
Berita pembunuhan di rumah sakit jiwa menggemparkan dini hari itu. Pihak rumah sakit berusaha menghubungi kontak milik Kai selaku keluarga Alex. Sialnya, Kai tidak bisa di hubungi sebab ponselnya mati sejak semalam. Itu kenapa Alan di haruskan lebih waspada lagi sebab semenjak menikah, Kai selalu tidak bisa di hubungi ketika tiba waktu tidur.
"Bukankah ini rumah sakit tempat di mana lelaki itu di rawat Bos?" Salah satu anak buah Alan menunjukkan berita terhangat pagi ini.
"Memangnya ada apa?" Tanya Alan ingin tahu. Baru saja matanya ingin tertutup tapi harus terpaksa di buka.
"Satu Dokter tewas dan dua pegawai rumah sakit. Salah satu dari mereka bahkan seorang petugas polisi." Segera saja Alan mengambil ponsel anak buahnya untuk melihat.
"Tolong ambilkan ponselku."
"Baik Bos." Si anak buah bergegas masuk ke pos penjagaan untuk mengambil ponsel Alan yang sedang di isi dayanya." Ini Bos." Setelah ponsel ada di tangan, bergegas Alan menghubungi kontak Kai yang masih tidak aktif.
"Perketat penjagaan. Aku akan membangunkan Tuan." Alan masuk ke dalam mobil untuk mencapai rumah.
Setibanya di sana, Alan menerobos masuk dan berpapasan dengan Jessy yang ternyata sudah bangun.
"Ada apa Al?" Sapa Jessy berjalan mendekat.
"Alex berulah lagi. Apa Tuan sudah bangun?"
"Kau lihat sendiri. Rumah ini masih sepi. Ku rasa belum bangun. Aku juga tidak di perbolehkan ke lantai dua jadi sebaiknya kau periksa sendiri."
"Ya." Alan berjalan menaiki tangga. Dia sempat berhenti beberapa saat di depan kamar utama. Takut? Tentu saja begitu. Kai tidak suka ketenangannya terganggu. Tapi Alan berusaha menyakinkan hatinya, jika nanti Kai akan bertambah marah kalau dirinya tidak melapor.
Terpaksa, dengan sedikit ragu-ragu Alan mengangkat tangannya lalu mengetuk daun pintu sebanyak tiga kali. Masih tidak terdengar pergerakan hingga saat tangannya kembali terangkat, pintu terbuka dan memperlihatkan Nay.
"Oh Alan. Ada apa?" Alan menundukkan pandangannya sebab Nay masih memakai baju tidurnya.
"Maaf Nona. Saya ingin berbicara dengan Tuan, apa beliau masih tidur?"
"Hm ya. Biar ku bangunkan."
"Baik Nona saya tunggu di sini."
"Sebentar." Nay kembali menutup pintu sementara Alan berdiri menunggu dengan wajah cemas.
Sepuluh menit kemudian. Pintu kamar baru terbuka dengan Kai berdiri di baliknya. Terlihat Kai masih memakai kaos dan rambut acak-acakan.
"Ada apa? Kenapa mengganggu sepagi ini?!!" Tentu saja nada bicara kasar di dapatkan.
"Saya berusaha menghubungi lewat telepon tapi nomer Tuan tidak aktif."
"Jangan berputar-putar. Katakan!"
"Terjadi pembunuhan di rumah sakit jiwa di mana Alex di rawat. Apa Tuan sudah memeriksa ponsel. Mungkin saja pihak rumah sakit menghubungi. Saya berharap ini hanya tebakan dan pelakunya bukan Alex." Kai baru ingat jika semalam ponselnya mati.
"Perketat penjagaan! Aku akan memeriksanya!!" Braaaakkkkk!!! Pintu di tutup kasar sampai-sampai Alan berjingkat.
