Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 8


__ADS_3

Pukul delapan tepat, pernikahan di gelar dengan tertutup namun mewah. Hanya beberapa relasi pilihan yang hadir. Itupun harus melewati seleksi ketat dan di larang membawa pasangan.


Nay kembali melakukan sesuatu atas dasar keterpaksaan. Dia di tuntut tersenyum di sepanjang acara. Memasang mimik wajah bahagia padahal ingin rasanya dia beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh.


Namun yang terjadi dengan Kai sungguh di luar dugaan. Dia merasa nyaman ketika lengannya di pegang erat oleh Nay namun keangkuhan berusaha di pertahankan.


"Akhirnya tamu terakhir pulang." Eluh Nay sambil menurunkan tangannya dari lengan Kai. Dia berniat pergi ke kamar namun lagi lagi Kai menahannya." Apalagi Tuan?" Imbuhnya bertanya.


"Besok aku sudah membuat janji dengan dokter."


"Baru besok kan?" Nay menyingkirkan tangan Kai." Sekarang jangan cegah aku beristirahat." Nay melanjutkan langkahnya meninggalkan Kai yang kini duduk di sofa ruang tamu.


"Wanita itu tidak takut padaku?" Gumamnya pelan.


Tiba-tiba seseorang berjaket hitam masuk, dia berdiri tepat di hadapan Kai dengan wajah tertunduk.


"Ada apa?"


"Devan sudah tertangkap Tuan." Segera saja Kai beranjak dari tempatnya dan berjalan masuk ke dalam garasi mobil. Dia menggeser salah satu lukisan pemandangan dan sebuah pintu rahasia terbuka.


Pintu otomatis tertutup ketika Kai masuk ke dalam. Pintu rahasia itu terhubung dengan ruang bawah tanah yang merupakan markas besar miliknya.


Ada dua pintu yang terhubung. Salah satunya berada di gudang depan kediamannya. Alan dan anak buahnya membawa tawanan masuk dari sana sehingga mereka tidak perlu melewati pekarangan rumah.


Terlihat beberapa ruangan Kai lewati sampai kakinya terayun masuk ke sebuah kamar paling ujung. Ruangan sebanyak itu memiliki fungsi khusus. Ada yang di peruntukan menyimpan senjata juga tempat tidur untuk para anak buahnya.


Seperti korban sebelumnya, kepala Devan di tutup kain berwarna hitam dengan mulut tersumpal lakban. Dia di dudukkan pada kursi kayu. Tentu saja Alan dan beberapa anak buahnya berdiri di belakang sebab selama ini Alan satu-satunya orang yang bisa di andalkan.


"Kau siapa?" Ujar Devan terbata setelah kain hitam dan penyumpal mulut di lepaskan.


"Devan. Adik kesayangan si pengecut. Selamat datang di tempatku." Kai menepuk-nepuk pundak Devan sebentar." Tenang saja. Kau hanya ku jadikan tawanan. Tapi.." Kai tersenyum licik." Kalau kau mengatakan persembunyian pengecut itu?" Imbuhnya setengah berbisik.


Apa dia orang yang di sebutkan Kakak?


"Aku tidak tahu. Jangan libatkan aku!" Teriak Devan seraya berusaha terbebas dari ikatan.


"Jangan libatkan hahaha. Itu hanya akan menjadi mimpi sebab aku tahu jika pengecut itu menyiapkan amunisi untuk menghancurkan ku! Seharusnya dia menemui ku dan berduel."


Devan menghela nafas panjang. Dia tahu jika nyawanya terancam sebab sebelumnya Elang sudah memperingatkannya.


Namun tadi malam dia lupa diri saat merayakan pesta di salah satu diskotik. Devan minum terlalu banyak dan adegan yang di ingat terakhir kali. Dia masuk ke sebuah motel dengan seorang pellacur.


Sial!! Bagaimana ini!!


"Biarkan semuanya berjalan mudah. Katakan di mana si pengecut agar kamu mendapatkan kebebasan."


Selama ini Kai sudah memburu Elang yang sengaja bersembunyi darinya. Keduanya sempat berduel satu lawan satu tapi dengan liciknya Elang melarikan diri.

__ADS_1


"Aku tidak tahu."


"Hm baik. Kau akan membusuk di sini. Terus saja melindunginya!" Kai mendengus seraya berjalan keluar ruangan." Buka ikatannya! Aku ingin dia mati kelaparan!" Pinta Kai sebelum benar-benar pergi.


Sesuai perintah, Alan membuka ikatan pada tangan Devan yang langsung berusaha kabur. Alan menarik kasar kerah kemejanya lalu menghadiahkan beberapa pukulan sampai Devan tersungkur.


"Jangan mencoba lari. Di sudut ruangan ada air putih. Itu cukup membuatmu bertahan hidup sampai beberapa bulan. Tapi jika kau mau berkerja sama, mungkin saja Tuanku akan membebaskan mu."


Alan mengisyaratkan anak buahnya keluar ruangan, meninggalkan Devan yang masih tergeletak di atas lantai.


"Aku tahu kebusukan kalian!! Mana mungkin aku bisa bebas dari tempat ini!!!" Teriak Devan tidak di dengar sebab pintu kokoh sudah tertutup di lengkapi dengan kunci kata sandi.


Kai memutuskan kembali ke kamarnya. Dia duduk di sofa lalu membuka laptopnya untuk melihat Nay sedang melakukan apa.


Nafasnya berhembus lembut ketika Kai melihat Nay benar-benar tidur. Laptop kembali di tutup dengan punggung di sandarkan. Kini fikirannya menerawang jauh, memikirkan pernikahan yang seharusnya hanya ingin di lakukan dengan Sisil.


