
Caca hanya terduduk seraya menatap orang yang berlalu lalang. Meski hanya mengundang para tetangga dan saudara tapi pernikahan di gelar cukup mewah. Wajar saja, sebab Caca merupakan anak tunggal dari keluarga tersebut.
Namun banyak para tetangga mempertanyakan mimik wajah Caca yang jauh dari kata bahagia. Seakan tertekan, Caca lebih banyak melamun dan memperlihatkan sikap tidak senang.
Tidak adil rasanya jika orang lain harus bertanggung jawab.
Masih saja Caca berharap Elang kembali untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sengaja, Nay tidak memperkenalkan Elang secara detail.
Nay sekedar memperingatkan tanpa menjelaskan bagaimana buruknya sosok Elang. Menurut Nay itu tidaklah penting sehingga wajar saja jika Caca masih berharap keajaiban terjadi.
Triiiing...
Caca melihat layar ponsel yang sedang di genggam. Terdapat sebuah pesan baru masuk.
๐Kamu mau menikah?
Siapa? Apa?
๐ Siapa?
Triiiing...
๐Malam itu aku terpaksa keluar kota, jadi aku meninggalkan mu.
Tangan Caca terlihat bergetar. Bibirnya tersungging sebab merasa yakin jika pesan tersebut dari Elang.
๐Ponselku hilang. Untung saja aku hafal nomer mu.
๐Kak Roy? Apa ini kamu?
๐Aku berniat ke rumah mu tapi sepertinya sudah terlambat.
Seharusnya Caca merasa curiga karena dia belum pernah memberikan alamat rumahnya.
๐Aku terpaksa Kak. Aku hamil. Kamu tidak ada kabar. Ini sudah dua Minggu. Menurutmu aku bisa menunggu. Ku fikir kamu meninggal ku.
๐Maaf. Aku ada urusan bisnis yang tidak bisa ku tinggalkan.
Caca berjalan masuk ke dalam kamar. Dia menguncinya rapat lalu melakukan panggilan telepon untuk memastikan
๐๐๐
"Halo Kak.
"Aku kembali pulang. Takut menganggu.
"Astaga. Kak Roy bilang apa. Aku terpaksa melakukan ini.
"Tidak apa jika memang ada orang lain.
"Aku bisa membatalkan ini. Besok kita menikah.
"Mana mungkin. Kasihan mempelai lelakinya.
"Itu masalah gampang Kak.
"Temui aku di suatu tempat. Aku ingin berbicara beberapa hal.
"Datang saja ke rumah langsung.
"Aku malu.
"Tidak apa.
"Temui aku lalu kita ke rumah bersama.
"Aku tidak bisa keluar.
"Berarti kamu tidak menghargai hubungan kita. Aku tidak masalah jika kamu menikah dengan...
"Oke baik. Di mana?
"Dekat dari rumah. Aku sedang berada di jembatan dekat pom bensin.
__ADS_1
"Aku ke sana Kak. Tunggu ya.
"Hm.
๐๐๐
Dengan bodohnya Caca kembali percaya. Dia mengganti baju lalu berjalan keluar dengan dompet kecilnya. Tentu saja langkahnya di hadang oleh Mamanya.
"Mau kemana kamu Ca." Tanya Mamanya menatap curiga.
"Em Kak Erik kehabisan bensin di dekat sini Ma. Aku di suruh ke sana." Mengangkat ponsel miliknya.
"Biar Ayahmu saja."
"Eh tidak Ma. Ayah kan repot."
"Pamali keluar rumah. Besok kamu itu menikah, jangan berbuat macam-macam." Jawab Mamanya memperingatkan.
Seharusnya Caca mengingat peringatan yang di lontarkan Nay untuk tidak berkeliaran bebas. Tapi rupanya cinta sudah membutakan akal sehat Caca.
"Kasihan Kak Erik Ma." Mama Caca celingak-celinguk untuk mencari sang Ayah yang ternyata sibuk mengurus persiapan untuk besok.
"Dekat kan tempatnya."
"Iya Ma."
"Belikan bensin di Bu Um saja. Tidak boleh jauh-jauh."
"Iya Ma baik."
"Ya sudah hati-hati."
Caca tersenyum lalu melanjutkan langkahnya. Sungguh dia merasa bahagia bisa kembali bertemu Elang.
Lihatlah Nay. Kak Roy bukan orang jahat.
Dengan mengendarai motor milik Ayahnya, Caca pergi ke sebuah jembatan sesuai janji. Terlihat di samping pom bensin sebuah mobil terparkir, Caca yang tidak yakin kembali menelfon dan tidak lama kemudian, Elang keluar dari dalam mobil.
"Kak Roy." Elang merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan Caca. Segera saja Caca menyerbunya dengan pelukan hangat nan erat." Ayo ke rumah Kak. Kita jelaskan ini ke orang tuaku." Imbuhnya tidak sabar.
"Ikut aku dulu. Kita mengobrol sebentar sambil makan malam."
"Nanti Mama khawatir."
"Kita diskusikan soal jawaban yang tepat agar orang tuamu tidak marah." Bibir Elang yang pintar berkilah tentu memiliki ribuan alasan untuk merayu..
"Hanya sebentar kan."
"Iya sayang."
"Lalu motornya?"
"Titipkan di sana saja." Menunjuk ke arah pom bensin." Berikan kuncinya biar ku parkirkan." Caca memberikan kunci motornya. Elang bergegas memarkir mobil lalu mengiring Caca masuk ke dalam mobil.
Tap!!!
Pintu mobil tertutup. Seketika Caca mual hebat saat mencium aroma amis darah yang berasal dari dua mayat di belakang nya.
