
"Ini sekertaris saya, Kanaya. Panggil saja Naya." Ujar Han memperkenalkan. Nay berdiri lalu bersalaman dengan keduanya.
"Kenapa kemarin kamu tidak ada?" Tanya Jessica tersenyum simpul.
"Oh saya sedang ambil cuti karena orang tua saya sakit." Hendra terdiam ketika mendengar suara Nay. Dia masih mengenal baik suara tersebut.
Mana mungkin begitu. Wajah Nay akan sulit di perbaiki.
Tubuh Nay terseret beberapa meter sampai-sampai gesekan dari body motor mengeluarkan percikan api. Entah bagaimana kejadiannya karena paska kecelakaan sebagian tubuh Nay berkerut dan keriput seperti luka bakar.
Wanita ini yang sudah merubah Mas Hendra menjadi orang lain.
Ada rasa sesal terbesit. Pertemuannya dengan Hendra hari ini membuatnya sadar jika lelaki terkasihnya sudah jauh berubah.
"Oh begitu. Emm jadi bagaimana Pak Han. Apa perinciannya sudah di siapkan?" Nay menyodorkan berkas yang di bawa.
Jessica dan Hendra terlihat serius mempelajari berkas seakan ingin mencari-cari kecurangan yang mungkin saja di selipkan. Nay dengan senang hati menjawab pertanyaan demi pertanyaan agar Jessica tidak curiga jika dirinya hanya orang baru.
Otak Nona Nay berkerja sangat baik. Dia cocok menjadi Istri Tuan Kai. Tapi aku tidak habis fikir. Kenapa Tuan Kai melibatkan Nona dalam misi ini?
Han bahkan tidak tahu jika Nay hanya berperan sebagai Istri sementara. Tidak salah jika dia menganggap keterlibatan Nay adalah keganjilan.
"Di mana kamu tinggal Naya?" Tanya Jessica ramah.
"Apartemen Santika."
"Wah. Apartemen mewah itu." Hendra tersenyum simpul. Sejak tadi dia mulai curi pandang pada Nay.
"Hanya menempati saja. Itu milik perusahaan. Em rumah orang tua saya terlalu jauh. Kalau saya pulang pergi akan memakan waktu panjang."
"Di mana itu?"
"Maluku Utara." Jessica tersenyum aneh. Lokasi yang di sebutkan Nay berjarak sangat jauh." Saya tinggal di dekat pegunungan Halmahera." Imbuhnya seakan menyakinkan.
"Astaga itu jauh sekali.
"Itu kenapa saya cukup terbantu dengan fasilitas yang di berikan perusahaan."
"Bukankah ada rumah dinas?"
__ADS_1
"Terlalu luas untuk saya tinggali sendiri." Jawab Nay begitu tepat. Jessy mulai percaya jika Naya hanya sekedar berkerja di perusahaan Xu grup bukan di tugaskan untuk memata-matai.
Perbincangan hangat mulai terjalin. Bukan hanya membahas soal perusahaan, tapi Jessica kerapkali melontarkan pertanyaan yang bersifat pribadi pada Nay. Setelah persetujuan di capai, Han dan Nay berpamitan untuk pulang.
"Meski Tuan Kai orang yang kejam, tapi setidaknya dia tidak munafik." Ujar Han setelah keduanya sampai di dalam mobil.
"Aku yakin wanita itu yang sudah merubahnya."
"Menurut saya, setia tetap saja setia. Jika sampai dia mendua, semua alasan yang di lontarkan semata-mata ingin menutupi kebohongan nya." Tiba-tiba Nay kembali membuka pintu mobil ketika melihat Hendra keluar dari perusahaan.
"Aku akan mendekatinya atas nama orang lain. Katakan itu pada Tuan Kai."
Sudah bisa di tebak jika Nay tidak sanggup menahan gejolak yang ada pada hatinya. Dia tidak sabar mendekati Hendra dengan kecantikan yang di milikinya sekarang.
Sementara Han, lebih memilih menghubungi Alan sebab dia menganggap Nay merupakan Nyonya Kai yang wajib di hormati setiap permintaannya. Hal itu membuatnya tidak sanggup mencegah dan memutuskan untuk meninggalkan lokasi karena masih sangat banyak perkerjaan yang harus di urus.
"Permisi Pak Hendra." Sapa Nay ramah. Mimik wajahnya terlihat berseri-seri penuh harap.
"Oh astaga Naya. Ada apa?" Hendra tersenyum simpul, tentu saja dia merasa senang atas sapaan Nay.
"Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang proyek baru. Em bisakah kita makan siang bersama?" Tanpa sedikitpun kewarasan, Nay melontarkan permintaan tersebut. Padahal dia seharusnya tahu jika apa yang di lakukan adalah pelanggaran.
"Bukankah tadi sudah di bahas."
"Mungkin besok saja. Em aku sudah punya janji dengan seseorang." Hati Nay langsung di terpa kekecewaan berat walaupun berusaha di tutupi." Maaf Naya. Aku sudah terlambat." Imbuhnya berjalan menuju mobil mewahnya.
