
Nay menatap lekat kaca lemari di hadapannya. Tubuh sempurnanya memang hanya sebuah kepalsuan.
Selama tiga bulan memiliki wajah buruk, dia cukup tahu jika penampilan dan cover selalu menjadi yang utama. Semua menjauh ketika dirinya tidak lagi indah. Itu kenapa Nay acuh ketika ada banyak orang memuji nya di restoran. Dia sudah menganggap jika pujian yang terlontar hanya bersifat semu dan mudah menghilang seiring perubahan yang terjadi di dalam hidup.
"Itu benar. Tapi kenapa aku kesal." Gumamnya lirih." Ah entahlah.. Aku tahu wajah ini palsu. Tidak perlu repot-repot di sebutkan." Imbuhnya duduk lemah di sofa seraya mengambil ponsel yang tergeletak.
Kening Nay berkerut ketika dia melihat banyaknya panggilan suara dari Caca. Segera saja dia menghubunginya untuk memberikan kabar.
📞📞📞
"Kemana saja kamu.
"Ya maaf. Aku lupa tidak memberikan kabar.
"Jelaskan padaku siapa lelaki tampan tadi?
"Majikan ku. Dia yang membiayai operasi plastik.
"Tapi dia menyebut mu Istri.
"Mungkin dia sedang khilaf.
"Jangan bercanda kamu Nay. Aku serius bertanya.
"Berhenti ingin tahu. Ada sesuatu yang tidak bisa ku jelaskan.
"Apa itu?
"Lambat laun kau akan tahu.
"Kamu sedang di rumah nya.
"Hm.
"Dia kasar sekali. Aku takut kau di aniaya.
Nay menghela nafas panjang. Dia membayangkan bagaimana ekspresi Kai ketika mendengar tuduhan Caca.
"Aku baik-baik saja. Suaranya memang seperti speaker aktif.
Caca terkekeh begitupun Nay yang tersenyum simpul.
"Sudah ya Ca. Aku ingin beristirahat.
"Kalau ada apa-apa tolong kabarin aku.
"Iya.
📞📞📞
Nay meletakkan ponselnya kemudian beranjak menuju ranjang. Dia menoleh ke arah pintu untuk memastikannya terkunci. Setelah Nay merasa yakin, perlahan matanya di pejamkan dan mimpi buruk tentang Hendra kembali mendatangi.
Mimpi itu datang berulang-ulang seakan ingin memberikan peringatan. Tapi Nay sendiri merasa bingung tentang arti mimpi tersebut karena sampai saat ini, lelaki yang menyabet leher Hendra masih berbentuk bayangan hitam.
__ADS_1
Nay bangun dengan wajah penuh keringat. Dia terduduk seraya menatap ke arah jendela kamar yang masih terbuka. Terlihat, hari mulai petang sebab waktu menunjukkan pukul lima.
Bukankah ini kamar..
Tebakan Nay tertahan ketika dia melihat Kai duduk di sofa seraya menatapnya dingin.
Apa aku salah masuk kamar?
Nay mengingat kejadian sebelum dia terlelap tidur. Dia yakin berada di kamarnya sendiri sebab penataan antara kamarnya dan Kai sangat berbeda.
"Kenapa kau selalu terbangun dengan keadaan seperti itu." Tanya Kai pelan. Sejak tadi dia menyaksikan bagaimana gelisah nya Nay ketika tidur.
"Kenapa aku ada di sini?" Kai tersenyum simpul.
"Jawab pertanyaan ku dulu"
"Tidak penting. Aku akan kembali ke kamar ku." Nay menyikap selimut lalu berjalan ke arah pintu terkunci." Hei Tuan. Keluarkan aku dari sini." Pinta Nay kesal. Menaikturunkan gagang pintu dengan gerakan cepat.
"Ruangan ini akan jadi kamar kita." Nay tersenyum aneh menatap Kai tidak percaya.
"Kejutan apalagi ini? Kau ingin kita tinggal satu ruangan?"
"Ya. Itu hal yang wajar."
"Buka pintunya! Aku tidak mau berada di sini. Menikah denganmu saja membuatku tidak nyaman apalagi harus tinggal satu ruangan!"
Untuk pertama kalinya, Nay tidak menghargai sebuah pernikahan. Padahal ketika bersama Hendra, sekalipun dia tidak pernah mengecewakan orang yang di sebutnya Suami apalagi mengumpatnya.
Kai hanya terdiam sambil menatapnya. Semua yang di lakukan merupakan ide yang di dapatkan dari Alan.
Sebaiknya Tuan tidur di satu kamar agar bisa cepat akrab. Saya rasa Nona membutuhkan waktu untuk saling mengenal satu sama lain.
Apa semua wanita hobi berteriak-teriak..
Kai kembali di buat bingung mengambil sikap. Jika dia menjawab pertanyaan Nay, pembicaraan akan bertambah runyam seperti yang terjadi di dapur.
Nay memilih berjalan menghampiri Kai setelah sadar protesan nya tidak di gubris. Dia berdiri tepat di depan Kai yang tengah melihatnya.
"Ayolah Tuan. Jangan seperti ini. Bukankah kau bilang jika wajahku palsu? Sebaiknya kamu menikah dengan wanita berwajah cantik alami, bukan seperti ku!" Protes Nay tidak juga berhenti.
