
Dengan gamblang Kai membicarakan keteledoran yang di lakukan Alan akibat perintahnya yang terlalu ketat. Seketika wajah Nay berubah dengan manik tidak lagi berkaca-kaca melainkan mengeluarkan air mata.
Kenyataan tersebut membuatnya sadar, jika selama ini dia menikah dengan seseorang yang sudah membunuh anaknya dan merenggut kebahagiaannya.
"Sudah ku duga jika kau lelaki tidak berhati!!!" Tentu saja Nay begitu marah pada Kai yang sudah siap menerima resiko.
"Aku sudah bertanggung jawab. Semua ini asli kecelakaan karena Alan terlalu ceroboh."
"Perusahaan mu tidak berguna Tuan. Kau tahu bagaimana bahagianya hidupku dulu! Kau fikir itu bisa di bayar dengan uang!!"
Nay merasa jika Kai sudah membuat Hendra kehilangan cintanya. Padahal sebelum kecelakaan Hendra sudah menjalin hubungan dengan Jessica. Keduanya berkomitmen menjaga rahasia dan hanya ingin bersenang-senang. Tapi setelah kecelakaan naas itu, Hendra memilih pergi bersama Jessy yang menawarkan banyak janji manis.
"Maaf. Hanya itu yang sanggup ku lakukan."
"Sudah cukup aku mendengar ini." Nay berdiri dengan tertatih." Sebaiknya setelah anak ini lahir, kau ceraikan aku." Kai meletakkan sendok lalu tersenyum simpul.
"Tidak. Mustahil itu terjadi."
"Aku tidak butuh penebusan dosa mu! Aku muak melihat mu dan sebaiknya kau biarkan aku pergi!"
"Cerita belum selesai tapi kau menyela." Nay membuang nafasnya kasar menahan gemuruh pada hatinya." Aku mengikatmu bukan karena dosa itu." Imbuhnya lirih.
"Lantas apa?"
"Kau Sisil. Sudah lama aku mencari mu dan Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang sulit di duga." Nay membuang muka ketika Kai memperlihatkan senyum simpul ke arahnya.
"Oh aku tahu. Kau juga berniat membalas dendam seperti yang kau lakukan pada Kak Erik." Nay malah menebak demikian. Sebab mungkin dulu dia sudah melakukan kesalahan yang tidak di sengaja.
"Kamu salah Sisil. Aku hanya sedang menepati janji."
"Aku tidak pernah mendengar kau berjanji."
"Hm setelah pertolongan itu, aku berjanji hanya akan menikah dengan mu." Nay kembali mendengus untuk kesekian kali.
"Kau memang egois! Itu janji mu! Kenapa kau melibatkan ku!" Menunjuk ke dadanya.
"Aku berniat baik. Aku berjanji akan melindungi mu juga menjadi mu ratu di sini."
"Tidak!" Jawab Nay menolak.
"Itu bukan penawaran tapi keputusan. Sejak kita bersama, hidup mu sudah berubah sebab musuh ku sedang mengincar mu. Kau tidak mungkin hidup normal seperti dulu. Apa yang kamu lihat tadi adalah bagian dari sisi gelap duniaku. Musuhku bahkan melakukan hal yang lebih keji."
Nay terdiam, kepalanya terasa panas setelah kenyataan soal Kai terkuak. Apalagi kematian anaknya tidak langsung di sebabkan oleh Kai, sehingga emosi dan amarah terasa berkecamuk di hatinya.
Namun Nay sadar, dia tidak bisa mudah lari dari kenyataan sebab Kai bukan orang biasa. Banyaknya anak buah serta kekuasaan tentu mengikis jalan Nay untuk kabur.
"Terima saja kenyataan. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya." Nay menatap Kai tajam.
"Kau membunuh anakku! Bagaimana mungkin kau ingin aku bisa gampang menerima!"
__ADS_1
"Itu kesalahan saya Nona. Saya minta maaf atas itu semua. Saya menyesal." Sahut Alan yang ternyata berdiri di ambang pintu ruang makan.
"Kalian sama kejinya!!" Teriak Nay kesal.
"Nona boleh menghukum saya." Dengan gerakan cepat Nay mengambil pisau lalu berjalan menghampiri Alan yang pasrah dengan semuanya.
"Aku ingin nyawamu! Bagaimana!" Ancam Nay menyodorkan sebilah pisau tepat di leher Alan. Entah kenapa Kai malah tersenyum simpul dan masih duduk santai seakan tengah melihat teater.
"Silahkan Nona. Saya benar-benar menyesal. Tapi apa daya, saya tidak bisa mengembalikan nyawa seseorang. Saya minta maaf atas apa kesalahan yang sudah merenggut nyawa anak Nona."
Klunting.....
Nay melempar pisau ke sembarang arah. Ucapan Alan cukup membuka hatinya karena apapun yang di lakukan, tidak akan membuat nyawa anaknya kembali.
"Sialan!!!" Umpatnya berjalan melewati Alan lalu menaiki anak tangga menuju kamar yang dulu di tempati.
