
Nay tidak bergeming ketika Kai meletakkan sebutir kapsul penggugur kandungan. Nay merasa berat melakukan itu sebab sama halnya dengan membunuh. Apalagi Nay baru saja kehilangan anak semata wayangnya akibat insiden kecelakaan tersebut.
"Janin ini tidak bersalah. Untuk apa menghukumnya?" Tanyanya pelan.
"Kau berkata itu agar kau bisa tinggal di sini!!" Tuduh Kai kasar.
Perasaan memuakkan yang di rasakan semenjak hadirnya Nay membuat Kai kian kesal. Dia menganggap jika Nay akan merubahnya menjadi lelaki lemah.
Memang seharusnya tidak boleh ada wanita lain di kehidupan ku kecuali Sisil!!
"Aku akan pergi." Nay berdiri pelan. Wajahnya tanpa ekspresi walaupun di dalam hati kekecewaan sedang menerpa. Semua lelaki makhluk yang hobi mencampakkan. Memang seharusnya aku sudah mati.
Nay berjalan ke tas kecil pemberian Kai yang tergeletak di atas meja lalu mengambil beberapa lembar uang. Tubuhnya memutar menghadap Kai yang masih duduk di posisi yang sama.
"Aku meminta sedikit uang mu untuk ongkos ke rumah saudara ku." Ucapnya seraya menunjukkan uang.
"Kau tidak boleh pergi sebelum janin itu hilang." Jawabnya tegas.
"Aku akan merawatnya."
"Aku yang membuat aturan!! Cepat makan obat ini lalu pergilah." Pinta Kai kasar. Perasaan kasihan mulai muncul sehingga dia menginginkan Nay segera pergi dari apartemen.
"Dia sudah menjadi bagian pada tubuh ku. Mana mungkin aku menghilangkannya." Nay menolak serta merta permintaan Kai apalagi sampai membunuh janin tidak berdosa.
Kai beranjak dari tempat duduknya menghampiri Nay yang masih mematung. Dia menatap Nay tajam, ingin menyeretnya paksa namun ketertarikan yang mulai terbangun membuat Kai hanya berteriak nyaring.
"Wanita sialan!!!" Umpatnya di sertai dengusan nafas berat.
Nay masih saja mematung, tidak berniat membalas ucapan kasar Kai. Baginya, Kai tidaklah berarti. Kekecewaan atas Hendra yang membuatnya tidak menginginkan kehidupan namun janin di perutnya tidak layak di hukum.
"Kau tidak tahu diri dan melakukan apapun sesuai keinginan mu! Kau fikir kau siapa hah!!" Teriaknya lagi dan lagi. Jari telunjuknya mengarah pada wajah Nay dengan wajah geram.
"Memang sejak awal kamu membiarkan ku mati saja. Aku juga tidak ingin berada di sini. Tapi jika kau suruh aku membunuh janin yang tidak berdosa. Aku tidak bisa Tuan." Kai terdiam, dia ingat jika hancurnya kehidupan Nay akibat keteledoran anak buahnya." Aku berjanji akan memberikan anak ini seperti perjanjian awal." Nay berjalan melewati Kai dan melangkah keluar apartemen. Setelah anak ini lahir. Semoga Tuhan segera mencabut nyawaku..
Biarkan saja. Biarkan saja dia pergi. Jangan di cegah! Wanita itu hanya akan melemahkan perasaan. Kau harus tetap bertahan pada misi awal. Hanya menikahi Sisil dan bukan wanita lain!!
Dengan segala keterpaksaan Kai tidak mencegah kepergian Nay. Dia berusaha tidak perduli dan tidak mau tahu tentang kehidupan Nay selanjutnya.
Aku sudah memberikan perusahaan untuk Suaminya! Jika semuanya tidak sesuai. Itu bukan salahku. Nominal itu sudah jauh dari kata cukup untuk menebus kesalahan anak buahku..
Kai duduk lemah, menarik nafas panjang agar perasaannya bisa kembali tenang. Dia tidak sadar jika sejak kepulangannya, Elang sudah mengetahui jika Nay memiliki hubungan dengannya.
__ADS_1
Oh astaga.. Aku lebih cerdik darimu..
Kini Elang berjalan di belakang Nay yang hendak masuk ke dalam lift. Para anak buah Kai yang tersebar membiarkan itu terjadi karena tidak adanya perintah. Apalagi mereka berfikir jika Elang bukanlah ancaman akibat penyamaran yang masih di lakukan.
"Hai." Sapa Elang ikut masuk ke dalam lift. Nay tidak menjawab sambil memperhatikan pintu lift yang tertutup." Kamu ingat? Aku Roy, tetangga apartemen mu." Imbuhnya tidak juga berhenti.
