Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 27


__ADS_3

Nay sempat membayangkan makan malam yang romantis. Tapi khayalan itu runtuh ketika sejak satu jam lalu, Kai hanya memperlihatkan wajah datar tanpa ekspresi.


Membosankan. Bukankah lebih baik makan malam di rumah.


Nay tidak memahami jika Kai berusaha menutupi perbuatannya ketika di dapur. Karena masakan Nay begitu menggoyang lidah, membuat Kai tidak bisa berhenti makan dan akhirnya satu panci kecil gulai ayam berpindah ke perut. Dia terpaksa mengajak Nay makan di luar untuk menutupi kekhilafan nya.


"Sejak tadi hanya aku yang makan." Protes Nay ketus.


"Aku sudah kenyang." Nay menegakkan kepalanya ke arah Kai.


"Lantas? Kenapa kau ajak aku ke sini?"


"Tidak ada peraturan yang menjelaskan kalau mengajak dinner di wajibkan ikut makan. Aku hanya ingin mentraktir mu." Sungguh jawaban yang konyol sampai-sampai Nay tidak sanggup memahami sikap yang di tunjukkan Kai padanya.


"Ya terserah. Aku tidak tahu pola fikir mu seperti apa."


Kai menghela nafas panjang untuk melontarkan kalimat yang sejak tadi tertahan di kerongkongan.


"Maaf. Aku tidak memahami bagaimana menjalin hubungan." Sontak Nay berhenti mengunyah." Mungkin terlihat kaku dan aneh. Tapi, aku serius. Aku tidak sedang main-main dan tidak pernah main-main. Ini kali pertama aku berinteraksi dengan wanita." Nay terkekeh sejadi-jadinya, membuat raut wajah Kai seketika hangat. Apa aku salah bicara? Ucapan ini sesuai dengan perintah Alan. Memalukan sekali. Dia menertawakan ku..


"Itu sudah terlihat." Nay mencoba mengendalikan tertawa nya sebab dia menyadari wajah serius yang Kai perlihatkan.


"Habiskan makanan mu dan kita pulang." Pinta Kai kembali ketus.


"Akan ku ajarkan caranya menjalin hubungan agar jika Tuan menemukan tambatan hati, Tuan bisa memperlakukannya dengan baik."


Dia masih saja tidak peka. Aku hanya menginginkan nya. Kenapa berkata itu sulit sekali.


"Hm." Jawab Kai singkat. Bibirnya kembali terkunci dengan jantung berdebar.


"Apa Tuan sudah memiliki target."


"Target apa?"


"Wanita yang Tuan cintai." Kai mendengus lalu berpaling. Sementara Nay sendiri kurang peka dan tidak pernah mau membayangkan jika Kai mencintai nya.


"Terdengar tidak sopan sebab aku Suamimu."


"Aku tahu hubungan ini hanya sementara. Jangan terpaksa hidup dengan orang yang tidak Tuan cintai. Em.. Aku akan tetap melahirkan anak ini kemudian pergi."

__ADS_1


Kai kembali di buat gelisah dengan perkataan Nay. Dia masih kesulitan mengungkapkan perasaannya sementara Nay terus saja berkata demikian.


"Ya sudah. Ajari aku menjadi lelaki yang di idamkan banyak wanita." Jawab Kai setelah beberapa menit diam. Tentu saja alasan tersebut tidak terucap begitu saja sebab Kai sudah merencanakan sesuatu.


"Oh jadi Tuan ingin menjadi idaman banyak wanita?" Tanya Nay merespon.


"Hanya satu wanita. Em maksud ku.. Buat wanita itu hanya melihat ke arahku saja." Nay mengangguk-angguk seraya menguyah. Dia cukup lega karena membayangkan jika suatu saat Kai membebaskannya. Padahal wanita yang di maksud Kai adalah dirinya.


🌹🌹🌹


Caca menatap malas ke arah Hendra yang kini duduk di hadapannya. Malam itu keduanya berjanji untuk bertemu dengan sedikit paksaan. Hendra ingin segera menyelesaikan misi yang di berikan Elang agar kekayaannya semakin bertambah.


Apalagi sejak Jessy membebaskan pergaulannya membuat Hendra kian tenggelam dalam kehidupan yang sudah jauh berbeda dari hidupnya dulu.


"Ada apa lagi Mas. Aku hanya punya waktu sebentar." Ujar Caca ketus. Dia menyempatkan diri mampir ke sebuah Cafe sepulang berkerja.


"Aku ingin melanjutkan pencarian."


