
Seluruh anak buah Elang di kerahkan untuk mengepung lokasi yang terletak di tengah hutan. Sebelum Elang benar-benar masuk ke dalam ruang penyekapan. Alan berserta anak buahnya sengaja bersembunyi terlebih dahulu di balik perpohonan besar sambil merekam kegiatan Elang untuk dokumentasi.
Bersamaan dengan masuknya Elang, mobil Kai baru tiba di lokasi. Sungguh keberadaan tempat tersembunyi itu memudahkan dirinya mengeksekusi Elang dengan cara berduel.
Ada sekitar 100 orang. Mereka di bekali senjata api canggih untuk mengantisipasi jika terjadi hal yang tidak di inginkan.
Kali ini Kai tidak ingin gagal. Dia memperbolehkan anak buahnya menembak kalau Elang mencoba membahayakan nyawa Nay.
Setelah anak buah Alan tersebar di berbagai sudut. Kai menunggu keluarnya Elang tepat di depan pintu.
Tentu saja wajah Elang berubah pucat. Senjata api Laras panjang bersiap membidiknya.
Kai semakin di buat frustasi tatkala dia melihat wajah lebam Nay. Apalagi secara terang-terangan Elang menyentuhnya di depan mata. Terpancar kemarahan juga rasa tidak rela pada sorot matanya.
"Mari jadi lelaki sejati." Kai memperlihatkan tangan kosongnya. Jas di lepas lalu di lemparkan sembarangan." Xu grup akan jadi milik mu jika kau berhasil membunuh ku. Tapi.. Jangan harap kau bisa memiliki Istriku." Kai melangkah maju dengan tangan kosong meski para anak buahnya bersiap membidik." Takut? Hah?" Ledek Kai dari jarak satu meter.
"Aku tidak pernah takut."
"Tapi kau mirip tikus yang pintar bersembunyi. Untuk apa kau melakukan itu. Ayo, habisi aku seperti saat masih sekolah. Kau menyebut ku pecundang kan? Gelar itu sekarang ada padamu." Elang menghela nafas panjang. Tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti permintaan Kai.
Aku pasti bisa menumbangkannya.
"Xu grup akan jadi milikku juga Istri mu."
"Jangan terlalu banyak mulut!! Ayo!" Tanpa menunggu aba-aba Alan berjalan maju untuk mengambil tubuh Nay dari tangan Elang. Setelah membawanya pergi, pertarungan yang di landasi dendam segera di mulai.
Alan tersungging, merasa lega sebab akhirnya keinginan Kai terwujud. Entah siapa yang harus tumbang, tapi Alan sudah di ambil janjinya untuk tidak mengunakan senjata api.
Pertarungan berjalan sengit. Rupanya Elang tidak selemah kelihatannya. Dia cukup tangguh sampai-sampai tubuh keduanya berbalut darah.
Di tengah ketidaksadarannya, Nay bisa mendengar suara pukulan dan hantaman.
Di mana aku?
Mata Nay menyipit, melirik ke Alan dan puluhan orang yang berjajar. Tatapan mereka fokus pada satu obyek, yaitu Kai dan Elang yang tengah saling membunuh.
Nyeri. Tentu saja seluruh wajahnya terasa begitu. Tapi itu tidaklah berarti daripada kepanikan yang di rasakan kini.
Fokus anak buah Alan yang teralihkan, membuat mereka melupakan satu sosok yaitu Caca. Nay melihatnya tengah menodongkan senjata ke arah Kai yang akan melakukan penghabisan.
Dengan setitik keraguan, Nay mengambil senjata milik Alan yang terselip di pinggang lalu membidik Caca.
"Menunduk!!!" Teriaknya sebelum peluru melesat ke arah Caca. Duuuuupppppp!!!
Beruntung Kai terlatih peka sehingga tembakan asal-asalan itu bisa menembus rongga dada Caca yang seketika terkapar.
__ADS_1
Bugh!!!!
Pukulan terakhir berhasil Kai hadiahkan. Dia berdiri lalu menginjak kepala Elang untuk memastikan kematiannya. Salah satu anak buah Alan maju dengan membawa jirigen berisi bensin. Tubuh Elang di guyur lalu pematik di nyalakan dan api menjalar cepat. Melahap tubuh Elang yang sudah tidak bergerak.
Kepuasan tersendiri berhasil Kai dapatkan. Ada perasaan lega saat Elang terbunuh di tangannya.
"Maaf." Gumam Nay mulai terisak. Dia tidak percaya sudah membunuh sahabat karibnya sendiri.
"Kita pulang. Maaf sudah menjadikan mu bahan untuk menjebak." Kai mengangkat tubuh Nay tanpa melihat ke wajah lebamnya. Sungguh dia merasa tidak tega bahkan mengutuk dirinya sendiri atas kesakitan yang harus Nay rasakan.
