Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 51


__ADS_3

Kai tersenyum simpul seraya menatap Devan yang tengah makan dengan lahapnya. Setelah kenyataan soal Elang terkuak, Kai merubah rencana awal dan menginginkan Devan tetap hidup.


"Enak?" Tanya Kai lirih.


Devan tidak bergeming dan hanya mengangguk. Rasa lapar yang meradang membuat akal sehatnya di babat habis. Dia hanya memikirkan bagaimana caranya memenuhi perutnya agar tidak lapar.


"Bukankah kau merasakan buruknya pengecut itu? Bagaimana mungkin kau bisa bertahan padahal dia selalu mengumpat mu meski kalian bersaudara." Devan mendongak sebentar. Merespon ucapan Kai yang di rasa benar.


"Aku tidak seberuntung dia. Otakku tidak bisa berkerja dengan baik." Jawab Devan seraya mengunyah.


"Tapi tidak seharusnya dia memperlakukan mu dengan keji. Kau itu saudara nya."


"Hanya dia yang bisa mengelola perusahaan Ayah."


"Jadi kau membenarkan perbuatan nya?" Devan menelan makanannya kasar lalu memutuskan untuk minum.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Devan pelan.


"Bergabunglah dengan ku. Menjadi hebat tidak membutuhkan otak yang bagus." Kai ingin memanfaatkan keterpurukan Devan agar bisa menghancurkan Elang sampai menjadi partikel kecil.


"Itu artinya aku berkhianat."


"Untuk apa bertahan pada orang yang tidak menghargai mu. Aku berjanji akan membuat perusahaan keluarga kalian jatuh ke tanganmu."


"Aku tidak bisa menjalankannya."


"Aku dengan senang hati akan membantu." Sahut Erik sambil tersenyum begitupun Alan yang turut hadir.


Devan terdiam sambil memikirkan penawaran mengiurkan tersebut. Tidak dapat di pungkiri jika dia menginginkan sebuah pujian dari keluarganya namun Elang tidak pernah memberikan kesempatan.


"Apa aku akan tetap hidup?" Tanyanya memastikan.


"Tentu saja."


"Aku terima." Kai tersenyum simpul lalu menatap ke arah Alan seraya mengangguk.


"Ikut denganku. Kau harus membersihkan diri terlebih dahulu." Alan mengulurkan tangannya yang di sambut langsung oleh Devan.


Setelah keduanya pergi, Erik berpamitan kembali ke perusahaan untuk mengurus beberapa hal sementara Kai berjalan ke arah dapur. Terlihat, sudah ada beberapa sajian di atas meja. Sesuai dengan pesanannya dan pasti beraroma sedap.


"Silahkan Mas."


"Hm." Kai duduk sementara Nay menyiapkan makanan. Rasanya sangat bahagia, bisa kembali menghangatkan rumah yang dulunya dingin.


"Urusan mu sudah selesai?"


"Sudah terlihat jelas kan." Nay mengangguk walaupun jawaban yang Kai lontarkan masih tidak sesuai dengan keinginan." Kau tidak makan?" Tanya Kai ketika melihat Nay hanya menatapnya dengan kedua tangan bertumpu pada meja makan.


"Nanti saja."


Menu yang Nay siapkan cukup banyak. Hal itu membuat tubuhnya sedikit berkeringat. Dia berniat menghilangkan rasa lelahnya terlebih dahulu sambil menemani Kai makan.


"Kenapa nanti?"


"Alasannya tidak penting Mas. Kamu makan saja dulu."


"Jangan berharap banyak dariku." Aku yakin dia ingin ku suapi..

__ADS_1


Tidak ada yang salah dari tebakan yang bersarang di otak Kai. Tapi dia melupakan jika Nay bukan tipe wanita yang suka bermanja-manja. Dia cenderung suka melakukan semuanya sendiri walaupun Nay tidak pernah menolak jika dulu Hendra berniat memanjakannya.


"Berharap apa?" Tanya Nay seraya memperhatikan Kai yang tengah mengunyah.


"Berpura-pura tidak tahu."


