Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 67


__ADS_3

Nay menatap ponsel Kai yang berdering sementara si pemilik berada di kamar mandi. Dia mengambilnya dan membaca nama yang tertera di layar.


Alan.


Segera saja Nay menerima panggilan tersebut. Dia berniat memberitahu, kalau Kai sedang tidak dapat menerima panggilan.


📞📞📞


"Ya halo Al.


"Oh Nona. Tuan di mana?


"Dia sedang di kamar mandi. Ada apa?


"Mungkin nanti saja.


Baru saja Alan mengatakan itu. Nay mendengar sedikit perdebatan di seberang telepon.


"Halo.


Kini suara Alan sudah berganti.


"Siapa ini?


"Aku Alexander, Adik Kak Kai.


Adik? Mas Kai punya Adik?


"Kamu bercanda? Dia anak tunggal.


Terdengar Alan berusaha merebut ponsel dari tangan Alex.


"Tidak. Aku Adiknya. Dia hanya malu mengakuinya. Terus Nona siapa? Pacar Kak Kai?


"Oh begitu. Em aku Istrinya.


Alex terkekeh sementara Nay mengerutkan keningnya. Tertawaan yang terdengar sangat memuakkan seperti sebuah ledekan seseorang pada temannya.


Siapa sebenarnya Alex? Kenapa Mas Kai tidak pernah bercerita.


"Maaf Nona. Aku tidak percaya Kakak ku akhirnya menikah. Itu kenapa aku menertawakannya.


"Oh.


"Aku di depan gerbang rumah. Bolehkah aku masuk? Aku ingin melihat Kakak Ipar ku.


"Aku tidak tahu.


"Ayolah Nona. Aku mohon. Kak Kai tidak mungkin memperbolehkan ku masuk.


"Berikan ponselnya pada Alan.


"Baik.


Setelah menunggu beberapa saat, Nay kembali berbicara pada Alan.


"Apa benar begitu?


"Saya tidak berani berkomentar tapi Tuan Alex bukan salah satu musuh. Dia anak sahabat karib Almarhum kedua orang tua kami.


"Kenapa dia tidak di perbolehkan masuk?


"Em dia.. Sedikit berisik. Itu alasan kenapa Tuan tidak menyukainya.


"Suruh saja dia masuk.


"Tuan akan marah.


"Itu urusan ku.

__ADS_1


"Baik Nona.


📞📞📞


Nay tersenyum setelah panggilan berakhir. Dia berniat menggunakan kehadiran Alex agar hati Kai semakin melunak.


Pembicaraan yang di pertontonkan ketika bertemu Caca, membuat Nay berfikir jika Kai membutuhkan banyak terapi untuk menetralkan otak juga sikap kakunya.


Pintu kamar mandi terbuka. Nay bergegas menghampiri Kai dengan senyum simpul. Kedua tangannya menggenggam erat lengan berotot itu.


"Ada tamu untuk mu Mas." Ujarnya memberitahu.


"Tamu siapa?"


"Alex." Sontak Kai melebarkan matanya.


"Di mana dia!! Kenapa Alan membiarkan dia masuk!!" Dengan rambut setengah basah, Kai berniat pergi keluar kamar dan berniat meluapkan kemarahannya pada Alan.


"Aku yang menyuruh nya bukan Alan." Teriak Nay mencegah kepergian Kai dengan berdiri di hadapannya.


"Kenapa kamu lancang?" Nay menghela nafas panjang. Suara Kai terdengar sedikit kasar.


"Kamu butuh sosialisasi Mas. Alan bilang dia bukan musuh mu." Kai mendengus sambil menatap tajam ke arah jendela kamar.


"Jangan terlalu mengatur ku Baby. Kalau aku berubah lemah dan berjiwa sosial, maka hidup kita akan berada dalam bahaya."


"Aku tidak berniat begitu."


"Lalu bagaimana?" Kini tatapan tajam Kai beralih pada Nay. Hanya beberapa detik bertahan sebelum akhirnya Kai tidak tega memperlihatkan kemarahannya pada Nay." Jangan terlalu merubah ku." Pinta Kai pelan.


"Aku tidak berniat melakukan itu." Nay tersenyum meski terbesit perasaan kesal ketika Kai melontarkan kata-kata kasar. Kedua tangan yang tadinya ada pada lengan milik Kai, kini beralih pada pipi. Nay mengusapnya lembut, mencoba memberi pengertian akan maksud dan tujuannya.


"Tidak." Eluh Kai menghembuskan nafas berat. Kelemahannya semakin terlihat ketika Nay memperlakukannya seperti sekarang.


"Mungkin selama ini kamu terlalu nyaman hidup sendiri Mas. Tapi kehidupan membutuhkan sosialisasi."


"Kalau ada yang ingin berteman atau bersaudara. Jangan menolak nya."


"Aku tidak membutuhkan tambahan anggota." Ujar Kai menyangkal.


Dia kembali memikirkan strategi. Mungkin otaknya sudah di setting seperti robot.