Demi menghapus kecurigaan, Hendra sengaja berbohong padahal dia tahu Caca sudah bertemu Nay.


"Pencarian apa?" Tanya Caca berpura-pura.


"Tidak perlu Mas." Walaupun Nay tidak jelas berada di mana. Tapi aku tidak mau kalau mereka kembali bersama..


"Kenapa? Semua orang pernah khilaf."


"Nay sudah di temukan. Dia baik-baik saja dan sebaiknya Mas Hendra tidak perlu menghubungi ku lagi." Caca hendak pergi namun Hendra mencegahnya.


"Ajak aku bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf." Caca kembali duduk. Dia membaca keseriusan pada wajah Hendra padahal itu semua hanya tipuan.


Tidak ada salahnya meminta maaf.


"Dia sibuk Mas. Jarang ada waktu. Aku sendiri tidak tahu kapan bertemu dengannya lagi." Jawab Caca pelan.


"Hm tidak apa. Beri aku kabar jika kalian bertemu." Agar Tuan Elang bisa menculiknya. Maaf Nay. Sebenarnya aku tertarik pada wajah barumu tapi Tuan Elang menginginkan mu. Aku yakin setelah kamu bersama Tuan Elang. Hidup mu akan terjamin.


Hendra mengira jika Elang tulus pada Nay. Padahal Elang hanya menyukai paras cantiknya apalagi sejak mengetahui kalau Nay wanita milik Kai. Hal itu membuat keinginan Elang untuk memiliki kian menggebu. Dia selalu ingin unggul dari segi manapun termasuk dalam hal selera pasangan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Sepulang dari makan malam. Nay berjalan ke arah dapur dan berniat memanaskan gulai ayam agar tidak basi. Tapi alangkah terkejutnya dia ketika melihat panci yang di gunakan sudah berada di tempat pencucian piring.


"Kemana gulainya?" Gumamnya lirih. Dia tidak menjumpai Alan di depan sehingga Nay bingung harus bertanya pada siapa.


"Ada apa?" Tanya Kai dari ambang pintu.


"Masakan ku kemana?"


"Aku membuang nya." Di perut. Aku mengakui masakannya enak sekali.


"Hah. Kenapa di buang?" Ujar Nay melirik malas. Tentu saja ucapan Kai kembali membuatnya kesal.


"Tidak seberapa enak."


"Seharusnya biarkan saja. Aku susah-susah membuatnya tapi kau malah membuangnya."


"Besok tinggal membuatnya lagi." Jawab Kai asal." Jangan bersikap seperti orang susah. Untuk apa memanaskan masakan lalu di makan ulang. Kau ingin menghina ku." Ucapan Kai sekarang membuat Nay kian merasa kesal. Dia menebak jika lelaki di hadapannya tidak bisa menghargai sebuah kerja keras.


"Kau tidak mengerti arti dari sebuah masakan. Itu karena otakmu sudah berubah menjadi batu seperti lelaki itu!!" Umpat Nay berjalan melewati Kai yang sontak memutar tubuhnya.


"Siapa lelaki yang kau maksud!!" Teriak Kai berjalan mengekor.


"Menurut mu siapa?! Kau pasti tahu." Dengan gerakan cepat Kai meraih pergelangan tangan Nay lalu memutar tubuhnya agar menghadap ke arahnya." Kenapa?!! Kau tidak terima ku sebut begitu!" Imbuhnya membalas tatapan menusuk Kai.


"Jangan bicara sembarangan tentang ku."


"Aku tidak menyuruh mu memakannya. Lantas kenapa kau buang!"


"Karena kurang enak." Nay menarik kasar tangannya.


"Lain kali jangan lancang. Kalau kau tidak suka biar aku yang menghabiskan nya, tidak perlu kau buang!!" Nay kembali berjalan meninggalkan Kai yang tengah menggaruk kepala.


"Kenapa semarah itu." Eluhnya pelan." Apa benar dia Sisil? Kenapa aku merasa dia sangat kasar." Kai melanjutkan langkahnya menaiki tangga sambil menyiapkan diri untuk membiasakan berbagi kamar bersama Nay.


Nasehat dari Alan berputar-putar di otaknya. Dia di tuntut untuk lebih sabar dan sedikit mengalah jika ingin mencuri hati Nay.


Apa aku bisa?


Nay tidak tahu jika selama ini Kai berusaha menekan amarahnya. Sementara yang ada di fikiran Nay. Kai hanyalah seorang lelaki kasar yang tidak berperasaan dan hanya memikirkan dirinya sendiri.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2