
Nay berjalan masuk tanpa rasa curiga setelah mobil Kai terparkir di garasi. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dia melupakan sepatu miliknya.
Mumpung belum masuk..
Langkahnya di percepat sebab Nay tidak bisa membuka mobil mewah itu. Dia berniat meminta tolong pada Kai yang pasti masih berada di dalam garasi.
Tiba-tiba saja Nay menghentikan langkahnya ketika melihat Kai menggeser salah satu lukisan. Dia mengintip dari tempatnya berdiri. Kai masuk ke ruangan rahasia yang selama ini tidak di ketahui siapapun.
Oh ternyata dari sini masuknya..
Kai sengaja tidak mengantar Nay sampai ke kamar karena permintaan Nay yang berniat menghangatkan gulai kambing. Namun siapa sangka jika itu semua membuat Nay bebas berkeliaran dan menemukan pintu rahasia menuju markas.
Sambil berjalan mengendap-endap, Nay menirukan cara Kai menggeser lukisan. Dan benar, pintu rahasia yang tersamarkan dengan tembok terbuka.
Cepat-cepat Nay masuk meski dirinya tidak tahu bagaimana caranya keluar dari sana. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling sambil terus berjalan ke lorong yang penuh ruangan dengan pintu tertutup.
Sedikit aneh, sebab bangunan besar tersebut selalu terasa hening dan dingin. Memang Nay sempat pernah masuk ke dalam tapi rasa penasarannya tidak bisa terjawab sebab Kai langsung membawanya keluar setelah latihan.
Nay terus saja berjalan sampai melihat Alan keluar dari sebuah ruangan. Dia bersembunyi dan mengintip Alan yang kembali dengan seutas tali di tangan.
"Alan." Sontak sapaan Nay membuat wajah Alan panik.
"No nona? Kenapa bisa?" Tanya Alan terbata.
"Aku mencari Tuan mu"
"Sebaiknya Nona pergi. Ini bukan tempat main-main." Pinta Alan pelan.
"Aku tadi melihat Tuan mu masuk ke dalam sini." Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Nay tidak akan mudah di rajuk.
Bagaimana Tuan bisa teledor.
"Mari saya antar keluar Nona." Alan dengan sopan mempersilahkan namun Nay tidak beranjak dari tempatnya.
"Pertemukan aku dengan Tuanmu dulu." Desak Nay tidak ingin berhenti.
"Nanti saya sampaikan. Mari Nona.." Baru saja kata-kata itu terlontar, pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan Kai keluar dari sana.
Tapi bukan hal itu yang membuat bibir Nay terbuka dengan mata melebar. Dia melihat dengan jelas Devan terkapar di samping Alex yang sudah babak belur. Baju yang Kai kenakan bahkan terlihat berantakan di hiasi bercak darah.
"Kenapa kau ke..." Segera saja Nay menerobos masuk melalui sela tangan Kai yang langsung menarik lengan Nay untuk menahan langkahnya." Keluar! Kenapa kau ke sini!!!" Pintanya setengah membentak.
Kak Erik?
"Kenapa mereka ada di sini?" Tanya Nay mengingat wajah Erik walaupun parasnya tidak lagi di kenali.
"Tolong saya Nona. Tolong keluarkan saya. Ibu saya sedang membutuhkan saya." Teriak Erik berharap Nay mau mengeluarkannya dari sana.
__ADS_1
"Keluar!!" Kai menarik kasar lengan Nay tapi tentu saja keinginan itu di tolak apalagi Erik menyebut nama Ibu.
"Tunggu!!" Nay menarik lengannya kasar sehingga cengkraman tangan Kai terlepas." Kesalahan apa yang mereka perbuat?" Menunjuk ke arah Erik dan Devan.
"Jangan ikut campur. Kau tidak tahu apa-apa. Ayo keluar." Kai berusaha menyeret Nay lagi.
"Dia Kak Erik. Aku mengenalnya! Dia orang baik dan kenapa kau melakukan itu padanya." Kai menghentikan langkahnya dan menatap Nay tajam.
"Kau kenal dia." Menunjuk ke arah Erik.
"Ya. Dia Kakak kelasku dulu." Erik mencoba mengingat Nay namun tidak bisa menebaknya.
"Kau yakin menyebutnya baik!!!" Nay membaca dendam begitu membara terpatri dalam mata Kai.
"Aku terpaksa ikut. Elang mengancam ku." Sontak Nay menoleh. Dia sungguh bingung dengan situasi yang terjadi di hadapannya sebab Nay belum tahu jika Kai adalah anak yang di tolong dari pembullyan.
"Kau menikmatinya!!" Kai mengeluarkan senjata api lalu mengarahkannya pada Erik.
"Tunggu dulu!!!" Nay menggeser tubuhnya untuk menghalangi senjata api. Dia merasa yakin jika Kai tidak akan melukainya.
"Rajukan mu tidak akan ku kabulkan. Dia akan tetap ku bunuh!!" Kai mencoba menyingkirkan tubuh Nay. Namun yang terjadi selanjutnya sungguh mengejutkan.
Nay merapatkan tubuhnya sehingga keduanya menempel begitu dekat. Niat Nay semata-mata ingin menghalangi perbuatan keji Kai tapi respon yang di terima berhasil membuat Kai setengah mati berdebar-debar.
