
Keesokan harinya...
Pukul empat dini hari para perias pengantin terlihat sudah datang. Mama Caca berfikir jika mungkin anaknya masih tidur karena baru kembali pukul satu malam. Namun baru saja dia berniat mengetuk, pintu kamar Caca sudah lebih dulu terbuka.
"Mama fikir masih tidur."
Mana mungkin aku bisa tidur. Pilihan ini rasanya sungguh sulit. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Kenapa Kak Roy sangat membenci Suami Nay.
Caca berhasil merayu Elang untuk membebaskannya dengan sebuah persekutuan. Terpaksa Caca mengiyakan sebab bukan hanya nyawanya yang terancam tapi nyawa kedua orang tuanya juga.
Elang mengancam akan membantai keluarganya jika sampai dia tidak sanggup membawa Nay padanya. Tentu saja Caca takut. Dia merasa kalau orang tuanya tidak pantas terlibat.
Tapi Kak Roy bilang jika ini semua kesalahan Kai. Dia mendekatiku juga ingin membalas dendam. Jadi bukan aku yang seharusnya di ancam tapi.. Nay.
Rupanya, bukan hanya persekutuan yang Elang minta. Dia juga mencuci otak Caca dengan cara menghasut, menutupi kebohongannya dan melimpahkan kesalahannya pada Kai.
"Nah kok malah melamun. Para perias sudah menunggu di kamar Mama. Di sana lebih terang Ca."
"Hm iya Ma." Caca tersenyum lalu berjalan melewati Mamanya menuju kamar utama yang letaknya tidak jauh dari sana.
Matanya sempat melirik keluar. Terlihat semua persiapan selesai di lakukan.
Wajar jika kamu yang harus membayar ini Nay. Seharusnya aku tidak terlibat. Kalau saja kita tidak bertemu, mungkin kehidupan ku akan berjalan baik.
Tekat Caca untuk menjebak Nay semakin menguat tatkala dia melihat sang Ayah tidur di sofa ruang tamu dengan wajah lelah. Sangat tidak mungkin dia menolak persekutuan dan menumbalkan keluarganya hanya untuk satu nyawa.
Aku tidak perduli atas hidup ku. Asal jangan pernah menyentuh orang tuaku..
🌹🌹🌹
Nay menghela nafas panjang berkali-kali sambil memperhatikan seorang sekertaris berpenampilan modis. Dia merasa jika sejak tadi si sekertaris mencoba peruntungan dengan cara mencuri pandang pada Kai.
Ingin rasanya Nay bersikap dewasa dan tidak cemburu buta. Tapi rasanya sedikit sulit, dia merasa si sekertaris memiliki paras lebih cantik darinya. Perasaan yang aneh? Sebab sebelumnya dia senantiasa percaya pada pasangannya.
Jessy tersenyum simpul sambil melirik ke arah Nay sementara Kai tengah fokus mendengarkan presentasi. Jessy menertawakan sikap cemburu Nay yang di rasa tidak perlu di tunjukkan.
Menurutnya, Kai tidak akan tergoda meski si wanita telanjang bulat di hadapannya. Itu terbaca dari sorot matanya yang tajam menusuk ketika bertatap muka. Sampai detik ini, Kai masih saja memperlihatkan mimik wajah tersebut kecuali ketika maniknya menatap Nay.
Tidak berguna! Lebih baik meeting di khusus kan untuk laki-laki saja. Daripada melihat ini, bukankah lebih baik aku berada di rumah?
"Tenanglah. Suami mu itu tidak normal." Bisik Jessy tepat di telinga kanan. Nay sontak menoleh sambil memasang wajah masam.
"Tidak normal bagaimana?"
"Suka sesama jenis." Kening Nay berkerut. Memang dia membaca sikap kaku Kai namun setelah percintaan yang terjadi beberapa kali, dia yakin Kai lelaki tulen.
"Tidak mungkin. Kami sudah melakukan hubungan selayaknya pasutri." Jessica cukup tersakiti mendengar kenyataan tersebut. Namun dia tidak ingin berhenti berceloteh dan berharap Nay percaya ucapannya.
"Itu penyakit hati. Tidak bisa di buktikan hanya dengan hubungan badan." Sialan. Kenapa bukan aku saja yang mendapatkan kesempatan tersebut. Walaupun tubuh Kai kecil, aku yakin cacing berotot nya sangat memuaskan.
"Entahlah. Aku tidak tahu."
"Seharusnya kau harus lebih waspada pada para lelaki. Bisa saja Kai tertarik dengan mereka."
__ADS_1
"Omong kosong! Semalam, kami bercinta berulangkali!"
Teriak Nay memicu kegaduhan. Presentasi terhenti, semua orang yang tengah duduk beralih menatap ke arahnya. Jessica terkekeh. Dia tidak menyangka mendapatkan hiburan dari kejahilannya.
"Maaf." Sampai kata-kata itu terlontar. Para relasi memilih diam dan melanjutkan. Huft. Kenapa aku ini. Tidak biasanya terbawa arus emosi.
Nay melirik ke arah Kai yang tengah memberikan isyarat padanya untuk diam. Mimik wajah itu terlihat tidak marah walaupun Nay merasa sudah mempermalukannya.
.
.
.
Dua jam kemudian..
Meeting akhirnya selesai. Satu persatu relasi pergi keluar ruangan, yang tersisa hanya Kai, Nay, dan Jessy.
"Kau menunggu apa?" Tanya Kai ketus. Maniknya menatap Jessy tajam.
