
Sesuai paket yang di pesan. Siang ini Nay dan Kai tengah makan siang di restoran yang sudah di sediakan. Pemandangan indah dan angin sepoi-sepoi mengiringi kegiatan mereka.
Wajah datar nan garang masih Kai perlihatkan. Tapi ketika dia berbicara, intonasi nadanya terdengar pelan.
"Berapa hari kita berada di sini Mas?"
"Dua hari. Aku tidak ingin terlalu lama lengah." Berlibur berarti mengantarkan nyawa. Tapi dia tampak senang.
"Iya aku tahu. Terimakasih ya Mas."
"Hm." Jawab Kai singkat. Mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Harus melakukan apalagi? Dia lebih tidak memiliki hati.
"Memikirkan apa?" Tanya Nay pelan.
"Pengecut itu. Sudah lama aku memburu dia. Hidupku akan tenang kalau dia mati di tangan ku."
"Perbuatannya dulu memang keterlaluan Mas. Beberapa kali aku memergoki mereka membully mu dan sebanyak itu juga aku melapor ke pihak guru. Setelah aku pindah sekolah, aku sempat memikirkan bagaimana nasibmu."
Meski tidak saling mengenal, Nay perduli dengan apa yang menimpa Kai dulu. Dia tidak membenarkan pembullyan, itulah alasannya.
"Berarti bukan hanya sekali kamu menolong ku?"
"Hm iya. Aku sebenarnya tidak ingin terlibat dan takut menjadi salah satu target mereka." Kai menghela nafas panjang. Obsesinya terbayarkan dengan kenyataan jika Nay perduli padanya sejak dulu.
Singkat waktu, setelah makan siang selesai. Keduanya memutuskan berjalan-jalan di sekitar untuk menikmati keindahan tebing.
Hanya ada beberapa pasangan yang tampak sebab tidak sembarang orang bisa memesan kamar seharga hampir sepuluh juta.
Tiba-tiba saja mata Nay memicing ketika melihat Hendra tengah bersama seorang wanita asing. Mereka tampak mesra dengan tangan saling terpaut.
Ya Tuhan.. Mas Hendra benar-benar sudah berubah..
Kai melihat objek yang sedang Nay perhatikan. Dengusan nafas berat langsung berhembus sehingga Nay menoleh ke arahnya.
"Dulu dia tidak seperti itu." Ujar Nay pelan. Lelaki setia yang dulu selalu ada untuknya, berubah menjadi lelaki brengsek karena uang dan jabatan.
"Kenapa memikirkannya?"
"Aku hanya melihatnya."
"Hm. Lakukan sesuka mu." Jawab Kai ketus.
"Cemburu saja, jangan di tahan." Ujar Nay berbisik.
"Tidak. Aku lebih dari dirinya."
"Oh begitu."
Nay menggiring Kai berjalan berlawanan arah. Dia juga tidak ingin bertemu Hendra meski dalam ketidaksengajaan. Entahlah, Nay merasa muak melihat wajah itu.
Sementara Hendra sendiri berjalan santai sambil melontarkan rayuan murahan pada wanita di sampingnya. Hampir setiap hari dia bergonta-ganti pasangan untuk menepis rasa sepinya.
"Aku ingin hubungan kita berlanjut sayang." Ujar si wanita.
"Tidak bisa. Kita hanya bermain-main." Aku tidak akan pernah menikah lagi. Sudah terlanjur berpetualang. Ini lebih baik daripada setia dengan satu nama.
"Aku serius mencintai mu."
"Aku tidak." Si wanita menghela nafas panjang.
Tiba-tiba seseorang berdiri di hadapan keduanya dan menghadang langkah mereka. Hendra mengerutkan keningnya, menatap lelaki berambut keriting di hadapan. Terdapat tompel di pipi kirinya dengan kumis tipis.
__ADS_1
"Jadi ini perkerjaan mu selama ini?" Sontak saja mata Hendra membulat. Dia mengenal suara memuakkan milik Elang.
"Tuan.." Gumamnya lirih.
"Ikut aku." Elang berjalan lebih dulu.
"Kamu kembali ke kamar. Aku ada urusan." Hendra melepaskan pautan tangannya dan berjalan mengikuti Elang tanpa peduli pada teriakan si wanita.
Dengan jantung berdebar-debar, Hendra masuk ke salah satu kamar di mana Elang tinggal. Dia tentu takut jika Elang mengeksekusinya saat ini juga.
"Duduk!" Pinta Elang menatap malas Hendra yang tengah mematung." Konyol sekali. Terang saja kau tidak bisa menyelesaikan tugas. Kau berkeliaran sesukamu untuk memenuhi kebutuhan naffsu mu sendiri!!" Hendra menunduk namun raut wajahnya terlihat kesal. Jujur saja jika dia ingin keluar dari jeratan Elang setelah mengetahui aturannya.
"Hari ini weekend. Jadi saya..."
"Bawa Naysila kepada ku!" Pintanya lantang. Hendra menegakkan pandangannya, menatap penuh tanya ke arah Elang.
"Itu sulit Tuan. Saya.."
"Dia ada di sini." Jawabnya cepat.
Meski dia di sini tapi Nay tidak lagi sendiri. Kenapa Tuan Elang selalu seenak sendiri..
"Perusahaan baru saya berada di naungan Pak Kai. Bagaimana mungkin saya bisa melakukan itu?"
"Lupakan soal proyek itu! Kau pesuruh ku!!" Hendra menghela nafas panjang. Tugas dari Elang terasa berat sebab dirinya yakin jika Nay tidak datang sendiri.
