Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 88


__ADS_3

"Berlibur Mas?" Tanya Nay mengulang.


Kai memutuskan mengajak Nay pergi untuk sementara waktu. Dia merencanakan pergi keluar pulau sebab dirinya ingat, Nay tidak suka pergi ke luar negeri. Berbagai destinasi wisata berhasil Alan kumpulkan agar Nay mau dan tidak menolak niat Kai tersebut.


"Ya. Dokter berkata kamu tidak boleh stres."


"Aku tidak stres." Jawab Nay cepat.


"Em tapi kamu sering marah-marah."


"Itu karena kamu sendiri Mas. Bukan karena stres." Gleg! Saliva Kai tertelan kasar. Dia tengah memikirkan cara lain agar Nay mau pergi selama beberapa hari.


"Tapi aku ingin."


"Ya sudah kamu saja yang berlibur Mas. Aku tetap di rumah."


"Aku mau kamu ikut." Pinta Kai berusaha mengeluarkan kata-kata selembut mungkin.


"Aku tidak mau di paksa."


"Katanya ingin memahami ku?"


"Malas Mas." Kai tersenyum aneh. Dia menatap Nay yang tengah mengerucutkan bibirnya sambil memakan potongan buah.


"Malas bagaimana?"


"Aku malas melihat mu mengomel. Pergi saja kalau ingin menceramahi ku."


"Hei aku mengajakmu berlibur." Nay menoleh dan menatap Kai tajam.


"Jangan berbohong. Aku tahu niatmu." Tunjuknya kasar.


"Niat apa?"


"Kau ingin membawaku pergi agar aku tidak bisa beraksi!" Kai mencengkram erat kepalanya seraya tertunduk. Sikap Nay sungguh membuatnya pusing.


"Darimana kamu tahu Baby? Aku serius ingin mengajak berlibur." Eluhnya pelan. Bagaimana ini? Dia sudah membaca niatku.


"Dia yang memberitahu." Menunjuk perutnya lalu mengusapnya lembut.


"Dia di dalam. Bagaimana bisa berbicara dengan mu." Jawab Kai asal. Posisi kepalanya masih tertunduk. Rasanya pusing langsung menjalar ketika berbicara dengan Nay yang tidak ingin di kalahkan.


"Hamil saja, agar kau tahu bagaimana perasaan ku!!" Teriak Nay geram.


"Kita akan tetap berlibur meskipun kamu menolak."


"Oh begitu. Berani melawan ku." Nay duduk tegak lalu meletakkannya mangkuk berisi potongan buah. Kai juga kini duduk tegak bahkan memutar tubuhnya ke arah Nay.


"Kamu yang harusnya patuh bukan aku. Besok pagi-pagi buta kita berangkat." Kai berdiri dan berniat pergi. Dia cukup bergidik ngeri melihat tatapan tajam Nay yang seakan mencabik-cabik keberaniannya. Kenapa aku ini? Mengerikan sekali.


"Jangan pergi Kai!!" Manik Kai terpejam sebentar lalu memutar tubuhnya ke arah Nay dengan posisi berdiri. Saat wajahnya di tunjukkan, Kai berusaha memasang mimik wajah tenang.


"Why? Aku sedang malas berdebat. Lebih baik aku keluar dan berbincang dengan Alan." Terdengar jelas suara Kai sedikit gemetar. Sungguh dia tidak memahami tentang apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia sangat ketakutan ketika Nay memperlihatkan kemarahannya.


Plaaaaaakkkkkk!!!

__ADS_1


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Kai. Bukan hanya wajahnya yang terasa panas tapi sekujur tubuhnya seakan-akan tamparan Nay sangat bervolume.


"Kau berusaha menghalang-halangi keinginan ku hah!!!" Nay mendorong kasar pundak tegap Kai.


"Keinginan apa Baby? Aku berusaha menyenangkan hatimu."


