Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 83


__ADS_3

Untuk melancarkan aksinya, Jessy menyamar sebagai orang tua rentah. Informasi yang di dapatkan dari Alex membuatnya bisa menemukan lokasi keberadaan Nay sekarang.


Sungguh niat Jessy begitu besar dan menggebu. Dia sampai menyewa gerobak buah di pinggiran jalan hanya untuk memuluskan rencana.


Tepat di saat Nay dan Kai keluar swalayan, Jessy berjalan tertatih sambil membawa satu butir melon.


"Nona tolong di beli. Sejak pagi belum ada yang mau membeli buah saya." Terang saja Nay teralihkan perhatiannya. Apalagi sosok di hadapannya begitu tua rentah.


"Berapa harganya Bu?" Tanya Nay ramah.


"Satu kilo 20 ribu saja Non." Kai menghela nafas panjang. Dia merogoh saku untuk mengambil dompet. Beberapa lembar uang ratusan di sodorkan ke arah Jessy.


"Bawa uang ini. Kami tidak butuh dagangan mu." Jawab Kai pelan. Nay dan Jessy saling memandang seakan keduanya tengah berkomunikasi lewat batin masing-masing.


"Maaf Tuan. Saya tidak biasa menerima uang cuma-cuma." Tentu saja Nay merasa sungkan melihat perbuatan tidak sopan yang Kai tunjukkan.


"Kami sudah membelinya." Kai mengangkat tas belanja yang di bawa.


"Oh begitu." Jessy memasang wajah kecewa dan berusaha menarik simpatik Nay.


"Di mana Ibu berjualan?" Tanya Nay ramah.


"Gerobak saya ada di sana Nona." Yes! Tentu saja dia kasihan.


"Biar saya beli semua buah-buahan itu." Kai menghembuskan nafas berat.


"Untuk apa Baby? Aku tidak mau kamu sembarangan membeli pada orang asing."


"Memangnya kamu mengenal orang swalayan Mas?" Seakan membantah, Nay menjawabnya begitu sehingga mimik wajah Jessy berubah sumringah.


"Aku mengenal pemiliknya. Buah di sana sudah terjamin keamanannya. Tidak mungkin aku sembarangan membeli untuk mu."


"Bisa saja para pegawai yang memberikannya racun." Kai kembali menghela nafas panjang dan menghembusnya kasar." Maaf Bu. Suami saya sedikit fobia dengan hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan calon bayi kami." Imbuh Nay pelan.


"Memang seharusnya seperti itu Nona." Janin itu memang tidak boleh ada.


"Jadi berapa semuanya."


"Em sekitar tujuh ratus saja Nona."


"Kamu punya uang cash Mas." Kai tanya melihat Nay dengan malas lalu menghitung uang cash sesuai nominal.


"Ini." Kai menyodorkannya pada Nay." Buah sebanyak itu mau kamu apakan?" Eluh Kai tidak mampu menolak meski dia ingin.


"Membuangnya. Ambil uang ini." Kai menoleh cepat, menatap mimik wajah Nay yang berubah ketus. Dia bahkan melempar lembaran uang ke wajah Jessy sambil menatapnya tajam.


"Nona kenapa?" Tanya Jessy terbata.


"Kau mau menipu ku?" Tangan lentik Nay menarik kasar topi Jessy sehingga rambutnya terurai. Dengan gerakan cepat Nay mengambil senjata dari pahanya lalu menodongkannya ke arah punggung bawah Jessy." Ikut ke mobil." Pinta Nay sedikit menekan kata-katanya.


"Oh ternyata." Jessy tersenyum simpul begitupun Kai. Dia merasa bangga akan kepekaan Nay.


"Tidak semudah itu menyingkirkan calon anakku. Cepat masuk!" Nay mendorong kasar punggung Jessy agar bergegas masuk ke dalam mobil. Sementara Kai langsung duduk di kursi kemudi dan bergegas melajukan mobilnya.

__ADS_1


Sialan!! Aku kurang perhitungan.


Nay tersenyum simpul. Sejak awal masuk swalayan, dia sudah memperhatikan gerak-gerik Jessy yang mencurigakan. Penyamaran Jessy masih bisa terlihat sebab perkerjaan ini baru pertama di lakukan.


"Katakan tujuan mu Nona?" Tanya Nay seraya memainkan senjata seakan sudah lihai. Kai memilih diam seraya melirik dari kaca spion.


"Aku hanya suruhan. Lepaskan aku." Takkk!!! Tanpa basa-basi Nay memukul kepala Jessy dengan ujung senjata api.


"Bukan itu jawaban yang ku inginkan!!!" Kai tersenyum simpul. Melihat sikap Nay yang seakan tengah mencerminkan dirinya.


"Jangan sembarang memukul! Kita sama-sama wanita. Aku tidak mungkin melakukan ini jika Suami mu mengembalikan perusahaan ku! Malas sekali berhubungan dengan orang seperti kalian!! Apa tidak ada perkerjaan lain selain saling memburu! Aku hanya ingin menikmati sisa hidupku dengan baik."


Jessy memang berniat hidup tenang. Namun keadaan memaksanya untuk kembali terlibat dalam sebuah perseteruan.


"Tujuannya Nona!! Tujuannya!!! Kau tuli hah!!!" Jessy menghela nafas panjang.


"Alex tidak ingin kau hamil."


