
Satu bulan kemudian...
Setelah insiden yang menurut Nay mengerikan. Dia memutuskan untuk berdiam diri di rumah selama beberapa Minggu. Selain ingin menenangkan perasaan, Nay ingin mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan Kai yang penuh dengan pertikaian dan darah.
Hari ini untuk pertama kali setelah tidak keluar selama satu bulan. Nay kembali ikut ke perusahaan untuk menemani Kai jika ada meeting penting yang perlu di datangi.
Jessy terlihat turut hadir bersama Alex. Keduanya menjalin hubungan setelah pertemuannya. Jessy sering datang ke ABRA grup. Memberi perhatian seperti yang di lakukan pada Hendra dulu. Tujuannya tidak lain ingin menjerat Alex, pemilik perusahaan terbesar nomer 2.
Tampan sih. Tapi anak buah Kai sebagian besar seperti kanebo kering. Erik juga seperti itu. Ah sudahlah, sekarang aku bersama Alex.
Pembahasan soal proyek baru tengah di bahas. Alex berdiri di depan tengah menjelaskan konsep. Tapi sorot matanya tidak bisa menipu sebab sejak tadi dia mencuri pandang ke arah Nay.
Alex memanggil Nay Kakak. Berdalih menganggapnya Kakak namun di dalam otak dia sering berfantasi liar tentang Nay. Baginya apapun milik Kai selalu sempurna termasuk sosok Nay yang di anggapnya sebagai wanita paling sempurna untuk di jadikan pasangan hidup.
"Hm baik. Proyek akan di jalankan mulai besok." Ucap Kai tanpa menyambut jabatan tangan Alex. Sungguh pemandangan yang sudah biasa terlihat sehingga anggota meeting tidak mempermasalahkan hal itu.
"Aku berharap kedatangan kalian." Alex menyodorkan undangan ke arah Nay.
"Undangan apa ini?" Nay melihat nama Jessy dan Alex tertulis di undangan. Kenapa Alex memilih wanita itu? Bukankah masih banyak yang lebih baik. "Kalian mau bertunangan?" Alex tersenyum simpul sementara Kai tersenyum kecut.
"Ya. Aku menyerah untuk merebut Kai darimu." Jessy meraih lengan Alex erat.
"Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?! Mana mungkin aku mau dengan wanita seburuk dirimu!" Nay mengakui jika Jessy terlihat murahan. Tapi tidak seharusnya Kai mengutarakan itu langsung di depannya." Fikirkan dengan matang. Wanita ini sudah bekas ratusan lelaki. Kau ingin menjalin hubungan serius? Aku rasa ada yang salah dengan matamu!" Imbuh Kai penuh hinaan. Meski dirinya tidak menerima kehadiran Alex, tapi memilih Jessy sebagai pendamping hidup di anggapnya kesalahan.
"Kamu tidak merestui kami Kak?" Tanya Alex tersenyum simpul.
"Aku tidak mengatakan itu. Aku sekedar mengingatkan saja, tidak lebih." Kai berdiri di ikuti Nay.
"Em baik. Kak Nay wajib datang ya."
"Iya. Aku pasti datang."
"Aku tidak."
Kai menggiring Nay keluar dari ruangan sementara Jessy dan Alex memilih duduk sebentar lagi. Seketika wajah Alex berubah, dia bahkan menyingkirkan tangan Jessy yang tengah menggenggam lengannya erat.
"Ish.. Semalam kau bahkan puas dengan pelayanan ku." Eluh Jessy pelan.
"Apa kau lihat aku menatapmu saat melakukan itu? Tidak kan?" Jessy menghela nafas panjang. Rasanya Nay selalu merebut perhatian lelaki di sekitarnya." Aku membayangkan melakukan itu dengannya bukan kau. Jadi jangan pernah kau terlalu percaya diri." Nada bicara Alex terdengar kasar. Sungguh di luar dugaan jika undangan pertunangan di buat untuk menyamarkan rencananya.
__ADS_1
"Apa baiknya wajah plastik itu."
"Dia milik Kai. Itu berarti dia wanita paling sempurna." Alex berdiri seraya tersenyum." Kau tidak tahu betapa sempurnanya kehidupan Kakak ku itu. Kedua orang tuaku sampai memuji-mujinya dan... Terpaksa ku singkirkan. Telingaku terasa panas saat mereka mendewakan Kai seakan prestasi ku tidak berarti. Sekarang aku bisa bebas melakukan apapun. Tidak ada penghalang. Semua milik Kai harus menjadi milikku tidak terkecuali Istrinya." Setelah mengatakan itu, Alex berjalan santai keluar ruangan sambil bersenandung kecil.
"Selain tampan. Semua lelaki yang ada di sekitar Kai selalu tidak waras. Terserah apa rencana nya. Aku hanya membutuhkan kepuasan dan uang. Selama dia membayar ku mahal. Aku tidak perduli dengan rencananya."
