
Pagi ini Kai sengaja mendatangkan seorang mitra kerja spesial. Sebenarnya sudah sejak lama Kai ingin memutuskan hubungan kerja sama namun selalu tertunda karena kesibukan Han yang menumpuk.
Tujuan Kai mendatangkannya semata-mata ingin melihat kepekaan Erik dalam menilai. Dia memilih duduk di depan sebuah kaca satu arah sementara di dalam ruangan tengah terjadi negoisasi.
Nay yang tidak tahu apa-apa. Hanya duduk di samping Kai seraya memperhatikan pembicaraan antara Erik dan si mitra kerja.
"Apa Kak Erik tahu soal ini?" Tanya Nay pelan.
"Tidak. Dulu aku juga melakukan hal yang sama pada Reihan." Perlahan tangan Nay menyentuh lengan Kai yang berbalut jas. Dia mengusap-usapnya lembut tanpa perduli pada mimik wajah Kai yang berubah tegang. Dia sengaja melakukannya. Apa dia berusaha membuatku terbiasa.
Meski belum terbiasa, namun nyatanya Kai membiarkannya sambil menyimak pembicaraan antara Erik dan si mitra.
"Bagaimana Pak Erik? Saya yakin anda setuju dengan pembicaraan yang saya jelaskan." Erik melirik ke arah pahanya. Tangan lentik si sekertaris sang mitra kerja bergerilya dan berusaha merayunya.
"Maaf Pak. Saya melihat banyak kejanggalan dari proposal ini." Erik meletakkan berkas di atas meja dan menggesernya.
"Tolong jelaskan mana yang janggal? Pak Han dengan saya sudah berteman baik. Semua permintaan kerja sama selalu di loloskan." Erik tersenyum simpul lalu memilih berdiri sehingga tangan si sekertaris terlepas dari pahanya.
"Sangat banyak kejanggalan. Kalau di sebutkan, saya takut anda sendiri yang malu." Si mitra menghembuskan nafas berat seraya menatap Erik tajam.
"Pak Han sudah merasakan keuntungan berkerja sama dengan saya."
"Maaf Pak. Sekarang saya yang di tunjuk Tuan Kai untuk mengelola Xu grup. Untuk apa membahas seseorang yang sudah tidak ada di dunia." Ujar Erik tegas.
"Saya hanya ingin anda berkaca terlebih dahulu. Anda hanya orang baru dan kenapa anda mempersulit permintaan saya."
"Silahkan pergi. Saya tidak bisa melanjutkan kerja sama ini." Sontak si mitra berdiri lalu berjalan menghampiri Erik.
"Kau akan terkena masalah! Tuan Kai sudah lama berkerja sama dengan perusahaan saya!"
"Itu masalah gampang. Saya sendiri yang akan menjelaskan soal ini pada Tuan Kai." Jawaban santai Erik semakin membuatnya geram.
"Lihat saja!!! Tuan Kai akan memecat mu setelah ini." Si mitra yang kehabisan cara tentu saja merasa kesal dan melontarkan berbagai macam umpatan. Perusahaan miliknya terancam bangkrut sehingga dia membutuhkan sokongan dana.
"Silahkan pergi." Erik menunjuk ke arah pintu. Ada dua ajudan yang sudah membuka pintu ruangan lebar. Sambil mengumpat si mitra membereskan berkasnya lalu melenggang pergi.
Kai tersungging dan mengambil ponselnya. Erik melakukan panggilan untuk melaporkan kejadian seperti yang di perintahkan.
📞📞📞
"Maaf Tuan. Saya memutuskan kerja sama dengan PT. Makmur. Sepulangnya dari perusahaan saya akan menjelaskan alasannya.
"Hm. Ku tunggu di rumah.
"Baik Tuan.
📞📞📞
Kai memasukkan ponselnya ke dalam saku jas kemudian berdiri perlahan agar tangan Nay tidak terlepas dari lengannya.
"Kita pulang." Ajak Kai sambil melirik ke kedua tangan Nay yang menggenggam lengannya erat.
__ADS_1
"Tidak ingin menemui Kak Erik."
"Biar dia jelaskan di rumah. Dia cukup teliti untuk pemula."
Melalui jalan rahasia, keduanya menuju mobil yang terparkir di ruang bawah tanah dan melaju meninggalkan area perusahaan.
"Aku boleh bertanya sesuatu Mas." Tanya Nay seraya menikmati perjalanannya.
"Soal apa?"
"Berapa kali kamu berpacaran." Kai menghembuskan nafas berat dengan wajah datar.
"Aku sudah menjelaskannya padamu."
"Itu sulit di percaya. Bagaimana mungkin kamu tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita?"
"Memang tidak." Jawabnya cepat.
"Terdengar tidak normal."
"Apa yang sedang kamu cari?" Tanya Kai tanpa basa basi.
"Menunggu ku dari masa sekolah sampai sekarang. Umurmu sudah 35 tahun. Bagaimana bisa kamu bertahan selama ini."
"Jawabnya tidak akan kamu dapatkan."
"Kenapa?"
