Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 29


__ADS_3

Elang menatap nanar sebuah video yang memperlihatkan Devan bermandikan darah. Suara erangan kesakitan terdengar jelas sampai-sampai Elang menghempaskan laptop miliknya ke sembarang arah.


"Lacak akun itu!!" Teriaknya geram.


"Tidak terlacak Tuan."


Tentu saja kesulitan, sebab hacker yang berkerja sama dengan Kai sangatlah pintar memanipulasi. Jika tidak begitu, mungkin sudah sejak lama berkas penting Xu grup di bobol.


🌹🌹🌹


Pagi itu, Nay terbangun dan mencari keberadaan Kai. Setelah tidak menemukannya di berbagai sudut, dia memutuskan untuk mandi.


Seusai mandi dan mengganti baju, Kai terlihat baru saja masuk dengan masih mengunakan pakaian semalam.


"Pagi ini aku harus pergi ke perusahaan sebelum pengganti Han ku temukan." Ucapnya dengan wajah datar.


"Hm biar ku masakan sarapan."


Kejadian yang menimpa Han cukup membuat Nay tahu kerasnya hidup Kai seperti apa. Apalagi dirinya ikut merasa bersalah atas insiden tersebut sehingga Nay memutuskan untuk mematuhi peraturan daripada ada nyawa yang terenggut akibat kebodohannya.


Ketika Nay beranjak pergi, Kai tersenyum simpul dengan rona merah di wajah. Tidak dapat di pungkiri jika dirinya merasa bahagia bisa menemukan sosok Sisil bahkan menikah dengannya meski rasa cinta belum ada di hati Nay.


Sementara di dapur, Nay cukup terkejut dengan kehadiran Alan yang seakan tengah menunggunya. Dia melihat beberapa bahan makanan sudah berada di atas meja bahkan kompor terlihat menyala.


"Pagi Nona." Sapa Alan ramah.


"Ya pagi."


"Em.. Saya tadi membeli daging kambing. Sudah saya bersihkan dan saya rebus." Menunjuk ke kompor yang menyala.


"Terus bagaimana?" Tanya Nay bingung.


"Em saya minta tolong di masakan gulai kambing." Padahal ini perintah Tuan. Sampai kapan dia sok acuh seperti itu..


"Bagaimana dengan Tuan Kai. Apa dia setuju?"


"Pasti setuju Nona. Em Tuan Kai sering menyuruh saya membeli olahan daging kambing." Nay mengangguk seraya tersenyum.


"Dia tidak suka masakan ku. Katanya tidak enak."


"Mungkin Tuan hanya bercanda. Em dagingnya terlanjur saya rebus."


"Kalau dia marah. Ini tanggung jawabmu ya."


"Siap Nona."


Awalnya Nay hanya ingin menyiapkan sarapan berupa sandwich dan kopi akibat perdebatan kemarin malam. Namun karena Alan mau bertanggung jawab, dia memutuskan untuk memasak sesuai permintaan.


.


.


.

__ADS_1


.


Setengah jam kemudian...


Tepat di saat Nay menyiapkan sarapan, Kai terlihat baru datang dengan pakaian rapi. Jas belum tampak di gunakan sebab waktu masih menunjukkan pukul enam.


"Aku bisa membuatkan sandwich kalau memang tidak sesuai selera." Ujar Nay menawarkan.


"Ini saja cukup. Selera makanku tidak repot." Nay mengerutkan keningnya sambil tersenyum aneh.


Kemarin malam saja dia berprotes. Bagaimana mungkin dia bilang tidak repot?


Nay tidak ingin merusak suasana pagi dengan perdebatan sehingga dia memilih diam.


Kai sendiri kembali tidak dapat berhenti mengunyah. Sedapnya masakan Nay sangat memanjakan lidah yang terlalu lama memakan sajian penuh pengawet.


Anak-anak ku akan senang memiliki Ibu yang pintar memasak...


"Sebaiknya kamu ikut bersama ku nanti." Nay menegakkan kepalanya.


"Ke perusahaan?"


"Iya. Daripada kamu bosan lalu pergi diam-diam." Aku takut terjadi sesuatu dengan nya. "Kamu juga bisa membantuku. Bukankah Han sudah mengajarkan tugas sekertaris." Nay meletakkan sendoknya kemudian meneguk air putih sedikit.


"Kenapa tidak Alan saja?"


"Dia hanya bisa bertarung."


"Aku tidak seberapa tahu soal sekertaris. Waktu itu hanya berpura-pura."


"Aku terserah saja. Em aku tidak ingin lagi ada korban jadi mungkin aku akan lebih mematuhi peraturan sampai anak ini lahir."


Raut wajah Kai seketika berubah saat dia kembali mendengar jawaban tersebut dari mulut Nay.


Kau akan mencintai ku setelah ini. Aku berjanji akan mengikat hati mu sekuat kuatnya sampai kau tidak mampu lagi terlepas..


