Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 76


__ADS_3

Pagi itu Kai bangun lebih awal. Sejak beberapa jam lalu, dia duduk terdiam di sofa sambil menikmati kopi panasnya. Tatapan fokus pada Nay yang tengah terlelap di atas ranjang.


Ada rasa khawatir terbesit ketika Kai menyadari perubahan sikap Nay yang jauh berubah setiap menitnya. Sosok yang dulunya di kenal dewasa, kini menjadi kekanak-kanakan dan tidak ingin di kalahkan.


Apa jadinya jika kamu meminum sirup itu? Meski kamu bisa selamat. Bagaimana dengan nasib calon anak kita? Kenapa di saat seperti ini kamu harus bersikap seperti itu?


Baru semalam keduanya berdebat masalah sepele. Hanya karena kesalahan kecil, Kai rela tidak mendapatkan jatah semalam dan harus tidur di sofa.


Lamunan Kai buyar ketika pesan singkat masuk ke ponselnya. Dia bergegas memeriksanya setelah meletakan cangkir kopi.


๐Ÿ’ŒAlex datang berkunjung.


Sontak Kai berdiri sambil membalas pesan yang berasal dari Alan.


๐Ÿ’ŒSuruh dia masuk.


๐Ÿ’ŒBaik.


Kai melangkahkan kakinya sangat pelan agar Nay tidak terjaga. Tentu dia tidak rela jika sampai Nay bertemu Alex apalagi sampai melontarkan pembelaan.


Setelah tiba di luar kamar. Kai sengaja mengubah kata sandi untuk sementara agar nantinya Nay tidak bisa keluar. Dengan langkah tenang Kai menuruni anak tangga bersamaan datangnya Alex bersama Jessy.


"Maaf menganggu pagi buta begini." Ujar Alex cukup merasa kecewa saat melihat Kai datang sendirian.


"Jika merasa mengganggu. Tidak perlu berkunjung itu lebih baik." Jawab Kai kasar. Dia duduk tanpa mempersilahkan kedua tamunya duduk.


"Boleh kami duduk?" Menunjuk ke sofa.


"Kalau tidak ku perbolehkan kau akan tetap duduk kan?" Alex menghela nafas panjang kemudian duduk di ikuti Jessy.


"Em aku.."


"Tidak ku maafkan!" Sahut Kai cepat. Dia menatap tajam ke arah Alex dengan wajah geram.


"Itu semua kecelakaan."


"Aku pernah mencicipi racun paling mematikan di dunia ini. Menurutmu racun itu mampu membunuh ku? Sayangnya Istriku baik-baik saja. Jika sampai terjadi sesuatu dengannya. Akan ku hancurkan perusahaan juga hidupmu!"


Bukan hal sulit bagi Kai untuk menguasai ABRA GRUP. Meski perusahaan tersebut nomer dua terbesar. Namun dari segi penghasilan, perusahaan itu masih jauh di bawah Xu grup.


"Itu bukan kesalahan ku Kak. Aku kesini untuk meminta maaf. Acara kami juga hancur karena kelalaian pihak catering."


"Itu karena kau tidak benar-benar menyukai wanita ini." Menunjuk kasar ke arah Jessy." Kau tidak merasa buruk hah? Kau rela menghancurkan bisnis kecil seseorang hanya untuk tujuanmu." Sindir Kai langsung mengenai sasaran. Alex tidak menyangkal jika Kai begitu jeli dalam membaca situasi.


"Dia memang bersalah. Pihak kepolisian sudah mengurus dan menyelidiki kasus itu."


"Oh."

__ADS_1


"Kasus ini bahkan di handle jenderal Sapto sendiri."


"Berapa milliar uang yang kau keluarkan untuk membungkam mulutnya?" Kai tersenyum simpul penuh hinaan.


"Aku tidak mengerti Kak."


"Bebaskan si Ibu catering atau aku yang berdiri di belakangnya untuk membela." Alan yang berdiri tidak jauh dari sana tersenyum. Kejam dan dingin memang melekat pada jiwa Kai. Tapi untuk menindas kalangan bawah. Kai tidak pernah melakukannya dan membutuhkan pertimbangan yang matang.


"Aku tidak tahu Kak. Itu keputusan pihak kepolisian." Jenderal itu tidak mungkin membongkar rahasia ku. Ingin ku habisi keluarganya hah!


"Kita lihat mana yang akan menang."


"Hm iya. Kak Nay di mana? Aku ingin meminta maaf."


"Pergi saja." Jawab Kai singkat.


"Aku merasa tidak enak."


"Aku juga merasa tidak nyaman berada di sekitar kalian. Suruh mereka pergi Al." Pinta Kai berdiri lalu berjalan menaiki anak tangga.


"Padahal aku mencoba meminta maaf." Alan berjalan menghampiri Alex yang belum beranjak.