"Menurut mu aku senang dengan rencana berlibur mu! Tidak! Sejak semalam aku sadar tentang keinginan yang hampir membuatku terjaga semalaman! Aku baru tidur dini hari lalu Alan mengabarkan tentang sesuatu yang mungkin akan membukakan jalan untuk mencapai keinginan itu!!"


Sungguh di luar nalar. Semenjak Nay mendengar jika Alex di masukkan ke rumah sakit jiwa, membuatnya kesulitan memejamkan mata. Ada perasaan kecewa yang entah dari mana. Sampai-sampai mampu menimbulkan rasa tidak nyaman pada hati Nay.


"Lalu kau ingin menghalanginya!!!" Imbuhnya berteriak tidak terkendali.


Kai menghela nafas panjang lalu berusaha mendekap tubuh Nay yang langsung memberontak.


"Apa keinginan mu? Jangan marah seperti ini."


"Memotong tangan Alex dan mengeluarkan otaknya agar dia tidak lagi bisa merencanakan pembunuhan pada anakku!!!" Kai terkekeh lebih tepatnya merasa ketakutan akan keinginan Nay.


"Kamu bercanda Baby? Tidak baik untuk psikologi mu." Tolak Kai pelan.


"Terserah!! Aku tidak akan makan sampai kau mengabulkan keinginan ku. Akan lebih baik kami berdua tidak ada daripada kau terbebani dengan keinginan kami!!!" Nay kembali mendorong kasar tubuh Kai kemudian berjalan ke arah ranjang. Dia berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Ada yang salah. Benar-benar ada yang salah dengan Istri ku? Kenapa dia jadi mirip seperti ku?


Kai duduk lemah dengan tatapan fokus ke arah ranjang. Ketegasannya rasanya luntur seolah-olah Nay mampu menghipnotis dirinya agar tunduk dan menuruti kemauannya.


"Jika kamu tidak makan. Bukankah sama saja kamu membunuh anakmu sendiri?" Tanya Kai pelan.


"Itu lebih baik! Paling tidak aku mati bersama anakku!!" Kai melirik sebentar lalu meraih mangkuk berisi potongan buah dan memakannya. Dia meletakkannya lagi sebab buah terasa hambar di lidahnya.


Dia menghampiri ranjang dan berdiri mematung di sisi. Masih saja Nay tidak bergerak, berusaha mempertahankan keegoisannya selayaknya Kai yang ingin selalu terpenuhi keinginannya.


"Baby. Itu penawaran terakhir." Imbuh Nay seraya duduk di sisi ranjang lalu menyikap sedikit selimut. Nafasnya berhembus lembut melihat kenyataan jika Nay tengah tertidur.


Untuk memastikan, Kai memeriksa keadaan Nay terlebih dahulu sebelum akhirnya membetulkan posisi selimut.


Aku harap penawaran terakhir itu bisa di terima.


🌹🌹🌹


Sementara Alex sudah berada cukup dekat dengan kompleks rumah Kai. Dia memilih jalur hutan agar pelariannya tidak terendus aparat berwajib.


Alex bahkan tega menghabisi seorang petani yang melintas. Dia mengambil motor si petani agar bisa melewati jalan setapak dan gang sempit.


Kalau aku tidak bisa memiliki nya, kau juga tidak boleh.


Alex tahu jika Nay satu-satunya poros kebahagiaan Kai. Sehingga dia menyimpulkan bahwa hidup Kai akan hancur ketika dirinya berhasil melenyapkan Nay juga calon anaknya.


Hati yang sudah tertutupi dengki, membuat fikiran Alex semakin terganggu. Apalagi setelah Kai berniat memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Hal itu menambah perasaan benci bercampur kesal sebab sampai saat ini, Alex menganggap dirinya tidak gila.


