Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 84


__ADS_3

Sejak kepulangannya, Kai menanyakan perihal keputusan Nay memperkerjakan Jessy. Dia masih tidak setuju. Tentu saja begitu. Apalagi Jessy kerapkali bersekutu dengan orang yang di anggapnya musuh.


"Untuk sementara saja Mas. Sampai aku melahirkan." Jawab Nay seakan hatinya sudah begitu mantap mengambil keputusan.


"Alasannya apa?"


"Aku merasa Jessy bermanfaat. Wanita itu mau memihak siapapun asal di berikan harta. Dia bisa menjadi asisten pribadiku." Kai tersenyum dengan mimik wajah tidak percaya. Sikap Nay semakin terlihat ganjil.


"Bagaimana jika kamu salah? Dia berkhianat dan masih ingin menyingkirkan calon anak kita."


"Sesuai janji. Akan ku bunuh dia dengan tanganku sendiri." Aku yakin Jessy bisa di manfaatkan.


"Oh terserah Baby. Aku juga sudah menyuruh mereka untuk mengawasinya." Nay tersenyum simpul sambil mengetik surat perjanjian kontrak untuk Jessy.


"Aku minta dia di gaji besar sesuai nominal penghasilan perusahaannya dulu." Kai menoleh cepat. Permintaan Nay semakin terdengar gila.


"Terlalu besar untuk wanita tidak berguna itu."


"Sudahlah Mas. Itu sebagai pengikat agar Jessy mau menuruti permintaan kita. Aku yakin dia bisa di manfaatkan. Wanita itu lebih lihai merayu daripada lelaki." Jawab Nay seraya tersenyum simpul. Otak nya sudah merencanakan sesuatu untuk Alex.


"Aku sangat anti dengan hal seperti itu."


"Hanya untuk hal genting seperti menjatuhkan Alex." Jawab Nay cepat. Dia menggeser laptopnya lalu menunjukkan isi surat perjanjian kontrak sebelum di print.


Seperti selayaknya cermin, janin pada perut Nay mulai mempengaruhi cara kerja otaknya dan merubah pola fikir. Poin demi poin Kai baca dengan teliti. Dia mulai menimbang sebab selama ini Jessy memang patuh pada orang yang membayarnya.


Jessy sering di jadikan alat pemulus rencana meski sebagian besar rencana tidak berhasil karena Kai terlalu kuat untuk di robohkan.


"Lelaki memang hebat Mas. Tapi akan lebih sempurna jika kita memiliki senjata yang sedikit berbeda." Imbuh Nay tersenyum simpul.


"Tapi tepati janjimu. Bunuh dia jika berkhianat."


"Hm baik."


Selama ini Kai memang tidak pernah berhubungan dengan wanita. Itu kenapa seluruh anak buahnya berjenis kelamin lelaki. Tapi kini dirinya sudah memiliki Nay yang mungkin bisa membantunya untuk membesarkan kekuasaan lebih luas lagi.


🌹🌹🌹


Sementara di Abra grup. Kebahagiaan sedikit menyirami perasaan Alex sebab Jessy berhasil masuk ke selah hubungan antara Kai dan Nay meski sebagai pembantu.

__ADS_1


Erik yang juga ada di sana. Menunjukkan perasaan bahagianya seakan-akan ikut merasa senang. Padahal kesenangan yang Erik rasakan bukan karena berita keberhasilan Jessy namun berkas Abra grup yang berhasil di bobol.


"Silahkan tanda tangan di sini Pak." Pinta Erik menyodorkan berkas.


"Untuk apa?"


"Proyek baru." Pengalihan hak milik perusahaan.


"Oh." Segera saja Alex membubuhkan tanda tangan tanpa membacanya terlebih dahulu.


"Tidak di pelajari?" Tanya Erik menawarkan.


"Aku percaya padamu."


Seharusnya kau mengikuti langkah Tuanku. Jangan terlalu percaya pada orang baru yang mungkin bisa menjatuhkan. Aku tidak menyangka ilmu dari Tuan Kai sangat bermanfaat. Hanya dengan patuh, kemewahan dan kemudahan berhasil ku dapatkan.


"Hm terimakasih sudah percaya Pak. Saya harap Nona Jessy berhasil melakukan tugasnya agar anda segera bisa mencapai keinginan." Alex mengangguk-angguk seraya tersenyum. Kewarasan yang tidak stabil membuatnya sulit berfikir fokus.


"Ya kita akan menghancurkan Kai sama-sama. Dia akan terpuruk lalu depresi hahaha." Kekehan Alex memenuhi ruangan. Erik membereskan berkas lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Em selama beberapa hari anda hanya bisa menghubungi saya lewat telepon."


"Saya ada urusan di luar kota selama dua hari." Mulai detik ini kerja sama kita batal. Abra grup dan proyek baru itu sudah menjadi milik Tuanku. Semoga Tuanku masih memiliki belas kasihan dan memberikan kesempatan.


"Oke tidak masalah."


