
Nay meletakkan lima buah kue kukus di atas piring. Bentuknya memang tidak beraturan sebab dia hanya memakai alat seadaanya.
Tepat saat kue di letakkan, Kai datang dengan masih memasang wajah datar. Dia berdiri dan menatap penampakan kue yang tidak seindah aromanya.
"Bentuknya sangat tidak menarik. Tapi cobalah terlebih dahulu." Nay menyiapkan satu kue ke hadapan Kai lengkap dengan sendok kecilnya." Seperti penampakan ku dulu. Wajahku tidaklah bagus tapi apa yang ada di dalam hati tetaplah sama." Kai cepat-cepat duduk seakan ingin mematahkan ucapan Nay tadi.
"Hm maaf."
"Ya sudah. Aku jarang melihat kebelakang." Jawab Nay seraya duduk.
"Hm. Sebaiknya tidak perlu di bahas. Em ku coba." Meski debaran hati terasa menghantam kuat. Kai memotong kue, meniup-niupnya sebentar lalu melahapnya. Sedap sekali. Sesuai dengan aromanya.
"Bagaimana?" Tanya Nay ingin tahu pendapat Kai.
"Enak." Sangat enak..
"Padahal bahannya seadanya. Lain kali ku buatkan yang lebih lembut."
"Hm. Kau butuh sesuatu?"
"Maksudnya?"
"Untuk membuat kue ini?" Jawabnya pelan. Sambil sedikit sungkan, Kai mengambil satu kue lagi.
"Lain kali saja. Katamu tidak boleh sembarangan keluar."
"Akan ku antar. Di mana tempatnya?"
"Pasar tradisional." Sontak Kai menelan makanannya kasar.
"Tempat kotor itu? Memangnya tidak ada tempat lain?" Nay membulatkan matanya ketika suara kasar Kai kembali terlontar." Em maksudku.. Bisakah kita membelinya di Plaza atau Mall? Tempatnya lebih bersih." Imbuhnya menurunkan nada bicaranya.
"Aku tidak tahu. Memangnya ada?" Nay malah balik bertanya.
"Pasti ada. Mall itu tempat belanja terlengkap."
"Aku jarang pergi ke sana."
"Mau pergi setelah ini?" Kai berhenti menguyah seakan dia tidak sadar melontarkan ucapan tersebut.
"Memangnya boleh."
"Asal bersama ku dan kau tidak lelah." Meski malu melontarkan obrolan, tapi Kai berusaha untuk tetap bicara dengan nada rendah.
"Lelah apa? Aku tidak melakukan apapun." Kai tersenyum canggung lalu berusaha menghindari tatapan serta senyuman Nay.
"Ya sudah. Setelah makan kita pergi." Jawabnya lirih hampir tidak terdengar.
"Hm iya." Ya Tuhan. Wajahnya sangat konyol. Kenapa dia segugup itu padahal kalau sedang berteriak. Suaranya seakan menembus gendang telinga.
Nay mulai tahu perlahan. Kai tidak berpura-pura dan memang kali pertama mengenal wanita. Kenyataan itu cukup meluluhkan hati sebab tidak akan mudah bagi seorang lelaki merubah sikap. Apalagi mengingat kehidupan keras yang Kai jalani.
"Aku akan bersiap Mas." Kai mendongak ke Nay yang berdiri. Panggilan baru itu semakin membuat debaran jantung terasa kencang." Kenapa? Ada yang aneh dari panggilan ku?" Tanya Nay sambil tersenyum.
"Tidak ada. Itu lebih baik. Kata sandinya 000000"
__ADS_1
"Terimakasih sudah percaya."Kai melanjutkan makannya sementara Nay beranjak pergi keluar ruang makan.
"Ahhhh Tuhan." Ujar Kai setengah berbisik. Lagi lagi hembusan nafas berat keluar dari rongga hidung dengan tangan menepuk-nepuk dadanya yang masih bergetar.
Di dalam kamar Nay mengganti baju dengan busana yang lebih sopan. Saat dia hendak keluar, bunyi ponsel menghentikan langkahnya. Nay berjalan kembali dan tersenyum ketika tertera nama Caca.
📞📞📞
"Ada apa Ca?
"Hehe. Kamu sedang apa?
"Aku akan pergi. Kenapa? Nada bicara mu terdengar bahagia.
"Em aku hanya ingin bertanya. Apa benar Kak Roy tinggal di samping apartemen mu?
"Roy? Siapa itu?
"Dia pernah melihatmu tinggal di apartemen Luminus.
"Oh ya. Lelaki aneh itu.
"Aneh bagaimana?
"Entahlah. Aku merasa aneh melihat caranya berkenalan. Memangnya kenapa?
"Aku sering bertemu dengannya. Tadi juga.
"Waw bagaimana bisa?
"Jangan sembarang berkenalan Ca. Kamu kan tidak tahu kalau dia.. Mungkin salah satu musuh Mas Kai.
"Jangan terlalu khawatir. Aku sudah dewasa Nay.
