Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 59


__ADS_3

Caca tidak bergeming ketika Nay menyuruhnya untuk memilih. Sungguh dia hanya menginginkan sebuah pertanggungjawaban tanpa melihat perkerjaan apalagi paras. Dia ingin seorang lelaki yang mau menerima keadaannya berserta janin di rahimnya.


"Aku tidak pantas memilih Nay. Asal bertanggung jawab dan bisa menjaga rahasia." Ujar Caca pelan.


"Mereka semua bertanggungjawab. Pilih yang sesuai tipe mu." Nay berusaha menghibur hati Caca yang pasti berada di puncak kebingungan.


"Terserah Nay. Aku butuh dia sekarang. Ayah sangat marah."


"Oh baiklah. Biar aku yang memilih."


Nay memilah-milah tumpukan foto berserta biodata di hadapannya. Semua foto itu berpenampilan acak-acakan dan tidak beraturan sehingga keningnya berkerut.


Apa Alan tidak salah? Mereka lebih mirip anak jalanan yang suka bersenang-senang.


"Sebentar ya Ca."


"Hm." Nay beranjak dari tempatnya. Dia meninggalkan Caca di dalam kamar untuk menemui Alan yang tengah duduk bersama Kai di lantai satu.


Kebetulan, Erik juga terlihat ada di sana. Meminta tanda tangan untuk mengurus surat pengalihan hak milik perusahaan milik Jessy dan Hendra.


"Apa tidak ada kandidat lain Al." Obrolan ketiganya seketika terhenti.


"Teman Nona tidak suka?"


"Aku yang tidak suka." Jawabnya cepat.


"Itu untuk temanmu." Sahut Kai menimpali. Sedikit cemburu, tentu saja.


"Penampilan mereka tidak pantas di sebut Ayah." Nay meletakkan tumpukan foto ke hadapan Kai dengan posisi berdiri.


"Itu hanya penampilan Nona. Em sebagian besar memang berada di jalanan sebab mereka berkerja di bagian lapangan."


"Mana mungkin mereka bisa berakting Al. Caca ingin pulang bersama lelaki itu. Ayahnya marah besar. Kalau penampilan mereka seperti itu, aku tidak yakin sandiwara ini berhasil."


Caca berniat menikah sampai anak yang di kandungnya lahir. Dia berjanji akan menuntut cerai dan membebaskan si lelaki dari ikatan pernikahan yang memang hanya di jadikan tameng.


"Apa tidak bisa besok Nona?"


"Ya. Kenapa terburu-buru."


"Aku tidak mau dia berbuat nekat apalagi sampai bunuh diri." Jawab Nay tegas. Dia tidak ingin menunggu dan membuat Caca semakin terbebani.


"Maaf. Memangnya siapa yang ingin bunuh diri?" Sontak tatapan Nay beralih pada Erik.


"Temanku Kak."


"Kenapa bisa begitu?"


"Erlangga yang melakukannya." Erik menghela nafas panjang seraya tertunduk. Keluarga kecilnya juga terkena imbas atas keburukan Elang yang tega menutup semua akses kerjanya.

__ADS_1


Sang Istri tega membunuh buah hatinya sendiri dan setelah itu dia mendiskon nyawanya. Gaji dari konter ponsel tidak seberapa banyak. Sementara Erik harus membiayai pengobatan Ibu dan kebutuhan keluarga. Selalu saja sang Istri rela mengalah untuk mementingkan pengobatan Ibu mertuanya daripada kebutuhannya sendiri.


"Saya Duda? Apa dia mau?" Tanya Erik tersenyum simpul.


"Kak Erik mau bertanggung jawab? Hanya berpura-pura menjadi Ayah dari janin itu saja Kak. Setelah anak itu lahir, tidak apa jika kalian berpisah."


"Terserah Nona. Asal tidak sampai bunuh diri. Tapi, jika Tuan mengizinkan." Imbuhnya pelan.


"Bicarakan soal kesibukannya." Jawab Kai tidak keberatan jika memang Erik bersedia daripada dia di pusingkan dengan permintaan Nay.


"Dia pasti mau Mas."


"Saya punya waktu satu jam sebelum meeting. Jika memang setuju, sebaiknya pergi ke rumahnya sekarang."


"Sebentar Kak."


Nay kembali berjalan masuk untuk membicarakan kesepakatan pada Caca. Kesibukan Erik yang begitu padat tentu menyita banyak waktu. Nay juga menjelaskan soal batasan yang harus di taati.


"Aku mohon Ca. Untuk saat ini turuti permintaan ku."


"Lalu bagaimana dengan perkerjaan ku Nay? Aku tidak mau bergantung padanya. Dia mau bertanggung jawab saja aku sudah sangat berterimakasih."


"Kamu meragukan Suamiku? Lihat sekeliling mu." Caca mengedarkan pandangannya. Bangunan di hadapannya sangatlah megah." Jangan bicarakan soal materi. Kamu harus tetap berada di rumah. Tunggu Kak Erik jika ingin berkeliaran." Caca tersenyum seraya mengangguk. Meski dia belum memahami soal pembatasan yang Nay bicarakan. Asal ada seseorang yang mau bertanggung jawab, peraturan itu tidaklah berat.