"Perketat penjagaan. Aku tidak ingin dia kabur." Pinta Kai pelan.
"Baik Tuan. Em sebaiknya Tuan biarkan Nona sendiri dulu. Mungkin dia butuh waktu."
"Hm aku tahu." Kai berdiri lalu pergi masuk ke kamarnya sendiri. Dia memberikan waktu Nay mencerna semuanya dengan harapan jika suatu saat hubungan keduanya bisa membaik.
🌹🌹🌹
Setelah mengetahui kedekatan Caca dengan Nay. Elang mulai melakukan rencana tambahan. Dia merasa jika cara kerja Hendra tidak sesuai keinginan dan terlalu lambat.
Sore ini, Elang mendatangi di mana Caca berkerja. Bukan masalah sulit untuk mendapatkannya sebab semua data soal keluarga Caca berhasil di kantongi dalam waktu singkat.
Perkerjaan Caca selalu saja tidak benar sebab seharusnya pekerjaan yang di geluti bukanlah keahliannya. Caca berparas kurang menarik namun otaknya cukup cerdas.
Berkali-kali Caca melamar pekerjaan di berbagai perusahaan tapi hasilnya nihil. Harus ada bukti pengalaman kerja yang tidak di miliknya. Dia risen diam-diam sehingga Caca tidak mendapatkan surat pengalaman kerja dari perusahaannya dulu.
"Kalau kerajaanmu begini terus, jangan bermimpi bisa naik jabatan!!!" Jawab si senior kasar.
"Terus aku harus bagaimana Kak? Aku sudah merubah penampilan tapi hasilnya sama." Si senior menatap sinis ke arah Caca yang memang terlalu polos. Hanya ada bedak tabur dan pemerah bibir menghiasi wajahnya.
"Merubah apa? Kau tidak ada bedanya."
"Em permisi." Sahut Elang sambil membawa sebuah celana jeans di tangannya. Si senior sontak menoleh dan terkesima melihat wajah tampan di hadapannya.
Astaga.. Kakak ini tampan sekali..
Caca yang sudah melupakan wajah Elang. Tidak menggubris pertanyaan dan hendak pergi.
"Oh bukankah kamu temannya Naysila." Caca menegakkan kepalanya." Ingat aku?" Menunjuk dadanya.
"Kakak yang di cafe?" Si senior mengerucutkan bibirnya.
"Hm ya. Aku beberapa kali menelfon tapi tidak kau respon."
__ADS_1
"Em aku tidak bisa menerima panggilan dari nomer asing."
"Oh begitu."
"Awas ya. Kalau hari ini kamu tidak menjual barang. Ku pastikan kau akan kehilangan perkerjaan mu!" Ujar si senior terpaksa pergi daripada harus melihat pemandangan yang menurutnya memuakkan. Sebelum pergi, Elang sempat melirik ke nama yang tertera di atas saku baju si senior.
"Sepertinya kau sedang ada masalah?" Tanya Elang basa-basi.
"Itu Kak. Aku jarang menjual barang karena mungkin wajahku tidak seberapa menarik. Setiap orang yang berusaha ku layani selalu saja pergi." Elang mengangguk-angguk seraya tersenyum simpul. Kumis tipis masih terlihat menghiasi atas bibirnya.
"Kebetulan. Em.. Aku mencari celana semacam ini berjumlah 50 potong dengan ukuran yang sama."
Elang menyodorkan celana berbandrol 500 ribu pada Caca. Jumlah yang fantastik tentu membuat senyum Caca mengembang.
"Benarkah?" Tanya Caca dengan senyum sumringah.
"Hm tentu saja. Hari ini kau akan banyak menjual barang." Sudah ku duga. Dia terlalu mudah untuk ku bohongi..
"Sebentar ya Kak."
"Hm baik." Sambil tersenyum, Elang meraih ponselnya lalu menghubungi kontak seseorang.
📞📞📞
"Halo Pak. Em saya ingin melaporkan pelayanan yang tidak menyenangkan.
"Siapa ini?
"Salah satu costumer anda.
Meski sedang menyamar, Elang tidak pernah kehabisan cara menyingkirkan orang yang di kehendaki. Dia berusaha menjadi penolong dengan harapan jika suatu saat Caca bisa membantunya bertemu Naysila.
"Ada apa ya.
"Karyawan yang bernama Anis tidak sopan melayani saya. Dia kasar sekali.
"Tidak mungkin begitu Pak. Karyawan saya sangat profesional.
"Sayangnya saya saudara dari Tuan Kai. Kalau saya melaporkan ini..
"Oh astaga baiklah. Saya akan segera memprosesnya.
"Saya ingin dia di pecat.
📞📞📞
Elang menutup panggilannya. Dia tersenyum tipis sambil membayangkan jika suatu saat nanti gelarnya bisa sepadan dengan Kai.
Tujuannya ingin menguasai Xu grup tidak lain ingin menguasai kehormatan, kekuasan sampai semua pengusaha, abdi negara, bahkan pihak berwajib bisa tunduk padanya.
__ADS_1
🌹🌹🌹