"Hm ya. Tapi aku berharap kamu tidak terlalu percaya dengan perkataan orang baru.
"Iya terimakasih karena sudah khawatir. Ya sudah. Aku mau melanjutkan pekerjaan ku. Kapan-kapan kita bertemu ya.
"Em kamu pulang jam berapa?
"Dua jam lagi aku pulang.
"Nanti ku kabari kalau seandainya aku bisa bertemu.
"Oke Nay. Aku tunggu kabarnya.
"Ya. Ingat pesanku.
"Iya baik. Bye.
📞📞📞
Nay meletakkan ponselnya. Entah kenapa dia mulai ketakutan jika Caca ikut terancam keselamatannya.
"Itu salah satu alasan kalian tidak boleh sering bertemu." Nay membalikkan tubuhnya. Kai sudah berdiri di ambang pintu dengan ponsel di tangannya. Sudah pasti jika pembicaraan mereka di ketahui.
__ADS_1
"Aku berjanji ini yang terakhir. Sebagai peringatan saja." Nay memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berniat membawanya agar dapat memberi kabar pada Caca.
"Hm yang pasti aku sudah memperingatkan. Semua anak buah ku memilih tidak sering mengunjungi keluarganya karena mereka tahu itu akan mempersulit perkerjaan. Terkadang mereka harus datang diam-diam untuk pengobat rindu. Mereka sampai rela menyamar dan itu di lakukan agar keluarganya baik-baik saja."
Perkataan Kai semakin membuat Nay semakin khawatir. Apalagi dia tahu jika sejak bersekolah Caca sekalipun tidak pernah mengenal lelaki.
"Apa kamu mengenal Roy?"
"Lelaki yang di apartemen?"
"Hm."
"Tidak."
"Berarti dia tidak berbahaya."
"Sudah ku katakan musuhku sangat banyak dan mereka pintar bersembunyi." Nay menghela nafas panjang dan mulai memikirkan nasib Caca.
"Boleh aku bertemu dengan Caca setelah membeli barang-barang yang ku butuhkan."
"Hm baik." Kai mengantongi ponselnya lalu mengambil dompet yang ada di dalam laci." Bawalah senjata untuk berjaga-jaga." Nay menaikkan sedikit dress-nya dan terlihat satu buah senjata terdapat di sana.
"Bagaimana jika ada pemeriksaan?"
"Itu urusan ku. Ayo."
"Hm." Nay berjalan keluar lebih dulu, di ikuti Kai yang mengekor sambil memberikan kode pada para ajudannya. Dia juga sudah mengirimkan pesan pada Alan untuk mengawasi plaza tujuan mereka. Sekarang aku tahu jika peringatan itu tidak hanya omong kosong. Bisa saja Roy adalah salah satu musuh Mas Kai yang sedang menyamar. Astaga.. Aku takut terjadi sesuatu dengan Caca.
🌹🌹🌹
Diam-diam Jessy datang ke salah satu tempat tinggal Elang untuk membicarakan suatu hal. Setelah lama menunggu, terlihat mobil Elang baru saja terparkir di depan rumah. Jessy bergegas berdiri untuk menyambutnya dengan senyum merekah.
Elang memasang wajah datar kemudian masuk, di ikuti oleh Jessica. Pintu tertutup rapat dengan mengunakan keamanan kata sandi.
Rumah besar yang di kunjungi Jessica adalah kediaman Elang yang di peruntukan kalau ada pertemuan. Datang ke sana pun harus melalui seleksi ketat. Penyamaran dan kartu pengenal wajib di tunjukkan sebab Elang tidak ingin nyawanya terancam.
"Apa keperluan mu?"
"Hendra sudah tidak berguna." Jawab Jessy.
"Lantas kau merasa berguna." Elang tersenyum mengejek tanpa menatap ke arah Jessy.
"Bukan begitu."
"Harusnya kau yang ku bunuh. Dia masih terlalu dini mengetahui semuanya!" Jessy menelan salivanya kasar. Ancaman seperti sekarang kerapkali di lontarkan Elang untuknya.
"Aku masih setia untukmu. Kecuali jika aku berkhianat maka kau boleh mengambil nyawaku."
"Misi mu masih sama! Cari tahu berkas Xu grup. Kuberikan waktu tambahan tiga bulan. Jika kau tidak berhasil, kau tahu konsekuensinya seperti apa." Jessy menghembuskan nafas berat sambil tertunduk. Niat untuk menyingkirkan Hendra tidak di setujui padahal dia sudah merasa bosan.
"Hm baik. Permisi." Sialan!!!
Umpat Jessy dalam hati sambil melenggang keluar. Sementara Elang duduk santai dan membaca pesan dari toko bunga yang sudah mengkonfirmasi pesanan untuk Caca.
Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Nay melalui Caca. Kalau ini tidak berhasil, akan ku paksa Nay menemui Caca dengan cara yang indah. Hahaha.. Dia harus jadi milikku.
__ADS_1
🌹🌹🌹