"Kak kena.." Ucapnya tertahan ketika tubuhnya memutar ke belakang. Matanya terbelalak menyaksikan sendiri dua mayat dengan darah segar yang masih mengucur. Hoooeeeeeek...
Elang terkekeh nyaring. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kewarasannya semakin terbabat habis saat dia menyadari semua anak buahnya di musnahkan oleh Kai dalam insiden di puncak.
"Jelaskan padaku Kak." Ketika sedang terdesak seperti sekarang, Caca baru mengingat peringatan yang di lontarkan Nay padanya.
"Sudah terlihat jelas. Mereka adalah kacung milik Kai. Aku akan melakukan hal yang sama pada kedua orang tuamu jika kau tidak segera membawa Naysila padaku!!" Wajah Caca berubah ketakutan. Perlahan tangannya meraih ponsel dan berusaha meminta bantuannya tapi dengan cepat pula Elang merampas ponsel tersebut lalu membuangnya ke jalanan.
"Aaaaaghhhhhh.." Pekik Caca berteriak. Tubuhnya bergetar hebat sambil mulai terisak.
"Diam!! Sialan!! Kau fikir aku mau dengan wanita buruk seperti mu!!!"
Elang tertawa renyah dan membelokkan mobilnya ke sebuah jalanan yang sepi dan gelap. Di kanan kiri hanya terdapat hutan pohon jati. Tanpa perduli pada tangisan atau teriakan Caca, Elang memacu mobilnya kencang menuju lokasi persembunyiannya.
๐น๐น๐น
__ADS_1
Setelah percintaan panasnya, Nay baru mengingat niatnya untuk menghubungi Caca. Sambil berbaring di sisi Kai, dia mencoba menghubungi kontak milik Caca. Hanya ada suara operator yang menyapa sehingga Nay kembali meletakkan ponselnya.
"Mungkin sudah tidur." Ujar Kai terduduk dan memakai celana dallam nya.
"Iya Mas. Besok akan jadi hari yang panjang untuknya. Aku hanya berniat memberikan semangat."
"Hm. Asal tidak hadir ke sana."
"Aku tahu batasannya."
"Syukurlah. Em apa kamu lelah?" Tanya Kai seraya melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
"Mas ingin lagi?"
"Aku itu.."
"Katakan saja Mas." Desak Nay tersenyum.
"Lapar." Jawab Kai pelan hampir tidak terdengar.
"Bahan makanan habis Mas. Apa perlu kita ke swalayan?"
"Tidak perlu. Besok Alan yang akan mengurusnya." Nay kembali tersenyum simpul. Merasa konyol membayangkan bagaimana bisa lelaki seperti Alan sangat pintar memilih bahan makanan.
"Di mana dia belajar itu." Nay duduk lalu mengenakan dress nya.
"Dulu dia sering mengantarkan Mama ke swalayan. Orang tuaku membiayai sekolah nya dan kehidupannya, itu kenapa dia sangat patuh pada keluarga kami."
"Oh. Kenapa tidak memanggil Kakak saja daripada Tuan."
"Dia sendiri yang menolak. Sejak dulu dia menganggap ku Tuannya." Nay mengikat rambutnya sembarangan." Mau kemana?" Tanya Kai ingin tahu.
"Katanya kamu lapar."
"Bukankah tidak ada bahan?"
"Ku lihat di kulkas ada mie instan kesukaan mu."
"Katanya tidak sehat."
"Daripada kamu lapar Mas."
"Hm tunggu aku." Kai memakai celana panjangnya juga kaos. Dia membuka lemari untuk mengambil sweater." Pakai ini." Pintanya seraya menyodorkan sweater.
"Sengaja tidak ku pakai Mas. Mungkin saja kamu ingin lagi." Nay memakai sweater. Jawaban darinya membuat Kai tersenyum simpul. Sesuai tebakan dia ketagihan dan ingin melakukannya lagi.
Keduanya keluar kamar menuju dapur. Nay memasak mie sementara Kai menunggu di ruang makan sambil memeriksa ponselnya. Mungkin saja ada laporan dari Alan perihal Elang. Tapi rupanya tidak ada yang mencurigakan. Hanya ada pesan singkat dari Erik yang menjelaskan soal pernikahannya besok.
"Silahkan Mas." Kai menatap mangkuk berisi mie sayur dan telur. Sangat menggoda, tidak seperti buatan Alan.
"Terimakasih."
"Sama-sama." Jawab Nay menuang air putih.
Aku sekarang lebih sering lapar. Lama-lama perutku akan membuncit..
Kai tersenyum sejenak lalu mulai menyeruput kuah mie. Sangat segar menurutnya.
"Besok aku sedikit sibuk." Ujar Kai sambil makan.
"Ya Mas. Aku tahu. Apa aku ikut?"
"Tentu saja."
"Sebenarnya aku malas ikut. Lebih enak berada di rumah." Jujur saja jika Nay tidak menyukai ketika Kai mengajaknya ke perusahaan. Selain tidak mengerti tentang pembahasan, sebagian besar relasi Kai berjenis kelamin laki-laki.
"Kamu harus ikut. Aku tidak mau meninggalkan mu di rumah."
"Rumah ini sudah aman Mas. Aku juga mulai terbiasa dengan hidupmu dan itu berarti aku tidak mungkin kabur."
"Sudahlah Baby. Tidak ada penawaran untuk itu. Selama aku tidak pergi berperang, kamu harus ikut bersama ku." Nay mengangguk seraya tersenyum, menatap Kai yang tengah menikmati mie. Ada rasa tidak enak terselip namun Nay menganggap jika itu hanya perasaannya saja.
๐น๐น๐น
__ADS_1