Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 69


__ADS_3

Selama dua hari Nay dan Kai pergi ke pulau terpencil untuk menghabiskan waktu. Hanya ada pelayan di tempat tersebut juga beberapa anak buah untuk memantau keamanan.


Baru semalam keduanya tiba di rumah. Namun pagi ini Nay harus pergi ke rumah Caca sesuai janji.


Seakan merasakan kegundahan hati Kai. Rencana itu berniat Nay batalkan. Ada perasaan mengganjal yang membuatnya tidak nyaman.


"Tidak apa. Hanya hari ini saja. Besok aku akan menjemputmu." Nay menanyakan pada Kai berulang kali, untuk memastikan persetujuan.


"Hehe entahlah Mas. Kenapa aku jadi ingin bermalas-malasan di rumah." Jawab Nay seraya menata baju miliknya.


"Kesempatan tidak datang dua kali. Jika kamu menolak, aku tidak mau memberikan waktu bersama temanmu itu."


"Terimakasih ya Mas. Aku pasti akan merindukan mu." Nay memeluk Kai setelah selesai berkemas.


"Aku juga." Jawab Kai pelan." Aku mencintaimu." Imbuhnya sambil mengeratkan pelukannya.


"Hm sama. Aku juga mencintaimu."


Sengaja Kai tidak memberitahu soal rencananya. Dia yakin Nay tidak mempercayai dugaan soal persekutuan Caca dan Elang.


Namun tetap saja. Senjata api wajib Nay bawa dengan alasan berjaga-jaga. Kai berharap Nay bisa menjadi lebih kuat daripada sebelumnya setelah berhasil melewati rencana kali ini. Tapi jika gagal, setidaknya mereka sudah mengukir momen yang indah walau sejenak.


Pengorbanan bukan hanya di rasakan pada Nay juga Kai. Ada dua orang anak buah Alan yang harus siap di bunuh untuk mengecoh Elang agar tidak curiga.


Setelah melalui perjalanan selama setengah jam. Kini mobil Kai sudah tiba di bahu jalan rumah Caca. Kedatangan Nay sudah di tunggu seakan Caca merasa tidak sabar. Tentu saja begitu. Kedua orang tuanya sudah lebih dulu di jadikan tawanan agar Caca tidak bisa mundur melakukan rencana.


"Setelah ini aku harus pergi ke luar kota untuk mengurus proyek baru bersama Alex." Ujar Kai sengaja menjelaskan kegiatannya.


"Siapa saja yang ikut? Kenapa baru bilang sekarang?"


"Tidak ada wanita Baby. Kamu percaya Alex kan? Aku bersama nya Pasti dia akan melapor kalau aku berbuat macam-macam." Caca tersenyum canggung. Lebih banyak berpaling sebab menyadari tajamnya tatapan Kai padanya.


"Kamu sengaja Mas?"


"Iya sengaja. Agar aku bisa melewati kebebasan mu." Nay menghela nafas panjang. Niat hati ingin membatalkan rencana, tapi dia merasa kasihan pada Caca." Ada Alan yang akan menjaga mu. Aku juga hanya sebentar. Mungkin sore ini sudah akan pulang." Sejak kepulangannya dari berlibur. Hati Kai sedikit melunak sehingga sikapnya pada Nay banyak berubah. Dia menjadi lebih tenang dalam berbicara dan manis dalam bersikap.


"Jangan lupa untuk menjemput ku besok pagi."


"Iya pasti." Padangan Kai beralih pada Caca." Kalau terjadi sesuatu padanya, kau harus membayar itu dengan nyawamu. Ingatlah. Aku bukan orang sembarangan yang mudah kau bodohi."


Kai masih berusaha mengingatkan. Dia berharap Caca bisa jujur sehingga rencana tidak perlu di lakukan.


"Iya Kak." Jawab Caca terbata.


"Suami ku hanya bercanda Ca." Sahut Nay merasa tidak enak. Sikap Kai ternyata hanya berubah ketika berbincang dengannya saja.


"Iya aku tahu kok."

__ADS_1


"Aku tidak pernah bercanda. Semoga kamu menikmati kebebasan ini. Aku pulang."


"Hati-hati Mas."


"Ya Baby."


Kai mengecup kening Nay sedikit lama lalu berjalan menuju mobil tanpa keraguan. Sungguh dia merasa muak melihat sikap sok lugu yang Caca perlihatkan.


Selain ingin menjebak Elang. Kai juga berniat menunjukkan pada Nay bahwa penilaian luar sangatlah menipu. Banyak orang memperlihatkan sikap baik namun busuk di dalam.


"Mari masuk Nay." Ujar Caca tersenyum. Melirik ke mobil Kai yang sudah melaju pergi.


"Kok sepi Ca. Kedua orang tuamu ke mana?" Sedikitpun Nay tidak menaruh curiga. Dia menjinjing tas miliknya yang berisi baju.


