Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 47


__ADS_3

Nay menyipitkan matanya menatap Kai yang tengah duduk. Dia memejamkannya lagi untuk mengembalikan kesadaran akibat efek obat bius.


Aku keguguran?


Batin Nay saat merasakan cairan hangat keluar dari organ inttimnya.


Bukan aku yang menyingkirkan tapi dia..


Nay tersenyum simpul sebentar. Dia menginginkan anak yang terbentuk dari cinta bukan tekhnologi. Walaupun demikian, tidak ada niat terbesit untuk menyingkirkan janin tersebut.


"Maaf." Kesadaran Nay langsung di sambut dengan ucapan sesal dari Kai.


"Kamu membunuh anakku lagi Mas." Kai terdiam sejenak. Dia sungguh merasa menyesal.


"Aku tidak sengaja. Kamu membuatku panik." Jawabnya membela diri.


"Aku hanya ingin cepat-cepat membentuk rasa."


"Butuh waktu untuk melakukan itu."


"Lalu, tujuanmu menunggu ku apa kalau kenyataannya kamu belum mencintai ku." Kai tidak bergeming. Dia sendiri merasa bingung tapi perasaannya tidak bisa di bohongi. Kai hanya ingin menikah dengan Nay." Lanjutkan egoisnya. Kamu tidak akan memiliki keturunan." Imbuh Nay asal bicara. Kai menegakkan pandangan dan menatapnya tajam.


"Kamu menyumpahi ku?"


"Bukan menyumpahi tapi lihatlah faktanya. Kau tetap kasar padaku sampai-sampai mencelakai nya."


"Aku tidak sengaja."


"Ya." Kai membuang muka. Tatapannya kini beralih pada jendela kamar.


"Aku benar-benar tidak sengaja." Ujar Kai pelan.


"Sudah terjadi Mas. Sekarang dia menghilang."


"Kita bisa mencobanya lagi."


"Tentu saja. Tapi dengan sentuhan fisik. Aku tidak ingin melakukan metode seperti kemarin." Kai beranjak dari tempatnya lalu berdiri mematung di sisi jendela.


"Kau bernaffsu sekali." Dengus Kai kesal.


"Tidak ada salahnya. Kamu Suami ku." Nay tersenyum, menatap wajah gelisah yang di perlihatkan Kai. Dia sengaja mendesak karena berniat memperbaiki hubungan. Apalagi Nay tidak mungkin lari dari kenyataan sehingga tidak ada lagi yang bisa di lakukan kecuali menyerah pada keadaan.


"Aku belum siap." Tolak Kai lirih.


"Jangan berharap punya anak."


"Umurku..."


"Sudah tua." Sahut Nay cepat.


"Hm."


"Jangan menolak."


"Aku tidak menyangka kau agresif sekali."


"Pada orang yang tepat. Aku ingin pulang."


"Besok baru boleh pulang."


"Sekarang Mas. Ayolah, turuti permintaan ku. Bukankah kau Bos besar."


"Ini untuk kebaikan mu."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Janin itu masih terlalu kecil. Tolong suruh perawat melepaskan selang infus." Kai melirik malas. Ponselnya tertinggal di rumah membuat dia tidak bisa berbuat banyak.


"Sebentar." Ucapnya seraya berjalan keluar. Kai hendak menyuruh ajudannya untuk mengambil ponsel agar dirinya bisa menghubungi Alan.


Baru saja Kai melangkahkan kakinya keluar, Alan terlihat berjalan menghampiri.


"Apa yang terjadi Tuan?" Tanya Alan panik.


"Dia keguguran. Aku.." Ucapan Kai tertahan." Urus kepulangan nya untuk malam ini. Dia tidak mau menginap." Alan menghembuskan nafas berat kemudian berjalan menuju ruang administrasi untuk mengurus kepulangan Nay.


.


.


.


.


Setelah selesai berkemas, Nay duduk di sisi ranjang dengan kaki bergantung. Dia merencanakan sesuatu pada Kai yang tengah mengulurkan tangannya ke arahnya.


"Katanya mau pulang?" Tanya Kai untuk kesekian kalinya.


"Ya Mas."


"Ayo. Ku bantu turun."


"Tapi sepertinya aku masih pusing." Kai memasang wajah geram namun tidak tega untuk marah. Wajah di hadapannya sangat memelas apalagi dia sudah melakukan sebuah kesalahan.


"Biar perawat memasang infusnya lagi." Cepat-cepat Nay meraih lengan Kai untuk mencegahnya pergi." Apa mau mu. Astaga." Eluh Kai mencengkram erat kepalanya.


"Apa kamu tidak kuat mengangkat tubuh ku?"


"Maksudmu bagaimana?"


"Tidak. Kau mau mempermalukan ku? Di depan ada beberapa anak buah ku! Menurut mu bagaimana pendapat mereka jika mereka melihat adegan menjijikan itu!!" Jawabnya menjelaskan alasan.


"Suruh Alan melakukannya."


"Kau gila?!"


"Kau yang gila Mas. Seburuk itu wajahku sampai-sampai kau merasa malu!" Nay berpura-pura marah agar Kai mengabulkan permintaan nya.


"Bukan masalah wajah." Dan sebenarnya juga bukan masalah malu. Aku hanya tidak ingin melakukan sentuhan terlalu banyak. Jantung ku akan meledak nantinya.