"Tunggu dulu!! Kita bicarakan ini baik-baik." Perlahan tangan Kai turun sambil melangkah mundur berusaha menghindar. Namun kedua tangan Nay melingkar erat dan berusaha menahan gerakan.
"Lepaskan. Kau melanggar aturan." Pinta Kai dengan suara bergetar. Alan tersenyum simpul membaca wajah gugup Tuannya.
"Jangan jadi pahlawan kesiangan!" Meski dengusan terdengar berhembus, tapi Kai menyukai adegan yang menimbulkan sensasi aneh pada perasaannya.
"Aku yakin ini salah faham. Kak Erik bukan orang jahat."
"Lepas dulu!" Pinta Kai tidak benar-benar ingin menghindar.
"Simpan senjata mu dulu."
Kai menghela nafas panjang lalu mengantongi senjata api di tangannya. Nay merenggangkan lingkaran tangan dan berdiri saling berhadapan.
"Apa masalah kalian?" Tanya Nay ingin tahu.
"Dia harus membayar dosa masa lalu. Mereka sudah merubah masa muda ku yang harusnya indah menjadi penuh noda hitam hanya karena aku lemah dan mudah di tindas!"
"Masa muda?" Ujar Nay lirih." Jadi kalian saling mengenal?" Menunjuk ke Erik dan Kai secara bergantian.
"Bukankah kau tahu dia anak buah Elang. Erlangga sialan itu!!" Nay mencoba mengingat nama tersebut.
"Erlangga? Sebentar. Em.. Kalian dulu bersekolah di SMA pelita..."
__ADS_1
"Ya." Sahut Kai cepat." Aku anak yang kau tolong saat mereka menendang-nendang ku bahkan mengencingi ku!" Nay kembali pada memori saat dirinya masih bersekolah.
"Oh aku ingat. Anak kurus itu?" Kai menghela nafas panjang." Kau anak Itu." Imbuhnya bertanya.
"Hm."
"Astaga. Kamu berubah sekarang." Alan tersenyum simpul. Ucapan sederhana Nay mampu mencairkan suasana." Aku tidak menyangka jika kamu anak itu." Nay menepuk lembut pundak Kai.
"Sekarang kamu keluar dan biarkan aku menyelesaikan semuanya." Erik menangis terisak bukan karena kesakitan atas siksaan Kai. Dia masih memikirkan nasib Ibunya yang pasti sedang menunggunya pulang.
"Itu hanya masa lalu. Lepaskan dia, Kak Erik tidak sejahat itu." Jawab Nay berusaha memohon.
"Sudah ku katakan. Berhenti merajuk karena tidak akan ada bedanya."
"Aku mengenalnya dengan baik karena dia pintar. Dia sering membantu ku mengerjakan tugas." Menunjuk ke arah Erik.
"Perduli apa aku!! Dia harus membayar semuanya dengan nyawa."
"Tapi tolong rawat Ibuku setelah aku meninggal.." Sahut Erik kehilangan cara untuk merajuk." Dia hanya punya aku. Dia pasti menunggu ku pulang." Nay semakin iba sebab dia cukup mengenal Erik dengan baik.
"Kamu dengar Tuan."
"Elang bahkan membunuh kedua orang tuaku!!" Masih saja Kai memperlihatkan dendam yang membara.
"Urusan mu dengan Elang bukan dia." Kembali menunjuk Erik.
"Dia terlibat!!!"
"Mungkin di bawah ancaman. Aku yakin Kak Erik orang baik."
"Jangan sok tahu kamu!!" Menunjuk kening Nay kasar.
"Paling tidak fikirkan soal Ibunya."
"Itu adalah karma atas perbuatannya." Kai tersenyum simpul seakan ikut merasa bahagia.
"Oh ternyata kau tidak punya hati. Itu sudah pasti. Lakukan sesuka mu sebab aku yakin kau tidak mengerti. Kau bilang Elang membunuh kedua orang tuamu. Lalu apa bedanya kalian." Nay tersenyum simpul meski matanya terlihat berkaca-kaca. Tiba-tiba saja dia mengingat Nia sehingga membuat dadanya terasa sesak. Kehilangan orang terpenting sama halnya dengan kematian." Aku terima tawaran mu mengugurkan kandungan ini. Aku tidak mau melahirkan generasi tidak berhati seperti dirimu." Nay melangkah keluar ruangan. Dia berjanji akan menyingkirkan janin yang ada di dalam perutnya jika Kai tetap melakukan eksekusi pada Erik. Maaf Kak. Aku hanya bisa membantu sebatas ini..
Menurut Nay, Erik termasuk seseorang yang berkesan saat dirinya masih bersekolah. Erik kerapkali menolongnya dari gangguan anak badung juga membantunya dalam hal tugas sekolah.
"Antar aku keluar." Pintanya pelan pada Alan.
"Mari Nona."
Baru beberapa langkah Nay pergi, suara tembakan terdengar sebab pintu ruangan belum tertutup.
Maaf..
__ADS_1
Nay mengusap perutnya yang rata. Setelah mendengar bunyi tembakan tersebut, dia mengukuhkan niatnya untuk menghilangkan janin di dalam perutnya.
🌹🌹🌹