"Oh." Kini posisi duduk Nay terlihat tegak.


"Turunkan aku."


"Kenapa kau selalu jadi bayang-bayang hidup ku. Dari saat aku bersama Mas Hendra sampai sekarang, kau selalu muncul dan mengganggu." Kini Jessy terkekeh kecil. Dia sendiri tidak memahami kenapa harus terlibat.


"Mereka menjanjikan perusahaan. Itu kenapa aku mau. Malas sekali jika harus kembali miskin."


"Sialan!!! Lalu kau berniat menyingkirkan calon anakku. Kau fikir gampang! Lupa jika janin ini adalah anaknya." Menunjuk ke arah Kai.


"Aku minta perusahaan ku kembali! Lalu akan pergi jauh dari kehidupan kalian!"


"Aku tidak akan melakukan itu tanpa imbalan apalagi setelah ini kau membunuh ku." Tolak Jessy sebenarnya cukup merasa takut.


"Aku berjanji akan memberikan kehidupan yang mudah nan mewah."


"Perusahaan ku akan di kembalikan?"


"Lebih baik daripada itu. Cepat hubungi, bukankah kita sama-sama wanita."


"Ya oke. Jika kau berbohong, aku akan menghantui kehidupan mu." Segera saja Jessy mengeluarkan ponsel dari baju lusuhnya. Dia menghubungi kontak Alex dengan suara berbisik seolah-olah takut ketahuan.


📞📞📞


"Halo. Bagaimana?


Beruntung sebab Alex kini tengah sibuk dengan perkerjaannya bersama Erik sehingga pemantauan pada perkerjaan Jessy lengah.


"Aku malah di tawari menjadi pembantu nya. Bagaimana?


"Apa tidak bisa langsung?


"Tidak. Mereka menolak membeli dan malah kasihan padaku.


"Ya baik. Tapi bergerak lebih lincah atau kau tidak pernah mendapatkan perusahaan itu.

__ADS_1


"Oke. Sudah ya. Aku takut mereka curiga.


"Hm.


📞📞📞


Panggilan terputus. Jessy mengantongi lagi ponselnya sambil melirik malas ke arah Nay.


"Sudah kan?"


"Hm bagus. Em Mas, tolong suruh Alan mencari seragam pembantu." Pinta Nay tersenyum ramah.


"Untuk apa?" Tanya Kai bingung.


"Seragam baru juga perkerjaan baru untuknya. Kau akan menjadi pembantu pribadiku." Sontak Jessy tersenyum aneh dengan mimik wajah terkejut.


"What? Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Jessy mengulang.


"Tidak. Kau pantas di jadikan kacung."


"Untuk apa? Bukankan lebih baik dia di bunuh saja." Tolak Kai tidak setuju.


"Aku yang akan membunuhnya jika dia sampai berani berkhianat atau menyimpang dari perkerjaan."


"Hei ini pelanggaran. Kau bilang akan memberikan perusahaan?"


"Aku bilang memberikan kehidupan mudah nan mewah bukan memberikan perusahaan."


"Aku tidak setuju."


"Berarti kau lebih memilih mati." Jawab Nay cepat. Senyumannya mengandung ancaman dan entah kenapa Jessy sedikit ngeri melihatnya. Otaknya mulai berfikir cepat, berharap bisa terlepas dari permintaan Nay.


"Kau tidak takut Suami mu ku ambil lagi." Tanya Jessy asal. Nay malah terkekeh kecil.


"Suamiku tidak akan mau dengan janda tua seperti mu." Hampir saja Kai tertawa mendengar ucapan konyol tersebut." Pilihannya ada dua. Mati atau menjadi pembantuku." Imbuh Nay lagi.


"Bagaimana dengan kehidupan mudah nan mewah."


"Hm jika kau berkerja dengan baik. Gaji tinggi tentu tidak masalah. Tapi jika kau sampai berulah dan melakukan hal di luar batas. Ku lubangi tengkorak kepalamu!" Ancam Nay kasar. Suaranya terdengar lebih buruk dari Kai ketika berteriak." Aku akan menyiapkan surat perjanjian kontrak kerja. Untuk sementara beristirahatlah di belakang. Kau di larang naik ke lantai dua jika tidak bukan atas persetujuan dariku. Sekarang turun!" Nay keluar dari mobil lebih dulu lalu menyeret paksa Jessy untuk turun.


Sialan. Aku malah terjebak di sini sebagai pembantu.


Eluh Jessy dalam hati, seraya menatap sekitar. Tentu tidak mudah kabur dari sana. Selain area rumah berpagar tinggi, para penjaga juga berjaga di sudut ruangan belum lagi CCTV yang memantau 24 jam.


Tapi tunggu?


Tiba-tiba saja Jessy tersungging. Dia menyadari sesuatu yang cukup membuat hatinya senang.


Anak buah Kai rata-rata lelaki. Berarti aku di kelilingi oleh mereka. Siapa tahu ada yang mau bermain-main denganku.


Kegilaan Jessy akan pergaulan bebas. Membuat kewarasannya sering terbabat habis. Keinginannya untuk memiliki perusahaan lagi tidak lain agar kebutuhan sekks nya bisa terpenuhi.


Memiliki banyak uang membuatnya bisa memenuhi kesenangan dengan menyewa para giggolo untuk memuaskan hasrat sekksualnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2