
Caca menatap tidak percaya ke arah Anis yang terlihat tengah berkemas. Baktinya selama bertahun-tahun harus gugur hari ini setelah pemecatan tidak terhormat di tujukan untuknya. Sungguh malang nasibnya, karena menjadi alat Elang melancarkan aksinya untuk mendekati Caca.
"Apa yang terjadi Kak?" Tanya Caca yang notabenenya bukan gadis pendendam.
"Kau puas." Jawabnya berbisik. Caca mengerutkan keningnya.
"Puas apa?"
"Sialan!!!" Umpat Anis berjalan keluar ruangan karyawan sambil menatap tajam ke arah Caca.
"Kenapa Kak Anis begitu sih?"
Caca mengambil dompetnya lalu pergi untuk makan siang. Dia menganggap apa yang di katakan Anis hanya sekedar umpatan yang memang sering di tujukan untuknya.
Baru saja Caca melangkahkan kaki keluar area Plaza. Sosok Elang kembali menghampirinya dengan wajah palsu berkumis.
"Kamu masih tidak merespon pesanku?" Sapanya sambil tersenyum. Caca sedikit gugup dengan pendekatan yang di lakukan Elang mengingat dirinya tidak seberapa cantik.
"Ponselnya tidak ku bawa Kak. Aku hanya membawa dompet." Menunjukkan dompet. Kenapa Kakak ini masih saja di sini? Apa dia mendekati ku? Ah.. Mana mungkin. Kakak ini sangat tampan dan aku...
"Mau makan siang bersama?" Sontak Caca mendongak ke arah Elang. Ukuran tubuhnya yang hanya 155 membuat Elang terlihat sangat tinggi.
"Ma makan? Em tujuannya?" Tanpa sadar Caca melontarkan pertanyaan tersebut. Ajakan Elang terasa ganjil sebab selama ini Caca kesulitan mencari pasangan hidup. Kepintaran tanpa kecantikan bukan jurus ampuh untuk menarik perhatian lawan jenisnya.
"Makan siang saja."
"Apa Kakak ingin mendekati Nay lewat aku?" Elang terkekeh kecil agar Caca menganggap itu hanya gurauan.
"Tidak. Em Bukankah hari ini kita tidak sengaja bertemu. Kebetulan aku sedang sendirian dan butuh teman makan siang." Rayuan maut mulai Elang lontarkan mengingat gelarnya sebagai penjahat wanita. Memang tidak cantik tapi sepertinya dia masih sangat lugu dan itu berarti...
Elang tersenyum simpul. Mulai membayangkan keuntungan yang bisa di dapatkan dari Caca. Bukan hanya bertemu dengan Nay tapi Elang akan mendapatkan keuntungan yang sangat menguntungkan juga mengikat.
"Oh begitu." Sesuai tebakan. Hati Caca berbunga-bunga hanya karena ucapan sederhana tersebut.
"Mobilku di sana. Mari." Dengan sopan Elang mempersilahkan Caca berjalan lebih dulu.
"Nama Kakak siapa?"
"Aku Roy. Dulu aku tidak sengaja bertemu Nay di apartemen. Kami tetangga apartemen walaupun sulit sekali berkenalan dengannya hehe. Tapi ya sudah.. Dia bersuami dan aku sempat bertemu Suaminya sebelum mereka pergi." Caca mengangguk seraya tersenyum. Dia masuk ke dalam mobil mewah yang beraroma harum.
"Mungkin Nay berusaha setia. Dia orang yang pintar bergaul." Jawab Caca apa adanya sesuai dengan apa yang di ketahui.
"Ouh benarkah? Ku fikir dia wanita yang acuh."
"Tidak Kak. Em Naysila wanita yang ramah dan pintar bergaul." Elang mengangguk-angguk dan semakin memantapkan hatinya mendekati Caca.
Sepertinya ini keputusan yang bagus. Aku bisa dapat info banyak dari keluguannya.
🌹🌹🌹
Setelah puas bertanya-tanya, Kai memutuskan untuk masuk. Langkahnya terhenti ketika hidungnya mencium aroma sedap. Dia mengurungkan niatnya menaiki anak tangga dan berjalan masuk dapur.
"Dua puluh menit lagi akan matang." Ujar Nay sambil mencuci peralatan yang di pakai.
__ADS_1
"Kau buat apa?" Tanya Kai berjalan mendekat.
"Roti kukus dengan bahan dan alat seadanya." Kai menghembuskan nafas berat saat menatap senyum Nay dari samping tempatnya berdiri.
"Kau suka roti?"
"Bukan untukku tapi untuk mu." Kai tersenyum simpul.
"Untuk ku?"
"Sebagai ucapan terimakasih."
"Aku membutuhkan kepintarannya. Itu kenapa aku memberikan perkerjaan. Tidak perlu berterimakasih." Masih saja Kai angkuh walaupun si ajudan menyarankan untuk tidak bersikap terlalu kaku saat bersama Nay.
"Hm ya terserah."
"Kau suka sekali repot? Bukankah lebih baik membeli saja?" Nay mengeringkan tangannya yang basah lalu memutar tubuhnya ke samping.
"Mungkin sudah terbiasa. Makanan di luaran terkadang tidak sehat."
Bukan tanpa alasan Nay memilih memasak sendiri. Sebuah insiden pernah menimpa Nia akibat jajan sembarangan. Dia mengalami keracunan sampai hampir merenggang nyawa.
