
Kai yang merasa tidak sabar, bergegas melakukan pertemuan dengan Alex. Dia merencanakan itu tanpa di ketahui oleh Nay.
Pengawalan ketat terlihat tidak Kai terapkan. Dia yakin jika apa yang Alex lakukan semata-mata karena perasaan dengki. Kai bahkan menebak jika sebenarnya Alex tidak bisa berfikir jerni apalagi merencanakan hal buruk dengan benar.
Di tempat yang sudah di janjikan. Keduanya duduk saling berhadapan. Alex tengah memasang wajah masam namun tidak berani mengambil langkah, sementara Kai sendiri lebih memperlihatkan mimik wajah tenang.
"Kembalikan perusahaan ku Kak." Tanya Alex masih saja memanggilnya begitu.
"Di mana Pak Abraham dan Istrinya." Jawab Kai balik bertanya.
"Mereka tidak ikut. Aku sudah menjelaskannya padamu." Tak! Kai melemparkan tumpukan foto dengan kasar.
"Tidak ada. Kau berbohong. Aku sudah menyuruh orang menyisir lokasi tempat tinggal mu." Alex tertawa renyah sambil sesekali menepuk-nepuk meja marmer di hadapannya.
Kai memperhatikan dari tempat duduknya. Dia membaca keganjilan dari tertawaan yang di tunjukkan Alex padanya.
"Sungguh aku ingin menjadi seperti mu Kak. Kenapa kamu bisa tahu mereka tidak ada di sana." Hembusan nafas panjang lolos dari rongga hidung Kai. Anak yang selama ini di kenalnya ramah mulai menunjukkan gelagat aneh. Terdengar jelas di selah tertawaan ada sebuah tangisan.
"Di mana mereka?"
"Aku menjahit mulutnya agar mereka tidak bisa menyebut namamu." Kekhawatiran yang di rasakan Nay terjawab sudah. Alex memang membutuhkan perawatan akibat obsesinya yang berlebihan pada sosok Kai.
"Kau tertawa? Berarti kau bangga melakukannya?"
"Tentu saja Kak. Dengan begitu mereka akan diam untuk selamanya. Mulut mereka selalu saja berisik!" Kai menghela nafas panjang lagi dan lagi.
"Aku akan menjaga perusahaan mu sampai otakmu benar-benar pulih. Setelah kau sembuh, aku berjanji akan mengembalikannya." Alan yang berdiri di samping Kai, tidak menyangka harus mendengar jawaban tersebut.
"Aku tidak sakit Kak." Kai tidak menjawab dan malah membisikkan sesuatu ke telinga Alan.
"Tuan yakin?" Tanya Alan berbisik.
"Tidak terlalu berbahaya. Dia hanya sedikit tidak waras. Mungkin setelah perawatan yang maksimal akan membuatnya sembuh."
"Mereka sudah pernah membawanya Tuan."
"Aku berjanji ini opsi terakhir. Aku masih sangat menghormati Almarhum. Dan lagi, aku berharap dia bisa mengatakan di mana jasad kedua orang tuanya."
Tidak ada yang bisa Alan lakukan kecuali patuh. Segera saja dia menelfon pihak rumah sakit jiwa terbaik agar Alex bisa segera mendapatkan perawatan.
Sementara yang ada di fikiran Kai. Memang benar jika Alex terlalu terobsesi padanya. Tapi rencana jahatnya bukan ancaman besar baginya. Menurutnya, Alex tidak mungkin mampu berbuat nekad dan hanya mampu merencanakan niat tanpa ada pertimbangan matang.
.
.
.
.
Sepulangnya dari pertemuan, Kai di sambut rentetan pertanyaan dari Nay. Tidak adanya jawaban membuat Nay terus saja mengekor kemanapun Kai pergi.
"Mas? Kenapa kamu diam?" Tanya Nay untuk kesekian kali. Menatap tajam ke arah Kai yang tengah berganti baju.
__ADS_1
"Hanya ada urusan sedikit tadi. Kenapa kamu tidak beristirahat? Biasanya jam segini kamu tidur."
"Urusan apa Mas." Masih saja Nay ingin tahu walaupun Kai berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ibu hamil di larang emosi. Ku temani tidur bagaimana?" Kai memperlihatkan senyum manis yang hanya di tunjukkan pada Nay juga orang terdekatnya.
"Katakan dulu kemana kamu pergi?"
"Kita tidur oke." Kai merangkul kedua pundak Nay yang langsung di tolak dengan kasar.
"Kai!!!" Teriak Nay geram. Kai sontak terkekeh sebab panggilan tersebut selalu terlontar ketika Nay berada di ujung kekesalan.
"Aku bertemu Alex lalu memasukkannya ke rumah sakit jiwa." Jawab Kai cepat. Aneh? Kerena Nay langsung percaya. Itu terlihat dari mimik wajah yang di tunjukkan sekarang.
"Kenapa aku tidak di ajak Mas?"
"Psikologi Ibu hamil sangat sensitif. Aku tidak ingin kamu ikut memikirkannya."
"Aku belum beraksi." Kai tersenyum seraya menghela nafas lembut.
"Beraksi apa?"
"Ya entahlah. Aku ingin menyelesaikannya sendiri."
"Sangat boleh tapi setelah melahirkan." Kenapa dia malah mirip seperti ku? Apa Istriku sedang berpura-pura? Biasanya Ibu hamil mengidam makanan yang aneh-aneh. Tapi dia...
Kai sama sekali tidak merasa keberatan melihat perubahan sikap Nay yang cenderung arogan. Meski sejak awal Nay bukan wanita lemah, tapi sikap lembut nan hangat selalu di suguhkan. Sementara semenjak janin tumbuh, Nay berubah menjadi wanita yang tidak sabaran. Sering berteriak-teriak dan bahkan mengumpatnya dengan sangat buruk.
