
Kai menatap tajam Alex yang kini duduk tepat di hadapannya. Sudah bisa di pastikan jika pertemuan kali ini terasa memuakkan. Apalagi Alex memiliki paras tampan dengan kulit cenderung coklat. Cemburu? Tentu saja Kai takut kalau sampai Nay mendapatkan kenyamanan dari sosok tersebut.
"Sudah ku duga Kak. Selera mu sangat tinggi." Puji Alex tersenyum simpul seraya memperhatikan Nay yang tengah menyuguhkan minuman.
"Aku hanya wanita bekas. Kecantikan ku juga tidak alami." Jawab Nay duduk di samping Kai.
"Tidak berguna menjelaskan itu padanya." Alex terkekeh kecil. Pernikahan Kai adalah kejutan besar baginya.
"Aku hanya tidak suka dia mengunggulkan ku Mas." .
"Masa lalu itu tidak penting Kak. Yang terpenting apa yang ada di depan." Alex menyeruput sirup lalu meletakkannya kembali.
"Setelah minuman itu habis pulanglah." Nay menghela nafas panjang. Merasa sungkan dengan perkataan Kai namun Alex terlihat tidak menanggapi.
"Akan ku kabari Papa dan Mama. Mereka akan senang mendengar kabar ini." Walaupun sifat keduanya bertolak belakang, tapi Nay merasa jika Alex mampu mengimbangi sikap kaku Kai.
"Jangan terlalu lancang."
"Aku tinggal di komplek permata indah. Kapan-kapan, Kak Nay boleh main ke sana."
"Aku ingin sekali tapi semua tergantung Mas Kai."
"Mana mungkin aku menginjakkan kaki ke rumahmu." Jawab Kai cepat.
"Jangan seperti itu Mas."
"Tidak. Ini sudah terlalu lama. Habiskan minumannya dan pulanglah." Alex tersenyum simpul lalu kembali meminum sirup di hadapannya.
"Itu tidak sopan Mas."
"Tenang saja Kak. Aku sudah terbiasa mendengar itu." Jawab Alex santai. Dia berdiri dan bersiap pergi.
"Syukurlah."
"Senang bisa bertemu dengan mu Kak Nay. Aku pamit." Setelah tersenyum sejenak Alex melangkah keluar. Di depan sudah ada Alan dan beberapa anak buahnya.
Alex cukup mengenal Alan dengan baik. Tentu saja, sebab Alan sudah terkenal di kalangan para remaja pada masanya dulu. Geng anak badung paling di takuti dan selalu memenangkan tawuran.
Ajaran Alan merasuk di jiwa Kak Kai.
"Mau langsung pulang?" Sapa Alan ramah.
"Sebenarnya ingin menginap, tapi Kak Kai marah padaku." Alan tersenyum seraya mengangguk." Sedang membicarakan apa? Sepertinya serius sekali?" Tanya Alex ingin tahu.
"Biasa. Orang di masa lalu, membuat emosi Tuanku meletup-letup."
"Akan lebih baik di lupakan saja. Bukankah dia sudah bisa menguasai dunia bisnis juga memiliki Istri yang cantik. Itu kunci dari kebahagiaan duniawi."
"Dendam di hatinya tidak bisa padam." Jawab Alan menjelaskan. Alex duduk di salah satu kursi kayu.
"Padahal sudah bertahun-tahun. Tuan mu masih saja tidak menerima ku."
__ADS_1
"Begitulah." Alan menyodorkan rokok, Alex mengambilnya satu dan bergegas saja Alan menyalakan pematik." Sudah terlanjur sakit. Dia sulit percaya pada orang baru." Imbuhnya menjelaskan.
"Aku bukan orang baru Al."
"Ya."
"Menurut mu, bagaimana caranya membuat Kak Kai percaya kalau aku tulus ingin berteman."
"Lambat laun dia akan percaya. Kamu baru saja tiba beberapa hari lalu. Dia menyebut mu orang asing."
Obrolan terhenti ketika mobil Jessy terparkir. Alan menghela nafas panjang lalu berdiri untuk menyambut.
"Ada apa?" Tanya Alan menghadang langkah Jessy.
"Ingin bertemu Tuan mu."
"Keperluan mu?" Jessy melirik ke arah Alex yang masih asing di matanya.
"Tadi Elang mendatangi ku tapi kalian tidak ada." Jawab Jessy mencari alasan. Padahal dia tengah memanfaatkan akses keluar masuk secara bebas untuk bisa mendekati Kai. Satu malam saja Nay. Ayolah berbagi denganku.
"Pulanglah. Tuanku sedang tidak menerima tamu."
"Aku ingin berprotes." Padahal sudah dandan secantik ini. Tapi kenapa malah di suruh pulang.
"Pulanglah." Jawab Alan tegas.
"Siapa dia." Menunjuk ke arah Alex." Dia tidak tampak seperti anak buah mu." Jessy berjalan menghampiri Alex lalu mengulurkan tangannya." Aku Jessy." Ujarnya memperkenalkan. Wah brondong..
"Aku baru melihatmu."
