Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 23


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Kai tidak mengatakan sepatah katapun. Dia hanya memacu mobilnya cepat agar segera bisa sampai ke rumah. Namun ketika mobil sampai ke bagasi, dia bergegas turun dan menyeret tubuh Nay keluar lalu mengiringnya masuk.


"Lihat akibat perbuatan mu!" Ucap Kai seraya menunjuk ke beberapa penjaga yang belum sadarkan diri. Obat bius yang di berikan Nay tidak untuk di minum sehingga menimbulkan efek cukup kuat.


"Kalau kamu mengizinkan ku pergi, mungkin aku tidak melakukan ini."


"Kita sudah membicarakannya." Alan hanya tertunduk. Dia tidak melontarkan pembelaan sebab menyalahkan perbuatan Nay.


"Kau tidak boleh berkeliaran sembarangan. Musuhku banyak dan mungkin mereka sudah mengincar mu."


"Nyatanya kau yang menyakiti ku." Menunjuk ke arah kakinya yang masih di plester." Seharusnya kau yang perlu ku jauhi." Seandainya Kai bisa bersikap lebih lembut, mungkin Nay tidak akan sekasar itu dalam berucap. Tapi pengetahuan minim soal wanita membuat dirinya sulit mengutarakan perasaan khawatirnya.


"Astaga." Kai menghela nafas panjang seraya mencengkram erat kepalanya." Bukan aku yang melakukannya." Imbuhnya pelan.


"Tapi aku terbangun di rumah ini. Terus siapa yang melakukannya."


"Tuan yang sudah menyelamatkan Nona." Sahut Alan cepat.


"Hah? Apa bedanya kalian. Mana bisa aku percaya pada mu dan juga Tuanmu ini." Menunjuk ke arah Kai.


"Kau tidak tahu apa-apa soal hidup ku. Itu kenapa kau tidak bisa bebas mengambil keputusan. Semua atas persetujuan ku." Nay mendengus sambil membuang muka.


"Aku hanya menemui sahabat ku. Apa yang salah? Jika kau izinkan aku menyuruh nya kesini, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Nay menatap tajam ke arah Kai yang memiliki postur tubuh jauh lebih tinggi darinya." Aku tidak mau kau kurung seperti ini. Bilang pada musuh mu kalau aku bukan siapa-siapa agar aku bisa hidup tenang. Ini bukan salahku tapi salahmu." Setelah menunjuk pundak Kai dengan ujung jarinya, Nay berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar.


Braaaakkkkk!!!


"Dia berubah buruk." Gumam Kai duduk lemah. Bertemu dengan Nay yang merupakan sosok Sisil membuatnya begitu senang namun mengoyak emosi.


"Wajar saja Tuan. Mungkin Nona membutuhkan waktu untuk memahami." Ujar Alan berusaha menjadi penengah.


"Itu bisa membahayakan keselamatan nya dan calon anakku." Jawabnya menghembuskan nafas berat, menatap para penjaga yang masih tergolek lemah.


"Nona hanya membutuhkan sedikit waktu Tuan."

__ADS_1


"Hm mungkin. Aku perlu beristirahat sebentar. Ketat penjagaan, simpan semua obat bius dan sejenisnya. Aku tidak ingin ini terulang lagi." Pintanya pelan.


"Baik Tuan."


Kai beranjak pergi sementara Alan langsung berjalan ke arah dapur untuk mengambil beberapa obat bius yang memang selalu tersimpan di beberapa sudut rumah.


"Sepertinya Tuan harus membuat Nona betah berada di rumah."


Alan memperhatikan dapur yang tidak memiliki banyak perabotan. Selama ini Kai jarang makan semenjak kedua orang tuanya meninggal. Semua perabotan di letakkan ke gudang karena sudah tidak di gunakan.


Hanya ada makanan ringan dan minuman siap minum di kulkas. Jika Kai ingin makan masakan rumah, dia selalu memesannya lewat delivery yang harus dan wajib melalui seleksi ketat.


"Sudah lama rumah ini terasa dingin."


