai begitu ketakutan sesuatu terjadi. Mayat si petani dan korban dari Alex sudah terlacak polisi meski sampai saat ini masih belum mendapatkan titik temu.
Kai tentu tidak sabar, menunggu cara lambat polisi menangani kasus. Dia berniat menyisir beberapa lokasi yang di tebaknya sebagai jalan yang di lalui Alex.
"Hanya satu jam." Begitulah jawaban Kai ketika Alan memintanya untuk berada di rumah saja." Erik juga ada di sana. Kita bisa memantau keadaan rumah lewat CCTV." Imbuhnya menatap ke arah laptop yang memperlihatkan kemarahan Nay ketika menyadari pintunya tidak bisa terbuka.
"Saya takut terjadi sesuatu Tuan."
"Dia tidak memiliki daya apapun. Pengamanan di rumah sangat ketat."
🌹🌹🌹
Alex sendiri tengah kebingungan agar bisa menembus sistem penjagaan. Dia sudah sempat melintas di sekitar rumah Kai, namun rupanya penjagaan di perketat sehingga dia memutuskan memarkir mobil di sekitar kompleks.
Cukup lama Alex berdiam di sana, sambil memperhatikan orang berlalu lalang. Jalanan terlihat sedikit ramai sebab rupanya ada seorang warga yang tengah mengadakan hajatan pernikahan.
Alex membuka sedikit kaca mobil agar udara segar masuk. Mimik wajahnya terlihat tenang meski kenyataannya seonggok mayat terbujur di jog belakang.
"Mendingan tidak perlu di antar. Semenjak orang tuanya meninggal, Kai tidak menerima sembarangan tamu." Obrolan tersebut menarik perhatian Alex. Dia menoleh sambil menatap dua pemuda mengunakan batik yang sama.
"Wajar saja. Dia jadi pengusaha kaya sekarang."
"Tapi seharusnya berbaur dengan warga komplek."
"Terus bagaimana? Kalau tidak di antar, nanti Pak lurah marah."
Alex bertindak cepat. Dia turun dari mobil dan menghampiri kedua pemuda yang tengah merokok.
"Alex? Astaga." Sapa salah satu pemuda yang ternyata teman lama Alex.
__ADS_1
"Kamu masih tinggal di sekitar sini?" Jawab Alex ramah. Maniknya memperhatikan sekitar untuk memeriksa keadaan. Dia takut keberadaannya di ketahui salah satu anak buah Kai yang mungkin berpatroli.
"Ya masih. Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Siapa yang punya hajatan?" Tanya Alex basa-basi.
"Pak Lurah Al. Terus kamu mau kemana?"
"Oh. Aku mau ke rumah Kai."
"Em begitu. Memangnya dia menerima tamu?"
"Ya. Aku kan teman baiknya." Bisa-bisanya Alex terkekeh renyah padahal dia sudah melakukan banyak pembunuhan sejak kemarin." Aku boleh meminta bantuan pada kalian?" Imbuh Alex mulai melontarkan niatnya.
"Apa itu?"
"Hari ini Kai berulang tahun. Aku ingin memberikan kejutan dengan berpura-pura menculik Istrinya." Kedua pemuda itu saling memandang.
"Terus minta tolong apa? Kami tidak mau berurusan dengan orang kaya."
Semenjak kedua orang tuanya meninggal. Tidak ada lagi anggota keluarga Kai yang ikut dalam sosialisasi masyarakat. Tapi meski begitu, Kai tidak pernah lupa memberikan bantuan jika memang di butuhkan.
"Gampang. Hanya memberikan obat tidur untuk para penjaga yang ada di sana. Em kalau Kai marah, itu jadi urusan ku. Kami berteman dan seperti saudara." Alex berusaha menyakinkan dengan senyum mengembang yang di perlihatkan.
"Wah. Kami takut Al." Jawabnya ragu-ragu.
"Em sebentar." Alex berjalan ke mobil. Dia mengambil empat tumpuk uang lalu menyodorkannya pada kedua pemuda tersebut." Ada imbalan nya. Kalian tidak perlu takut. Kalau tersandung masalah, pasti pihak catering yang kena. Em dan lagi, ini hanya kejahilan. Aku ingin membuat Kai terkejut di hari ulang tahunnya." Imbuh Alex menyakinkan.
"Ba banyak sekali uangnya." Dengan gemetar salah satu pemuda mengambil uang yang bertuliskan 50 juta setiap satu tumpuknya.
"Aku sudah jadi pengusaha sukses. Anggap ini sebagai bonus untuk kalian. Bagaimana?" Kedua pemuda tersebut kembali saling melihat kemudian mengangguk. Mereka menganggap jika kesempatan emas tidak datang dua kali.
"Oke baik. Tapi resiko kamu yang menanggung ya."
"Hm iya. Ini obat tidurnya. Tolong bawakan makanan yang cukup untuk semua penjaga yang ada di sana." Alex menyodorkan obat tidur yang di belinya dari apotik.
"Baik beres."
"Bergeraklah cepat. Mumpung Kai sedang tidak ada di tempat."
Rupanya Alex sudah tahu jika Kai pergi bersama Alan. Mereka bahkan sempat berpapasan tepat di saat Kai menitipkan pesan pada Erik untuk tidak lengah.
Hahahaha. Kau akan kehilangan mereka. Terserah jika setelah ini kau menghabisi nyawaku. Kebahagiaan mu akan ku renggut dan itu berarti kau akan hidup tanpa rasa. Rasakan sendiri akibatnya Kai!! Kau sudah berani menghina ku dengan sangat buruk!!
__ADS_1
🌹🌹🌹