
Di dalam taksi, Nay tersenyum simpul sambil menikmati perjalanannya menuju sebuah Cafe. Dia sengaja mencampurkan obat bius ke minuman para penjaga agar dirinya bisa sedikit bebas dan menemui Caca. Rencana yang terbilang gila, namun itu satu-satunya cara agar dirinya bisa keluar.
Aku sudah menulis pesan di kaca lemari.. Salah siapa tidak memperbolehkan ku keluar..
Nay sudah meminta izin pada Kai pagi tadi. Tapi tentu saja izin tidak di dapatkan sebab Kai merasa khawatir pada keselamatannya. Namun yang ada di fikiran Nay sangatlah lain. Dia merasa selayaknya hewan peliharaan yang di kurung dan tidak di perbolehkan keluar.
Setibanya di lokasi, Nay turun dan bergegas menghampiri Caca yang sudah menunggu nya. Dia mengunakan waktu istirahat makan siang untuk bertemu Nay di sela kesibukan perkerjaannya.
"Astaga. Kamu cantik sekali Nay." Puji Caca menyambut Nay dengan pelukan hangat.
"Ini plastik." Keduanya tertawa kecil lalu duduk.
"Ada waktu sekitar 2 jam. Aku tadi sudah izin pada atasan ku." Nay tersenyum aneh, dia tidak memiliki waktu sebanyak itu sebab tahu jika Kai akan segera menemukannya.
"15 menit." Sahut Nay cepat.
"Kau bercanda?"
"Tidak Ca. Tuanku sangat disiplin dan sedikit tidak waras." Dia mengusirku, lalu menembak kakiku dan sekarang mengakui ku sebagai Istri.
Masih saja Nay menganggap jika penculikan kemarin adalah perbuatan anak buah Kai.
"Berkerja denganku saja. Aku sudah meminta izin pada Mama. Kita bisa tinggal berdua." Nay tersenyum simpul lalu di kejutkan dengan datangnya seorang pelayan dengan Cake dan minuman di nampan.
"Saya belum memesan. Mungkin kamu salah." Ujar Nay menolak.
"Ini gratis Nona. Dari lelaki yang duduk di nomer 3."
Tentu saja kecantikan tidak biasa Nay menjadi sorotan. Apalagi dia keluar pada jam istirahat dan biasanya sering di pergunakan para pengusaha muda melakukan pertemuan dengan relasi sambil makan siang.
"Kembalikan, saya tidak mau." Nay meletakkan Cake ke nampan si pelayan.
"Ini sudah di bayar."
"Maaf. Saya tidak bisa menerima ini. Saya sudah bersuami." Jawabnya pelan tapi cukup membuat lelaki sekitar patah hati.
"Em baik Nona. Maaf atas ketidaknyamanannya." Nay tersungging seraya mengangguk ke arah pelayan.
"Kenapa di tolak sih Nay? Kamu masih tidak bisa move on dari si Hendra itu?" Tanya Caca memasang wajah serius. Dia yakin jika lelaki yang mengirimkan kue untuk Nay seorang pengusaha muda.
"Itu hal yang mudah. Aku sudah membencinya."
__ADS_1
"Kamu bohong kan?"
"Tidak Ca. Serius." Padahal aku sudah menikah meski aku tidak ingin melanjutkannya.. "Merubah cinta menjadi benci hanya terhalang tisu yang tipis. Aku tidak akan berada di tempat yang sama hanya untuk orang yang sama sekali tidak menginginkan ku." Imbuhnya tersenyum simpul untuk menyamarkan perasaan kecewanya.
"Aku harap itu benar."
"Hm dia memang sudah tidak berselera sejak kecelakaan itu."
"Separah apa Nay?" Tanya Caca ingin tahu.
"Aku lupa kejadiannya. Tapi.. Separuh wajahku luka bakar, juga tangan dan kakiku. Em.. Kau tahu film zombie. Wajah mereka 11 12 denganku." Caca menghela nafas panjang. Dia merasa prihatin pada nasib yang menimpa Nay.
"Aku fikir cinta Hendra tidak mudah luntur."
"Hm itu hal yang membuatku sempat bersujud di kakinya untuk menahan niatnya pergi. Tapi wanita itu menjanjikan sesuatu yang lebih berkilau sementara aku hanya punya wajah buruk dan cinta."
"Aku ingin kau melupakannya dan hidup dengan lembaran baru. Awas saja kalau kamu kembali padanya." Caca merasa was-was jika Nay kembali pada Hendra.
