Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 85


__ADS_3

Sesuai rencana, Jessy tidak memperlihatkan keganjilan ketika dia bertemu Alex untuk menguras sisa harta seperti uang yang tersimpan di dalam ATM. Jessy berdalih membutuhkan uang untuk memuluskan rencana padahal itu adalah perintah dari Nay.


Tanpa rasa curiga, Alex mentransfer uang berapapun yang Jessy butuhkan. Dia ingin rencananya cepat berhasil. Alex tidak sadar jika apa yang di lakukan adalah keputusan salah.


"Kenapa gagal?" Eluhnya mengutak-atik ponsel. Jessy yang duduk di hadapannya tersenyum simpul.


"Ada apa?" Haha. Uangmu terkuras habis.


"Saldonya habis. Bukankah itu mustahil?" Otak Alex yang sejak awal terganggu, tidak menyadari jika selama beberapa hari tidak ada pemasukan pada ATM nya. Itu karena perusahaan miliknya sudah berpindah tangan.


"Oh begitu. Ya sudah. Untuk sementara mengunakan uangku saja." Alex menghela nafas panjang sambil terus memandangi layar ponselnya. Serius? Dia bodoh atau apa sih? Kenapa belum sadar juga?


"Terus kapan rencana itu kau lakukan? Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli obat-obatan yang kau anggap mujarab."


"Entahlah. Kau tanya sendiri saja pada janin itu! Obat mujarab saja tidak bisa menyingkirkannya. Nay bahkan baik-baik saja." Jawab Jessy beralasan.


"Awas saja jika kau menipu ku!!!" Tunjuk Alex kasar.


"Aku berjanji ini yang terakhir. Kata orang-orang obat penggugur kandungan ini sangat mematikan." Hahahaha konyol.


Jessy berdiri setelah meneguk sisa minumannya. Pakaian yang di kenakan terlihat buruk sebab dia sedang mendalami peran sebagai pembantu.


"Ku tunggu kabar baikmu."


"Hm. Aku pergi." Jessy tersenyum kemudian melenggang keluar bersamaan dengan datangnya seorang lelaki. Dia adalah kaki tangan Alex yang bertugas mengelola Abra grup.


Tujuan Alex mendatangkannya karena ingin menanyakan perihal laporan perusahaan yang tidak lagi dia terima. Email miliknya beberapa hari sepi. Begitupun kontak miliknya yang tidak menerima notifikasi apapun.


"Ada apa Bapak memanggil saya?" Tanya si kaki tangan sopan.


"Kenapa kau malah bertanya? Aku ingin tahu bagaimana keadaan perusahaan ku?" Si kaki tangan mengerutkan keningnya. Selama beberapa hari dia sudah berkerja dengan Erik selaku orang yang bertanggung jawab atas ABRA grup.


"Baik-baik saja Pak. Semua berjalan sesuai harapan."


"Tapi kenapa kamu tidak pernah meminta tanda tangan padaku?"


"Loh bukankah hak kuasa sudah di alihkan pada Nona Naysila." Deg! Sontak mata Alex membulat. Dia baru tahu kenyataannya sekarang. Karena terlalu memikirkan ambisi sampai-sampai dia malas datang ke perusahaan jika tidak ada hal genting.


"Kau jangan bercanda." Tanyanya panik.


"Saya serius Pak. Laporan harian sudah saya setor ke Pak Erik selaku wakil dari Nona Naysila. Email juga setoran uang sudah di alihkan ke nomer rekening lain." Dengan gerakan cepat Alex meraih leher si kaki tangan tanpa perduli pada ramainya cafe siang itu. Tentu saja perbuatan Alex menyita perhatian sehingga mau tidak mau dia melepaskan cengkraman tangannya.


"Bagaimana ini bisa terjadi!! Katakan?" Si kaki tangan bergegas berdiri dengan wajah ketakutan.


"Sa saya tidak tahu Pak. Saya cuma pesuruh. Tapi Pak Erik sudah membawa surat resmi pengalihan hak milik perusahaan. Di situ juga ada tanda tangan Bapak. Em sebaiknya Pak Alex konfirmasi sendiri. Saya permisi." Meski tidak di izinkan. Si kaki tangan berjalan keluar Cafe daripada nyawanya harus terancam.


"Hei kembali sialan!!! Jelaskan padaku!! Ahhhhggggghhhhh!!!!" Teriak Alex geram. Matanya menatap sekitar tajam lalu memutuskan pergi ke rumah Kai untuk mencari kejelasan soal perusahaannya.


.

__ADS_1


.


.


Singkat waktu setibanya di lokasi. Langkah Alex di hadang Alan yang memang bersiap menanti kedatangannya. Penjagaan di perketat sehingga Alex tidak bisa menerobos masuk.


"Pertemukan aku Al. Kau jangan seperti ini!!" Teriak Alex menggila.


"Tidak bisa. Nona sedang sibuk."


"Perusahaan ku di ambil oleh mereka!!!" Menunjuk ke arah pagar tinggi yang menjulang.


"Itu imbas dari perbuatan mu." Alex mendengus untuk mendinginkan otaknya yang mendidih.


"Perbuatan apa!!"


"Jangan munafik Alexander. Beruntung Tuanku tidak langsung membunuh mu. Dia masih menghormati kedua orang tuamu."


"Aku ingin bicara baik-baik!!" Ujarnya memaksa.


