
Untuk melancarkan pendekatan, Elang kembali menemui Caca di tempat kerja. Dia mengajaknya makan siang dan memperlakukannya begitu manis agar Caca semakin tenggelam dalam rayuannya.
Seakan memiliki rasa. Elang kerapkali mencuri pandang bahkan tidak segan-segan menatap Caca berlama-lama sampai membuatnya salah tingkah.
"Sebenarnya untuk apa Kak Roy menemui ku lagi?" Tanya Caca ingin menyakinkan hati kalau sosok di hadapannya tidak sekedar memanfaatkan.
"Merasa nyaman saja. Obrolan kita tersambung dengan baik." Elang memperlihatkan senyum simpul." Masih menuduh ku mendekati mu karena Nay?" Imbuhnya menebak.
"Terlalu sering mendapat perlakuan seperti itu. Kakak kan tahu aku tidak seberapa cantik bila di bandingkan dengan Nay walaupun wajahnya palsu."
Elang mengangguk. Dia tidak perduli mendengar pernyataan tersebut. Yang terpenting Nay terlihat cantik dan sesuai kriterianya meski kecantikan dari hasil operasi plastik.
"Memangnya dulu dia juga tidak seberapa cantik?" Tanya Elang ingin tahu.
"Cantik Kak, sangat cantik malahan. Tapi katanya wajahnya rusak karena kecelakaan. Itu sebabnya Hendra menceraikannya."
Elang yang baru tahu kenyataannya tersebut, terpancing untuk mengorek info lebih dalam. Selama ini dia memang tahu kalau Nay bekas Istri Hendra. Tapi untuk masalah yang menimpa mereka, Elang tidak tahu.
"Dangkal sekali pemikiran. Hahaha sambil menyelam minum air. Bagiku fisik bukanlah segalanya."
Caca tersenyum dengan wajah memerah. Jawaban dari Elang menghangatkan perasaan padahal lelaki di hadapannya seorang aktor yang pintar berakting.
"Ya Kak. Kasihan ya. Untung saja Nay tidak bunuh diri. Apalagi Nia sudah tidak ada."
"Nia siapa?"
"Anak Nay. Dia berumur 8 tahun." Elang meraih ponselnya lalu membuat janji dengan Hendra untuk mengorek info sebanyak-banyaknya.
"Meninggal dunia?" Caca mengangguk seraya menguyah.
"Kalau Nia masih ada. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini."
"Oh." Elang sengaja menjawab dengan singkat. Dia ingin mengakhiri pembahasan agar Caca tidak curiga padanya." Malam ini kamu ada waktu?" Imbuhnya mulai mengganti topik pembicaraan.
"Aku pulang jam 7 malam Kak."
"Setelah pulang kerja?"
"Langsung pulang ke rumah."
"Oh sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu pergi." Caca menelan makanannya pelan. Ajakan tersebut di anggapnya sebagai kencan.
"Kakak bercanda?"
"Tidak. Aku serius. Bagaimana? Apa kamu punya waktu?"
"Pu punya Kak. Aku selalu free kok."
"Em jadi mau?"
"Hm ya."
"Oh astaga aku senang sekali. Terimakasih ya."
"Sama-sama Kak."
Caca melanjutkan acara makannya dengan jantung berdebar. Baru pertama kali dia merasakan pendekatan seorang lelaki apalagi paras Elang sangatlah tampan. Seharusnya dia mendengarkan peringatan Nay untuk waspada pada orang baru. Tapi keinginan untuk mengakhiri masa lajang, membuat akal sehat Caca terkikis.
🌹🌹🌹
Sudah sejak siang hari, Kai mencari alasan untuk tidak masuk ke dalam kamar dengan menyibukkan diri. Itu semua di lakukan untuk menghindari traning yang di bicarakan Nay padanya. Pelatihan belum di mulai, tapi Kai setengah mati memikirkannya sampai membuat telinganya mendadak tuli.
Penjelasan dari Erik tidak respon sementara Nay yang baru saja datang, meletakan nampan berisi sirup dingin lalu duduk di samping nya.
__ADS_1
Alan tidak bergeming, begitupun Erik yang memilih menunggu daripada harus mengambil langkah yang salah.
"Mas?" Nay menyentuh pundak Kai dan berniat memberikan usapan. Namun respon Kai terlihat aneh. Dia memundurkan tubuhnya sambil setengah berjingkat.
"Astaga!!" Umpat Kai mendengus. Nay hanya tersenyum dan mulai terbiasa mendengar kata-kata kasar tersebut.
"Maaf. Sepertinya mereka menunggu jawaban mu."
Kai menatap tajam ke arah suguhan di hadapannya lalu menatap tajam ke arah Nay.
"Apa ini?"
"Suguhan."
"Untuk apa?"
"Ya di minum juga di makan." Lagi lagi Alan tersenyum dan hal itu di ketahui Kai.
Kenapa dia membuatku di permalukan. Wibawa ku akan turun.
"Ini atas inisiatif ku bukan Tuan Kai." Ujar Nay menjelaskan.
"Kenapa kau menjelaskannya!!" Teriaknya geram.
"Biar aku saja yang malu dan wibawa mu tidak luntur. Semua yang ku lakukan masih sebatas wajar Mas. Anak buahmu pasti akan mengerti." Kai kembali melirik Alan yang tertunduk.
"Ya terserah. Kau bicara apa tadi?" Tanya Kai menatap ke Erik. Setidaknya dia tidak membahas soal hubungan.
