Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 11


__ADS_3

Elang mendengus dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk meja marmer. Pencarian Devan tidak membuahkan hasil. Dia merasa geram pada cara kerja anak buahnya yang di rasa lambat.


"Kalian yang akan ku penggal jika terjadi sesuatu dengan Adikku!!" Menunjuk ke beberapa orang yang berdiri di hadapannya.


"Sepertinya CCTV sudah di sabotase. Mereka bilang CCTV mendadak tidak berfungsi." Jawab salah satunya menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan Hendra? Apa dia berhasil mencuri hati Han?"


"Proyek baru sudah berhasil di setujui. Ini adalah awal yang bagus." Walaupun Elang merasa khawatir, tapi setidaknya berita tentang keberhasilan Hendra membuat hatinya membaik.


"Terus lakukan pencarian. Ada seorang wanita yang harus ku temui."


Elang berdiri setelah memasang kumis palsu. Dia bahkan merubah gaya berpakaiannya untuk berjaga-jaga jika mungkin anak buah Kai berada di sekitar.


Pintu apartemen terbuka, dia berjalan melewati lorong sebelum mencapai lift. Dari jauh terlihat Nay baru saja keluar dari lift dengan koper besarnya.


Kai sengaja menyuruh Nay datang sendiri untuk menyempurnakan penyamaran besok pagi.


Membingungkan. Lelaki itu menyuruhku menikah dengannya tapi aku di suruh tinggal di sini sendirian.


Nay menghela nafas panjang saat menyadari jika semua terjadi karena permintaannya sendiri.


Asal aku bisa bersama Mas Hendra. Yang penting pernikahan kami tidak di ketahui.


Akibat terlalu banyak memikirkan masalah tersebut, Nay tidak sadar jika sejak tadi Elang memperhatikannya. Postur tubuh serta paras yang mirip boneka, tentu membuat perhatian Elang teralihkan.


Sepertinya penghuni baru?


Dengan sengaja Elang menyenggol bahu Nay. Dia melakukannya karena ingin mencuri perhatian dan mendapatkan tanggapan atau perkenalan.


"Ohh maaf Kak." Ujar Nay menganggap jika dirinya yang bersalah.


"Sedang banyak masalah? Kenapa melamun?" Jawab Elang tersenyum simpul.


"Tidak. Permisi."


Jawaban tersebut tidak sesuai ekspektasi. Nay terlihat acuh bahkan enggan menatap ke arah Elang.


"Berapa nomer kamarmu?" Teriak Elang ingin tahu.


"Aku sudah bersuami." Jawab Nay berjalan terus lalu masuk ke salah satu kamar.


Elang masih memperhatikan dari tempatnya berdiri. Bibirnya tersungging lalu kembali berjalan.


Tenyata dia tinggal di samping apartemen ku.


Penyamaran Elang membuat Kai tidak menyadari jika sebenarnya Elang berada di sekitarnya. Mereka bahkan memiliki Apartemen saling bersebelahan dan berdekatan.


Elang melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lift. Dia berniat pergi ke sebuah Cafe untuk menemui seorang wanita yang merupakan kekasihnya. Elang terkenal suka bergonta-ganti pasangan dan selalu memutuskan hubungan tanpa menimbang. Hari ini dia ingin melakukan kebiasaan buruknya itu.

__ADS_1


Seorang wanita cantik menyambut kedatangannya. Baru dua hari lalu mereka menjalin kasih dan seharusnya hubungan percintaan masih begitu hangat.


"Aku rindu sayang." Ujar si wanita yang di ketahui bernama Via.


"Hm." Elang duduk lalu menyeruput minuman yang sudah di pesan." Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini." Wajah Via yang tadinya berseri-seri berubah pucat pasi.


"Maksudmu?"


"Kita putus." Via menggeser tempat duduk agar lebih dekat. Dia tidak ingin obrolannya terdengar sekitar.


"Jangan bercanda sayang." Jawab Via setengah berbisik.


"Aku tidak bercanda." Aku sudah menemukan target selanjutnya. Perduli apa jika dia memiliki Suami..


Kini fikiran Elang tertuju pada Nay. Dia tidak ingin tahu tentang status targetnya dan selalu menjerat dengan semaunya.


Sementara Nay sendiri tengah berendam di bak mandi untuk melepas lelah. Dia memandangi ponsel pemberian Kai yang sudah di pasang sistem penyadap. Itu kenapa Nay tidak bisa leluasa mengunakannya.


Ponsel tidak berguna..