Perusahaan Jessy tidak di kembalikan sehingga membuat keadaan memaksanya untuk bersekutu dengan Alex. Mau bagaimana lagi jika itu satu-satunya jalan mendapatkan kesenangan. Jessy hanya butuh menikmati sisa hidupnya. Berbelanja dan hidup bebas setelah kematian Elang.
🌹🌹🌹
"Kita kirimkan kado saja. Tidak perlu datang ke sana." Ucap Kai seraya fokus menyetir.
"Kenapa begitu Mas?"
"Kamu hamil sementara di sana banyak orang munafik. Menurut mu apa yang sedang ku lakukan? Aku berusaha melindungi mu."
Dalam beberapa hari ini Nay mulai merasakan kehadiran si jabang bayi. Suasana hatinya terkadang tidak terkontrol dan mulai pilih-pilih makanan.
"Kalau undangannya tidak berasal dari Alex. Aku tidak akan datang."
"Memangnya kenapa dengan Alex? Lupa untuk tidak terlalu baik pada seseorang." Nay menghela nafas panjang. Maniknya menatap keluar kaca mobil.
"Tidak ada lain cerita. Manusia-manusia itu sama saja."
"Memangnya kamu bukan manusia Mas." Kai melirik malas seraya mendengus." Hanya datang, memberi kado lalu pulang. Aku juga ingin kau bawa ke pesta teman-teman mu." Imbuhnya memaksa.
"Bermimpi lah Baby. Aku tidak memiliki teman selain dalam lingkup bisnis. Semua undangan dan pertemuan tidak penting sudah di urus Erik. Selain tidak punya waktu, aku malas pergi ke acara seperti itu."
Entahlah, kenapa kali ini sikap Nay lebih terlihat kekanak-kanakan. Hatinya tidak mampu menolak keinginan Kai padahal sebelumnya dia selalu berfikir dewasa.
"Aku juga butuh hiburan setelah terkurung di rumah selama beberapa Minggu." Kai kembali menoleh ke arah Nay sejenak. Cukup aneh mendengar ucapan tersebut sebab itu adalah keinginan Nay sendiri.
"Kamu mau berlibur di mana? Katakan?"
"Hanya ingin datang ke pertunangan Alex."
"Bagaimana dengan ke London, Italia atau ke manapun asal jangan datang ke sana."
"Untuk apa sih Mas? Negara kita sudah sangat indah." Kai kembali di hadapkan dengan belajar sabar. Dulu saja keinginan Nay cukup mengobrak-abrik emosi, namun rupanya kehadiran janin itu sudah mempengaruhi suasana hati Nay.
__ADS_1
Ku fikir ini sudah berakhir. Dia masih membuat onar dengan versi baru.
"Paling tidak lebih indah daripada datang ke pertunangan mereka." Jawab Kai cepat.
"Hm."
Setelah jawaban singkat terlontar, sudah tidak ada lagi obrolan sampai keduanya tiba di rumah.
Seperti biasa, Kai memilih bahan makanan sesuai keinginan dan meletakkannya di samping wastafel pencuci piring. Dia melirik ke arah Nay yang masih tidak bergeming. Raut wajahnya berubah masam tanpa menatap ke arahnya sedikitpun.
"Apa kita delivery saja?"
"Sudah setengah jalan kenapa berkata itu?!" Jawab Nay ketus.
"Aku hanya menawarkan." Kai berusaha menekan amarahnya. Dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana sambil memperhatikan Nay.
"Terlambat." Kai beranjak dari tempatnya lalu berdiri di samping Nay yang tengah mengerucutkan bibirnya.
"Masih kesal gara-gara pembicaraan tadi?" Pertanyaan Kai malah tidak di respon." Apa yang terjadi? Beberapa hari ini kamu sering marah?" Imbuhnya berusaha merajuk.
"Kau yang menyulutnya!"
Nay menuang masakan ke mangkuk saji lalu meletakkan teflon dengan sedikit kasar sampai-sampai Kai berjingkat.
"Aku berusaha melindungi mu Baby. Ayolah."
"Ya. Terserah padamu. Maaf ya, aku hanya bisa memasak satu menu. Kepala ku sedikit pusing."
Nay berjalan melewati Kai menuju ruang makan, dia meletakkan mangkuk berisi masakan sambil memijat kepalanya yang mendadak nyeri.
"Kamu baik-baik saja." Tanya Kai memastikan.
"Kamu makan sendiri ya. Aku mau istirahat."
"Biar ku antar."
"Tidak." Tolak Nay cepat." Aku bisa." Kai mengurungkan niatnya meski kedua tangannya sudah terulur. Namun dia masih berdiri terpaku, menyadari cara berjalan Nay yang terlihat tidak seimbang.
Dan benar. Baru saja kakinya terayun beberapa langkah, tubuh Nay tumbang. Cepat-cepat Kai mengangkatnya dan menelfon Dokter kepercayaan untuk memeriksa kondisi Nay.
__ADS_1
🌹🌹🌹