Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 91


__ADS_3

Sebelum Alex berhasil menyentuh perut, Nay lebih dulu menyabet pergelangan tangannya sampai darah segar mengucur. Secara otomatis pisau di tangannya terlepas ketika nyeri hebat terasa.


"Aaaaaghhhhhh!!!" Teriak Alex lantang.


"Apa tangan itu yang kau gunakan untuk meracun anakku!!" Tanya Nay bersuara tidak kalah buruk. Matanya berubah merah dengan bola mata hampir keluar.


Jessy yang menyaksikan dari jauh, bergidik ngeri melihat kebengisan wajah Nay. Selayaknya kemasukkan setan, sikap Nay sangat menyimpang dari sifat aslinya.


"Sialan kau!!!" Alex mengibas kepala Nay dengan sisa tenaganya. Tubuh kecil itu sempat terdorong menyamping dan hampir terjatuh. Namun balasan yang di dapatkan Alex sanggup membuatnya tumbang.


Nay menancapkan pisau tepat di tengah dahinya. Tubuh Alex ambruk sebab tusukan pisau mengenai otak. Belum berhenti sampai di sana. Nay duduk di atas kepala Alex yang terkapar lalu menekan pisau lebih dalam dan menekannya lagi ke bawah sampai kepala Alex terbelah.


Darah segar mengucur. Kedua manik Alex masih bisa menatap ke arah Nay yang tengah duduk di sampingnya sebelum nafas terakhir berhembus. Kini pisau siksaan beralih pada pergelangan tangan. Nay memotong kedua pergelangan tangan Alex seperti keinginan yang pernah di lontarkannya pada Kai.


Jessy terduduk lemah. Lututnya terasa lemas melihat pemandangan tidak manusiawi di hadapannya. Bersamaan dengan itu, mobil Kai baru saja tiba. Dia dan Alan di buat tercengang melihat keadaan Nay bersimbah darah sambil membawa potongan tangan Alex.


"Dia puas. Ini untuk anak kita." Ucap Nay melemparkan tangan Alex ke arah Kai yang mematung. Dia melenggang masuk tanpa rasa bersalah. Kai bahkan di acuhkan begitu saja.


"Aku harap ini hanya mimpi." Eluh Kai lirih. Menatap kepergian Nay. Ingin rasanya dia bangga namun kenyataan mengerikan tengah di nikmati sekarang.


"Bukan Tuan. Em Nona sedang menunjukkan maha karyanya." Selama Alan mengabdi pada Kai. Tidak sekalipun dia melihat pembunuhan yang begitu keji. Bisa di pastikan jika apa yang di lakukan Nay baru pertama di lihat.


"Aku ingin dia kuat tapi tidak sekejam ini." Kai memungut potongan tangan Alex lalu melemparkannya.


"Saya rasa apa yang ada di dalam rahimnya berusaha menguasai otak Nona."


"Bereskan mayatnya. Aku sedikit pusing." Kai kembali masuk mobil lalu melaju ke arah garasi. Sementara Alan dan beberapa anak buahnya, membereskan jasad Alex untuk menghilangkan jejak.


Setibanya Kai di kamar utama, dia di buat melongok dengan keadaan kamar yang berantakan. Terdengar gemericik air dari arah kamar mandi. Nay berada di sana untuk membersihkan darah dari tubuhnya.


"Astaga." Eluh Kai memutuskan untuk keluar. Dia duduk lemah di ruang televisi sambil menunggu Nay selesai mandi. Sedikit pening memikirkan kenyataan mengejutkan yang di tujukan Nay padanya.


"Maaf, tadi Nyonya." Kai mengisyaratkan Jessy untuk diam.


"Pergi. Setengah jam lagi, suruh beberapa orang ke sini untuk membereskan kamar.


"Em baik." Jessy pergi meninggalkan Kai yang tengah bersandar lemah. Kedua maniknya tertutup sambil sesekali menghela nafas panjang.


Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Segera saja Kai beranjak lalu kembali masuk ke dalam kamar.


Seperti tidak terjadi apapun. Nay duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya. Dress penuh noda darah terlihat tergeletak di tempat sampah.


"Kamu yang membuat kekacauan ini?" Tanya Kai pelan. Ada rasa takut terselip sehingga dia memutuskan berdiri sedikit menjauh.


"Ya!" Nay berdiri lalu menghampirinya. Degup jantung Kai berdetak lebih cepat seolah-olah tahu apa yang akan Nay lakukan setelah ini.

__ADS_1


Plaaaaaakkkkkk!!!


Sebuah tamparan keras Nay berikan dengan sebuah dorongan kasar. Kai hanya mampu tertunduk seraya memperlihatkan senyum. Dia berusaha merajuk Nay atas kesalahannya tadi.


"Aku hanya berusaha menjaga mu." Perbuatan seperti sekarang kerapkali Nay suguhkan. Tidak pernah sekalipun Kai membalas perbuatan Nay yang cukup membuat pipinya memanas.


"Kau sudah tahu kenyataannya seperti apa Kai!" Nay mencengkram erat kerah baju Kai lalu menggoyang-goyangnya.


"Ya Baby."


"Sudah ku bilang aku bisa!!"


"Ya kamu memang hebat. Maafkan aku sudah menyepelekan mu." Meski begitu aku tidak setuju melihatmu melakukannya lagi.


"Seharusnya kau di hukum."


"Hukum aku. Terserah padamu. Kamu mau apa?" Calon anakku sedang mengendalikannya.


