Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 37


__ADS_3

Perasaan Kai tengah berperang. Jika dia mengabulkan permintaan Nay, mungkin saja permintaan yang lain harus dia kabulkan. Tapi jika Kai teguh pada pendiriannya, Nay akan menyebutnya sebagai monster.


Kai tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti sekarang. Dia fikir Nay mudah di tundukkan dan menuruti semua permintaannya mengingat beberapa kekejaman sudah di tunjukkan.


Tapi Kai kembali salah menerka. Wanita yang di sukai tidak selemah dan selugu perkiraannya. Nay tidak mudah di tindas padahal kala itu Kai menilai Nay sebagai gadis cantik nan manja.


Setelah sadar dari lamunannya, Kai berjalan mengikuti Nay yang sudah berada jauh di depannya. Pekarangan yang luas tentu menghalangi Nay untuk sampai ke gerbang keluar.


"Tunggu! Kau mau keluar dengan baju itu!!" Teriak Kai berusaha menyusul. Nay menunduk, memperhatikan dress sederhana yang di pakai.


Apa yang salah dengan baju ini?


Memang tidak ada yang salah. Tapi baju yang di pakai Nay begitu pendek sementara angin sore itu cukup kencang.


Nay mempercepat langkahnya namun kaki panjang Kai membuatnya bisa dengan mudah menyusul.


"Kau ingin mempermalukan ku!" Kata-kata kasar meluncur begitu saja.


"Terserah apa katamu."


"Seharusnya kau memakai celana pendek agar apa yang ada di dalam tidak terlihat!" Nay membuang muka dan enggan menjawab. Dia baru sadar jika celana pendek belum sempat di gunakan.


Apa tadi terlihat ketika aku duduk..


Nay menatap sekitar, para penjaga lebih memilih mengalihkan pandangannya daripada tersandung masalah akibat keteledoran cara berpakaian.


"Alan sudah mengurus Ibunya sebelum kau meminta!!"


"Apa benar?" Tanya Nay antusias.


"Aku hanya dendam dengan anaknya bukan Ibunya! Alan sudah membawanya ke rumah sakit." Sungguh Nay tidak menyangka dengan apa yang di dengar. Dia sempat berfikir jika Kai lelaki yang tidak tahu bagaimana caranya menghormati orang tua." Kondisinya memprihatinkan." Senyum Nay terlihat membingkai sehingga sontak Kai memalingkan wajahnya untuk tersenyum sejenak.


"Kenapa tidak bilang?"


"Untuk memberi pelajaran pada Erik! Menurutmu apa!!"


"Kak Erik orang baik." Jawab Nay seraya berjalan.


"Aku tidak dengar." Kai berjalan tepat di samping nya.


"Dia juga pintar. Mungkin kamu bisa merekrutnya jadi pengganti Pak Han." Sontak Kai menoleh seraya terkekeh renyah.


"Keinginan apalagi? Jangan berharap aku mengabulkannya. Dia akan menjadi tawanan ku sampai ajal menjemput nya. Nyawanya milikku!"


"Kau memang monster. Tapi aku yakin kau akan percaya suatu saat nanti. Dulu waktu masih duduk di bangku SMA. Kak Erik sering membantu perkerjaan Ayahnya yang sakit-sakitan."

__ADS_1


Saat Erik membantu Nay mengerjakan tugas sekolah. Erik sering bercerita soal keseharian termasuk membantu sang Ayah memasukan data penting ke dalam laptop atau menyusun bahan presentasi.


"Meski kau sebut aku Iblis, terserah. Aku tidak mungkin sembarangan mengambil keputusan." Tentu saja Kai berkata demikian sebab perusahaan Xu grup tidak bisa di kelola sembarangan orang.


"Hm." Nay mengangguk-angguk." Aku hanya malas bertemu Mas Hendra sementara kau menyuruhku menemanimu." Tidak dapat di pungkiri jika Nay sudah jijik melihat mantan Suaminya tersebut.


"Kau tidak tahu apa-apa jadi kau asal bicara. Sangat tidak mungkin aku memperkejakan orang yang sudah merusak masa mudaku." Jawab Kai lirih.


Nay mempercepat langkahnya menuju ruang tamu. Bersyukur sebab Erik masih ada di sana. Dengan posisi berdiri dia ingin membicarakan sesuatu yang mungkin bisa merubah keputusan Kai.


"Dia akan mengobati penyembuhan Ibumu kalau kamu mau berkerja dengannya." Menunjuk ke Kai yang baru saja datang.


"A apa benar begitu?"