Baru saja Nay akan meletakkannya, ponsel berdering dan memperlihatkan nama Kai tertera di layar.


Apa aku melakukan kesalahan lagi? Bukankah dia menghubungi kalau penting saja?


Nay duduk tegak untuk menerima panggilan daripada dia harus terkena sumpah serapah Kai.


"Ya Tuan? Apa kamu sudah rindu padaku?


Tanya Nay asal namun Kai menyikapi semuanya dengan serius.


"Tidak mungkin itu terjadi!


Kai bersikap demikian semata-mata ingin menutupi perasaannya yang kian aneh.


"Lalu? Ada masalah genting apa?


"Ingat untuk tidak berinteraksi dengan orang sekitar.


Tanpa Nay sadari, Kai mengetahui ketika dirinya berpapasan dengan elang dari CCTV lorong apartemen yang sudah di retas. Seharusnya hal itu bisa membuatnya menemukan Elang. Namun sama sekali Kai tidak mengedus jika sejak lama Elang tinggal di sana.


"Aku tidak melakukan itu.


"Aku melihatmu mengobrol dengan seseorang. Bisa saja dia membahayakan nyawa mu. Kalau saat ini kamu tidak mengandung anakku, mungkin aku tidak perduli. Tapi kau membawa harta berhargaku. Ingat untuk menjaganya.


"Aku bisa menjaga diri.


"Jangan teledor kamu Nay!


Sontak ponsel di jauhkan, suara Kai terdengar buruk selayaknya seorang kekasih yang cemburu pada pacarnya.

__ADS_1


"Jaga janin itu dengan nyawamu!!


Astaga orang ini benar-benar menyebalkan. Padahal aku sudah menerima keadaan tapi dia tetap saja seperti itu.


"Jika Tuan tidak percaya, kenapa aku harus tinggal di sini?


"Agar Elang tidak curiga padamu bodoh!!


"Hm ya.


"Jangan hanya menjawab ya!


"Siap Tuan. Aku sedang berendam, bisakah kita akhiri panggilan.


"Awas ya. Aku memantau mu!!


📞📞


Tut.. Tut.. Tut..


"Padahal aku sudah bersikap baik, tapi kenapa lelaki itu masih saja membentak ku. Kalau seperti ini, mana bisa aku rileks."


Nay meletakkan ponsel dan melanjutkan acara berendam nya. Sementara Kai sendiri memasang wajah gelisah seraya menatap terus-menerus ke arah laptop.


"Wanita itu teledor sekali!!" Umpatnya geram dengan kemarahan tidak berarah." Sebaiknya aku menemui Devan, mungkin saja dia berubah fikiran." Kai beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar kamar. Dia masuk ke ruang rahasia melalui bagasi mobil.


Dua orang menyambut kedatangan dan mengikuti langkahnya menuju kamar di mana Devan di sekap.


Ketika pintu terbuka, terlihat Devan duduk di salah satu sudut ruangan dengan wajah pucat. Sudah beberapa hari dia tidak makan dan hanya mengkonsumsi air putih.


"Kenapa ke sini? Kau masih penasaran denganku? Sampai matipun aku tidak mungkin mengatakan di mana Kak Elang sebab aku sendiri tidak tahu!"


Apa yang di katakan Devan adalah kebenaran, dia memang tidak tahu di mana tepatnya Elang tinggal sekarang.


"Ya, itu keputusan mu. Kau akan membusuk di sini jika tidak mau berkerjasama denganku. Aku tahu kau membenci pengecut itu. Kau iri pada prestasi yang di dapatkan dan orang tuamu selalu membandingkan kalian berdua."


Sungguh Kai sangat membenci Elang sampai-sampai dia mengorek informasi sedetail itu. Namun meski mati-matian dia memburu Elang. Kai tetap tidak ingin melibatkan kedua orang tuanya.


Devan sendiri terdiam. Apa yang di katakan Kai benar adanya. Meski Elang memenuhi semua kebutuhannya tapi kerapkali Elang mengejeknya bahkan menghinanya. Dia di sebut tidak berguna, menjadi benalu yang sukanya meminta.


Ingat Devan. Seburuk apapun Kakakmu, dia tetap saudara.


"Itu urusan antara keluarga kami."


"Aku tahu bagaimana perasaan mu Devan. Aku juga korban dari kegilaan Kakakmu yang hobi menindas!"


Devan kembali tidak bergeming. Tubuhnya melemas akibat tidak makan. Namun dia tetap bersikukuh untuk tidak mengatakan informasi sedikitpun. Devan berharap Elang bisa segera menemukannya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2