"Itu bukan apartemen ku."
"Oh milik Suami mu?"
"Dia juga bukan Suami ku."
"Aku bingung? Bukankah kamu bilang sudah bersuami? Lelaki itu juga berkata begitu."
"Tidak perlu memikirkan masalah orang lain agar kamu tidak bingung." Nay keluar lift di ikuti Elang yang masih mengekor.
Wanita ini cantik. Sangat cocok menjadi pendamping ku.
"Bagaimana mungkin bisa berhenti memikirkan jika sejak awal aku tertarik padamu." Nay berhenti, begitupun Elang. Kepalanya mendongak, menatap Elang dengan senyuman simpul yang bertujuan melontarkan ejekan.
"Simpan omong kosong mu. Aku bukan wanita yang patut kau rayu. Jangan mengikuti ku."
"Hei Nona. Kamu ingin pergi ke mana? Biar ku antarkan." Tawar Elang masih tidak berhenti. Dia berdiri di samping Nay yang sedang menunggu taksi offline.
Elang terus saja berceloteh tanpa ada respon. Beberapa kali taksi melintas tapi mereka tidak berhenti ketika Nay mengulurkan tangannya. Taksi-taksi itu masih membawa penumpang. Namun tidak lama kemudian, Nay berhasil mendapatkan taksi yang kosong. Dia bergegas masuk tanpa memperdulikan teriakan Elang.
Ahh sial!
Segera saja Elang menghubungi kontak anak buahnya untuk membututi kemana Nay pergi. Rasa penasarannya, membuat Elang merasa tertantang bisa menaklukkan Nay.
📞📞📞
"Bawa dia ke lokasi biasa. Sekap dia semalaman agar nantinya ketika aku datang. Dia menganggap jika aku penolongnya.
"Siap Tuan.
📞📞📞
Elang tersenyum simpul lalu berjalan kembali seraya memperhatikan sekitar. Dia bisa menebak jika di sekelilingnya banyak anak buah Kai yang tersebar.
Kenapa aku baru sadar tinggal bertetangga..
__ADS_1
Untuk menghilangkan kecurigaan, Elang berjalan santai saat dirinya berpapasan dengan Kai yang tengah berjalan ke arahnya.
Dari mimik wajahnya bisa di tebak, jika saat ini Kai tengah menahan amarah akibat perasaan tidak berarah. Ingin rasanya dia mencegah kepergian Nay namun Kai tidak ingin lemah dalam bersikap.
"Hubungan kalian terlihat tidak harmonis."
Kai yang kehilangan fokusnya, tidak terlihat mengunakan kumis palsu untuk menyamar.
"Jangan ikut campur."
"Boleh ku ambil bekasmu?" Tanya Elang seraya tersenyum simpul.
"Ambil saja!" Jawab Kai berteriak. Menunjuk kasar ke arah Elang.
"Jangan menyesal nantinya."
"Ambil dia, aku tidak perduli." Kai melanjutkan langkahnya keluar apartemen dan berniat pulang. Dia tidak ingin lagi mendengar tentang Nay bahkan sudah memberikan titah pada Alan yang sampai saat ini belum membaca pesan tersebut.
Sementara di sebuah rumah sederhana, Alan masih berbincang hangat dengan Istri dari korban keteledoran anak buahnya. Dia memberikan cukup banyak uang agar bisa di pergunakan untuk modal usaha. Beruntung bagi Alan sebab ternyata keluarga korban sudah memaafkannya meski harus melewati berbagai permohonan.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu. Nanti kalau ada apa-apa tinggal menghubungi kartu nama yang saya berikan."
"Ini sudah lebih dari cukup."
"Walaupun begitu, saya tidak ingin melihat keluarga korban dari Adik saya kesulitan. Masalah biaya sekolah, akan saya urus besok."
"Terimakasih ya Om." Alan tersenyum simpul. Keluarga yang di datangin begitu lapang dada dan sanggup menerima kenyataan pahit tersebut.
"Em saya pergi."
"Ponselnya Om." Menunjuk ke meja yang terdapat ponsel Alan di sana. Dia meminta izin mengisi daya sebentar.
"Astaga hampir lupa."
Alan mencabut ponsel dari charger kemudian berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Alangkah terkejutnya dia ketika membaca titah dari Kai berbentuk pesan.
"Gawat ini!" Gumamnya mulai melajukan mobilnya sambil berusaha menghubungi Kai." Ayo Tuan, angkat." Imbuhnya dengan raut wajah gelisah.
Alan takut jika tebakannya benar. Nay adalah wanita yang selama ini Kai cari. Itu kenapa dia ingin mencegah kemungkinan Nay di usir atau di bunuh.
🌹🌹🌹
__ADS_1