"Maaf Tuan. Sepertinya dia sudah kehilangan simpatik pada saya."
"Itu bukan urusan ku! Bawa Naysila padaku atau senjata ini yang akan bicara."
Elang menodongkan senjata ke Hendra yang sontak memasang wajah tegang. Tubuhnya bergetar hebat sebab ini kali pertama dia berada di posisi seperti sekarang.
"Carilah alasan agar dia mau mengikuti mu."
"Jika Pak Kai tidak setuju?"
"Hanya kau yang tahu seluk beluk tentang Nay!"'Jawab Elang berteriak.
"Baik Tuan. Saya akan berusaha."
Setelah mengatakan letak kamar Nay, Hendra berjalan keluar. Tubuhnya masih bergetar dengan degup jantung yang masih menghantam.
"Aduh bagaimana ini." Eluhnya pelan.
"Di sini kamu rupanya." Sapa si wanita yang bersama dengan dirinya." Ada apa sayang?" Tanyanya ingin tahu. Dia membaca ketegangan pada wajah Hendra.
"Tidak ada." Hendra tersenyum canggung lebih tepatnya takut nyawanya akan melayang.
"Tadi siapa? Bos mu?"
"Hm." Hendra melirik ke noda darah yang ada di rok ketat kekasihnya. Sebuah ide tiba-tiba muncul. Hendra akan memanfaatkan situasi agar bisa terlepas dari kematian.
Terserah jika setelah ini mereka saling membunuh. Yang terpenting aku bisa membawa Nay ke area belakang hotel dan semuanya selesai..
"Kamu datang bulan?" Tanya Hendra menunjuk rok ketat yang terdapat noda darah.
Si wanita menunduk untuk melihat. Seketika wajahnya panik, darah cukup banyak sudah mengotori rok ketatnya.
"Astaga iya. Bagaimana ini sayang." Hendra melepaskan jaketnya lalu memberikannya. Tujuannya agar noda merah tertutupi." Aku membawa pembalut di tas. Sebentar aku ke sana." Hendra mencegah kepergian si wanita dengan berdiri di depannya.
"Kamu mau membantu ku?"
__ADS_1
"Tentu saja mau. Tapi biarkan aku mengganti rok dulu."
"Dengarkan." Langkah si wanita berhenti.
"Ada apa?"
"Bos ku sedang marah. Dia menginginkan seorang wanita yang sulit di temui. Bisakah kamu membawanya ke toilet menggunakan alasan datang bulan?" Pinta Hendra setengah berbisik.
"Wanita siapa sayang?"
"Nanti akan ku beritahu. Yang terpenting bantu aku, Em besok kita beli mobil baru." Iming-iming property tentu membuat si wanita bersemangat. Otaknya langsung tertutup mobil mewah yang di janjikan Hendra besok.
"Serius sayang?" Tanyanya antusias.
"Iya serius."
"Tinggal membawa ke toilet kan?"
"Ya. Usahakan Suami nya tidak ikut."
"Hm beres. Di mana dia."
Hendra tersenyum simpul lalu mengiring si wanita untuk mencari posisi Nay sekarang.
Sementara Nay sendiri tengah menikmati pemandangan di sekitar. Banyaknya perpohonan membuat cuaca terik siang itu terasa sejuk.
Kai terlihat duduk menunggu sambil memeriksa emailnya melalui ponsel. Sesekali dia melihat kegiatan Nay yang tengah berjalan-jalan tidak jauh dari sana. Namun ketika wanita suruhan Hendra mendekat, Kai memilih berjalan menghampiri.
"Maaf Nona. Boleh saya meminta tolong." Nay membalikkan tubuhnya menatap si wanita dengan senyuman.
Bukankah dia wanita yang bersama Mas Hendra?
"Apa yang bisa saya bantu?"
"Em saya sedang..." Si wanita berpura-pura sungkan ketika menyadari keberadaan Kai. Kedua tangannya berusaha menutupi belakang roknya yang kotor.
"Apa katakan." Si wanita mendekatkan bibirnya dan membisikkan niatnya." Saya tidak membawanya." Ujar Nay ikut merasa panik sebab dirinya pernah berada di posisi tersebut.
"Saya juga tidak. Tadi saya sudah menanyakan ke mini market terdekat tapi habis."
"Aduh bagaimana ya. Saya juga tidak tahu daerah sini."
"Tolong saya Nona." Rajuknya memaksa.
"Apa yang dia butuhkan." Si wanita memberi isyarat pada Nay untuk tidak mengatakannya. Beralasan malu karena itu masalah wanita.
"Ini masalah wanita sebaiknya kamu tidak ikut-ikut." Kai terdiam memperhatikan si wanita untuk memastikan jika si wanita tidak sedang berakting." Kamu tidak bersama seseorang?" Tanya Nay memancing.
"Tidak Nona. Kebetulan Suami saya sedang berkerja dan baru pulang sore ini."
Kenapa dia berbohong?
"Tolong belikan sesuatu yang saya butuhkan. Cairannya bertambah banyak, saya akan menunggu di toilet sebelah sana." Menunjuk ke arah belakang.
"Em baik. Akan saya usahakan."
"Terimakasih Nona." Nay tersenyum simpul menatap kepergian si wanita. Dia menerka-nerka tentang apa yang sedang Hendra rencanakan.
Tujuannya apa? Aku merasa ini hanya jebakan..
🌹🌹🌹
__ADS_1