"Anggota mu memang sudah sangat kuat Mas. Tapi ini bukan tentang anggota atau strategi." Kai menghela nafas panjang dan menghembuskan nya kasar." Dia mengaku sebagai Adik mu. Aku ingin tahu bagaimana penampakannya." Kai menyingkirkan kedua tangan Nay lalu berjalan ke sisi jendela.


"Apa aku saja belum cukup?" Tanya Kai ketus.


"Maksud mu bagaimana Mas?" Nay berjalan menghampiri Kai dan berdiri di samping nya.


"Menurut mu apa?"


"Ayolah jelaskan padaku?"


"Kau pasti nyaman berbicara dengan nya." Nay hampir terkekeh namun berusaha di tahan. Dia menyadari perasaan Kai yang mulai merasakan cemburu sebab Nay juga merasakan hal yang sama.


"Jangan berbicara omong kosong. Aku sudah nyaman bersama mu." Jawab Nay memuji meski sikap Kai cenderung labil.


"Kalau tidak ku paksa, mungkin kamu sudah lari dariku."


"Kita sudah terikat kuat Mas. Kamu melupakan bagaimana panasnya tadi." Bibir Nay di tempelkan pada pundak Kai yang saat ini mengenakan kaos.


"Tapi.."


"Ayolah Mas. Meski bukan saudara mu, tapi aku senang ada seseorang yang berkunjung ke rumah."


"Ya baik. Jika kamu berlebihan menanggapinya, akan ku lubangi tengkorak kepalanya. Ganti bajumu."


"Aku berjanji Mas." Nay tersenyum simpul. Mencium pipi Kai sejenak lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil dress yang lebih panjang.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Erik meletakkan paper bag di atas pangkuan Caca. Dia sengaja membelikan hadiah dan berharap Caca mau jujur atas apa yang terjadi. Sesuai arahan, Erik di larang bertanya. Alan takut jika pertanyaan Erik akan membuat rencana penjebakan gagal.


"Apa ini Kak?" Tanya Caca pelan.


"Aku tadi membeli itu saat menemui relasi. Semoga saja kamu suka." Jawab Erik seraya tersenyum.


Caca mengeluarkan isi dari paper bag. Sebuah kotak perhiasan berukuran besar ada di dalam.


"Pernikahan ini hanya bohongan Kak. Tidak perlu repot-repot membelikan sesuatu."


"Tidak apa. Aku hanya memiliki seorang Ibu. Walaupun pernikahan ini hanya sandiwara, tapi setidaknya aku memiliki teman bicara ketika pulang berkerja."


Bukan hanya perhiasan saja. Erik juga memberikan sebuah ATM pribadi berwarna hitam yang di khususkan untuk kebutuhan Caca. Dia berusaha menunjukkan jika persekutuan dengan Elang adalah keputusan yang salah.


"Terimakasih Kak."


"Sama-sama. Em aku harus kembali. Jika ada sesuatu, hubungi aku."


"Ya Kak, hati-hati."


Caca melirik kepergian Erik lalu beralih menatap kotak perhiasan di tangannya. Dia membukanya perlahan, cukup terkesima dengan isi di dalamnya.


Kak Erik baik sekali. Dia memenuhi semua kebutuhan keluarga ku. Semua biaya pernikahan bahkan dia tanggung.


Caca mulai mempertanyakan niatnya untuk menjebak Nay yang sudah mempertemukannya dengan lelaki sebaik Erik. Jika bukan atas bantuan Nay, mungkin saja sekarang dia sudah bunuh diri.


Suara dering telepon membuat lamunan Caca buyar. Dia beranjak dan meletakkan kotak perhiasan ke dalam lemari lalu mengambil ponsel miliknya.


Tubuhnya seketika bergetar ketika dia melihat nama Roy tertera di layar.


📞📞📞


"Ya halo.


"Bagaimana?


"Nay akan menginap hari Kamis Kak.


"Kau yakin?


"Hm iya.


"Kerja bagus.


"Tapi berjanji untuk tidak melakukan apapun pada keluarga ku.


"Aku berjanji. Ibu mu akan baik-baik saja. Tadi aku tidak sengaja bertemu dengannya di pasar.


Mata Caca seketika melebar saat dia menyadari Ibunya belum kembali dari pasar sejak tadi pagi.


"Ja jangan lakukan itu Kak. Kamu sudah berjanji.


Elang terkekeh nyaring di iringi suara teriakan sang Ibu yang meronta ingin di bebaskan.


"Tenang saja. Lakukan tugas mu dengan baik dan kita akan bertukar. Aku mendapatkan Nay lalu kau mendapatkan Ibumu.


"Perjanjian nya bukan seperti itu.


"Bukan kau yang berhak mengatur, tapi aku. Ibumu akan baik-baik saja.


📞📞📞


Tut.. Tut.. Tut...


Caca meremas erat ponsel miliknya. Maniknya mulai berkaca-kaca saat tahu jika Ibunya sedang dalam bahaya.


Ini semua gara-gara Suami Nay! Aku tidak boleh lemah! Terserah dia merencanakan apa! Aku hanya tidak ingin melibatkan kedua orang tuaku!


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2