
Dengan gilanya Nay menyelinap masuk ke dalam kamar mandi saat Kai sibuk mengusap tubuhnya menggunakan sabun. Sungguh beruntung sebab pintu kamar mandi tidak di lengkapi kunci manual maupun kata sandi.
Nay melepaskan dress-nya lalu berjalan menghampiri ruangan berdinding kaca. Terlihat Kai menikmati acara mandinya sebelum Nay menerobos masuk seraya memasang senyuman.
"Aaaaaaaaaagggghhhhh!!!" Teriak Kai cepat-cepat mengambil handuk dan melilitkannya ke pinggang. Tubuhnya berbalik padahal saat itu Nay masih memakai bra dan celana dallam." Keluar!! Kenapa kau di sini!!" Kai mengucapkannya dalam posisi membelakangi.
"Ini di kamar Mas. Jadi tidak masalah melakukan training."
"Training sialan!!! Aku tidak menyangka kalau kau sedikit tidak waras!!" Umpatan tersebut terlontar begitu saja sebab Kai merasa sangat panik.
"Nanti kalau sudah tahu rasanya kamu akan memintanya padaku." Nay berjalan mendekat sehingga cepat-cepat Kai menunjuk dengan posisi membelakangi.
"Tetap di situ! Jangan bergerak!" Pintanya berteriak.
Namun Nay tidak berhenti dan malah menempelkan dadanya ke punggung Kai yang sontak terkejut lalu memutar tubuhnya.
Rasanya Kai berhenti bernafas karena perbuatannya semakin membuat keadaan semakin memburuk. Kini Nay berada tepat di hadapannya, sedang tersenyum dan mulai melingkarkan kedua tangannya ke leher.
"Aaaaaaaaaagggghhhhh tidak!!!" Teriak Kai lagi. Cepat-cepat dia mendorong tubuh Nay sampai terduduk di lantai yang basah. Kai berniat pergi, tapi suara erangan kesakitan membuatnya mengurungkan niat.
"Aduh Mas perut ku." Nay merintih kesakitan sambil memegangi perut.
Apa dia menipu ku?
"Mas tolong.. Ada darah.."
Kai berbalik badan lalu berjalan kembali dan melihat genangan air berwarna merah. Wajahnya seketika panik, apalagi Nay tergeletak tidak sadarkan diri.
"Jangan bercanda." Ucap Kai berjongkok lalu menggoyang-goyang tubuh Nay." Hei Nay bangun!!" Teriaknya memastikan namun Nay tidak bergeming.
.
.
.
.
.
"Terjadi benturan cukup keras pada bagian bawah tubuhnya. Sehingga janin di rahimnya terlepas dan menimbulkan pendarahan hebat." Ujar dokter menjelaskan.
Kai melirik ke arah Nay yang belum sadarkan diri setelah menjalani kuret untuk membersihkan rahimnya. Terbesit rasa sesal di hati sebab dirinya harus kehilangan calon anaknya.
"Apa masih bisa hamil lagi Dok?"
"Tentu saja bisa Pak. Saya lihat rahim Nona Naysila tidak bermasalah. Setelah Nona sadar, dia akan di pindahkan ke ruang perawatan. Permisi." Dokter keluar ruangan sementara Kai berjalan menghampiri Nay. Dia berdiri mematung memandangi Nay berlama-lama.
Maaf. Aku tidak sengaja melakukannya..
"Seharusnya dia tidak melakukan itu." Kai duduk di sebuah kursi sambil menunggu Nay sadar.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Setelah mengantar Erik mengunjungi Ibunya. Alan datang ke Plaza di mana Caca berkerja. Salah satu anak buahnya melaporkan keganjilan yang di lihat dari sosok Roy.
Setibanya di sana, segera saja anak buah Alan masuk ke dalam mobil. Tentu saja Elang sulit mengenalinya sebab anak buah Alan merupakan salah satu pegawai yang cukup berpengaruh di sana.
"Lihat Bos." Ujarnya menunjuk ke arah Elang yang tengah menunggu kedatangan Caca di Cafe." Postur tubuh mereka sama begitupun wajahnya. Perbedaan hanya terletak pada kumisnya." Alan memperhatikan dengan seksama tanpa melihat ke arah foto Elang. Wajah itu sudah di kenalinya sejak lama.
"Tapi dia berkulit coklat, sementara Elang berkulit putih."
"Ada banyak produk waterproof yang bisa di jadikan untuk merubah warna kulit. Itu hal yang mudah." Alan mengangguk-angguk sambil terus memperhatikan.
"Kalau memang itu benar. Tolong dekati teman Nona Nay agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan." Pinta Alan pelan.
"Sebelum itu saya sudah melakukannya tapi rasanya Caca sudah terjebak dalam rayuan lelaki itu. Apalagi saya, tidak terlalu tampan." Alan tersenyum simpul.
"Sulit jika menyangkut soal hati. Aku akan membicarakannya dengan Tuan."
Alan mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Kai. Namun tidak biasanya panggilan itu tidak di respon sehingga terbesit rasa curiga. Segera saja Alan mengalihkan panggilannya ke para penjaga rumah yang sebelumnya berusaha menghubunginya.