"Aku hanya mau menikah dengan mu."
"Ternyata kau seorang Tuan yang plin-plan!" Tunjuk Nay kasar.
"Sebaiknya kau mandi. Setelah ini kita pergi dinner. Aku harus mengurus beberapa hal." Dengan langkah tenang Kai berjalan keluar dan tentu saja pintu kembali terkunci dengan sistem kata sandi.
"Hidupku semakin aneh. Kenapa lelaki itu berusaha mengurung ku seperti burung dalam sangkar." Umpat Nay seraya berjalan ke lemari dan membukanya.
Sungguh di luar dugaan jika dia terkesan melihat tatanan baju Kai yang sangat rapi. Nay masih ingat saat Hendra kerapkali membuat seisi lemari berantakan hanya untuk mencari satu baju sehingga dia membandingkan kebiasaan tersebut.
"Tentu saja. Seperti penampilannya, rapi dan dingin." Gumam Nay seraya mengambil satu gaun yang tergantung dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Xu grup
Han terlihat baru saja keluar dari ruangannya. Hari itu sangat banyak perkerjaan sehingga dia memutuskan untuk lembur. Han menjadi satu-satunya orang kepercayaan Kai dalam mengelola perusahaan. Kinerja dan kejujurannya sudah teruji sehingga Kai tidak segan-segan memberikan kuasa cukup besar padanya.
Setelah menyapa beberapa scurity, Han berjalan ke arah mobil dan bergegas masuk.
Punggungnya terasa sakit akibat terlalu lama duduk. Han tersungging sambil membayangkan bagaimana nyamannya ketika tubuhnya berendam di air hangat.
"Sayang sekali. Padahal Nona Nay berbakat untuk menjadi sekertaris."
Han cukup kecewa ketika Alan mengabarkan bahwa Nay tidak lagi menjadi sekertaris nya. Bukan tanpa alasan Han mengeluh sebab sebenarnya dia ingin memiliki seseorang yang di percaya Kai untuk meringankan perkerjaannya.
"Setelah ini beristirahat sejenak lalu memeriksa laporan." Gumamnya berbicara sendiri.
Baru saja niat itu terlintas, sebuah mobil hitam menyalip dengan kecepatan tinggi dan memotong jalan. Wajah Han seketika menegang, apalagi hari ini Alan membutuhkan beberapa orang tambahan untuk menggantikan posisi para penjaga yang belum sepenuhnya sadar. Terpaksa, anak buah yang di peruntukan menjaga Han di tugaskan ke rumah Kai.
Gawat..
Anak buah Elang yang selalu aktif. Tentu langsung mengetahui saat orang terpenting Kai lengah. Begitupun yang sedang di alami Han sebab beberapa orang bertopeng keluar dari mobil dan mengendor kaca mobilnya.
Han mencoba menghubungi Alan tapi nomernya berada di luar jangkauan. Sehingga dia berinisiatif menyalakan video agar nantinya bisa di jadikan bukti jika terjadi sesuatu.
"Pak Han. Astaga. Lama tidak bertemu." Sapa Elang tersenyum simpul. Tangan kanannya merangkul kedua pundak Han erat sambil menepuk-nepuk nya.
"Apa yang anda mau?" Tanya Han pelan. Dirinya tahu jika nyawanya berada di ujung tanduk.
"Kamu pasti paham. Em aku butuh berkas Xu grup. Di mana Tuan mu menyimpan nya. Aku ingin mencurinya."
Han tersenyum kecut. Sangat tidak mungkin dia mengatakan itu. Kai sudah membeli nyawanya jika mungkin hal genting menimpa. Semua keluarganya di jamin kehidupannya sehingga tidak ada lagi yang bisa Han berikan kecuali kesetiaan.
"Saya tidak tahu Tuan."
"Selalu saja kau tidak bisa di ajak negoisasi. Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada Kai."
"Maaf Tuan. Saya tidak tahu."
"Tidak Han. Pilihannya ada dua. Kau ingin tetap setia pada Kai dan terjun bebas ke dalam jurang atau kau berkerja sama denganku lalu kau akan hidup tenang." Han menghembuskan nafas berat. Tidak dapat di pungkiri jika dia sangatlah takut.
"Saya hanya pesuruh. Tidak ada gunanya anda membunuh saya."
"Memang tidak ada gunanya untukku. Tapi untuk Tuanmu, bukankah kau orang cukup penting. Katakan, lalu kau bebas."
"Saya tidak tahu." Jawab Han dengan tubuh bergetar.
"Baik. Nikmati keputusan mu."
Elang melangkah pergi setelah memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menghabisi Han.
Awalnya tidak terjadi sesuatu, namun Han merasakan keanehan pada tubuhnya yang tiba-tiba lumpuh total ketika sebuah jarum suntik menembus kulit tengkuknya.
Tubuhnya ambruk sambil melirik ke para anak buah Elang yang berusaha mengeledah mobilnya. Setelah tidak menemukan apapun, Han di masukkan ke dalam mobil dan yang terjadi selanjutnya. Mobil di terjunkan ke jurang sedalam lima puluh meter sehingga sudah pasti Han merenggang nyawa akibat benturan bebatuan dan perpohonan sekitar.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1