
Seakan mendapatkan emas berkilo-kilo. Kedatangan Nay di sambut ramah oleh Caca juga keluarga. Berbagai suguhan berjajar di meja memanjang. Nay tersenyum canggung sambil melontarkan sapaan akrab pada Mama dan Ayah Caca. Obrolan mulai semakin akrab ketika kedua orang tua Caca masuk ke dalam.
Kai sendiri hanya duduk dengan tenang. Melipat kedua tangannya di perut sambil memasang wajah datar. Cukup mengerikan melihat tatapan tajam menusuk yang sesekali di hadiahkan pada Caca. Dia menganggapnya sebagai peringatan atau pengampunan jika seandainya Caca mau mengakui persekutuannya.
"Kapan-kapan menginap di sini Nay. Kadang-kadang aku kesepian." Caca memasang senyuman canggung. Dapat membaca pesan terselubung dari tatapan Kai namun enggan merespon. Dia sangat takut kehilangan keluarga sampai tidak lagi perduli pada keselamatan sahabatnya.
"Ada kedua orang tuamu. Sepi bagaimana sih Ca." Jawab Nay sambil menyantap makanan kering.
"Tidak seakrab ketika berbicara denganmu."
"Padahal orang tua satu-satunya tempat ternyaman di dunia kecuali jika kau anak durhaka." Sahut Kai menjawab. Nay tersenyum aneh sambil mengusap-usap lengan Kai untuk memberikan isyarat agar Kai mengatur cara bicaranya.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa di bicarakan dengan orang tua Kak." Jawab Caca pelan. Tertunduk namun sesekali melirik.
"Entahlah. Aku tidak tahu." Jawab Kai ketus.
"Aku tidak berminat Ca. Bukankah aku sudah bilang tidak bisa bebas berpergian." Nay memberikan jawaban sesuai dengan aturan Kai.
"Satu kali saja tidak masalah." Sontak Nay menoleh cepat. Dia tidak percaya Kai melanggar peraturan yang di buatnya sendiri.
"Benarkah Mas?" Seketika Caca tersenyum simpul. Dia merasa jika rencananya berjalan mulus.
"Ya. Tapi bukan hari ini. Alan masih sibuk." Jawaban singkat Kai menandakan jika dia terbebani dengan rencana tersebut.
"Kapan Mas?" Tanya Nay antusias.
"Hari Rabu."
"Terimakasih ya Kak." Haha ternyata tidak sulit. Setelah Kak Roy mendapatkan Nay. Aku dan keluargaku bisa bebas.
Terlalu lugu bagi Caca untuk menyadari bagaimana liciknya perbuatan Elang. Seharusnya dia jujur pada Nay tentang ancaman yang membelenggu. Tapi rupanya Caca tidak sepintar itu. Otak miliknya menjadi tumpul karena terlalu ketakutan akan sosok Elang yang di anggap sebagai orang terkejam.
Aku merasa ada yang aneh dengan Caca. Kenapa dia terlihat sedang menutupi sesuatu?
Sejak awal bertatap muka, Nay sudah menyadari kejanggalan dari mimik wajah Caca. Wajar, keduanya sudah akrab sejak duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama. Tentu saja Nay peka pada kebohongan yang sedang Caca sembunyikan.
Sebaiknya tidak ku bahas. Mungkin Caca akan bercerita saat kita berdua menginap bersama.
Fikiran Nay tidak bisa menjangkau tentang rencana buruk yang akan Caca hadiahkan untuknya. Sehingga tidak ada sedikitpun kecurigaan terselip. Nay hanya menerka, jika Caca merasa tertekan dengan kehamilannya.
"Kamu tidak bercanda kan Mas?" Tanya Nay untuk kesekian kalinya.
"Tidak Baby. Asal tetap membawa senjata." Bagaimana jika ini gagal?
"Aku ingat itu Mas." Nay tersenyum simpul. Menutupi tebakan nya tentang keganjilan yang di perlihatkan Caca.
Perlahan, Kai meraih jemarinya lalu menggenggamnya erat. Hal itu membuat Nay menoleh dan memasang wajah bahagia. Satu momen berharga nan manis berhasil Kai berikan meski dengan gerakan kaku.
__ADS_1
Selama dua hari. Aku akan menunjukkan perasaan ku tanpa di tutupi agar ketika hari itu gagal. Aku tidak menyesal karena bisa menghabiskan waktu bersama mu meskipun singkat.
Setiap harinya. Dia selalu menunjukkan perubahan sedikit demi sedikit. Aku yakin kalau lambat laun hubungan ini akan menguat Mas.
"Kamu tidak ingin membeli sesuatu?" Tanya Kai sambil berusaha menahan gejolak di hatinya. Jantungnya bergetar hebat sampai-sampai tangannya berkeringat.
"Tidak Mas. Kita langsung pulang saja."
"Mungkin berjalan-jalan?" Nay menoleh sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Lebih nyaman berada di rumah. Banyak mata yang mengintai kalau kita berada di luar."
"Maaf. Kehidupan mu menjadi tidak bebas." Ujar Kai pelan.
"Aku tidak apa. Sebelumnya kita sudah membahas itu."
"Seharusnya kamu bisa menikmati kemewahan. Berbelanja dengan teman-teman mu atau hal-hal yang wanita sukai pada umumnya..."
"Mereka menghilang sejak kamu merusak wajahku." Sahut Nay cepat. Dia bukan tipe wanita yang suka berpergian dan menghamburkan uang sehingga tebakan Kai di balas senyuman.
"Kenapa kamu tersenyum mengatakan nya?"
