
Kai mengurungkan niatnya mendekat ketika dia melihat Nay mengiring Caca duduk. Dia memantau dari jarak aman bersama beberapa anak buahnya yang tersebar.
Emosinya terasa meluap-luap sebab belum apa-apa Nay sudah melanggar perjanjian. Namun tentu dia tidak ingin berbuat gegabah apalagi saat ini Nay berada di sekeliling orang banyak.
"Kamu bercanda." Jawab Caca menatap ragu. Dia menjelajahi setiap inci paras Nay yang jauh lebih cantik dan terlihat seperti orang lain.
"Bagaimana ya." Nay berusaha mengingat momen yang bisa menyakinkan Caca." Kamu ingat saat aku menolak di panggil Sisil? Itu karena namanya sama dengan wanita yang memiliki gangguan mental." Kata-kata tersebut sontak membuat mata Alan melebar. Dia yang berada cukup dekat dari lokasi tentu bisa mendengar jelas obrolan tersebut.
Ah mustahil? Sisil? Tuan Kai menyuruh ku mencari Sisil. Terus Nona Nay berkata dia sempat pernah di panggil Sisil? Apa ini hanya kebetulan?
Semua nama Sisil yang di tunjukkan pada Kai, tidak sesuai dengan apa yang Kai cari. Dari segi umur juga tempatnya bersekolah sehingga sampai saat ini pencarian itu masih berlangsung.
"Tidak mungkin." Caca menghela nafas berat. Rasa sesak seketika menjalar sebab hanya beberapa orang yang tahu alasan kenapa Nay memilih mengganti nama panggilannya. Dia terharu sebab sahabat satu-satunya baik-baik saja.
"Ini aku Naysila. Nay juga Sisil." Jawab Nay pelan.
"Kenapa bisa?"
"Semua terjadi begitu cepat. Wajah ini palsu. Ada seseorang yang membiayai operasi plastik untuk memperbaiki kulit rusak ku." Hati Caca semakin yakin jika sosok di hadapannya adalah Nay.
"Astaga. Ku fikir kita tidak akan bertemu." Caca menyerbu Nay dengan pelukan erat." Maafkan aku Nay. Seharusnya aku langsung pulang untuk menemui mu ketika kecelakaan itu terjadi." Nay juga merasakan sesak pada dadanya sehingga tanpa sadar air matanya jatuh.
"Ini bukan salahmu. Ini sudah takdir. Aku hanya menyesal kenapa Tuhan harus mengambil Nia bukan aku." Masih saja Nay berharap demikian. Setidaknya jika dia meninggal dunia, pernikahannya dengan Hendra akan tetap terjalin meski Hendra berbahagia bersama orang lain.
"Sahabat seharusnya ada ketika kamu membutuhkan." Nay melepaskan pelukan lalu tersenyum simpul.
"Kehidupan harus tetap berjalan setelah ini."
"Apa yang kamu lakukan di restoran itu?" Tanya Caca ingin tahu.
"Mengikuti Mas Hendra dan berharap semuanya bisa kembali."
"Jangan bodoh kamu Nay!" Caca satu-satunya orang yang mengetahui bagaimana tidak pedulinya Hendra pada Nay paskah kecelakaan." Aku menyesal sudah mengembalikan barang-barang milik mu pada Hendra. Seharusnya aku memakainya untuk melanjutkan kasus pencarian mu." Caca tidak berani menyentuh uang serta perhiasan yang di ambil dari kontrakan. Dia tidak memiliki hak atas itu semua.
"Ya. Mas Hendra sudah jauh berubah. Aku bahkan tidak mengenalinya." Terbesit sesal ketika sebuah niat untuk kembali melintas." Bukan hanya di duakan, tapi aku di tiga kan." Imbuhnya pelan.
__ADS_1
"Dia bukan Suami mu lagi. Kamu harus melanjutkan hidup." Nay kembali tersenyum, kehidupannya tidak bisa kembali seperti dulu. Kini hidupnya berada di naungan Kai.
"Apa rumahmu tetap di sana?" Tanya Nay mengalihkan pembicaraan. Dia sudah melangkah terlalu jauh dari peraturan perjanjian.
"Ya masih di sana. Sekarang aku berkerja di salah satu Plaza."