"Waktu habis. Sebaiknya kalian pulang atau aku terkena masalah." Alan masih berusaha bersikap biasa saja walaupun kemunafikan Alex sudah tercium.


"Apa Kak Nay belum bangun?"


"Oh baiklah. Aku pergi. Terimakasih sudah di izinkan masuk. Em aku titip salam untuk Kak Nay ya." Setelah menepuk pundak Alan sejenak, Alex berjalan keluar menuju mobilnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Saat kembali ke kamar. Nay sudah tidak ada di atas ranjang. Kai sempat melirik ke arah pintu kamar mandi sebelum akhirnya duduk. Dia berniat meneguk kopinya tapi terlihat cangkir miliknya sudah kosong.


"Aku yakin tadi masih banyak." Gumamnya meletakkan cangkir.


"Aku yang meminum kopi itu Mas." Sahut Nay sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi." Kamu darimana? Kenapa sandi di pintu kamu rubah? Apa kamu berniat mengurungku lagi?" Imbuhnya ketus.


Harus mencari alasan apa? Kalau aku bilang untuk mencegah agar tidak bertemu Alex, dia pasti tidak akan menerima.


"Tidak. Em sekarang sudah ku kembalikan ke sandi lama." Kai berusaha untuk tidak menanggapi kekesalan Nay.


"Terus kenapa di rubah? Apa karena aku menyuruhmu tidur di sofa." Kini Nay duduk di samping Kai yang tengah memutar otak agar tidak salah bicara.


"Sama sekali bukan. Aku tadi ada keperluan sebentar. Aku takut kamu berkeliaran sendirian."


"Oh." Nay mengambil cangkir kosong lalu berdiri." Siapa yang membuatkan kopi Mas?" Tanyanya lagi.


"Alan."

__ADS_1


"Em akan ku buatkan yang baru. Kamu ingin di masakkan apa?" Kai sedikit bernafas lega sebab sarapannya masih terjamin walaupun semalam keduanya berdebat.


"Terserah padamu."


Saat Nay akan beranjak pergi, Kai menahan langkahnya dengan memegang erat lengannya.


"Ada apa?" Kini keduanya berdiri saling berhadapan.


"Kamu masih marah padaku?" Tanya Kai pelan. Aku suka saat dia mengusap lembut rambut ku. Sudah dua Minggu ini dia tidak melakukannya.


"Tidak Mas."


"Em rambutmu masih berantakan. Jangan keluar dengan keadaan seperti ini."


Sedikit demi sedikit, satu persatu sikap manis mulai Kai tunjukkan. Dia sangat mencintai Nay, wanita kedua setelah Ibunya. Sekeras apapun wataknya, sekejam apapun sikapnya pada yang lain, namun Kai tidak kuasa menyakiti hati sang Ibu yang kini posisinya tergantikan oleh Nay.


"Tidak berantakan Mas. Ini sudah ku ikat, hanya belum di sisir. Apa aku terlihat buruk?" Memegang rambutnya.


"Kamu cantik sekali. Em setelah memasak, sisir rambut mu agar tidak rusak."


"Sedikit malas untuk mengangkat tangan." Nay memperlihatkan senyum sehingga Kai bernafas lega.


"Kamu memasakkan ku sesuatu, setelah itu aku membantumu menyisir. Bagaimana?"


"Penawaran bagus."


"Ya." Daripada harus memicu masalah lebih baik aku tidak banyak menolak. "Aku akan membantumu memasak, kita lakukan bersama." Setelah memberikan kecupan singkat pada dahi. Kai mengiring Nay berjalan keluar.


"Memangnya kamu bisa."


"Mencuci ikan atau sayur aku bisa." Nay tersenyum simpul." Tapi kalau kamu lelah. Lebih baik kita delivery." Imbuhnya pelan.


"Aku baik-baik saja Mas. Memasak itu bukan hal yang berat."


"Kamu berkeringat ketika melakukannya."


"Cinta membuat masakan semakin sedap." Kai mengangguk seraya tersenyum. "Aku melihat kamu senang ketika memakan masakan ku." Imbuhnya lagi.


"Masakan mu sangat sedap Baby. Bagaimana aku tidak suka."


Wajah Nay terlihat memerah ketika Kai melontarkan pujian padanya. Sungguh sikap yang sangat di nantikan. Kemarahannya akibat kehamilan membawa banyak manfaat. Kai lebih mudah menunjukkan perasaannya dan apa yang ingin di lakukan pada Nay.


Meski Kai merasa bahagia, namun di dalam hati terselip ketakutan akan kehadiran Alex. Sosok yang berusaha menghancurkan pernikahannya.


Aku tidak menghabisi mu karena kedua orang tuamu. Tapi jika kau terus memaksa ku melakukannya.. Akan ku hancurkan hidup mu selayaknya niatmu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2