"Tidak ada Pak. Saya permisi, terimakasih sudah memperbolehkan ikut meeting hari ini." Jessy tersenyum simpul. Sebelum pergi dia sempat mengedipkan sebelah matanya ke arah Nay.
"Maaf untuk tadi." Kai menghela nafas panjang. Punggungnya di sandarkan pada kursi sambil menatap langit-langit.
"Kenapa melakukan nya?"
"Jessica berkata kalau kamu tidak normal Mas." Perkataan itu cukup bisa di percaya mengingat kesendirian Kai yang sudah terjadi puluhan tahun. Apalagi di tambah metode pembuahan yang sempat di lakukan, membuat Nay sedikit percaya.
"Lalu kamu percaya?"
"Itu hal yang tidak penting." Jawab Kai pelan. Rumor itu sudah tersebar sejak dulu sampai sekarang.
"Kamu harus buktikan pada mereka jika itu tidak benar."
"Apa gunanya pembuktian."
"Agar mereka tidak menyebut mu seperti itu."
"Biarkan saja. Terserah mereka."
"Sebaiknya kita publikasikan hubungan pernikahan ini Mas." Kai duduk tegak lalu berdiri. Dengan gerakan cepat dia membereskan berkas di hadapannya.
"Tidak." Jawabnya menolak.
"Kenapa?"
"Tidak ada penjelasan." Untuk keselamatan mu. Akan lebih baik mereka tidak tahu. Aku tidak mau mereka memanfaatkan mu untuk alat membesarkan perusahaan.
Para relasi selalu mencari-cari kelemahan Kai sehingga tentu saja dia merasa takut jika kebaikan Nay akan di salahgunakan. Kai membenarkan ucapan Nay. Satu-satunya kelemahan bukan terletak pada kekuatannya melainkan sosok Nay sendiri.
"Harus ada penjelasan."
"Tidak Baby. Aku mohon jangan membicarakan soal itu. Ayo kita pulang."
__ADS_1
"Aku tidak terima saat kamu di bicarakan macam-macam." Jawab Nay tidak juga berhenti.
"Nanti kamu akan terbiasa."
"Kenapa sih Mas? Padahal aku kasihan padamu."
Kai menghela nafas panjang lagi dan lagi. Maniknya menatap ke arah Nay yang masih duduk di tempat yang sama.
"Aku lapar. Mari kita pulang."
"Pertimbangkan soal keinginan ku tadi."
"Lebih baik seperti ini."
"Hanya beberapa orang saja."
"Ayo pulang." Kai berjalan menuju pintu keluar. Dengan langkah malas Nay mengikutinya sampai-sampai Kai terpaksa melambatkan laju kakinya. Dia menoleh, memperhatikan Nay yang masih tertinggal di belakang. Kenapa dia bersikap seperti itu? "Why?" Tanya Kai pelan.
"Sudahlah terserah kamu saja." Nay melewati Kai begitu saja dan masuk ke dalam lift.
Dia masih saja membuat onar dengan versi baru. Padahal aku sedang berusaha menuruti kemauannya.
Kai tidak bergeming, dia berdiri di samping Nay lalu menombol angka satu. Nay sendiri hanya diam sambil memasang mimik wajah kesal.
Sampai pintu lift terbuka, keduanya masih diam. Bahkan saat tiba di dalam mobil, Kai tidak langsung melajukan mobilnya dan memilih duduk tidak bergerak.
Kai ingin tahu sejauh apa Nay kesal padanya. Sengaja dia diam daripada nantinya harus berdebat dan mengeluarkan kata-kata kasar.
Setengah jam kemudian. Nay memutar tubuhnya menghadap ke arah Kai yang masih mematung.
"Menunggu apa Mas?" Tanya Nay ketus.
"Kamu masih belum memahami kerasnya kehidupan ku."
"Aku paham."
"Belum seluruhnya."
"Kenapa tiba-tiba membahas itu?"
"Karena kamu membahas gosip murahan tadi. Bertahun-tahun mereka menyebut ku begitu. Aku merasa hal itu bukan sesuatu yang penting daripada nantinya kamu di hadapkan dengan orang-orang munafik." Nay menatap Kai penuh tanya." Orang-orang itu selalu mencari kelemahan ku. Lalu bagaimana nantinya jika mereka tahu kalau kelemahan ku sebenarnya adalah kamu." Ingin rasanya Kai menolak serta merta kenyataan tersebut. Dia mengakui ketertarikan pada Nay sejak awal. Tapi Kai sedikit kesal ketika menyadari jika sosok di hadapannya satu-satunya wanita yang mampu melunakkan hatinya.
Aku lupa jika hidup ku tidak bisa sebebas dulu. Apa yang sedang ku lakukan?
"Apa kamu paham Baby?" Nay menghembuskan nafas berat lalu duduk tegak.
"Anggap aku sedang amnesia Mas. Aku lupa tidak bisa bergerak banyak di sini. Maaf."
"Tidak perlu meminta maaf. Mungkin kamu menginginkan pengakuan."
"Ya sedikit. Agar wanita yang ada di sekitar mu tahu diri dan tidak menggoda mu."
"Astaga." Eluh Kai baru mengetahui sebab dari kemarahan Nay. Jadi itu alasannya? Kai mulai melajukan mobilnya sambil mendengar celotehan Nay. Irama yang sangat merdu menurut nya. Kai kembali hanya diam untuk mengasah kesabaran nya menghadapi sikap Nay yang ternyata pintar membuat onar perasaannya.
__ADS_1
🌹🌹🌹