"Aku jamin." Dengan percaya diri Nay berkata demikian." Sebelumnya kamu berkerja di mana Kak?" Meski membuang muka, Kai cukup tertarik dengan ide Nay. Jujur saja jika dia merasa khawatir kalau Nay terlalu sering berkeliaran di luar.


"Em itu."


"Pasti perusahaan Elang kan!" Tebak Kai tersenyum mengejek.


"Bukan."


"Bukankah Ayahmu berkerja di sana!" Tanya Kai kasar seraya menunjuk wajah Erik.


"Kenapa kau menolak?"


"Ada sepucuk surat wasiat yang di tujukan untuk ku. Beliau bilang aku tidak boleh masuk ke lubang yang sama." Kai menghela nafas panjang. Meski cerita Erik sangat menyakinkan tapi dirinya tidak boleh asal percaya.


"Buku hariannya masih kau simpan?"


"Masih. Lengkap dengan suratnya."


"Bisa kau tunjukkan padaku?"


"Ada di rumah."


"Oke. Alan akan mengantarkan mu pulang untuk mengambilnya. Jika kau butuh biaya untuk pengobatan, itu hal yang mudah. Aku bisa memberikan hidup yang melebihi dari kata layak."


"Terimakasih Kai."


"Panggil aku Tuan!"


"Maaf Tuan." Ada sesuatu yang terlepas begitu saja. Seakan anak yang di perlakukan buruk memberikan secercah cahaya pada kehidupan Erik yang gelap akibat ancaman Elang.


"Itu semua tidak gratis."

__ADS_1


"Saya tidak memiliki harta."


"Bayar dengan kesetiaan mu. Walaupun nantinya kau akan mati karena menjaga kesetiaan. Aku masih tetap menjamin kehidupan Ibumu." Erik tersenyum meski lebam pada tubuhnya terasa nyeri. Sudah satu tahun terakhir sejak kematian keluarga kecilnya. Ibu menjadi satu-satunya orang terpenting untuknya.


"Saya siap Tuan."


"Hm. Sebaiknya kau beristirahat sambil menunggu Alan datang. Setelah aku mendapatkan buku harian itu. Alan akan memberikan surat kontrak perjanjian yang wajib kau patuhi."


"Baik Tuan."


"Antar dia ke bawah."


"Siap Tuan."


Erik sempat melemparkan senyuman pada Nay sebagai ucapan terimakasih. Dia tidak menyangka bisa keluar dan di berikan kesempatan untuk membahagiakan Ibunya.


"Sudah. Apa kau bahagia?" Tutur Kai tidak sepenuhnya bertanya.


"Ya. Setidaknya anak yang ku kandung benar-benar keturunan manusia." Setelah menjawab, Nay berjalan menaiki tangga sementara Kai duduk lemah di sofa.


"Katakan. Apa semua wanita seperti itu." Tanyanya pada beberapa anak buah yang berjajar di sekitarnya.


"Wanita penuh dengan teka teki Tuan."


"Apa mereka juga tidak mau kalah?" Kai sungguh tidak memahami dan apa yang di lakukan untuk Nay tadi hanyalah refleks. Dia tidak ingin lagi kehilangan Sisil.


"Sepertinya begitu Tuan."


"Ah ini melelahkan. Kenapa dia tidak jadi penurut saja!!" Umpat Kai merasa keberatan namun tidak ingin mengecewakan.


"Mungkin Nona belum memiliki rasa. Em wanita bisa jadi penurut dengan kesetiaan tingkat dewa jika dia merasa nyaman lahir dan batin." Kai menegakkan posisi duduknya lalu menatap ke arah ajudan yang sejak tadi menjawab pertanyaannya.


"Kau tahu darimana?"


"Istri saya. Em sulit sekali meluluhkan hatinya tapi saat berhasil, dia jadi Ibu yang sangat baik untuk keempat anak saya." Kai yang antusias langsung berjalan mendekat ke arah si ajudan.


"Aku ada beberapa pertanyaan yang wajib kau jawab. Ikut aku ke kolam renang."


"Baik Tuan."


Kai berjalan menuju belakang di ikuti oleh si ajudan. Tanpa dia sadari, Nay memperhatikannya dari lantai dua. Dia berniat kembali untuk meminta bantuan membuka pintu kamar. Tapi niat tersebut membuatnya tidak sengaja mendengar kebenaran soal Kai.


Dia tidak sedang berpura-pura? Apa wanita incaran yang di maksud adalah aku atau orang lain? Sebaiknya ku buatkan makanan manis untuk ucapan terimakasih.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2