"Apa yang sedang kamu bicarakan Mas."


"Makanlah jika memang kamu tidak tahu." Pinta Kai seraya menatapnya tajam.


"Apa masakan ku tidak sesuai keinginan? Padahal aku sudah mencicipi nya." Nay yang tidak mengerti malah mencicipi lagi masakan buatannya." Rasanya sudah pas Mas. Katakan kurang apa? Biar ku perbaiki." Kai melirik malas sambil terus makan.


"Tidak ada." Jawab Kai singkat." Apa kau baik-baik saja." Kejadian semalam masih tersimpan di fikiran. Kai takut jika akibat kekasarannya, Nay sulit memiliki keturunan.


"Aku baik-baik saja Mas. Mungkin Tuhan tidak menginginkan anak dari hasil teknologi."


"Bukan Tuhan yang tidak ingin tapi aku terlalu panik. Jangan melakukannya lagi."


Pembahasan sekarang membuat Kai mengingat kejadian di kamar mandi. Dengan jelas dia melihat bentuk tubuh Nay hampir seluruhnya.


Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Menyadari betapa indahnya sosok yang duduk di hadapannya. Apalagi semalaman penuh mereka saling bersentuhan. Sensasi yang tidak bisa terlupakan oleh Kai.


"Harus melakukannya lagi agar kita terbiasa." Huh katanya tidak boleh membahas hubungan di sini. Tapi dia memulai itu.


"Akibatnya akan seperti tadi."


"Biar saja Mas. Sekarang aku Istrimu."


"Aku tahu."


"Kalau tahu untuk apa melarang? Hubungan kita sudah tidak ada batasan atau aturan." Sahut Nay cepat." Aku mulai menyukai mu walaupun kau sangat menyebalkan." Seketika Kai berhenti mengunyah. Menoleh ke arah Nay yang tengah tersenyum simpul." Bagaimana dengan kamu Mas?" Tanya Nay ingin tahu.


"Itu tidak benar." Nay beranjak lalu berdiri di belakang Kai yang mulai menegang. Dia menatap sekitar yang sepi, para penjaga tengah berada di ruang tamu sehingga Nay mulai melingkarkan kedua tangannya pada leher Kai.


"Apa ini?" Protes Kai pelan. Tegangan tinggi mulai menjalar di sekujur tubuh ketika tangan Nay mulai menari-nari di dadanya.


"Berarti kamu belum menyukai ku."


"Aku sedang makan, hentikan. Jangan memicu aku berbuat kasar." Nay tertawa kecil tanpa menghentikan perbuatannya.


"Lakukan sesuai niatmu." Klunting.. Kai meletakkan sendoknya kasar sambil menddesah lembut." Mau ku suapi Mas?" Bisik Nay menawarkan.


"Tidak."


"Kamu tahu. Sesuatu yang kaku itu harus di lunakkan."


Nay berdiri tegak lalu berjalan menuju ke samping Kai. Dia menyingkirkan tangan kanan Kai yang tengah bertumpu di meja lalu duduk di paha.


"Bangun! Bagaimana jika ada yang melihat." Gertak Kai berbisik.


"Melunakkan mu harus berkerja ekstra."


"Bukankah sebaiknya kau makan daripada berbuat ini?" Nay tidak bergeming. Dia mengambil satu sendok makanan lalu menyodorkannya ke mulut Kai." Jangan konyol kamu!" Tolak Kai kasar. Tangannya mencoba menyingkirkan namun Nay tidak juga berhenti.


"Ayolah Mas. Ini bentuk kasih sayang." Kai mendengus. Perbuatan itu tidak sesuai dengan apa yang tengah bergejolak di hatinya.


"Aku akan makan sendiri."

__ADS_1


"Makan ini dulu." Rajuk Nay tidak ingin berhenti.


"Kenapa kau mirip temanmu!!"


"Oh. Kamu menganggap nya begitu." Nay meletakkan sendok lalu berdiri. Semoga perbuatan ku bisa membuatnya sedikit melunak. Hatinya terlanjur keras untuk mengakui..