Seketat apapun penjagaannya. Kalau Tuhan lebih menyanyangi Nia, aku tidak bisa berbuat apapun. Dia masih tetap pergi..
Nay menghela nafas panjang lalu meletakkan lap. Meski rasa kesal pada Kai masih tersisa. Tapi dia mencoba menerima takdir yang ada di hadapannya.
"Aku tidak bisa masuk ke dalam kamar. Apa kata sandinya." Tanya Nay mengalihkan pembicaraan.
"Tapi ini akan sulit. Ketika aku ingin masuk ke dalam kamar, harus menunggu mu terlebih dahulu." Jawab Nay menggerutu.
"Jadilah anak baik. Turuti ucapan dan peraturan yang ada di sini agar semuanya tidak terasa sulit." Kai berjalan keluar di ikuti Nay.
"Aku wanita dewasa, mana mungkin bisa menjadi anak baik."
"Kalau kau jauh dari pengawasan ku dan pergi sembarangan seperti tadi. Kau fikir hidup mu akan bebas?" Nay terdiam tidak menjawab." Mungkin saja kau akan mendapatkan hidup lebih buruk." Kai memasukkan kata sandi dengan gerakan cepat sehingga Nay tidak bisa mengetahuinya.
"Ya maaf." Kai mendengus sambil menatap lemah ke arah Nay yang berjalan masuk.
"Ku anggap ini permintaan terakhir."
"Setelah ini berarti aku tidak boleh meminta." Kai menutup pintunya pelan.
"Permintaan mengampuni seseorang. Untuk permintaan lainnya, kau boleh melakukannya." Jawabnya pelan.
"Itu karena aku yakin kalau Kak Erik orang baik."
"Hm."
"Kau tidak percaya Tuan. Bukankah tadi kau dengar sendiri."
"Hm ya." Nay melirik malas sambil menddesah lembut.
"Wajahmu sangat tidak indah."
__ADS_1
"Terserah kau saja."
"Iya. Di sini selalu saja terasa dingin."
"Kecilkan pendingin ruangan." Nay tertawa kecil sebab kepekaan Kai yang sangat minim. Tujuannya berkata demikian adalah ingin menyindir ucapan Kai yang terasa kaku.
"Sejak kapan kau tahu jika aku Sisil?" Setelah pembicaraan yang tidak sengaja di dengar. Nay menjadi ingin tahu alasan Kai hanya ingin menikah dengannya." Sebelum perjanjian atau sesudah perjanjian?" Imbuhnya ingin tahu.
"Setelah perjanjian. Itu kenapa aku merobeknya."
"Tapi kau masih saja berkata kasar padaku. Jika memang kau menemukan seseorang yang kau inginkan. Tidak perlu memenuhi janji. Anggap saja itu janji seorang anak kecil." Kai menoleh cepat ke arah Nay yang duduk di samping nya. Aku ingin tahu bagaimana perasaan Tuan Kai sesungguhnya. Apa dia sekedar memenuhi janji atau dia mencintai ku.. Sebenarnya aku malas memulai hubungan. Tapi es batu ini adalah Suami ku..
"Aku.." Mencintai mu.. "Em aku.. Tidak bisa melakukannya. Aku hanya ingin menikah dengan mu." Sulit sekali bibir ini..
"Jangan menikah hanya karena janji. Sebaiknya Tuan fikirkan lagi. Aku tidak masalah jika Tuan tidak menepati janji agar Tuan bisa menikahi gadis incaran Tuan."
"Kau." Jawab Kai cepat dan singkat.
"Aku." Menunjuk ke dadanya.
"Hm." Hampir saja jantung Kai terlepas dari tempatnya karena debarannya begitu kuat." Kau.. Wanita.. Em yang ku bicarakan." Nay mengangguk seraya tersenyum. Dia menyadari sesuatu yang memang sejak awal bisa di tebak.
Lelaki di sampingnya memang tidak pandai bersikap lembut walaupun di hatinya mungkin tersimpan seonggok es krim yang manis dan dingin.
"Kau menyukaiku Tuan." Kai berpaling sambil menarik nafas dalam-dalam. Raut wajahnya terlihat gugup dan konyol.
"Apa perlu di bicarakan?"
"Tidak juga. Tapi akan lebih baik jika di ungkapkan."
"Aku sedang berusaha." Jawab Kai pelan.
"Hm tidak apa. Semua butuh proses."
"Pasti aku terlihat konyol." Kai bergegas berdiri karena merasa tidak tahan dengan situasinya.
"Ya sedikit konyol. Tapi setidaknya aku tahu."
"Lalu bagaimana?"
"Aku akan berusaha menyukaimu. Em roti kukusnya sudah matang. Aku akan memeriksa nya. Bisakah kau membuka pintunya."
"Hm." Bergegas saja Kai berjalan lalu membuka pintu untuk Nay.
"Tuan tidak ingin mencicipinya?"
"Nanti aku menyusul."
"Oh baik." Nay tersenyum kemudian berjalan pergi. Kai menutup pintu cepat. Wajah yang tadinya datar berubah menjadi sangat gembira.
"Ah ini tidak juga berhenti." Gumamnya menepuk-nepuk dadanya." Setidaknya dia tahu kalau aku menyukainya walaupun tadi sangatlah konyol." Kai menghela nafas panjang lagi dan lagi. Dia tengah menyiapkan diri untuk turun dan mencicipi kue buatan Nay.
🌹🌹🌹
__ADS_1