Alan merupakan anak angkat kedua orang tua Kai. Dulunya, Alan anak yang sangat badung saat berada di lingkungan sekolah. Tidak seperti Kai yang cenderung mengalah. Namun meski begitu, Alan selalu bersikap baik ketika berada di hadapan kedua orang tua angkatnya. Padahal jika di belakang mereka, Alan menjadi pelopor geng badung yang ada di sekolah juga organisasi terlarang.


Sejak kepergian kedua orang tuanya. Kai mengalami pukulan batin begitu kuat yang bercampur aduk dengan dendam. Begitu juga yang di rasakan Alan kala itu. Dia sangat kehilangan kedua orang tua angkat yang sudah sangat baik padanya sampai-sampai dia merubah Kai menjadi seperti sekarang.


Tidak ada niat buruk. Awalnya Alan hanya ingin Kai menjadi lebih kuat dan tidak lemah. Namun di luar dugaan sebab Kai cenderung memiliki jiwa psikopat yang lebih kejam darinya. Di tambah dengan kepintaran otak sehingga membuat organisasi keduanya kian menguat.


"Nona ingin sesuatu?" Tanya Alan sopan.


"Sebenarnya ini dapur atau bukan? Kenapa tidak ada perabotan dan lihatlah." Nay membuka pintu kulkas lebar." Hanya ada makanan penuh bahan pengawet." Eluhnya kembali menutup kulkas.


"Sudah lama Tuan tinggal sendiri jadi tidak ada yang memasak. Pembantu di sini hanya bertugas bersih-bersih itupun tidak setiap hari."


"Bagaimana bisa aku hidup seperti ini! Semua yang ada di rumah ini terasa palsu." Umpat Nay berjalan keluar dapur. Alan mengikuti langkahnya sambil tersenyum.


"Biar ku pesankan makanan. Nona mau makan apa?"


"Tidak. Terimakasih. Tuan rumahnya saja tidak perduli." Tolak Nay kembali menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


"Bagaimana bisa saling mengenal jika salah satunya tidak mengalah. Sebaiknya ku bicarakan nanti, Tuan sedang beristirahat." Alan membuka laci kecil yang terletak tidak jauh dari sana. Dia mengambil obat bius dan mengumpulkannya menjadi satu.

__ADS_1


.


.


.


Nay mengunci pintu secara manual sebab kunci sandi tidak di aktifkan. Sengaja Kai menonaktifkannya. Dia ingin mematahkan fikiran Nay atas tuduhan penyekapan.


Memang awalnya seperti itu, tapi setelah Kai tahu jika Nay adalah Sisil. Dia berusaha melindungi Nay tanpa memikirkan cara yang di pilih benar atau salah.


"Ahh lapar sekali." Eluh Nay menuang air putih lalu meneguknya agar rasa lapar bisa berkurang." Apa dia tidak tahu jika wanita hamil membutuhkan asupan gizi yang cukup." Imbuh mencoba berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Aku mulai merasakan kehadirannya walaupun dia masih sangat kecil.


Dengan gerakan cepat Nay duduk. Dia mengusap perutnya yang sejak tadi pagi belum terisi.


"Aku tidak tahan. Jika memang dia menganggap aku Istrinya, ini hal yang wajar." Nay beranjak lalu kembali keluar kamar menuju kamar Kai yang terletak di sebelah.


Tok.. Tok.. Tok..


"Tuan.. Tuan... Keluarlah." Suara ketukan sontak membuat Alan menoleh dan bergegas menuju ke lantai dua. Kai tidak suka di ganggu ketika beristirahat sehingga membuat Alan setengah mati ketakutan.


"Maa maaf Nona. Tuan Kai sedang beristirahat." Ujarnya terbata. Berharap Nay menghentikan gerakan tangannya.


"Aku lapar."


"Biar saya pesankan makanan."


"Bukan kau yang harus bertanggung jawab tapi Tuan mu." Tolak Nay masih saja mengetuk-ngetuk pintu.


"Tuan Kai tidak suka di ganggu. Emm sebaiknya saya pesankan saja Nona."


Seakan tidak mendengar, Nay terus saja mengetuk-ngetuk pintu sementara Alan mengambil ponselnya dan berusaha memesan makanan agar Nay berhenti.


Tapi rasanya semua terlambat. Pintu kamar terlihat terbuka dan memperlihatkan wajah garang Kai yang menatap tajam ke arah Nay.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2