"Ya. Aku memang baru saja tiba di Indonesia beberapa hari lalu."
Semua orang yang ada di sekitar Kai sangatlah tampan. Alan, Erik bahkan Han. Sebenarnya aku hanya membutuhkan banyak lelaki saja. Tidak penting memikirkan kekuasaan. Berlabuh pada banyak hati lebih menyenangkan.
"Oh pantas saja." Jessy tersenyum simpul.
"Sebaiknya kau pergi. Aku tidak ingin mendapatkan masalah." Dengan terpaksa Alan menyeret Jessy menuju mobilnya.
"Berkenalan saja." Celetuk Jessy kesal.
"Lakukan itu di tempat lain." Alan membuka pintu dan memaksa Jessy untuk masuk.
"Kita bisa bertemu suatu hari nanti. Berapa kontak milik mu Alex."
"Datanglah ke ABRA grup. Aku pemilik nya."
"Oh astaga. Baik, sampai jumpa lagi." Jessy melambai sebentar lalu melajukan mobilnya keluar area pekarangan.
"Dia janda sinting. Jangan di tanggapi berlebihan." Ujar Alan menjelaskan.
"Oh begitu. Sebaiknya aku pulang. Senang bisa bertemu dengan mu Al." Alex menepuk pundak Alan sejenak lalu masuk ke dalam mobil. Helaan nafas panjang terdengar berhembus.
__ADS_1
Manik Alex sempat memperhatikan lantai dua, berharap Nay berdiri di teras kamar itu lalu melambai tangan ke arahnya.
"Istri mu sangat cantik sampai-sampai membuat tubuhku gerah." Gumam Alex tersenyum simpul. Aku tahu caranya merendahkannya.
Alex melajunya mobilnya pergi sambil bersenandung lirih. Kenyataan soal Kai benar-benar membuatnya bahagia. Dia ingin masuk ke selah hubungan antara Kai dan Nay seperti sebuah parasit yang terlihat indah tapi cukup mematikan.
Waspada. Hanya kata itu yang bersarang di otak Kai ketika ada orang baru hadir di hidupnya. Apalagi keakraban yang di suguhkan Alex sangat membuatnya tidak nyaman.
Sejak dulu sampai sekarang, Kai merasa jika sikap Alex terasa janggal. Terlalu menempel seakan menjadi bayang-bayang di kehidupan nya.
Kamu akan berhenti bersikap terlalu baik saat melihat kelakuan sahabat terdekat mu.
Kai terdiam ketika Nay menyarankan untuk tidak bersikap acuh pada Alex. Meski begitu, Kai berusaha memanjakan Nay yang tengah menumpukan kepala pada pahanya.
"Mas."
"Acara televisi lebih menyenangkan untuk di simak." Jawab Kai pelan. Ingin mempertahankan prinsip dan keangkuhannya.
"Oh jadi obrolan ku membosankan."
"Kalau membahas orang lain, aku sering bosan." Nay tersenyum simpul sambil mendongak. Memperhatikan paras Kai dari bawah. Masih saja mimik wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.
Nay beranjak lalu beralih duduk di paha kanan Kai. Tanpa aba-aba Nay melummat bibirnya lembut. Saat itulah dia melihat perubahan pada mimik wajah Kai. Sangat menyenangkan? Tentu saja. Nay menjadi tahu jika hanya dirinya yang bisa menikmati ekspresi wajah itu.
"Kamu ingin lagi Baby." Tawar Kai dengan suara lembut nan berat.
"Tidak baik melakukan itu terlalu sering."
"Aku tidak tahu."
"Paling tidak. Lakukan lima jam sekali." Nay tertawa kecil seraya bersandar lemah di bahu Kai.
"Lalu kenapa kamu melakukan ini?" Tangan Kai terangkat dan membelai rambut Nay lembut.
"Wajah robot mu berubah ketika kamu mencium ku Mas." Kai menghela nafas panjang. Dia sadar akan itu sebab hatinya melemah ketika dia melakukan sentuhan dengan Nay.
"Ya."
"Apa tawaran untuk bebas masih berlaku?"
"Hm. Kamu ingin ke mana?"
"Ke tempat yang hanya ada kita." Deg! Ada sesuatu yang menghantam pada perasaan Kai. Dia kembali mengingat rencana yang di lakukan dua hari lagi. Sedikit berat sebab nyawa nya juga Nay akan di pertaruhkan.
"Why?"
"Hidup mu penuh dengan senjata api juga pertumpahan darah. Jika terjadi sesuatu suatu hari nanti. Paling tidak kita bisa mengenang beberapa momen saat kita bersama." Ingin rasanya Kai melontarkan titah untuk membatalkan rencana. Namun di satu sisi dia ingin pemburuan Elang berakhir.
"Semua momen terasa indah untukku." Jawab Kai cepat." Tapi kalau kamu ingin. Kita akan pergi besok pagi." Nay tidak menjawab. Dia hanya mengangguk dengan mata terpejam.
Tidak akan terjadi sesuatu. Aku berjanji.
__ADS_1
🌹🌹🌹