"Bukankah kamu tahu jika aku senang di cintai daripada mencintai."
Selama satu bulan terakhir, Nay merasakan bagaimana perbedaan antara di cintai dan mencintai. Biasanya Hendra selalu memanjakannya dengan sikap manis nan hangat ketika cinta masih bertengger di hatinya.
Dari kejadian tersebut Nay banyak mendapatkan pelajaran. Jika mencintai seseorang itu sangatlah sakit jika tidak berbalas.
"Kenapa kamu pergi diam-diam?" Sontak Nay tertunduk sambil menatap ke arah Caca." Kamu merasa bersalah? Kenapa menunduk?" Kai menggeser kursi lalu duduk tepat di samping Nay.
"Aku sudah meminta izin tadi pagi." Jawab Nay pelan.
"Pulang." Kai berdiri dan meraih pergelangan tangan Nay.
Situasi yang terjadi di hadapannya, sangat membuat Caca bingung apalagi penampilan Kai terlihat mencolok.
Kenapa Nay tidak sopan sekali? Seharusnya dia mengucapkan saya bukan aku? Apa lelaki ini majikannya atau anak majikannya? Astaga tampan sekali..
"Beri aku sedikit waktu lagi."
"Kau suka sekali menjadi bahan tontonan." Akibat terlalu khawatir membuat emosi Kai meluap-luap. Dia bahkan ingin menembaki satu persatu lelaki yang ada di Cafe tersebut.
"Aku mohon Tuan."
"Pulang." Nay tetap saja di seret sehingga membuat Caca merasa khawatir pada nasib Nay yang mungkin akan mendapatkan kekerasan.
__ADS_1
"Maaf Tuan. Ini salah saya. Em saya tadi memaksa Nay bertemu." Kai menghela nafas panjang dan terpaksa menghentikan langkahnya.
"Kalian tidak boleh banyak bertemu. Aku memang melarang nya." Jawab Kai dengan wajah datar.
"Saya harap Tuan tidak melakukan hal buruk pada Nay sebab ini salah saya."
"Mana mungkin aku berbuat buruk pada Istri ku sendiri, apalagi dia mengandung anakku."
Caca seakan berhenti bernafas sambil menatap penuh tanya ke arah Nay yang kembali di seret paksa. Nay sendiri hanya menjawab keingintahuan Caca dengan isyarat tangan sebelum di masukkan ke dalam mobil mewah.
Istri? Hah? Apa? Tidak mungkin..
Tidak ada yang bisa Caca lakukan kecuali kembali melanjutkan makan siangnya sambil memikirkan perkataan Kai.
Namun tiba-tiba seseorang duduk di sebelah kanan dan menumpukan kedua tangannya ke atas meja. Caca menoleh dan menatapnya bingung.
"Ada apa Kak?" Tanya Caca pelan.
"Kamu teman wanita tadi? Siapa namanya?" Sepertinya tebakan Kai. Kepergian Nay sudah di ketahui anak buah Elang hanya saja Elang terlambat datang.
"Naysila."
"Oh Nay." Elang tersenyum simpul di balik wajah palsunya. Dia masih saja melakukan penyamaran agar tidak mudah di kenali. "Kakak siapa?" Tanya Caca ramah.
"Aku hanya salah satu penggemar bodohnya. Em boleh aku meminta kontak nya." Elang menyodorkan ponsel mahalnya sambil tersenyum simpul. Cukup menghangatkan perasaan sebab wajah Elang tidak kalah tampan.
"Dia sudah bersuami Kak."
"Suaminya sangat kasar. Bukankah kamu melihatnya tadi." Jawab Elang mulai menghasut.
"Tapi aku tidak bisa memberikan kontak milik Nay."
"Hm tidak masalah. Kontak milikmu sudah cukup." Karena merasa tidak enak, Caca mengambil ponsel Elang secara perlahan dan mengetikkan kontak miliknya.
"Sudah Kak." Caca memberikan ponselnya pada Elang.
"Terimakasih ya." Elang berdiri sambil merogoh kantong celananya. Dia mengambil dompet lalu menyodorkan Caca dengan beberapa lembar uang." Untuk membayar makan siangmu." Imbuhnya berlalu pergi.
"Ini terlalu banyak Kak." Elang hanya melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobilnya. Sepertinya orang kaya? Astaga.. Aku jadi ingin melakukan operasi plastik dengan bahan ember bekas hahaha..
🌹🌹🌹
__ADS_1