📞📞📞
"Gawat Bos. Nona masuk rumah sakit.
"Bagaimana bisa?
"Saya tidak tahu. Tapi dia mengalami pendarahan.
📞📞📞
Alan mengakhiri panggilan dan memasukkan ponselnya ke kantung celana.
"Tolong awasi mereka. Ada urusan penting."
"Baik Bos." Si pegawai plaza keluar dan langsung saja mobil Alan meninggalkan lokasi menuju rumah sakit. Dia berjalan masuk lalu menghampiri Caca yang tengah sibuk menata tumpukan baju.
"Eh Pak Nizar." Sapa Caca tersenyum simpul. Wajahnya menegang sebab Nizar menjabat sebagai manager. Dia takut di pecat atau di keluarkan.
"Kamu pulang jam berapa nanti?"
"Jam tujuh Pak. Saya ambil sif siang terus."
"Oh." Nizar tersenyum. Dia memikirkan cara untuk mengorek informasi tentang kenapa Elang menunggunya di Cafe." Ada rencana sepulang kerja?" Apa dia tidak berkaca terlebih dahulu. Pendekatan ini rasanya ganjil. Bagaimana mungkin lelaki tampan itu menyukai Caca?
"Kenapa Pak?" Tanya Caca canggung.
"Apa harus ada alasan untuk menjawabnya?"
"Em saya ada janji dengan seseorang."
"Bagaimana jika hari ini kamu kerja lembur?" Ucap Nizar menawarkan.
__ADS_1
"Maaf Pak saya tidak bisa. Em dan lagi, ini sudah waktunya saya pulang. Besok juga saya libur selama dua hari."
"Oh begitu." Semoga saja tuduhan ku salah. Apa aku harus mendekatinya agar dia bisa terlepas dari lelaki itu?
"Permisi Pak." Caca mengangguk sejenak lalu berjalan ke belakang untuk mengambil tas dan berganti baju.
Niat Nizar terlambat. Hati Caca kini sudah terpaut bahkan menginginkan Elang. Bagaimana mungkin dia sanggup menolak pesonanya dan Caca menganggap jika kesempatan tidak akan datang dua kali.
Dengan tersipu malu, Caca menghampiri Elang yang tengah menunggunya. Sengaja dia berdandan sedikit walaupun yang terlihat tidak sesuai bayangan. Bedak tabur yang terlalu banyak Caca kenakan, malah membuat permukaan wajahnya terlihat kasar.
Elang tersenyum, ingin tertawa lepas tapi di tahan. Dia mengiring Caca masuk ke mobilnya dan langsung memiringkan tubuh. Kini posisi keduanya saling berhadapan. Perlahan Elang mengulurkan kedua tangannya lalu mengusap lembut wajah Caca untuk meratakan bedak.
"Bi biar aku Kak."
"Untuk apa memakai ini? Aku lebih suka yang natural." Hahahaha. Konyol sekali! Apa dia tidak berkaca terlebih dahulu? Kalau bukan karena Naysila, aku tidak mungkin mau menyentuh gadis buruk ini!!
"Mungkin terlalu banyak memakainya. Maaf Kak, aku tidak seberapa tahu merawat diri."
"Hm tidak apa." Meski kau rawat tetap saja wajahmu terlihat buruk!!!
Elang mulai melajukan mobilnya sambil bersenandung seakan dia menikmati pertemuan malam ini.
"Kita makan malam dulu. Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu." Ujar Elang lirih.
"Menyiapkan apa?" Tanya Caca terbata.
"Makan malam yang indah untuk hari spesial kita." Elang meraih jemari Caca lalu menggenggamnya.
Apa Kak Roy suka dengan ku? Kenapa dia bersikap seperti ini? Ya Tuhan. Tidak mungkin. Kak Roy bahkan sangat tampan. Mana mungkin dia menyukaiku?
"Kamu mau jadi kekasihku?" Sontak Caca menoleh dengan wajah tegang.
"Kakak bilang apa?"
"Aku sedang mencari calon Istri dan ku rasa kamu orang yang cocok." Tubuh Caca bergetar hebat seiring dengan detak jantung yang mulai berpacu tidak beraturan.
"Aku tidak pantas Kak."
"Untuk di jadikan Istri, cantik bukanlah prioritas. Aku hanya butuh wanita yang bisa mengerti aku dan bisa menjaga anak-anakku nanti."
Rayuan maut mulai Elang lancarkan. Sangat mudah baginya membual sebab sikap itu sudah menjadi makanannya sehari-hari.
Elang tidak bisa bertahan dengan satu wanita dan selalu berlabuh di banyak hati. Tujuannya tidak lain ingin bermain-main juga memanfaatkan ketampanannya pada wanita yang mudah di bodohi.
"Entahlah Kak. Aku bingung, ini terlalu cepat."
"Hm. Setelah ini kamu akan yakin padaku." Bingung! Cepat!! Bodoh!! Wajah buruk saja sok jual mahal!! Aku bisa membeli wanita yang jauh lebih cantik darimu!! Awas saja!! Setelah ini kau akan bertekuk lutut di hadapan ku!!
🌹🌹🌹
Minta dukungannya biar aku semangat update 🎉🎉
__ADS_1
Terimakasih 🌹🥰🤗