Nay menatapnya dari tempatnya berdiri, dengan jelas dia melihat seorang wanita masuk secara diam-diam ke mobil Hendra.
Kecemburuan mulai menyelimuti otak Nay. Dia memesan taksi dan membututi kemana Hendra pergi tanpa tahu akibat perbuatannya akan membuat penyamaran terbongkar.
"Ikuti mobil itu Pak." Pinta Nay pada supir taksi. Dia menatap fokus ke depan memperhatikan kemana mobil Hendra melaju.
Tertera pada layar, panggilan yang berasal dari Kai namun Nay malah mematikan.
Dari jauh terlihat Hendra masuk ke sebuah restoran. Nay turun di bahu jalan dan terus mengikutinya. Dia duduk di salah satu tempat dengan jarak aman.
Hati Nay kembali merasa kecewa saat melihat kenyataan Hendra bersama seorang wanita. Keduanya memang terlihat canggung tapi apa yang mereka bicarakan terdengar jelas di telinga Nay.
"Istriku yang menyuruh aku mencari pacar." Jawab Hendra gamblang. Kejadian semalam membuatnya ingin membalas Jessica dengan cara yang sama.
__ADS_1
Istri? Apa Jessica adalah Istri Mas Hendra.
Nay masih pada posisinya sambil terus mendengarkan obrolan yang kian memuakkan. Dia tidak menyangka jika keluguan Hendra terbabat habis sampai-sampai lelaki yang dulu sangat di cintainya begitu lihai merayu.
"Tapi tetap saja takut. Nanti aku di sebut pelakor." Ujar si wanita mengungkapkan kekhawatirannya.
"Itu tidak akan terjadi. Aku jamin." Sebenarnya aku tertarik dengan Naya. Tapi aku terlanjur memiliki janji. Ah besok saja aku terima ajakan Naya. Sepertinya dia tertarik padaku.
Ketika Nay akan beranjak, sebuah momen membuatnya mengurungkan niat. Dia melihat Caca berjalan menghampiri meja Hendra dengan raut wajah geram.
"Kebetulan." Sapa Caca langsung saja duduk tanpa di persilahkan.
"Tidak sopan sekali. Kenapa kamu menganggu?" Protes Hendra merasa terganggu.
"Siapa dia Mas." Tanya si wanita menunjuk ke arah Caca.
"Aku tidak ada hubungannya dengan lelaki ini. Aku hanya tidak habis fikir. Kenapa kamu belum juga melanjutkan pencarian Nay dan malah sibuk dengan urusan mu sendiri."
Caca terpukul akibat kehilangan Nay. Dia merasa payah karena tidak dapat menjadi pelipur lara bagi Nay sampai-sampai orang yang di anggapnya penting menghilang tanpa jejak.
"Sudah ku katakan jika dia bukan urusan ku lagi. Kami sudah bercerai."
"Jangan egois kamu Mas. Aku tahu alasan mu tidak perduli padanya. Karena wajahnya berubah buruk sehingga cintamu menghilang begitu saja. Tega kamu Mas. Aku sudah meminta tolong untuk mencari di mana Nay sekarang. Hanya mencari! Setelah dia di temukan, biarkan dia bersama ku."
Caca mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak mengira jika kehidupan manis nan sederhana yang sempat membuatnya iri, bisa terhempas dengan mudah.
"Jika dia di temukan, pasti dia akan memaksaku untuk kembali!!" Nay yang mendengar itu sontak tersayat perasaannya. Hatinya baru terbuka akan kenyataan cinta Hendra yang tidak sebesar perkiraan.
Ini hanya wajah imitasi. Bagaimana jika suatu saat wajah ini menghilang? Mungkin Mas Hendra akan kembali meninggalkan ku..
"Tidak akan ku biarkan itu terjadi!!" Caca berdiri sambil mendengus kesal." Aku akan membuka mata Nay untuk melupakan mu! Jika aku punya dana cukup, tidak mungkin aku meminta bantuan dengan mengemis seperti ini!!" Setelah melontarkan kalimat tersebut, Caca berjalan keluar restoran di ikuti oleh Nay. Sengaja dia keluar dari perkerjaannya hanya untuk mencari Nay dengan caranya sendiri tanpa bantuan pihak berwajib." Benar-benar tidak punya hati lelaki itu!! Semudah itu melupakan seseorang dan tidak bertanggung jawab!!" Gerutu Caca seraya berjalan.
"Ca." Sontak saja langkah Caca terhenti. Perlahan dia menoleh ke arah Nay yang sudah berdiri di belakangnya.
"Si siapa?" Tanyanya terbata. Jelas-jelas dia mendengar suara Nay tapi sosok yang di lihat jauh berbeda.
"Bisa kita bicara empat mata."
"Aku tidak mengenal mu."
__ADS_1
"Tapi kamu mengenal suara ku." Manik Caca membulat. Hatinya langsung merasa yakin jika sosok yang tersenyum ke arahnya adalah Naysila, sahabatnya.
🌹🌹🌹