"Baik. Saya permisi Pak." Erik menjabat tangan Alex kemudian keluar. Ada dua ajudan yang mengawal langkahnya. Mereka bertugas melindungi Erik agar keselamatannya terjaga.


🌹🌹🌹


Jessy membaca isi surat perjanjian kontrak dan membandingkannya dengan upah yang akan di terima. Tentu saja terlihat mengiurkan meskipun jabatan pembantu akan dia sandang.


"Kau bisa berpergian bebas asal tidak melupakan tugasmu." Imbuh Nay menimpali.


"Kamu tidak bercanda dengan gaji yang tertulis?"


"Tidak. Bagaimana?"


"Ya baik." Jessy membubuhkan tanda tangan." Aku tidak perduli jika jadi pembantu mu. Asal aku bisa bersenang-senang." Jessy menggeser surat kontrak perjanjian ke arah Nay.

__ADS_1


"Hm tapi jangan berani main-main apalagi melanggar. Aku sendiri yang akan membunuh mu."


"Mustahil aku melakukannya. Gaji tinggi yang kamu berikan sangat bisa membeli kesetiaan ku."


"Berikan seragamnya Al." Sambil tersungging Alan meletakkan sebuah bungkusan ke hadapan Jessy. Segera saja bungkusan tersebut di buka. Sebuah setelan baju berukuran besar ada di dalamnya.


"Baju untuk siapa ini?" Tanya Jessy bingung. Membolak-balikkan baju yang terlihat konyol.


"Kau di wajibkan memakai itu ketika berada di area rumah." Jessy terkekeh dan mulai menebak jika Nay takut Kai tergoda olehnya.


"Belum apa-apa kamu sudah cemburu. Kamu menyuruhku mengenakan baju ini agar aku terlihat buruk kan?" Ucap Jessy melontarkan tebakannya.


"Jaga bicaramu Jessy! Setelah tanda tangan terbubuh di perjanjian, kau wajib memanggil ku Nyonya!" Alan tertunduk. Ingin terkekeh namun berusaha di tahan sementara Kai sendiri masih memasang wajah biasa saja meski dia cukup di buat terkejut atas sikap yang di perlihatkan Nay.


"Oh ya Nyonya. Maaf, apa saya tidak bisa mendapatkan seragam lebih baik lagi?"


"Tidak. Agar perbedaan antara majikan dan pembantu terlihat jelas."


"Oh baik." Ku rasa Nay akan membalas dendam padaku dengan cara ini. Tapi ya sudah. Perjanjian itu lebih baik daripada aku harus mengabdi pada lelaki tidak jelas seperti Alex.


"Tugas pertama mu. Tolong potongkan buah untuk ku. Letakkan di kulkas. Nanti akan ku ambil sendiri kalau aku lapar." Nay berdiri di ikuti oleh Kai." Satu lagi. Kalau Alex menghubungi mu. Berikan alasan yang klasik agar dia tidak curiga. Perintah tambahan akan ku katakan kalau aku membutuhkan mu." Setelah mengatakan itu, Nay dan Kai menaiki anak tangga menuju ke kamar.


Jessy menghela nafas panjang. Memperhatikan seragam dari Nay yang tidak sesuai dengan selera. Dia yang hobi memakai baju super ketat, tentu merasa gerah ketika mengenakan setelan kedodoran.


"Astaga kau naik pangkat hahahaha." Ledek Alan tertawa renyah. Sejak tadi dia menahannya karena merasa sungkan dengan Nay.


"Terserah apa katamu! Gaji yang ku dapatkan begitu tinggi." Meski hati Jessy sedikit dongkol tapi rasa itu tertutupi dengan gaji tinggi yang Nay berikan.


"Kenapa tidak dari dulu saja? Kau selalu memihak musuh Tuanku. Gaji yang Nona berikan tidak ada apa-apa dengan gajiku. Tuan selalu memberikan fasilitas yang baik asal kita setia." Alan tahu seluk beluk kehidupan Jessy. Dari saat terpuruk sampai dia bersekutu dengan Elang dan hingga sekarang.


"Bukankah kau tahu kalau aku tidak bisa maju ataupun mundur. Aku selalu terjebak di pertengahan seperti sekarang." Alan tersenyum simpul seraya mengangguk.


"Tenang saja. Hidup mu akan aman setelah ini. Nona menyuruhku mengawal mu ketika berada di area luar. Sebaiknya kau ganti seragam lalu melakukan perintah pertama mu sebelum Nona ku menembak tengkorak kepalamu. Beliau sedikit tidak terkendali semenjak hamil. Nikmati perkerjaan mu Tan." Sontak Jessy melotot ke arah Alan.


"Apa katamu Al?!!"


"Tan. Bukankah benar? Umurmu jauh lebih tua dariku. Apa salah ku panggil Tante." Dengusan terdengar berhembus dari rongga hidung Jessy sambil meliriknya malas.


"Ya ya terserah! Pergi sana!!!" Teriak Jessy seraya berdiri dan memungut seragam. Dia berniat memakainya lalu segera melaksanakan tugas pertamanya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2