"Libur selama satu Minggu. Kau tidak boleh menyentuhku dan tidur satu ranjang denganku." Gleg! Sontak Kai tersenyum aneh. Hukuman yang terasa berat baginya sebab Nay sudah menjadi candu untuknya.


"Hukuman lain saja. Jangan seperti itu." Tanya Kai menimbang. Dia berjalan mengekor Nay yang kembali duduk di kursi rias.


"Itu hukuman yang ringan."


"Tidak Baby. Ringan bagaimana? Aku tidak akan bisa tidur."


"Ayolah Baby. Tolong ringankan sedikit. Bagaimana dengan satu hari jangan satu Minggu."


"Satu Minggu atau satu bulan." Senyum Kai kian aneh. Wajahnya terlihat gelisah seakan-akan hukuman yang dulunya terasa ringan begitu terasa berat untuk di fikirkan.


.


.


.


Satu bulan kemudian...


Kehamilan Nay menginjak usia lima bulan. Sikap yang di tujukan tetap saja sama. Namun paska kematian Alex, membuat hati Nay terasa tenang. Dia tidak sering marah meski perdebatan masih saja terjadi.


Kini Kai mulai memahami, jika Nay tidak ingin di kalahkan dalam hal apapun. Calon anaknya berusaha mengendalikan inangnya juga mengalahkannya seakan ingin berkuasa.


Pagi itu untuk pertama kali Nay mengeluh lapar. Dia menolak buah dan ingin makan nasi.


"Aku tidak percaya. Coba ulangi lagi?" Tanya Kai mengulang.

__ADS_1


"Suruh Alan membeli bahan makanan. Aku ingin makan ikan berkuah." Pinta Nay mengulang.


"Hm baik." Segera saja Kai menghubungi kontak Alan dan menyuruhnya membeli bahan makanan. Berarti setelah ini aku bisa makan masakannya lagi. Aku rindu itu. "Sudah beres." Nay mengangguk. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk menggantung handuk basah.


"Kembalikan perusahaan Jessy. Dia cukup layak." Kai tersenyum. Dia setuju dengan permintaan Nay sebab merasa tidak nyaman melihat Jessy berkeliaran di rumah.


"Katamu sampai melahirkan?"


"Aku berbohong. Aku ingin menunjukkan jika Jessy bisa setia asal kau membayarnya dengan harga mahal."


"Oke Baby. Erik akan mengurusnya. Berarti hari ini dia akan pergi. Aku akan memberikan sebuah rumah dinas untuk tempat tinggalnya." Kai memeluk Nay dari belakang lalu menumpukan kepala pada pundak sambil mengusap perut besar Nay.


"Hm iya."


Sekarang bukan aku Bosnya tapi dia. Segala sesuatu yang ku lakukan harus melewati persetujuannya.


Kai tidak merasa keberatan dengan hal itu. Nay memang berusaha menguasai namun ada keuntungan di balik itu. Kekuasaan Kai semakin membesar dan mudah.


Nay di anggapnya sebagai jimat keberuntungan sebab semenjak dia menikah. Xu grup semakin berkembang pesat dan bahkan akan membangun beberapa cabang baru.


Bukan hanya itu. Selayaknya Han dulu, kemampuan Erik mengelola perusahaan sangat memuaskan. Kesetiannya pun bisa di buktikan dengan beberapa kejadian yang menimpa selama beberapa bulan. Apalagi poin terpenting juga Erik miliki. Bukan hanya otaknya yang berguna namun ternyata Erik cukup lihai mengoperasikan senjata sehingga dia bisa menjaga dirinya sendiri ketika terjadi waktu genting.


Kini Nay tidak pernah di abaikan apalagi di sepelekan. Setiap kali ada pertemuan penting, Kai senantiasa mengajaknya untuk di mintai pendapat. Semua harus melewati persetujuannya sebab Kai tidak ingin mengulang lagi kesalahan.


Para relasi terkadang mengeluh ketika melihat Kai datang bersama Nay. Bukan tanpa alasan mereka merasakan ketidaknyamanan ketika melihat kejelian Nay dalam mengsetujui kontrak kerja sama.


Kecurangan sedikit saja sanggup membuat kerja sama batal dan itu berarti perusahaan terancam bangkrut. Rasanya sangat was-was namun mau bagaimana lagi jika mereka membutuhkan suntikan dana dari Kai meski harus melewati sosok berperut besar tersebut.


"Memang seharusnya kamu berada di rumah saja." Ucap Kai seraya mengusap-usap punggung belakang Nay yang terasa kaku. Tentu saja begitu. Menurut prediksi, bayi dalam kandungan akan lahir satu Minggu lagi.


"Sepertinya sudah waktunya Mas." Eluh Nay merasakan kelakuan pada perut sejak beberapa jam lalu. Tebakan tersebut di sertai rasa nyeri dan cairan yang mengalir di selangkangannya.


"A apa ini?" Tanya Kai panik. Cairan bening bercampur darah mengotori lantai ruangan pribadinya.


"Aku mau melahirkan Mas."


"Me melahirkan?" Ujar Kai panik. Ini kali pertama baginya. Segera saja dia menelfon Erik yang menurutnya lebih berpengalaman.


Setelah itu, Kai mengangkat tubuh Nay dan berniat membawanya ke rumah sakit yang terletak berdekatan dengan perusahaan.


🌹🌹🌹


Hoooooiiiii reader...


Ceritanya akan tamat. Ada satu part tambahan setelah ini.

__ADS_1


Tapi aku sudah siapkan cerita baru berjudul PEBINOR DARI MASA LALU.


Aku berharap kalian mau mampir untuk meramaikan. Terimakasih dukungannya 🥰🥰


__ADS_2