__ADS_1
"Itu kenapa aku tidak mau jatuh cinta. Perasaan seperti itu hanya berdampak melemahkan." Eluh Alan kembali menuruni anak tangga sambil memberikan perintah lewat ponsel.
Sementara di dalam kamar, Nay duduk lemah di sisi ranjang seraya memperhatikan Kai yang tengah mengaktifkan ponselnya. Kepalanya terasa sedikit pusing karena cukup terkejut dengan ketukan pintu dari Alan.
"Ada apa Mas?" Tanyanya pelan.
"Sebentar. Nanti ku jelaskan." Kai menghembuskan nafas berat ketika melihat notifikasi panggilan dari pihak rumah sakit. Dia langsung tahu jika pelaku pembunuhan adalah Alex. Bagaimana mungkin mereka lengah! Menjaga satu orang saja tidak becus!
Kai mencoba menghubungi pihak rumah sakit kembali dan beruntung panggilannya langsung di respon.
📞📞📞
"Syukurlah Tuan. Kami berusaha menghubungi anda.
"Ada apa?"
"Adik anda kabur dari rumah sakit dan membunuh beberapa orang di sini. Jejak terakhir ada di area tol. Dia juga sempat membunuh satu supir truk lalu mengambil mobilnya. Sekarang masih dalam pemburuan Tuan.
"Siapa yang menangani kasus?
"Pihak kepolisian. Kami mengabarkan karena mungkin pasien pulang ke rumah.
"Tidak becus kalian!!
📞📞📞
Nay yang membaca kegelisahan tersebut, bergegas beranjak berdiri dan berjalan menghampirinya.
"Ada apa?"
"Alex kabur dari rumah sakit jiwa." Jawab Kai lirih. Merasa menyesal sudah mengambil keputusan yang salah.
"Oh." Terang saja Kai terkejut mendengar jawaban tersebut.
"Itu bisa membahayakan mu. Tetap berada di kamar sebelum Alex di tangkap." Nay tersungging kemudian duduk di sofa. Dia sempat menghela nafas panjang sebelum menyandarkan punggungnya." Aku mencoba menimbang keinginan mu untuk menyembuhkannya." Selain ingin menghormati kedua orang tua Alex. Kai mengambil keputusan atas keinginan Nay sendiri.
"Bagaimana kronologi nya Mas?" Nay kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Kai bertambah frustasi. Dia takut jika Nay menolak untuk bersembunyi sementara waktu.
"Biar ini menjadi urusan ku. Kamu tetap di kamar selama Alex belum tertangkap. Itulah peraturannya."
"Wanita lebih pandai merayu." Kai duduk di sisinya dengan mimik wajah kesal. Selama ini dia berusaha mengalah namun rasanya kasus Alex tidak boleh di sepelekan.
"Dia membunuh banyak orang bahkan kedua orang tuanya. Aku berjanji tidak akan lama. Hanya beberapa hari sampai dia tertangkap."
"Kau tidak paham maksudku Mas! Bukan hanya kau yang punya urusan tapi aku juga." Lagi lagi Nay menolak serta merta permintaan tersebut sementara Kai sendiri merasa khawatir akan keselamatannya.
"Kamu tidak punya urusan Baby. Dia hanya mengincar ku.."
__ADS_1
"Dan anakku! Jangan lupakan itu Mas. Siapa yang ingin membunuh anakku, harus berhadapan dengan ku!!"
Apa dia fikir sedang bermain film? Astaga kenapa Istriku menjadi semakin tidak terkendali.
"Ingat Baby. Kamu baru saja mengenal duniaku seperti apa. Ini bukan main-main. Ini masalah serius."
"Aku tidak sedang main-main. Agh! Kau membuatku pusing saja!" Nay terlihat memejamkan mata sambil memijat pelipisnya. Bergegas saja Kai mengulurkan tangannya dan berniat ikut memijatnya." Jangan menyentuh ku! Aku malas kalau kau menganggap ku lemah!" Imbuhnya sambil menyingkirkan tangan Kai dengan kasar.