"Aku membutuhkan sedikit uang untuk beraksi." Gumamnya duduk di atas pohon. Wajahnya penuh dengan darah kering begitupun baju yang di kenakan. Motor miliknya tergeletak di semak-semak sementara dirinya memandangi mobil berlalu lalang dari tempatnya duduk." Sebaiknya aku tidur di sini dulu sambil menunggu malam datang." Alex tersungging sambil memakan bekal hasil rampasan.


Sambil makan, dia mulai merencanakan sesuatu walaupun sampai sekarang belum juga menemukannya. Alex tidak memiliki apapun lagi dan tentu hal itu menjadikan halangan baginya.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Singkat waktu. Kegilaan Alex membuatnya mampu bertahan sampai hari menjelang malam. Kini jalanan di bawahnya tidak seramai tadi. Hanya satu atau dua orang melintas dalam durasi waktu sepuluh menit.


Alex turun dari pohon dan berdiri di sisi jalan. Dia menatap lurus ke jalan gelap di hadapannya sambil menunggu korbannya melintas. Alex merencanakan sebuah perampokan untuk mendapatkan sedikit modal.


"Tolong." Teriaknya seraya melambai ke mobil yang melintas. Bibirnya sempat tersungging sebentar saat tahu si pemilik mobil hanya sendirian.


"Astaga Pak. Apa yang terjadi?" Tentu saja keadaan Alex yang bersimbah darah membuat si pengemudi mobil merasa kasihan.


"Siang tadi saya jatuh ke bawah. Ketika saya bangun, hari sudah gelap. Motor saya ada di sana." Menunjuk ke motor butut yang tergeletak di semak-semak.


"Mari ikut saya ke rumah sakit Pak. Motornya nanti di urus belakangan." Alex langsung mengiyakan ide tersebut dengan anggukkan kepala.


Setibanya di dalam mobil, dia di persilahkan duduk di samping si pengemudi.


Sepertinya orang kaya.


"Bapak dari mana tadi? Apa tidak ada keluarga yang bisa di hubungi." Tanyanya ramah.


"Saya pulang kerja. Kalau hari tidak gelap mungkin ponsel saya bisa di temukan." Jawab Alex begitu lihai beralasan.


"Ya Tuhan. Beruntung saya tadi berfikir positif."


"Maksud Bapak apa?" Tanya Alex dengan wajah datar.


"Di sini banyak begal Pak. Saya tadi sempat ragu-ragu untuk berhenti tapi ketika melihat keadaan Bapak, saya kasihan."


"Memang seharusnya Bapak tidak berhenti." Si pengemudi sontak menoleh. Dia melihat Alex yang tengah tersenyum dari samping.


"Ko kok bilang begitu Pak." Perasaan tidak enak seketika menyelimuti. Sambil melirik tangan si pengemudi berusaha membuka laci mobil untuk mengambil senjata api yang tersimpan di sana.


Dooooorrr!!!


Alex lebih dulu membidik. Mobil terlihat oleng sebentar sebelum akhirnya Alex meminggirkannya di bahu jalan.


Sejak tadi dia memilik ke jog belakang yang terdapat sebuah koper. Alex mengambilnya sambil berharap kalau koper tersebut berisi uang.


"Hahahaha. Tuhan memihak ku." Alex terkekeh nyaring, melihat tumpukan uang juga beberapa obat-obatan terlarang berada di dalam.


Alex melepaskan baju kotornya dan menggantinya dengan baju milik si pengemudi. Setelah bajunya berganti, Alex turun untuk melepas plat mobil. Dia ingin berjaga-jaga untuk sesuatu yang mungkin terjadi nanti.


Sengaja, Alex tidak membuang mayat si pengemudi agar jejak kematiannya tidak terendus.


Setelah semua di rasa beres. Mobil melaju pergi menuju rumah Kai yang hanya berjarak beberapa kilo meter.


🌹🌹🌹


Tolong koreksinya teman-teman. Mungkin ada kesalahan dalam penulisan. Terimakasih dukungannya 🌹🥰

__ADS_1


__ADS_2