"Akan ku sampaikan nanti. Untuk saat ini kau lebih baik pergi. Nanti aku akan mengabari jika Nona Nay memiliki waktu senggang."


"Sialan kalian!!!" Tunjuk Alex ke semua anak buah Alan yang berdiri sejajar sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi.


Sementara di kamar utama. Nay terlihat senang ketika layar laptopnya memperlihatkan perdebatan antara Alan dan Alex. Seakan mendapatkan mainan, Nay memperhatikannya seraya tersenyum bahkan sesekali terkekeh.


Apa yang salah dengan Istri ku.


"Harusnya dia di beri perawatan khusus Mas." Tap! Nay menutup laptop lalu tatapannya beralih pada Kai yang tengah duduk tenang di sofa.


"Dia siapa?"


"Alexander."


"Mati ku rasa lebih baik. Dia sangat berisik." Jawab Kai asal bicara. Dia sebenarnya malas berhubungan dengan Alex.


"Bukankah aku bebas bermain-main sampai kejelasan soal orang tuanya terkuak."


"Ya Baby. Terserah padamu, asal kamu senang." Ujar Kai pelan." Terus? Bagaimana langkah selanjutnya?" Imbuhnya ingin tahu. Semua yang di lakukan Nay masih atas persetujuannya.


Nay beranjak dari tempatnya lalu duduk di sisi Kai dan membisikkan niatnya. Kai melirik sebentar, sebelum akhirnya menghembuskan nafas berat.


"Otaknya sudah tidak stabil. Mana mungkin bisa sembuh?"


"Laporan Jessy membuatku tahu jika Alex memiliki gangguan jiwa. Dia hanya mampu memikirkan tentangmu dan apa yang kamu miliki."


"Percayalah, rasanya sangat memuakkan. Aku tidak setuju dengan rencana itu."


"Terus bagaimana Mas? Aku sedikit kasihan padanya."

__ADS_1


"Jika dia mau pergi ke negaranya dulu. Kembalikan saja perusahaan itu. Gunakan sebagai bahan ancaman. Aku hanya tidak ingin di usik apalagi perutmu mulai membesar." Kai mengulurkan tangannya lalu mengusap perut Nay yang terlihat semakin membesar.


"Tapi aku merasa senang melakukan ini."


"Kesenangan apa yang kamu dapatkan?"


"Melihat orang yang punya niat buruk pada calon anakku hidup menderita."


Selama ini Nay hidup dalam perasaan santai nan lapang. Tidak pernah terbesit dendam apalagi sampai tertawa di atas penderitaan seseorang. Namun semenjak janin di perutnya mulai tumbuh. Kenyataan soal Alex yang berniat melenyapkan calon anaknya membuat Nay menaruh perasaan amarah.


Entah karena dia tidak ingin lagi kehilangan buah hati, atau mungkin hidup keras Kai mulai menular. Yang pasti Nay ingin menunjukkan pada Alex jika tidak mudah menyingkirkan calon anaknya.


Sementara di depan, Jessy terlihat duduk bersantai dengan beberapa anak buah Alan. Selama beberapa hari berkerja, dia sudah bisa membaur bahkan akrab pada beberapa orang.


Jessy memang terkenal ambisius. Namun di balik itu sikapnya sangat ramah terutama pada lawan jenis. Tujuannya tidak lain berusaha menggoda dan berharap mendapatkan percintaan panas.


"Bagaimana kalau malam ini kita pergi." Ajak Jessy tersenyum simpul. Menatap salah satu anak buah Alan yang terlihat tampan meski hanya memakai kaos oblong.


"Maaf Tan, saya tidak bisa." Alan yang baru muncul sontak terkekeh ketika panggilan Tante kembali Jessy dapatkan.


"Apa salahnya memanggil Kak." Eluh Jessy tidak terima. Dia merasa masih sangat cantik.


"Umurmu memang hampir setengah abad." Ledek Alan ikut berbaur. Dia mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya.


"Setengah abad apa? Aku masih 45 tahun!" Jawab Jessy ketus.


"Sudahlah. Aku ingin bertanya sesuatu."


"Hm apa?"


"Kau tahu kalau Alex pernah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa?" Jessy menggeleng pelan.


"Suruh Kai mengeksekusinya saja. Sekarang hartanya sudah habis. Dia akan menyulitkan nanti." Jessy berfikir jika penundaan pembunuhan terjadi karena Kai ingin memiskinkan Alex terlebih dahulu.


"Kau tidak tahu sejarahnya? Orang tua Alex sangat baik pada Tuan dan kedua orang tua kami. Kalau sampai mereka tahu Tuan membunuh anaknya, bagaimana perasaan mereka." Jessy malah terkekeh sejadi-jadinya.


"Jadi Tuan mu takut di hantui?"


"Apa maksudmu?"


"Aku pernah dengar dia berkata sudah membunuh orang tuanya. Entah sadar atau tidak, sebab saat mengatakannya dia sedang emosi."


"Kau serius?" Tanya Alan menekankan.


"Itu yang ku dengar. Dia sendiri yang berkata." Jawab Jessy santai.


Bergegas saja Alan mematikan puntung rokok lalu beranjak dari tempatnya sambil mengabari Kai soal fakta yang di dengar dari Jessy.


Kalau itu benar? Astaga.. Alexander tega sekali pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2