Kai mendongak ke arah Nay yang tengah memasang wajah kesal. Terus saja seperti itu sebab dia menerka jika Nay tengah berakting.


"Oke. Aku tidak akan melakukannya." Nay kembali ke tempat duduknya. Manik Kai mengikutinya seakan masih mencari-cari kebenaran atas sikap Nay.


Aku yakin dia hanya mengerjai ku..


Nay makan dengan lahap juga cepat tanpa bernafas. Kai sejak tadi memperhatikannya tapi Nay tidak juga membalas tatapannya.


"Kau marah?" Tanya Kai dengan nada ketus.


"Aku tidak akan marah jika aku seorang Istri yang tidak normal. Aku merasa kau tidak akan pernah berubah." Nay membereskan piring lalu membawanya ke tempat pencucian.


"Masih beberapa hari menunggu tapi kau sudah mengeluh. Sedangkan aku.." Nay membalikkan badannya seraya menatap Kai tajam.


"Lupa apa yang pernah ku katakan? Semua orang tidak mungkin memiliki pemikiran yang sama. Aku juga tidak menyuruh mu menunggu ku sementara saat ini aku berusaha memperbaiki hubungan. Menurut mu aku suka? Tidak! Jika ada jalan lain, aku memilih pergi!" Nay mengelap tangannya lalu berjalan keluar ruang makan.


"Dia memojokkan ku lagi." Eluh Kai sontak kehilangan selera makan. Kemarahan Nay terasa membebani.


Ketika dia baru saja beranjak dan berniat menyusul, kedatangan Alan membuatnya mengurungkan niat.


"Devan sudah siap Tuan." Kai menatap ke arah tangga lalu berjalan menghampiri Alan dan Devan.


"Sebentar."


Kai beranjak pergi dan masuk ke salah satu ruangan. Dia keluar dengan membawa map di tangannya.


"Duduk dulu." Pinta Kai seraya duduk. Dia menyodorkan map ke arah Devan." Surat perjanjian khusus untuk mu." Devan membaca surat perjanjian yang terlihat gila. Namun yang membuat tercengang adalah lembaran yang ada di bawahnya.


"Apa ini?" Tanyanya lirih.


"Saham yang ku tanam pada JANS grup tanpa sepengetahuan tikus itu." Devan menelan salivanya kasar. Penawaran yang di berikan Kai semakin terasa mengiurkan.


"85 persen."


"Pintar sekali. Kamu paham jika tiba-tiba saham itu ku cabut? Apa keluarga mu masih bisa hidup bergelimang harta?"


"Kenapa anda tidak melakukannya?"


"Alasan ku simpel. Aku hanya ingin Kakakmu tanpa melibatkan kedua orang tuamu yang sudah renta itu." Sekuat apapun Kai mencoba menghilangkan belas kasih pada kedua orang tua Elang. Tapi nyatanya itu tidak berhasil dan terhalang prinsip.


Jika sampai Kai mencabut saham. Otomatis JANS grup bangkrut dan itu berarti biaya pengobatan untuk Ibu Elang akan terhenti.


Dia masih memiliki hati..


"Semua itu akan menjadi milik mu jika kau berhasil memberikan tikus itu." Devan terdiam sesaat untuk kembali memikirkan penawaran Kai." Jika kau sudah setuju lalu ingkar. Aku tidak mau lagi melihat. Saham itu akan ku cabut dan kedua orang tuamu akan mati perlahan." Imbuhnya tersenyum simpul.


Kak Er memang membiayai pengobatan Ayah dan Mama. Tapi saat itu dia malah tidak perduli ketika Ayah di sandera Kai. Sementara orang yang ku sebut jahat, masih memikirkan nasib kedua orang tuaku. Padahal Ayah sudah menghancurkan perusahaannya dulu?


"Saya meminta satu keinginan." Ujar Devan lirih.


"Apa katakan?"

__ADS_1


Devan membicarakan keinginannya pada Kai. Dengan senang hati Kai mengiyakan keinginan tersebut sehingga langsung saja Devan menandatangani surat perjanjian tersebut.


🌹🌹🌹


__ADS_2