Setelah kesepakatan di dapat, Nay mengiring Caca keluar untuk menemui Erik.


"Terimakasih untuk kebaikan nya." Ucap Caca pelan.


"Hm sama-sama. Mari, saya tidak memiliki banyak waktu." Caca berpamitan pada Nay juga Kai. Dia berjalan beriringan menuju mobil sambil membicarakan sandiwara yang akan di lakukan nanti.


Singkat waktu..


Siang itu sesuai janji, Kai datang ke PT JACO dengan di temani Nay. Kehadirannya pada meeting bukan semata-mata ingin memperkenalkan diri sebagai pemilik baru, melainkan mengganti beberapa komponen agar perusahaan bisa berkembang pesat.


Para pegawai dan staf mulai menebar gosip buruk. Hendra menghilang tanpa jejak sementara Kai muncul dan mengambil alih. Prasangka buruk langsung mencuat. Mereka menebak jika Kai sengaja menyingkirkan Hendra untuk menguasai perusahaan.


"Maaf Pak. Bukankah seharusnya ada penyerahan hak milik secara resmi. Pak Hendra juga Bu Jessica bahkan tidak hadir."


Kai terkenal sebagai pengusaha yang hobi mengikat, tidak mudah di bohongin atau di curangi. Hal itu yang membuat gerak para staf menjadi terbatas. Tentu saja itu memberatkan, terutama untuk orang yang sering melakukan kecurangan.


"Tidak ada gunanya mereka hadir. Perjanjian ini sudah lebih dari cukup."


"Semuanya harus melewati prosedur Pak. Ini terlihat tidak jelas."


"Risen saja kalau kau merasa seperti itu." Jawab Kai tegas.


"Bukan seperti itu.."


"Lalu bagaimana? Katakan? Kalau ada yang keberatan silahkan risen. Orang-orang ku yang akan menggantikan posisi kalian."

__ADS_1


Beberapa orang di sana saling memandang. Mereka membutuhkan perkerjaan namun tidak ingin terikat. Bisa di tebak jika selama ini mereka kerapkali memakan uang perusahaan sedikit demi sedikit sehingga mereka takut kecurangannya terendus.


Tiba-tiba saja Jessy menerobos masuk. Dengan raut wajah kesal, dia menghampiri Kai untuk mempertanyakan perusahaannya.


"Saya tidak bisa menerima Pak. Apa alasan anda mengambil perusahaan saya."


"Berkhianat." Jawab Kai singkat.


"Saya tidak melakukan itu?" Kai mengisyaratkan beberapa ajudan untuk mengiring para staf keluar. Hanya menyisakan dia, Nay, Erik juga Jessy.


"Di mana dia?" Tanya Kai penuh penekanan.


"Dia siapa?"


"Tuanmu." Mimik Jessy berubah cemas. Dia menebak jika penghianatan nya sudah terendus.


"Saya tidak mengerti maksud anda."


"Sungguh?" Tanya Kai memastikan.


"Iya."


"Tidak mungkin Hendra bersekongkol tanpa melibatkan dirimu. Kau tahu dia hanya orang baru." Jessy menelan salivanya kasar. Elang kembali menjebaknya dengan tidak mengatakan soal tersebut.


"Saya ke sini hanya untuk menanyakan perihal perusahaan." Jawabnya berusaha menyangkal.


"Lantas Hendra di mana." Jessy terdiam. Dia mengingat video pendek yang di kirimkan Elang padanya.


"Sejak kemarin saya tidak melihatnya."


"Dia pasti sudah tewas dan setelah ini giliran mu." Kai terkekeh. Tengah menertawakan kebodohan Jessy dan Hendra. Mereka mengabdi para orang yang salah sehingga tidak ada pilihan lain kecuali patuh atau mati." Aku sudah mengedus pengkhianatan mu sejak lama. Sengaja aku tidak membunuh mu karena aku ingin tahu di mana tikus itu bersembunyi!!" Emosi seketika mengoyak saat keinginan untuk membunuh Elang melintas.


Jessy terdiam beberapa saat. Dia merasa terdesak dan harus segera memilih ucapan yang tepat sebagai jawaban.


"Saya sudah tidak bisa mundur." Jawabnya pelan. Tertunduk seakan menyesal.


"Aku terkesan akhirnya kau mengakuinya. Katakan, di mana dia sekarang?"


"Tempatnya tidak menentu." Kai menyodorkan ponselnya.


"Berapa kontaknya."


"Saya selalu menghubungi lewat anak buahnya."


"Ketik." Pinta Kai tegas.


"Hanya nomer tertentu yang di respon."


"Atur pertemuan bodoh! Kau ingin mati sekarang."

__ADS_1


Kai menodongkan senjata api ke arah Jessy yang sontak tubuhnya bergetar. Nay hanya mampu menghela nafas panjang dan mulai memahami tentang kerasnya kehidupan Kai.


🌹🌹🌹


__ADS_2