Selalu saja aku tidak bisa berbuat apapun. Kemarahannya sangat membuatku takut.
Kai memilih pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka. Dia berniat menemui Alan dan tidak ingin menuruti keinginan Nay kali ini.
"Mau kemana Mas?"
"Berbicara beberapa hal dengan Alan. Sebaiknya kamu mandi dulu baru menyusul."
"Ya. Setelah pusingku redah."
"Hm." Kai mengecup kening Nay sejenak lalu berjalan keluar kamar. Dia kembali mengubah kata sandi agar Nay tidak bisa mengikutinya apalagi sampai berkeliaran bebas." Tolong panggil Alan dan suruh ke ruang pertemuan." Pinta Kai pada salah satu ajudan. Dia belum sepenuhnya percaya pada Jessy sehingga Kai ingin membicarakan strategi di ruang pertemuan yang terletak di markas.
Hanya sebentar saja, Alan datang bersama dua anak buah dan duduk tepat di hadapannya.
"CCTV jalan sudah terpantau Tuan. Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan." Ucap Alan tegas.
"Menurutmu apa sebaiknya aku pergi ke luar negeri dulu." Alan mengerutkan keningnya mendengar jawaban yang terdengar aneh. Tidak biasanya Kai lari dari pertempuran.
"Ada apa Tuan? Em apa Tuan takut?"
"Bukan aku bodoh! Tapi Istriku! Dia sedikit tidak terkendali dan ingin turun tangan langsung. Kau fikir aku memperbolehkan itu! Aku takut terjadi sesuatu dengannya." Alan menghela nafas panjang. Selama beberapa bulan Kai kerapkali di pusingkan dengan permintaan Nay. Cara mengidam yang terlanjur ekstrim tentu membebani perasaan Kai yang tidak menginginkan keselamatan Nay terancam.
"Saya tidak masalah Tuan. Biar saya atasi ini sendiri kalau mungkin Tuan ingin keluar negeri. Nanti pemesanan tiket pesawat akan saya urus." Kai mendengus dengan raut wajah gelisah. Rasanya tidak lega jika dia harus menyerahkan urusan pada Alan sebab Alex mengincarnya.
"Apa semua wanita hamil seperti itu?" Alan tersenyum lalu menatap ke kedua anak buahnya.
"Jawablah." Pinta Alan pelan.
"Kalau Istri saya mengidam makanan aneh-aneh Tuan." Jawab salah satu anak buah Alan." Pokoknya makanan itu tidak pernah di makan atau makanan yang dulu di benci." Imbuhnya menjelaskan.
"Istri ku bahkan tidak pernah makan. Dia mengkonsumsi es krim juga buah. Tapi apakah Istri kalian mengalami perubahan sikap dan keinginan?"
"Anak pertama dan kedua saya berbeda-beda kondisinya. Tapi kebanyakan memang sering mengidam soal makanan. Kalau untuk sikap, wanita hamil cenderung lebih manja dan sensitif." Kai menghela nafas panjang lagi dan lagi.
"Manja? Dia jauh dari kata manja. Dia berteriak-teriak kalau keinginannya tidak di penuhi. Dia berubah kasar bahkan berani membentak ku." Menunjuk ke dadanya.
Akibat pembicaraan kali ini membuat ketegangan di hati Alan terkikis. Rasanya dia ingin tertawa begitupun kedua anak buahnya yang hanya mampu saling memandang satu sama lain.
Itu cerminan diri anda Tuan. Kesalahan kecil yang kami lakukan sudah sanggup membuat suara buruk anda keluar. Semoga setelah ini anda bisa sedikit menyadari. Jika seharusnya berteriak harus memiliki volume berbeda-beda. Hehe konyol. Entahlah, ini momen berharga. Wajah Tuanku begitu terbebani dengan sikap Istrinya..
__ADS_1
🌹🌹🌹