"Panggil Alan. Biar dia yang membantu."


"Ya ayo!"


Kai bergegas mengangkat tubuh Nay yang langsung tersenyum karena rencananya berhasil. Sengaja, Nay bernafas tepat di leher Kai dan berusaha menggodanya.


"Jangan lakukan itu." Protes Kai tanpa memperhatikan sekitar. Alan memilih berjalan di belakang mereka sambil menikmati adegan yang jarang terjadi dan mungkin hanya satu kali seumur hidup.


Tuanku akan semakin sempurna setelah ini. Bukan hanya berkuasa, dia akan jadi seorang Suami yang pintar memanjakan Istri..


Meski pemandangan di hadapannya terlihat konyol. Tapi Alan dan beberapa anak buahnya memilih diam. Mereka menganggap jika apa yang di lakukan Kai sangat wajar meski terlihat menggelikan.


"Setelah aku bersih. Kita akan melakukan malam pertama." Ujar Nay berbisik sambil tertawa kecil.


"Jangan bicara macam-macam."


"Semoga gunung es mu cepat mencair." Jawab Nay tidak berhenti meledek.


"Tidak ada gunung es!"

__ADS_1


"Terserah. Apapun itu, yang penting sesuatu yang keras pada otakmu akan segera hancur." Cup!! Nay mengecup pipi Kai sebentar sehingga cepat-cepat tubuhnya di turunkan.


"Berjalanlah sendiri!!!" Ucap Kai setengah membentak. Tangan kanannya mengusap-usap pipi bekas ciuman.


"Tega sekali kamu Mas hu hu hu." Nay duduk berjongkok sambil berpura-pura menangis sehingga keduanya menjadi sorotan sekitar. Walaupun saat itu malam hari, tapi beberapa keluarga pasien masih berlalu lalang.


"Kau banyak ulah. Kalau memang kau ingin ku bantu, diamlah." Alan berjalan menghampiri lalu membisikkan sesuatu yang sontak membuat Kai mengedarkan pandangannya ke sekitar. Kenapa sulit sekali mengurus wanita!! "Bangun. Ayo pulang." Kai mengulurkan tangannya ke arah Nay.


"Tidak mau. Kau jahat!"


"Ya sudah terserah. Kau akan di sini semalaman!"


"Ya. Pergi saja!"


Kai menghela nafas lagi dan lagi. Dia berusaha mengendalikan perasaan yang meledak-ledak akibat ciuman singkat tersebut. Dengan segala keterpaksaan Kai duduk berjongkok lalu kembali mengangkat tubuh Nay.


"Sialan!!" Umpatnya berdiri lalu berjalan.


Aku rasa dia tidak bisa melakukan hal buruk padaku. Hahaha lucu sekali. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang berdebar-debar. Bagaimana penampakannya saat dia melakukan malam pertama? Aku yakin dia akan pingsan..


Nay mulai menikmati hidup yang jauh berbeda dari sebelumnya. Meski kepahitan sempat melintas sebentar tapi kini misi hidupnya berubah. Nay ingin melunakkan hati Kai dan mengikatnya kuat.


🌹🌹🌹


Caca merasa terharu melihat makan malam romantis yang sudah Elang siapkan khusus untuknya. Restoran di sewa untuk beberapa jam. Hanya ada mereka berdua di dalamnya.


Tiba-tiba sebuah kontak cincin di keluarkan dari saku jaketnya. Elang mengambil isi di dalamnya lalu menyodorkannya ke arah Caca.


"Kamu mau menjadi Istri ku?"


Rasanya hati Caca meleleh. Mendengar ikrar lamaran yang sudah lama ingin di dengar. Dia tidak sanggup menjawab dan hanya tertunduk karena tidak tahu harus melakukan apa.


Bagaimana ini? Aku malu sekali. Kak Roy melamarku? Aku tidak percaya ini..


Momen yang sudah lama di nanti, akhirnya bisa dia rasakan malam ini.


"Aku hanya memintanya untuk malam ini saja. Kalau kamu menolak, aku berjanji tidak akan menemui mu besok. Ku anggap itu sebagai kode darimu."


Caca menghela nafas panjang, untuk mengendalikan perasaannya yang meledak-ledak.


"Ini terlalu.. Aku tidak tahu Kak. Apa aku pantas."


Elang sempat mendengus sebelum akhirnya memperlihatkan senyuman manis ke arah Caca.


"Jawaban yang ku minta hanya satu. Iya atau tidak?"


"Setelah ini apa kamu akan menemui orang tuaku?" Caca ingin menyakinkan perasaannya yang mengganjal.


"Ya tentu saja. Kita akan langsung menikah." Hanya di mimpimu..


"Aku mau Kak." Walaupun Caca merasakan keganjilannya, namun dia menutup mata agar masa lajangnya bisa berakhir.


Elang memakaikan cincin ke jari manis Caca lalu mengecup punggung tangannya sebentar.


"Aku menyiapkan satu kejutan lagi."


"Kejutan apalagi?"


"Nanti kamu juga tahu. Habiskan makanannya dulu."


"Hm Kak." Nanti aku akan bercerita pada Nay. Dia pasti akan lega saat mendengar Kak Roy melamarku. Itu berarti Kak Roy serius ingin menjalin hubungan. Bukan sekedar memanfaatkan ku..


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2