"Maaf. Aku sudah mengingkari janji." Gumamnya seraya berbaring tanpa melepaskan sepatu.


Sementara Naysila sendiri tengah tidur dengan mimik wajah gelisah. Mimpi buruk mendatanginya begitu nyata.


Di dalam mimpi, dia melihat Hendra tengah berdiri bersama beberapa wanita. Dia tangan kanan menggenggam sebilah pisau dan tangan kiri menggenggam erat salah satu tangan wanita.


Namun tiba-tiba sosok hitam muncul dan menyabet leher Hendra hingga darah segar mengucur. Para wanita itu hanya melihat ketika tubuh Hendra tergolek di tanah. Mereka bahkan tersenyum seakan merasa bahagia.


Nay sekuat tenaga mencoba meneriaki Hendra tapi itu semua sia-sia. Jangankan untuk menyentuh, bersuara saja dia tidak mampu.


"Aaaaaaaaaaaa tidak!!!" Teriak Nay terduduk dengan wajah penuh keringat. Mimpi buruk itu melekat di ingatannya." Apa Mas Hendra dalam bahaya?" Gumamnya lirih.


"Nona mau kemana?" Sapa salah satu penjaga rumah. Dia menghentikan langkah Nay dan menutup pintu utama.


"Aku pergi sebentar." Jawab Nay dengan wajah gelisah.


"Tidak bisa Nona."


"Kenapa tidak? Aku akan kembali lagi setelah aku memastikan Suamiku baik-baik saja." Nay masih saja menyebut Hendra Suaminya. Padahal kini dirinya sudah menjadi Istri syah Kai walaupun sementara.


"Tuan ada di dalam. Dia tidak kemana-mana." Tentu saja si penjaga rumah berkata demikian. Dia hanya tahu jika Kai adalah Suami Nay.


"Bukan Tuanmu."


"Lantas siapa? Apa Nona punya dua Suami?" Nay terdiam sejenak seraya menghela nafas panjang. Dia baru menyadari kenyataan tersebut.


"Aku berjanji hanya sebentar." Rajuk Nay tidak juga berhenti.


"Sebaiknya Nona masuk saja."


Nay tidak tahu jika sangat sulit keluar dari tempat tinggalnya sekarang. Penjagaan ketat di terapkan juga CCTV yang memantau selama 24 jam.

__ADS_1


"Kenapa aku mirip di kurung saja!" Umpat Nay kesal.


"Sepertinya kau hobi membuat masalah."


Nay membalikkan tubuhnya dan melihat Kai berjalan menuruni anak tangga.


"Biarkan aku pergi sebentar."


"Kemana?"


"Aku punya firasat buruk pada Suami ku." Kai terkekeh lalu duduk di salah satu sofa. Baru pertama kali dia merasakan sensasi berinteraksi dengan seorang wanita.


"Aku Suami mu." Nay mendengus dan kembali menghela nafas panjang.


"Maksudku mantan Suami."


"Oh."


"Jadi kamu mengizinkan?" Tanya Nay bersemangat.


"Tidak. Bukankah aku sudah bilang jika besok ada janji dengan Dokter."


"Itu tidak ada hubungannya?"


"Tentu saja ada. Jaga stamina mu untuk besok agar semuanya berjalan lancar. Kau baru bisa bebas setelah melahirkan anak untukku." Kai memalingkan wajahnya, berusaha menghindari keindahan sosok yang tengah berjalan mendekat.


"Itu sangat lama. Aku hanya minta izin pergi sebentar. Aku berjanji tidak akan Kabur." Tanpa rasa sungkan dan takut Nay duduk di samping Kai yang sontak menggeser tubuhnya menjauh. Dia masih saja berusaha menjaga hati untuk Sisil.


"Yang boleh membuat aturan hanya aku. Bukankah seharusnya kamu menjaga sopan santun padaku? Paling tidak, hargai aku sebagai orang yang lebih tua darimu." Kai menggeser tubuhnya lagi sementara Nay masih memikirkan kekhawatirannya." Memangnya kau tahu di mana dia sekarang?" Nay menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku hanya ingin tahu kabarnya saja."


"Dia sangat baik dan sudah melupakan mu." Jawab Kai seraya berdiri.


"Kamu tahu darimana?" Kai menghembuskan nafas panjang. Nay satu-satunya orang yang berani berbicara santai dengannya." Ayo katakan Tuan." Nay memegang lengan Kai yang langsung di singkirkan kasar.


"Kau lupa tidak boleh menyentuh ku!" Teriak Kai memperingatkan.


"Tadi boleh."


"Hanya untuk pencitraan." Kai melirik malas meski hatinya berdebar-debar. Dia masih belum sadar akan ketertarikan yang mulai tumbuh sebab ini kali pertama untuknya.


"Hm ya aku sadar."


"Jika sadar lakukan tugasmu. Jangan sampai kau melanggar batasan. Ingat pada denda yang harus kamu bayar padaku jika kau berani melanggar perjanjian itu!" Kai menatap tajam ke arah Nay." Kau milikku sebelum seorang anak berhasil kau berikan. Ingat pada biaya yang sudah ku keluarkan. Itu adalah hutang yang wajib kau bayar!" Kai melangkah meninggalkan Nay yang masih terduduk. Tidak ada yang bisa di lakukan kecuali menuruti apa perkataan Kai.


Denda sebanyak 5 triliun siap menjerat juga nyawa miliknya. Nai berusaha menyakinkan perasaan jika apa yang di katakan Kai adalah kebenaran.

__ADS_1


Semoga saja Mas Hendra baik-baik saja. Aku anggap mimpi itu hadir hanya karena aku terlalu lelah..


🌹🌹🌹


__ADS_2