"Sebab aku tidak pernah terbebani. Aku melakukan semuanya sesuai keinginan. Sejak hari itu, aku hanya ingin menikah denganmu. Tidak ada penjelasan apalagi kamu suruh aku menjelaskan secara rinci. Aku sendiri tidak tahu."
"Bagaimana dengan berdekatan?" Tanya Nay lagi.
"Tidak ada."
"Berteman?" Kai tidak bergeming dan merasa lelah menjawab pertanyaan Nay." Sepertinya kamu harus melakukan training dari hal kecil." Kai melirik sebentar lalu kembali fokus ke jalan.
"Traning apa?"
"Kamu tidak ingin mencium ku atau menyentuh ku?" Sontak Kai menghentikan laju mobilnya sehingga membuat para pengendara di belakang membunyikan klakson keras.
Tiiiiiinnnnn Tiiiiiinnn... Tiiiiiiiiiiiiiiinnnnn..
Kai membuka sedikit jendelanya lalu memberikan aba-aba pada kendaraan di belakang untuk berjalan terlebih dahulu sementara dirinya memarkir mobil di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti?" Tanya Nay bingung.
"Pertanyaan mu." Jawab Kai menghembuskan nafas berat lagi dan lagi.
"Itu wajar Mas? Kamu terlihat tidak berselera padaku padahal seharusnya kamu memaksaku." Kai melirik malas lalu bersandar lemah di kursi kemudi.
"Bagaimana jika anak buah ku mendengar ini. Wibawa ku bisa jatuh!" Nay malah terkekeh kecil seakan bisa menebak arti dari perkataan Kai." A aku tidak mengerti hal seperti itu. Sebaiknya tidak perlu membahasnya apalagi di rumah." Pintanya pelan. Beberapa kali Kai melihat Alan tersenyum ketika Nay melontarkan pembahasan soal sebuah hubungan. Dia merasa jika Alan tengah menertawakannya.
__ADS_1
"Bersentuhan itu sangat penting untuk kelangsungan sebuah hubungan. Apa kamu tidak ingin melakukannya?" Kai mencengkram erat kepalanya seraya mendengus.
"Asal kau bersama ku! Apa pentingnya sentuhan fisik!"
Kai terlalu jauh tengelam pada hitamnya kehidupan yang cenderung berjalan datar. Tidak pernah terbesit niat untuk menyentuh atau melakukan sesuatu yang seharusnya di lakukan pasangan pasutri. Baginya, melihat Nay di dekatnya sudah membuat hatinya tenang.
"Sekarang aku percaya kalau kamu tidak pernah memiliki hubungan. Setelah ini aku berjanji tidak akan membicarakan hal ini saat di depan anak buahmu."
Kai bernafas lega ketika Nay melontarkan kalimat tersebut. Tidak dapat di pungkiri jika dia merasa malu pada anak buah yang sebagian besar sudah berkeluarga dan memiliki banyak anak. Sehingga dia hanya mampu bertanya masalah mengambil hati wanita tanpa memikirkan cara memulai sentuhan fisik.
"Kita bicarakan itu di kamar sekalian praktek." Kai menegakkan posisi duduk lalu memutar tubuhnya ke arah Nay.
"Praktek apa?" Sia-sia aku bertanya bagaimana caranya meluluhkan hati wanita kalau ternyata dia sangat agresif..
Wajah Kai menegang ketika Nay hanya membalas ucapannya dengan cara menyentuh bibirnya.
"Tidak." Tolak Kai kembali melajukan mobilnya.
"Kamu hanya belum tahu rasanya Mas." Tidak ku sangka Suami kedua ku adalah perjaka..
"Aku mohon berhenti membahas itu."
"Aku mau punya banyak anak dengan sebuah cinta."
"Kita pakai metode kemarin." Jantung Kai berpacu cepat. Membayangkan latihan percintaan yang akan Nay ajarkan. Jantung ku bisa berhenti berdetak!!
"Aku tidak ingin mengugurkan kandungan ini tapi aku juga tidak ingin punya anak dengan cara seperti itu."
"Apa bedanya?"
"Tentu berbeda." Nay meraih jemari Kai yang langsung di tariknya kasar.
"Kau sedang apa! Aku fokus menyetir!" Jawab Kai beralasan.
"Pegang kalau memang serius memperbaiki hubungan." Pinta Nay sambil merentangkan telapak tangannya dan menumpukan nya pada paha Kai.
"Aku serius. Tidak perlu pembuktian."
"Pegang." Pinta Nay lagi.
"Aku menye..."
"Pegang ku bilang!"
Dengan ragu-ragu Kai menempelkan telapak tangannya. Langsung saja Nay menggenggamnya erat untuk mengunci pergerakan.
"Untuk apa mela...."
"Rasakan saja Mas. Jangan berkomentar."
Kai terdiam sesuai dengan permintaan. Awalnya sentuhan tangan terasa kaku dan aneh. Namun saat beberapa menit berjalan, ada perasaan damai seakan hangat genggaman tangan mampu menyentuh relung hatinya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Minta dukungannya biar aku semangat buat update 🤗🌹 Terimakasih 🥰