Rasa ingin memiliki terasa meluap-luap. Meski Kai masih bingung harus mengawali semuanya darimana, tapi dia memantapkan hati untuk belajar memahami pola fikir wanita seperti apa.


.


.


.


.


Singkat waktu, setibanya di perusahaan. Nay semakin di buat terkesima dengan megahnya perusahaan Xu grup. Karena fokusnya teralihkan sampai-sampai dia hampir terjungkal jika Kai tidak sigap menangkap tubuhnya.


"Kau lihat apa!!"


Padahal tadi Kai berniat belajar lebih sabar dan lembut. Tapi ternyata niatnya sangat sulit di lakukan sehingga suara buruk kembali membuat telinga Nay berdengung.


"Ya maaf. Aku tidak sengaja."

__ADS_1


Jawaban dari Nay sontak menyita perhatian sekitar. Para staf merasa jika cara bicara Nay terlalu santai dan tidak sopan mengingat statusnya sebagai sekertaris.


"Jasku bisa kusut." Meski menyesal tapi ego Kai masih bertengger di puncak kepala.


"Itu masih rapi. Berlebihan sekali." Gumam Nay membetulkan rok ketat yang di pakai.


Kai memperhatikan Nay dari samping. Nafasnya berhembus lembut sebab ada sesal saat ucapan kasar dari mulutnya kembali terlontar.


"Hati-hati." Ucapnya lirih lalu kembali berjalan. Nay mengekornya menuju sebuah ruangan berpintu besar.


Saat pintu terbuka, sudah banyak orang mengelilingi meja memanjang termasuk Jessica dan Hendra.


Tentu saja Nay terkejut karena Kai tidak membicarakan apapun atau setidaknya memperingatkan. Tapi apalah daya, Nay harus bersikap profesional dan tidak ingin mempermalukan Kai.


Wajah Hendra seketika berubah, sesekali melirik ke arah Nay yang terlihat sangat menarik. Bukan hanya dirinya, beberapa relasi Kai juga memiliki fikiran yang sama sebab tranformasi Nay secantik boneka berjalan.


Tanpa perduli pada tatapan sekitar, Nay menyodorkan sebuah map ke hadapan Kai sesuai dengan arahan lalu kembali duduk sambil mendengarkan presentasi.


Sejak awal dia memang sangat cantik dan sekarang dia semakin cantik..


Puji Hendra dari dalam hati. Menatap sesekali ke arah Nay yang seakan tidak mengenalnya.


Apa benar dia Nay? Tuan Elang tidak mungkin berbohong..


Sikap acuh Nay membuat Hendra kebingungan. Padahal Nay mencoba untuk tidak perduli walaupun dia ingin mengumpat Hendra atas perbuatan buruknya dulu.


Keluguan mu benar-benar terkikis habis oleh harta Mas. Aku tidak menyangka jika kau lebih memilih meninggalkan ku hanya untuk jabatan..


Nay terkejut ketika Kai memilah-milah berkas di hadapannya. Bergegas saja dia mengambil berkas yang Kai butuhkan dan memberikannya.


"Ingat untuk fokus." Kau pasti memikirkan lelaki itu!!


Ingin rasanya Kai melontarkan kecemburuan namun tertahan karena keangkuhan. Padahal itu hal yang wajar, mengingat kini Nay sudah syah menjadi Istrinya.


"Maaf Tuan."


Setelah peringatan tersebut, Nay mencoba untuk lebih fokus lagi daripada harus memicu kemarahan Kai.


Rapat berjalan baik karena ternyata Kai lebih cerdas daripada Han. Cara penyampaian presentasi sangat jelas dan mudah di pahami.


Terbesit rasa kagum dalam hati Nay. Karena di balik watak kaku nya, Kai lelaki yang sangat bertalenta dalam hal bisnis. Nay sempat menebak jika Kai hanya bos angkuh yang suka menyuruh dan tidak bisa mengunakan otaknya dengan benar.


"Apa penjelasan saya bisa di mengerti?" Tanya Kai seraya tersenyum simpul.


"Sangat di mengerti." Jawabnya serentak." Em kami turut berduka cita atas meninggalnya Pak Han." Imbuhnya menyampaikan ucapan bela sungkawa.


"Hm terimakasih."


"Em.. Siapa nama sekertaris baru anda." Menunjuk ke arah Nay yang langsung berdiri untuk memperkenalkan diri.


"Nama saya Naya.."


"Naysila." Sontak Nay menoleh cepat ke arah Kai. Lagi lagi dia tidak tahu tujuan Kai memperkenalkan dirinya mengunakan nama asli.

__ADS_1


Apa mau lelaki ini? Bukankah seharusnya mengunakan nama samaran saja? Apa dia tidak tahu di sini ada Mas Hendra..


🌹🌹🌹


__ADS_2