"Tunggu Mas. Bawa aku ke Caca." Terlihat Caca masih bernafas meski nyawanya berada di ambang batas.
"Sahabat itu tidak pernah ada. Kita berikan uang juga penghargaan, maka orang di sekitar kita akan tunduk."
Kali ini Kai tidak menuruti permintaan Nay. Dia berjalan ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
Alan tersenyum seraya menepuk pundak satu persatu anak buahnya sebagai ucapan terimakasih. Dia berjalan menghampiri Caca yang hampir mati.
"Seharusnya kau meminta bantuan Tuan ku."
"O o orang tuaku." Tanya Caca terbata.
"Mayatnya ada di ruangan sebelah. Sepertinya mereka sengaja di racun." Jawab Alan santai.
Terlambat untuk mempercayai ucapan Nay. Caca telah memilih seseorang yang salah hanya karena sebuah harapan semu.
"Tolong.."
"Hm baik. Ku permudah jalan kematian mu." Alan membidik kepala Caca sampai hancur. Seluruh isi otaknya berhamburan keluar." Penghianat tidak perlu di berikan pertolongan." Imbuhnya tersenyum dan mengisyaratkan anak buahnya untuk membakar jasad Caca.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Tuan. Wajah Nona baik-baik saja juga janin yang ada di perutnya." Ujar dokter menjelaskan.
Nay tersenyum namun tidak untuk Kai yang tentu saja merasa kaget. Dia mengira jika janin di rahim Nay sudah gugur. Senyuman yang di perlihatkan Dokter kepercayaannya membuat Kai mencium sebuah persekutuan.
"Tapi wajah ini dari hasil operasi Dok." Tanya Nay memastikan. Dia sedikit takut wajahnya berubah buruk.
"Sepertinya kulit Nona merespon dengan baik. Tidak ada masalah apapun. Lebam itu akan hilang dalam beberapa hari."
"Apa maksud dari penjelasan soal janin?" Sahut Kai menimpali.
"Saya tidak berhak menjelaskan Tuan. Saya melakukan itu atas permintaan Nona. Setelah hasil pemeriksaan keluar, Nona boleh di bawa pulang. Permisi."
Dokter berjalan keluar, Kai duduk di kursi kayu sambil memberanikan diri menatap wajah lebam Nay.
"Permintaan apa? Katakan?" Tanyanya pelan.
__ADS_1
"Benih mu masih ada di perut ku."
"Malam itu kamu pendarahan? Bagaimana mungkin?"
"Sudah ku katakan Mas. Rahim ku tidak bermasalah. Dia bisa menjaga janin ini dengan sangat baik. Memang aku mengalami pendarahan hari itu. Tapi dia masih tinggal dan bertahan di sana." Nay mengusap perutnya yang rata.
"Kenapa kamu membohongi ku?"
"Mendapatkan perhatian darimu sangatlah sulit. Aku meminta bantuan Dokter dan sedikit berbohong. Bukankah cara itu ampuh." Kai menghela nafas panjang seraya tersenyum. Kenyataan soal benih nya menambah kebahagiaan setelah kepuasan yang di dapatkan dari terbunuhnya Elang.
"Jangan ulangi lagi. Aku tidak suka di bohongi."
"Untuk kebaikan tidak masalah."
"Tetap saja jangan ulangi lagi."
"Ya baik."
"Hm. Maaf sudah mengumpankan mu." Ucap Kai untuk kesekian kalinya.
"Aku sudah bilang tidak apa."
"Dia melukai mu?" Ujarnya tertahan. Sungguh Kai tidak rela melihat lebam cukup serius di wajah Nay.
"Tidak sakit."
"Mana mungkin."
"Bagaimana nasib orang tua Caca Mas? Apa mereka baik-baik saja?"
"Ada mayat mereka di ruangan lain." Nay menghela nafas panjang. Tebakannya ternyata benar.
"Aku tidak percaya sudah membunuh seseorang."
"Kamu menyelamatkan ku Baby." Padahal aku memakai baju anti peluru. Tapi aku senang. Menjadi Istri ku memang harus pemberani. "Apa jadinya kalau peluru itu menembus dadaku. Sudahlah, sebaiknya kamu beristirahat." Imbuhnya pelan.
"Kamu mau pergi?"
"Tidak. Aku tetap di sini."
"Maaf Mas. Rasanya sedikit melelahkan." Nay mengecup punggung tangan Kai sebelum akhirnya memejamkan mata. Apa yang terjadi hari ini sangat menguras fikirannya juga tenaga.
Walaupun bibir berkata tidak sakit. Tapi hantaman tangan Elang cukup membuat seluruh tubuhnya terasa nyeri.
Aku tahu ini baru awal Mas. Kehidupan ku benar-benar berubah.
__ADS_1
🌹🌹🌹