"Sejak kemarin mereka pergi ke Jogja. Ada keluarga ku yang meninggal dunia." Setelah berhasil. Lebih baik aku tinggal di luar kota. Aku ingin melupakan semua yang terjadi di sini.


Sampai saat ini Caca tidak mengetahui tentang siapa Kai sebenarnya. Bukan hal sulit untuk menemukan lokasi tempat pelariannya meski dia berusaha kabur dan menghindar.


"Kenapa kamu tidak ikut Ca?"


"Kasihan Kak Erik. Silahkan duduk Nay. Akan ku buatkan minuman."


"Aku akan membuatnya sendiri."


"Kamu itu tamu Nay."


"Sebentar ya." Caca masuk ke dalam dengan ponsel di tangannya. Dia mengirimkan pesan singkat pada Elang agar rencana bisa segera di mulai.


💌Dia sudah di sini.


Sambil menunggu balasan, Caca membuat teh hangat pesanan Nay. Tangan kanannya merogoh saku dasternya dan mengeluarkan bungkusan obat lalu menuangkannya ke minuman Nay.


Maaf Nay.


Tring.


💌Berikan obatnya.


💌Baik Kak.


Caca berjalan perlahan menuju ruang tamu. Dia meletakkan minuman tepat di hadapan Nay yang asyik berkirim pesan dengan Kai.


"Silahkan Nay."


"Oh. Terimakasih ya."


"Hm sama-sama." Tanpa rasa curiga Nay menyeruput teh lalu meletakkannya kembali.

__ADS_1


"Kenapa kamu menolak renovasi rumah Ca?"


"Aku sungkan Nay. Kak Erik mau bertanggung jawab saja sudah lebih dari cukup." Efek obat tidur mulai Nay rasakan. Matanya terasa berat dan ingin tertutup.


"Seharusnya jangan di tolak Ca." Nay berusaha untuk tetap terjaga meski pandangannya terasa berkunang-kunang. Kenapa aku mengantuk sekali.


"Aku minta maaf atas semua yang sudah ku lakukan Nay. Keluargaku lebih penting daripada dirimu. Seharusnya aku tidak terlibat."


"Kamu bicara apa Ca. Ahhh.. Kenapa aku mengantuk sekali." Eluh Nay lirih.


"Aku sudah mencampurkan obat tidur ke minuman itu. Sebentar lagi Kak Roy akan menjemput mu."


"Hah? Apa? Kak Roy? ke kenapa kamu ma masih bersama nya. Apa kamu menjebak ku?" Aku tidak kuat. Ini berat sekali.


"Maaf Nay. Aku terpaksa."


"Ti tidak Ca. Ka kamu tega sekali. Aku harus pergi."


Meski tubuhnya terasa berat, Nay mencoba berdiri dan berniat pergi. Dosis obat yang terlalu tinggi membuat reaksinya begitu cepat.


Tubuh Nay terkulai di lantai. Caca terdiam sesaat, sedikit menyesal namun keadaan mendesaknya.


"Maaf Nay."


Setelah kata-kata itu terlontar, pintu terbuka dan Elang keluar dari sana. Caca berdiri menghampiri ketika Elang akan mengangkat tubuh Nay.


"Orang tuaku bagaimana Kak?" Tanyanya pelan.


"Ada di persembunyian. Kita harus bergerak cepat."


Elang berhasil menghabisi dua anak buah Alan yang kini jasadnya tergeletak di pinggir jalan. Dia sudah tidak perduli dan ingin segera memiliki Nay. Satu-satunya obyek yang akan membuat hati Kai hancur berkeping-keping.


Sebuah tiket pesawat sudah berhasil di kantongi. Sayangnya penerbangan untuk hari ini tertunda akibat cuaca buruk sehingga mau tidak mau Elang harus bersembunyi di tengah hutan, tepatnya di bangunan terbengkalai di mana dia bersembunyi.


Akan ku pastikan hatimu akan patah! Aku mengambil harta berharga mu. Untuk sementara lebih baik aku pergi untuk menyiapkan amunisi. Setelah aku bisa bangkit, bersiap-siaplah menjemput kehancuran.


Rencana yang menurut Elang matang. Dia bahkan sudah membayangkan keberhasilannya. Sengaja dia tidak membayar seseorang dan melakukannya sendiri.


Elang berniat menggunakan uang hasil rampasan untuk membangun usaha di negara lain bersama Nay. Setelah berhasil, dia akan kembali untuk menghancurkan hidup Kai.


Apa bisa? Elang terlalu lelah sampai tidak memperhitungkan rencananya. Naffsu ingin mengalahkan menghantam kuat hingga dirinya melupakan siapa lawan mainnya.


🌹🌹🌹


Maaf typo bertebaran 🙏


Terimakasih sudah mampir ❤️🌹

__ADS_1


__ADS_2