"Aku menganggap itu takdir Mas. Tuhan lebih tahu yang terbaik."
"Tapi aku serius menawarkan kebebasan selama dua hari. Tapi tetap bersama ku. Katakan, kamu ingin pergi ke mana?" Meski Kai tengah merayu, tapi wajah datarnya masih terlihat.
"Kita pulang Mas." Jawaban Nay masih tidak berubah, dia mulai menikmati kehidupannya." Bercinta di kamar sepertinya lebih menyenangkan. Apa kamu ada pertemuan lagi hari ini?"
Apalagi saat keduanya tenggelam pada panasnya adegan ranjang. Masalah terberat sekalipun bisa Kai lupakan begitu saja.
Padahal sebelumnya, Kai anti tidur berlama-lama. Dia lebih sering menghabiskan waktu dengan bergadang sambil memantau perkerjaan anak buah.
"Tidak ada. Erik sudah menghandle semuanya."
Nay menyandarkan kepalanya dan mencari posisi ternyaman. Kai hanya bisa duduk mematung sambil fokus menyetir. Ingin terbiasa namun rupanya kekakuan hatinya tidak mudah runtuh sepenuhnya. Masih saja getaran hebat terjadi di dalam sana sampai terkadang dia takut Nay mendengar bagaimana jantungnya berdetak kencang.
๐น๐น๐น
Dengan penyamaran yang di lakukan sekarang, Elang mendatangi kediaman Jessy. Untuk melancarkan aksinya tersebut, Elang berhasil mengambil paksa seragam kurir pengantar makanan.
Pembantaian yang di lakukan Kai pada anak buahnya. Membuat Elang berfikir jika mungkin Jessy juga bersekongkol dengan Kai.
Ada niatan untuk membunuh Jessy saat ini juga, tapi rupanya Elang terlalu cerdik. Dia kembali memanfaatkan keadaan sebab kini dia tengah terpuruk dan membutuhkan suntikan dana.
"Nyonya tidak memesan makanan." Ujar si pembantu.
"Pengirimnya tidak menyebutkan nama. Saya tahu jika bukan Tuan rumah yang memesan."
__ADS_1
"Oh tunggu sebentar."
Si pembantu kembali masuk untuk memanggil Jessy. Setelah beberapa saat menunggu dia keluar bersama Jessy yang kala itu akan pergi.
"Makanan apa?" Baru saja Jessy bertanya demikian, Elang sudah lebih dulu menodongkan senjata. Sontak saja si pembantu ketakutan dan memilih berjalan masuk." Oh. Kamu." Ujar Jessy tersenyum simpul. Gawat. Apa dia datang untuk membunuh ku. "Di sekitar mu banyak anak buah Kai. Kalau kau tidak segera pergi, mereka akan menangkap mu." Imbuhnya mengancam. Berusaha bersikap tenang walaupun Jessy sangat takut peluru melubangi perutnya.
"Aku tahu. Beri aku uang yang ada di brangkas mu."
"Sekarang kau sudah berubah menjadi perampok?" Jessy tertawa kecil, menyembunyikan ketakutan nya.
"Aku tidak ingin banyak bicara Jessy! Berikan atau ku habisi kau sekarang juga."
"Untuk apa?"
"Kau tidak perlu tahu. Cepat!" Elang menempelkan ujung pistol tepat di perut samping Jessy.
"Hm."
Jessy berjalan masuk, di ikuti oleh Elang. Dari lantai dua manik Jessy menatap sekitar. Mobil milik anak buah Alan tidak tampak ada. Sengaja Alan tidak memantau nya untuk mempersiapkan rencana besar yang akan di lakukan dua hari lagi.
Sialan! Mereka pergi? Berarti sekarang aku sendiri.
Jessy semakin takut nyawanya melayang sehingga segera saja brangkas di buka.
"Letakkan uang itu di sini." Elang membuka tas yang di bawa.
"Berjanjilah untuk tidak membunuh ku."
"Kau tidak berharga. Aku hanya butuh uang mu! Cepat!" Jessy memasukkan semua uang yang ada di brangkas.
"Terimakasih." Elang tersenyum simpul lalu pergi.
Jessy bernafas lega, dia mengambil ponsel dari dalam tas dan berusaha menghubungi Alan. Tidak ada respon sehingga membuatnya mendengus kesal.
"Sudah ku katakan mereka itu tidak ada bedanya! Senang memanfaatkan."
Jessy memutuskan untuk tidak pergi. Dia ingin tahu kenapa Elang sampai mendatangi nya hanya untuk mengambil uang. Bibir Jessy tersungging saat dia melihat berita di internet yang menyebutkan JANS grup mengalami kebangkrutan.
"Oh ini alasannya hahaha. Dari dulu sampai sekarang aku memang mengidolakan Kai. Dia lebih unggul daripada Elang yang berotak tumpul itu."
Ketertarikan Jessy semakin besar pada sosok Kai. Dia mulai membayangkan berada di posisi Nay. Sangatlah bangga menjadi Istri sang penguasa yang bisa menjaga dalam hal kekuatan juga materi.
Aku akan bermimpi lebih dulu. Mungkin suatu saat aku bisa merasakan satu malam bersama Kai. Ah.. Bagaimana sensasi cacing miliknya. Aku sungguh ingin merasakannya..
๐น๐น๐น
Maaf reader ๐ Aku ingin sekali bisa doubel update. Tapi kondisi tubuh ku tidak kondusif๐
__ADS_1
Tetap setia ๐ฅฐ
Terimakasih dukungannya ๐นโค๏ธ