"Pinjam ponsel mu." Caca mengambil ponselnya dan memberikan pada Nay." Aku harus pergi. Ini kontak baru ku." Imbuhnya mengembalikan ponsel.
"Setidaknya kita makan siang bersama."
"Lain kali ku jelaskan."
"Ya sudah. Sampai berjumpa lagi."
Sejenak keduanya berpelukan sebelum Nay berjalan menyusuri jalan setapak di taman tersebut. Fikirannya kini tidak berarah sebab perjuangan untuk mendapatkan kecantikan tidak bermanfaat.
Segitunya kamu tidak menginginkan ku Mas. Apa kamu lupa bagaimana hangatnya hubungan kita dulu? Penuh cinta meski kamu hanya bisa memberikan kesederhanaan. Aku menerimamu apa adanya tapi kenapa ketulusan itu menghilang hanya karena harta dan tahta.
Nay terpekik kaget ketika tiba-tiba dia di seret paksa untuk masuk mobil. Matanya melebar saat melihat Kai duduk di sampingnya dengan wajah geram.
"Hm maaf." Jawab Nay pelan.
"Hanya maaf!!"
"Aku terbawa suasana dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Benar kata Tuan Kai. Lelaki itu harus ku buat bertekuk lutut lalu ku hempaskan seperti sampah. Maaf sayang. Mama tidak bisa hidup dengan orang yang kamu sebut Ayah. Mama tidak mau di campakkan untuk kedua kalinya.
"Tidak! Misi mu cukup sampai di sini!!" Nay menoleh cepat." Aku sudah memesan obat penggugur kandungan agar setelah ini kau bisa bebas!!" Perasaan aneh dan amarah yang bercampur aduk membuat otak Kai terasa mendidih hingga harus memikirkan keburukan tersebut.
Wanita ini hanya membuatku semakin tidak waras saja! Belum apa-apa dia sudah banyak melakukan kesalahan!!
Sementara Alan, terpaksa harus pergi setelah mendapatkan laporan anak buahnya yang tertangkap aparat kepolisian. Mereka membegal warga sekitar sampai-sampai meregang nyawa.
Aku akan memberitahuTuan nanti saja..
Ponsel Alan yang mendadak mati, membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Apalagi dia bisa terkena dampak dari keteledoran anak buahnya jika tidak bergegas turun tangan.
__ADS_1
Setibanya di kantor polisi, Alan keluar dari mobil dengan penampilan berbeda. Dia terlihat lebih tua dari umur sebenarnya.
Kedatangannya di sambut seorang polisi. Dia menanyakan perihal keperluan.
"Saya Bisma. Kakak dari tersangka begal." Jawab Alan ramah.
"Mari ikut saya."
Alan mengikuti kemana polisi membawanya. Setibanya di sebuah ruangan interogasi, terlihat kedua anak buahnya meringkuk dengan kostum tahanan.
Keduanya menegakkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Alan. Mereka mengira jika Alan akan mengeluarkannya dari penjara namun tentu saja tidak. Hal itu akan membuat Kai semakin marah padanya.
"Bisakah saya berbicara dengan mereka sebentar?" Tanya Alan sopan.
"Hanya 5 menit."
"Hm. Terimakasih Pak."
Setelah aman, Alan duduk berjongkok seraya menghela nafas panjang.
"Tolong kami...."
"Ssssyyyuuuuuuuuuuttttttttt." Sahut Alan mengisyaratkan keduanya diam." Kenapa melakukan itu?" Tanya Alan pelan.
"Dia melawan dan kami terpaksa melukainya."
"Kalian tahu jika ini pelanggaran. Tidak ada gunanya kalian keluar sebab Tuan akan tetap menghukum kalian." Keduanya saling melihat sambil tertunduk lesu. Mereka merasa menyesal sudah terlalu kalap dan terbawa suasana. "Aku menjamin keluarga kalian. Anggap ini sebagai penebusan dosa sebab kalian sudah melakukan kesalahan." Imbuhnya.
"Tapi Bos." Alan kembali memberi isyarat pada kedua anak buahnya.
"Ini bukan pilihan, ini keputusan ku."
Terpaksa, mereka mengangguk patuh walaupun ingin bebas. Setelah Alan di mintai beberapa keterangan, dia terlihat berjalan keluar dan berniat menuju rumah si korban untuk memberikan kompensasi dana.
🌹🌹🌹
__ADS_1