"Janji ya Mas."
Tanpa sadar Kai kembali tersenyum. Dia berharap calon anaknya akan menjadi anak yang kuat dan tidak mudah di tindas.
Sementara di rumah sakit jiwa. Alex meronta-ronta ingin keluar sampai membuat pihak rumah sakit kewalahan. Wajahnya berubah merah padam dengan bola mata hampir keluar. Membutuhkan lima pegawai rumah sakit jiwa berbadan besar untuk memasukkan Alex ke dalam ruang perawatan.
"Lebih baik menangani orang gila sungguhan daripada orang gila yang mengaku waras. Astaga dia mencakar ku." Eluh salah satu pegawai sambil menatap Alex yang tengah memandanginya dari balik lubang pintu.
"Sudahlah, namanya juga orang gila. Itu resiko perkerjaan kita."
"Ya mau bagaimana lagi. Aku pulang duluan ya. Ingat! Kalau dia masih arogan dan tidak mau di atur, jangan sekali-kali masuk ke dalam. Berikan makanan dan minuman lewat lubang pintu bawah."
"Iya aku tahu."
"Hm ya sudah." Setelah menepuk pundaknya sejenak, si lelaki meninggalkan kedua temannya yang mendapatkan shift malam hari itu.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian...
__ADS_1
Salah satu dari pegawai rumah sakit jiwa berkeliling untuk memeriksa setiap ruangan yang mungkin belum terkunci. Setelah menyapa Dokter jaga di depan, pegawai rumah sakit itu masuk ke area isolasi.
Area isolasi di sebut terlarang, hanya pegawai rumah sakit yang dapat masuk sebab di sana terdapat pasien dengan gangguan jiwa sangat parah.
Selayaknya Alex. Para pasien ruang isolasi rata-rata bersikap selayaknya orang waras. Mereka bisa berkomunikasi dengan baik meski sebenarnya otaknya terganggu.
Ketika pegawai rumah sakit mengintip dari kaca pintu ruangan. Terlihat Alex terkapar di lantai seakan pingsan.
Cepat-cepat si pegawai berlari ke arah Dokter jaga untuk mengajaknya memeriksa keadaan Alex.
"Mungkin saja kamu salah lihat."
"Tidak Pak. Saya yakin dia pingsan."
"Pasien baru itu?" Tanyanya seraya berjalan setengah berlari.
"Iya."
Setibanya di lokasi, segera saja pintu terbuka. Dokter sempat berdiri di ambang pintu beberapa menit sebab takut jika kejadian itu hanyalah tipuan.
"Hei bangun. Apa kamu sedang tidur?" Tanya Dokter setengah berteriak. Dia menoleh ke arah si pegawai rumah sakit seakan meminta pendapat.
"Apa perlu saya panggilkan teman saya Pak?"
"Tidak perlu. Kita pindahkan saja ke ranjang, biar saya periksa."
Keduanya berjalan mendekat lalu mengangkat tubuh Alex dan meletakkannya di atas ranjang. Tepat di saat Dokter akan menempelkan stetoskopnya, manik Alex terbuka sambil memperlihatkan senyum simpul.
Belum sempat Dokter bertanya, rasa perih menjalar pada perut bagian bawah. Alex menancapkan serpihan kaca yang di dapatkannya dari sebuah cermin. Seharusnya mereka lebih teliti dan melihat jika cermin telah pecah, serpihannya bahkan tercecer di lantai.
"Aaaaaghhhhhh.." Eluh Dokter meringis kesakitan. Si pegawai rumah sakit tidak menyangka kejadian tersebut dan malah bertanya pada si Dokter.
"Darah siapa itu Dok?" Tanyanya terbata. Ketika Alex duduk di sisi ranjang, sontak manik si pegawai membulat dengan bibir terbuka.
"Ce cepat panggil bantuan." Pinta Dokter terbata.
Segera saja si pegawai berlari keluar sementara Dokter berusaha merajuk Alex meski perutnya terasa perih.
"Tolong letakkan benda itu. Anda akan di rawat dengan baik di sini." Rayu si Dokter seraya berjalan mundur.
"Aku tidak sakit! Untuk apa kalian mengurung ku!" Teriak Alex dengan mata memerah.
"Kita bicarakan ini baik-baik. Kami tidak berniat jahat." Dokter berusaha mengulur waktu. Dia yakin akan bisa menenangkan Alex sebab dia sudah terlatih melakukannya. Tangan kanannya merogoh saku yang terdapat obat penenang.
"Benarkah?" Jawab Alex seakan percaya.
"Hm benar." Kini si Dokter menghentikan langkah kakinya dan berniat maju." Mari duduk di sana." Menunjuk ke kursi kayu.
Namun ketika keduanya akan mencapai kursi kayu, dengan teganya Alex kembali menusuk-nusuk perut samping si Dokter sampai isi perutnya hampir keluar.
Senyum Alex terlihat bengis apalagi tangan dan wajahnya penuh dengan noda darah. Si Dokter terkapar tidak berdaya sementara Alex berlari ke luar dan berpapasan dengan dua pegawai rumah sakit.
"Diam di tempat!!!" Teriak si pegawai lantang. Manik Alex fokus pada senjata api yang tengah di todongkan ke arahnya. Dia tersenyum lalu mengangkat kedua tangannya sehingga otomatis serpihan kaca terlepas.
__ADS_1
Ketika dua pegawai akan meringkus, dengan gerakan cepat dia merebut senjata api dan menghabisi nyawa kedua pegawai tersebut. Setelah keduanya tewas, Alex mengambil kunci yang ada di dalam kantong saku lalu berjalan santai seraya bersenandung lirih.
🌹🌹🌹