"Saya sudah siapkan rangkumannya. Mungkin Tuan bisa mempelajarinya nanti." Erik menyodorkan secarik kertas berisikan salinan soal keganjilan proposal yang di berikan PT Makmur.
"Tidak perlu. Han memang akan memutuskan hubungan kerja sama. Lelaki itu banyak memakan uang perusahaan sampai-sampai perusahaan bangkrut. Itu atas kebodohannya sendiri!" Erik tersenyum seraya mengangguk." Awal yang bagus. Aku suka kinerja mu yang teliti dalam memutuskan." Imbuh Kai memuji.
"Kalau di perbolehkan. Em saya ingin bertemu dengan Ibu saya."
"Saya tahu Tuan. Terimakasih."
"Hm."
"Saya permisi." Erik mengangguk sejenak kemudian melangkah keluar di ikuti oleh Alan. Keduanya sudah membuat janji untuk datang ke rumah sakit di mana Ibunya di rawat. Tapi tetap saja, tanpa persetujuan Kai, Alan tidak mungkin lancang memutuskan.
"Sudah selesai Mas?" Tanya Nay sambil menyentuh pundak Kai.
"Apa yang selesai?"
"Urusan mu. Ini sudah sore. Kamu tidak mandi?" Kai membuang muka lalu mengisyaratkan para anak buah untuk pergi.
"Hm sebentar lagi. Aku masih berkeringat." Kenapa dia terus memaksa ku? Aku takut terjadi sesuatu jika aku masuk ke kamar.
Nay menatap sekitar. Ada enam pendingin ruangan yang terletak di beberapa sudut.
Pasti sedang mencari alasan...
"Mungkin kamu harus memasang empat pendingin ruangan lagi agar jumlahnya genap menjadi 10." Jawab Nay asal.
"Kamu tidak memasak untuk makan malam." Lagi lagi Kai berusaha mengalihkan pembicaraan dan menyibukkan Nay.
"Entahlah Mas. Tiba-tiba saja aku malas. Kita beli saja ya." Kai mengerutkan keningnya lalu memutar tubuhnya ke arah Nay sehingga tumpuan tangannya terlepas.
"Kata kamu makanan di luar tidak sehat."
"Kalau sekali-kali tidak apa." Memangnya jam berapa sih? Masih jam setengah lima tapi dia menyuruhku memasak..
"Aku mau makan masakan mu."
__ADS_1
"Ya sudah. Setelah mandi ku buatkan."
"Aku mandi dan kamu membuatnya." Jawab Kai tidak ingin kalah.
"Selesai mandi Mas."
"Kenapa begitu?"
"Agar kamu tidak banyak mencari alasan. Ayo." Nay berdiri lalu meraih lengan Kai dan memaksanya ikut serta.
"Alasan apa?"
"Katamu tidak boleh membahasnya di sini."
"Tidak." Kai menyingkirkan tangan Nay dengan kasar sehingga membuat Nay terdiam lalu pergi begitu saja." Ke kenapa lagi dia??!" Kai menatap kepergian Nay dengan wajah cemas." Hei.. Tidak jadi memasak?" Teriaknya seraya berdiri.
"Malas! Masak saja sendiri!" Jawab Nay tidak kalah ketus. Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mendengar dengan jelas ketika Nay menutup pintu kamar keras.
Braaaakkkkk!!
"Kenapa dia malah seenaknya." Eluhnya masih mematung. Dia mengingat pembicaraannya bersama salah satu ajudan." Kalau aku mengalah nanti bahaya. Dia bisa memperkoosa ku." Sungguh konyol perkataan Kai. Dia yang notabenenya seorang mafia berdarah dingin namun ternyata memiliki kelemahan yang terdengar menggelikan.
Raut wajahnya berubah panik ketika dia melihat Nay menuruni anak tangga dengan kopernya. Segera saja Kai berjalan menghampiri untuk mencegah.
"Kemana?" Kai menggeser koper dari tangan Nay.
"Pergi."
"Kamu sudah berjanji untuk menerima kenyataan."
"Tidak berguna kalau kamu tidak berniat memperbaiki hubungan kita. Aku tidak mau hidup dengan patung!" Kai mengedarkan pandangannya. Untung saja para ajudan berada di luar rumah.
Kemarin monster sekarang patung. Lalu apalagi?
"Aku hanya lapar." Jawab Kai menyangkal.
"Aku hanya ingin mencairkan gunung es yang ada di otakmu!" Panggilan baru itu membuat Kai menghela nafas panjang.
Gunung es? Pintar sekali memberikan julukan..
"Terus bagaimana?"
"Masuk kamar dan mandi." Jawab Nay cepat.
"Hm. Oke. Asal tidak pergi."
Nay tersenyum simpul lalu meraih lengan Kai dan memegangnya erat.
"Ayo Mas." Ajakan yang di lontarkan Nay sudah mampu membuat bulu kuduk Kai seketika meremang.
"Tunggu, tasnya."
Kai mengangkat tas yang ternyata ringan. Dia mendengus karena baru menyadari penipuan yang di lakukan Nay.
"Keper nya kosong?"
"Iya."
"Kamu berbohong."
"Untuk kebaikan tidak apa."
Bagaimana ini? Aku belum siap melakukan sentuhan fisik? Kenapa dia tidak memberikan tambahan waktu?
__ADS_1
🌹🌹🌹